Chapter 02
Dengan sekuat tenaga, dia memaksa diri meronta bangun dari air menuju tempat kering, tetapi akhirnya tubuhnya tidak kuasa lagi dan rubuh ke atas tanah dengan amat kerasnya.
Cuaca pada saat itu, walaupun berangsur-angsur menjadi terang kembali, tetapi keadaan di dalam jurang tersebut amat gelap sekali, sehingga sukar untuk melihat lima jarinya sendiri. Suasana yang amat sunyi dan menyeramkan meliputi sekeliling tempat itu. Diam-diam, Aram mengeluh sendiri, "Ooh, Aram, Aram, tidak disangka hidupmu akan seperti ini. Jikalau aku tahu akan seperti ini, jauh-jauh hari aku akan berlatih silat pada ayah dan ibu. Hik, hik, oh ibu, oh ayah, tragis sekali kehidupan keluarga kita!"
Aram menangis tersedu-sedu, bagaimanapun dia masih seorang anak kecil, meski jalan hidupnya tidaklah seperti anak biasanya. Lewat beberapa saat kemudian, dia membakar sendiri hatinya, "Aku tidak boleh mati, aku harus menemukan tempat itu, aku harus membalas dendam sakit hatiku dan kematian orang tuaku. Bila aku mati, bukankah semuanya akan hancur berantakan?" Siapakah yang akan membalas sakit hati ini? "Iblis langit selatan, tunggulah pembalasanku!"
Pada saat hatinya merasa amat gelisah, dilanda perasaan dendam, itulah mendadak di dalam benaknya berkelebat suatu bayangan pikirnya, "Menurut ibu, jikalau seseorang memilikinya tenaga dalam, dia bisa menggunakan tenaga dalam yang dimilikinya untuk menyembuhkan penyakitnya sendiri. Kenapa aku tidak mau coba-coba?" Demikianlah, secara diam-diam dia segera bersemadi, dengan bersila, ia letakkan tangan kiri di depan kedua kaki, jarinya membentuk huruf V terbalik di tanah, seolah menyedot hawa bumi, dan tangan kanan di letakkan di depan matanya yang tertutup dengan jari yang sama seperti tangan kiri, seolah hendak menutup matanya sendiri. Itulah semadi, berlatih mempelajari tenaga sakti.
Mata darah Aram mencoba untuk mengeluarkan tenaga dalamnya, mengelilingi seluruh tubuh. Untung saja hawa murninya belum buyar, sehingga sesudah mengalami perjuangan yang keras, dia berhasil juga menyalurkan hawa murninya ke seluruh tubuh.
Dengan memahal ilmu Tenaga Sakti Mata Darah, dia terus berlatih, dengan perlahan mengulurkan hawa murninya mengerilingi ke seluruh tubuh. Demikianlah, sesudah ada tiga jam lamanya, perasaan sakit yang menyerang seluruh tubuhnya sudah jauh berkurang. Dengan cepat, dia meloncat bangun dan memandang keadaan di sekelilingnya.
Tampaklah di sekeliling tempat itu hanya ada tebing tinggi, nyata sekali kalau ingin keluar dari sana, dia harus memanjat tebing yang seolah mendaiki langit tersebut. Di sekelilingnya merupakan batu aneh yang tersebar tidak merata, juga kubangan air tempat dia terjatuh tadi.
Rasa lapar tiba-tiba menyerang perutnya, "Duh, celaka, kenapa di saat seperti ini perutku miskol gini, sialan..." Gerutunya. Akhirnya, dia berkeliling di tempat itu, tiba-tiba ekor matanya melihat sebuah tumbuhan yang unik, lalu didekatinya tumbuhan tersebut. Tumbuhan itu berwarna merah darah, daunnya bergerigi, yang lebih aneh lagi, daunnya itu cuma satu.
"Wah, apa ini, kok warnanya merah gini?" Ikh, daunnya juga satu, "Beracun gak ya?" Umh, harum juga. Ah, peduli amat, yang penting ada buat ganjal lapar, hehe! Mulut bicara, tangan pun bekerja, dicabutnya tumbuhan itu. "Akh, ternyata ubi, hehe, hore!" Krauk..... Kraukk, dimakannya ubi itu dengan rakusnya, sakit laparnya, dia tak peduli cara makannya, sampai habis tanpa sisi, daun, batang, sampai tanahnya, dia makan. "Akh, enak juga, hehe," ujarnya santai, sambil cengar-cengir.
Namun, tiba-tiba dia rasakan perutnya bergolak, hawa panas dari perutnya seakan memanggang tubuhnya. "Akh, kenapa ini?" Panas, panas.....!!! Dia berteriak-teriak, sambil berlari, peluh sebesar kacang kedelai membasahi jidat dan tubuhnya yang kecil, bajunya yang sudah basah kuyup, kini bertambah basah.
Gusrak... gusrak, bup, "akhh," keluhan kecil keluar dari mulutnya yang mungil.
Sebenarnya, yang dimakan Aram adalah salah satu ubi yang langka yang tumbuh seribu tahun sekali, nama ubi itu adalah ubi darah api. Ubi itu sangatlah beracun, siapapun yang memakannya akan langsung mati dengan tubuh terkelupas hingga tinggal tulang belulang. Namun, dasar jodoh atau kah beruntung, dia memakan batang, daun, dan ubinya secara bersamaan, sehingga penawar dalam batangnya pun dia makan. Selain beracun, ubi itu juga dapat meningkatkan tenaga dalam orang yang memakannya, apabila dia seorang pesilat, sebanyak 20 tahun latihan.
Rasa laparnya bukan saja berkurang, rasa dahaga pun kini menyerangnya. Antara sadar dan tidak sadar, dia melihat buah berbentuk seperti kelapa yang menggeletak di tanah, tanpa memikirkan akibatnya, dia tusuk dengan telunjuknya hingga berlobang. Aneh, sungguh aneh, kelapa biasa-biasanya kulitnya sangat keras, namun kelapa ini sangatlah lembek, seperti dodol. Dalam keadaan biasa, mungkin Aram akan merasa aneh, tapi dalam situasi seperti ini, mana biasa dia memikirkan, demikian tanpa pikir, dia minum airnya.
Ajaib, rasa panasnya berangsur hilang, Aram sangat girang dengan keadaannya itu, dia tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahaha... akh, dahaga ku hilang, panasnya juga hilang, apa buah itu beracun ya?" Akh, peduli amat, yang penting aku masih hidup, gumamnya.
"Hmmm... kayaknya daging kelapa ini enak juga... aneh, kok lembeknya," ujarnya. Aneh, ah, persetan, grupz, grupzz, dimakannya kelapa itu tanpa tedeng aling, sampai habis.
"Brrrrr, kok tubuhku jadi dingin, yah," celaka, kelapa ini beracun. Bruk, pingsanlah Aram, tak sadarkan diri.
Sebenarnya, kelapa yang dimakan Aram adalah salah satu buah yang langka yang tumbuh seratus tahun sekali, nama kelapa itu adalah kelapa uap salju. Kelapa itu mengandung tenaga mukjizat inti uap salju, apabila ada orang yang memakannya, apabila dia tahun latihan.
Sang mentari kini telah pergi ke peraduannya, digantikan sang putri malam yang bersinar lembut, menerangi jagat raya. Di dalam jurang puncak gunung Gede, terlihatlah seorang pemuda berusia 14 tahun tergolek pingsan.
Ada yang aneh di sana. Terlihatlah dari tubuh si bocah bersinar berwarna merah, anehnya lagi, tubuhnya tampak mengeluarkan kabut/asap, dalam radius lima tombak dari si bocah, tanah dan rumput-rumput diselimuti salju, namun begitu kau masuk ke dalam lingkaran tersebut, kau akan merasakan dirimu terbakar, seperti kau dipanggang api.
Seperminum teh telah berlalu, tiba-tiba tangan si bocah terlihat bergerak-gerak, disusul tubuh-tubuh yang lain pun bergerak. "Ukkhhhh," terdengar keluhan pendek dari mulutnya, namun tiba-tiba dia meloncat melambung tinggi, sekitar tiga tombak, gubrakkkk, dia terjatuh. "Wadau, sialan, pantatku sakit banget!"
Ringisnya, "kenapa ini?" Kenapa tubuhku terbakar? Kok berasap? Kok bersinar? Loh, kok... dan seribu pertanyaan yang dia ungkapkan pada dirinya sendiri, dia mencak-mencak seperti orang gila.
Setelah agak tenang, dia lihat dirinya dalam bayangan air, kemudian dia terlonggong-longgong, melihat tubuhnya yang bertambah tinggi dan besar. "Hmm... aneh, kenapa tubuhku jadi besar gini?" Akh, tadi juga aku bisa loncat setinggi itu, padahal biasanya aku hanya bisa loncat setinggi satu tombak? Sudahlah, makin dipikir, makin gak ngerti, lagipula tubuhku makin segar, ungkapnya, masih terheran-heran.
Sebenarnya, setelah dia makan ubi darah api dan kelapa uap salju, terjadi pertentangan dua tenaga yang bertentangan, sehingga pingsanlah dia. Aram masih belum sadar bahwa dalam tubuhnya memiliki tenaga latihan sebanyak 35 tahun latihan, 30 dari buah mukjizat dan 5 tahun hasil latihannya sendiri.
"Sudah malam rupanya, bagaimana aku bisa keluar dari sini, ya?" Keluhnya. "Ekh, kok ada lubang, kayaknya gua, deh," matanya yang jeli melihat sebuah lobang yang cukup tersembunyi, dan apabila tidak diperhatikan, tidak akan terlihat, karena tersamarkan rumput-rumput yang tinggi.
"Sebaiknya aku beristirahat disana saja," ujarnya dalam hati, kemudian dengan berlenggak-lenggok, dia masuk ke dalam gua.
Setelah berbelok-belok selama seperminum teh lamanya, akhirnya dia sampai di ruangan yang cukup besar, dengan aliran sungai membentang, yang airnya mengalir dengan tenang.
Bersamaan pula, dia merasa terperanjat sekali, kiranya di dalam aliran sungai tersebut terdapat serangkaian tulang-tulang ular raksasa sebesar mangkok yang berserakan di dasar sungai.
Diam-diam, pikirannya berputar, "Huuu... sangat hebat sekali ular-ular ini, jika masih hidup, tentu tubuhnya sebesar gentong air.... tapi kenapa ia sudah binasa di situ?" Mendadak, pandangannya terbentur dengan sesuatu yang amat mengejutkan hatinya, tak tertahan lagi, dia menjerit kaget.
Terlihatlah dari sudut gua yang cukup luas itu, memancarlah keluar sebuah sinar berkilauan yang amat terang sekali, bahkan terasa segulung demi segulung hawa dingin yang menusuk tulang, dan rasa panas yang membakar, silih bergantian.
Di tengah gua itu, terdapatlah tiga buah benda yang memancarkan sinar kemerah-merahan, kekuning-kuningan, dan keperak-perakan yang menyilaukan mata. Di atas tiga butir benda tersebut, tergantunglah dua buah mutiara yang memancarkan sinar berkedip-kedip. Setelah dipandangnya lebih teliti, dia baru bisa melihat keadaan di dalam gua itu sejelas-jelasnya.
Bagaimanapun, Aram Widiawan masihlah seorang bocah, kini melihat tiga buah benda yang memancarkan sinar amat terang, timbullah niatnya untuk mengambil dan memakannya, lalu dihampirinya tiga buah benda tersebut, sekedar untuk melihat-lihat, namun tiba-tiba, "Jduk... gusrakk...?" batu sialan, tuanmu, kau jegal, dasar brengsek, pada saat memaki mak itu, "Sreet...," tiga buah benda tersebut menjadi asap, dan terhisap masuk ke dalam tenggorokannya.
Perasaan terkejutnya bukan kepalang, cepat-cepat dia pentangkan mulutnya lebar-lebar, berusaha untuk mengeluarkan kembali, siapa sangka keadaan sudah terlambat.
Diam-diam, dia berkeringat dingin, "Celaka, empat belas kali ini, aku benar-benar akan mati," setelah menunggu sekitar satu kentungan, namun tidak ada reaksi apapun, hatinya bergirang. Diedarkanlah pandangan matanya, melihat kondisi dalam gua tersebut.