Chapter 03
Di dalam gua itu terdapat meja, kursi, dan barang-barang lain dari batu yang masih sempurna. Di atas sebuah pembaringan batu, duduk bersila seorang kakek tua yang wajahnya sudah berkeriput dengan rambut keperakan. Ia duduk bersila dengan tenangnya, seolah tak menghiraukan keadaan di sekitarnya.
Aram heran bagaimana di dalam jurang yang dalam itu terdapat seorang kakek. Akhirnya, ia memutuskan untuk bertanya siapa kakek tersebut. Pelan-pelan, ia mendekati kakek itu, tetapi kakek itu tetap diam. Aram menggoyangkan tubuh kakek itu, dan perasaan tidak enak mulai merayapi tubuhnya. Kemudian, ia memeriksa pernapasan kakek itu, dan Aram terkejut. "Dia tidak bernapas," ujarnya pelan, bulu kuduknya merinding.
Dengan mengerahkan segala keberaniannya, ia memeriksa kembali mayat kakek itu. Saat ia menengok kepangkuan kakek itu, terlihatlah sebuah daun lontar yang biasa digunakan untuk tulis-menulis. Karena penasaran, Aram mengambil daun lontar itu dan mulai membacanya.
"Aku adalah Pandu Permana, Orang Rimba Persilatan memberiku gelar Sirubah Seribu Wajah pada masa ku," tulisnya. "Aku memiliki serangkaian ilmu siasat, ilmu silat, ilmu meringankan tubuh, dan ilmu menyamar yang tiada tandingannya di dunia." Namun, golongan hitam dan golongan putih berusaha untuk membunuhnya karena beranggapan bahwa dia berbahaya bagi keselamatan Rimba Persilatan.
Dalam keadaan kecewa, kakek itu mengasingkan diri di sana dan bersumpah tidak akan terjun kembali ke dalam Bulim. Sekalipun dia berhasil melatih ilmu-ilmunya mencapai taraf yang paling tinggi, manusia tidak seperti malaikat yang tak akan mati. Pada beberapa hari terakhir, hatinya mendadak terasa amat kacau, dan dia sadar bahwa ajalnya sudah hampir tiba.
Meninggal dunia bukanlah suatu peristiwa yang patut disayangkan, tapi tidak memperoleh seorang penerus ilmunya membuat hatinya merasa amat susah. "Apakah Tuhan tidak menghendaki ilmu-ilmuku muncul kembali di dalam dunia persilatan?" Bilamana pada kemudian hari ada orang yang beruntung masuk ke dalam gua ini, harap mau menguburkan tubuhku ke dalam tanah di samping pembaringanku ini. Atas jasa itu, Kitab yang ada di atas meja boleh diterima sebagai balas jasa.
Tertanda,
Sirubah Seribu Wajah.
Selesai membaca surat itu, dalam hati Aram Widiawan segera merasa geli pikirnya. "Untung saja kau, kakek tua, sudah bertemu dengan aku. Jikalau berganti dengan orang lain, sesudah mereka mengambil Kitabmu, kemudian tidak mau perduli untuk menguburkan kerangkamu, bukankah kau tidak bisa berbuat apa-apa?" Haha... Berpikir sampai di situ, segera dia angkat kepalanya, memandang. Terlihatlah di samping kiri memang terdapat tanah yang cukup gembur, luas tempat tersebut tidak lebih cuma lima depa saja.
Sambil celingukan mencari alat menggali, ia berpikir, "Hari sudah larut malam, lebih baik aku tidur saja, akh, besok baru aku kuburkan." Tanpa pikir lagi, ia langsung mencari tempat yang kering dan nyaman. Tak lama kemudian, terdengarlah helaan nafas yang teratur.
Semilir angin dingin membasahi kulit ilalang, menari terbuai sahdu semilir angin. Sang raja siang mengintip malu di ufuk timur. Bumi masih menguap, temaram. Di dalam goa di dasar jurang, terlihat seorang pemuda sedang bersusah-payah menggali tanah dengan sebilah pedang yang cukup panjang. Pedang itu ia temukan di sebelah kanan pembaringan, dalam sarung pedang itu tertulis "Pedang Ekor Rubah".
Seperangan nasi, kemudian terbentuklah sebuah lubang yang cukup dalam. "Akhirnya selesai juga," keluhnya. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh kakek itu, sreet... trak... tiba-tiba suatu benda jatuh dari saku kakek itu. Aram Widiawan, yang membopong tubuh kakek itu, tak mempedulikan benda itu. Ia terus saja memasukan tubuh kakek itu dan menguburnya. Setelah semua beres, ia menghampiri benda yang jatuh itu dan mengambilnya. Ternyata itu adalah sebuah botol kecil.
Dengan langkah kecil, ia menghampiri kembali pembaringan, tempat kakek itu duduk bersemadi. Terlihatlah di samping kiri dari pembaringan batu itu terdapat sebuah meja batu yang di atasnya bertumpuk Kitab-Kitab tebal. Selain berisikan Kitab siasat, sejarah, syair, dan buku lainnya, masih ada pula Kitab-Kitab ilmu silat dari setiap partai yang ada di dalam dunia persilatan. Bahkan beberapa Kitab terdiri dari bahasa asing.
Dengan hati yang mantap, dia membuka salah satu dari Kitab itu. Dalam sampulnya, Kitab itu bertuliskan "Kitab Silat Rubah". Aram Widiawan merasa geli dengan nama Kitab tersebut. Ternyata Kitab itu berisi jurus ilmu-ilmu dari Rimba Persilatan Tanah Jawa. Terlihatlah dalam Kitab itu penuh bertuliskan jurus-jurus mana yang paling lihay dan jurus apa untuk memecahkannya, jurus mana yang ada kelemahannya, dan bagaimana cara menutupnya kembali. Semuanya tertuliskan dengan jelas sekali.
Tak terasa lagi, dengan perasaan amat kagum, pujinya, "Orang tua ini sungguh seorang aneh, cukup dalam hal ini saja sudah jarang ada orang yang menandingi dirinya." Perlahan-lahan, dia meletakkan kembali Kitab itu dan melihat Kitab-Kitab yang lain. Dibolak-baliknya Kitab itu, dan membaca nama-nama sebagian Kitabnya. Kitab tersebut adalah "Kitab Rubah Bersiasat", "Kitab Silat Rubah", "Kitab Langkah Rubah", "Kitab Selaksa Rubah Menjadi Bayangan", "Kitab Rubah Mengkamuflase Diri", dan sebagainya.
Tiba-tiba, ia terbelalak melihat sebuah Kitab, "Kitab Sakti Penguasa Ilmu Hitam". Desisnya dengan setengah bergetar, ia membuka halaman pertama. Di sana ada tulisan tangan yang tak asing bagi Aram Widiawan. "Kitab ini aku temukan di Gunung Himalaya semasa aku muda dulu, dengan mempelajari Kitab ini, aku bisa mempelajari berbagai ilmu hitam tanpa melakukan suatu ritual ataupun tumbal. Kitab ini menerangkan bagaimana cara mempelajari ilmu hitam dengan cara jalan lurus."
Tertanda,
Sirubah Seribu Wajah.
Karena seluruh perhatiannya sudah tercurahkan pada ilmu-ilmu rahasia yang aneh dan sakti yang termuat Kitab tersebut, tak terasa lagi, dia segera menggerakkan tangannya, mulai belajar. Saat ini, dalam tubuhnya mengalir tenaga dalam dari Ubi Darah Api, Kelapa Uap Salju, dan Tiga Buah Inti Alam, yaitu Inti Matahari, Inti Air, dan Inti Petir, membuat pikirannya semakin tajam.
Demiikianlah, setiap hari, Aram Widiawan berlatih dengan amat gesitnya, mempelajari seluruh isi dari Kitab Pusaka itu. Dalam Rimba Persilatan, terdapat delapan datuk ilmu silat yang biasa dipanggil Datuk Delapan Penjuru. Tiga orang dari golongan putih, yaitu Datuk dari Barat, Kyai Jalak, atau Pendekar Burung Jalak, Datuk dari Barat Daya, Dewi Pemanah Asmara, Nyi Permata Dewi, Datuk dari Barat Laut, Nyai Dewi Renjani, atau biasa dipanggil Bidadari Penakluk Naga.
Dua orang dari golongan merdeka, yaitu Datuk dari Timur, Kiai Asmaradanu, atau Sisinting dari Timur, dan Datuk dari Selatan, Sipemabuk dari Selatan. Dan tiga orang dari golongan hitam, yaitu Datuk dari Utara, Ki Sapta, Si Iblis Pembunuh Raga, Datuk dari Tenggara, Ki Seta, atau Iblis Pemakan Jantung, dan Datuk dari Timur Laut, Ki Renjana, Iblis Tengkorak Mas.
Selain para datuk dari kaum kelana, juga terdapat jagoan dari lima perguruan besar di Tanah Jawadwipa, antara lain Nyi Sawitri dari Perguruan Teratai Putih, Ki Jalu dari Perguruan Rajawali Emas, Ki Ngarai dari Perguruan Bintang Kemukus, Ki Aram dari Perguruan Pedang Bumi, dan Ki Bedu dari Perguruan Golok Harimau.
Siang itu, di sebuah kedai, terdengar ramai beberapa orang sedang berbincang-bincang di sudut ruangan. Terlihatlah dua orang yang sedang berbicara dengan serius dan sedikit keras, "Kang Deno, kabarnya Ki Jalu, Ketua Perguruan Rajawali Emas, dan Ki Ngarai, Ketua Perguruan Bintang Kemukus, telah tewas! Benar, gak?" "Set... ayi edo, jangan terlalu keras, nanti kau bisa celaka," bisik lelaki yang dipanggil Kang Deno.
Namun, beberapa tamu tak urung mendengar juga apa yang dikatakan oleh Edo. Ributlah tamu-tamu yang mendengar itu. Beberapa argumen dan pendapat mereka keluarkan. Tiba-tiba, seorang lelaki kekar, berwajah sangar, penuh brewok, dengan pedang di punggung, menggebrak meja, kemudian mendekati kedua orang yang saling bisik-bisik tadi, "Hey, kaum keroco, cepat katakan siapa yang berani membunuh Ki Jalu, Ketua Perguruan Rajawali Emas, dan Ki Ngarai, Ketua Perguruan Bintang Kemukus!" Jangan membual, kau...!!!
Sebenarnya, si lelaki kekar itu adalah adik seperguruan Ki Jalu, Ketua Perguruan Rajawali Emas, Pendekar Rajawali Pekikan Harimau. Dan siapakah si pengabar langit itu? Kita akan ceritakan di bagian lain cerita ini.
Sementara pengunjung kedai bertambah gempar, bahkan beberapa orang malah menghubungkannya dengan pembunuhan keluarga dari Pendekar Pedang Pelintang Jagat, Pembelah Sagara, Ki Gunawan Widiawan, dan istrinya, Si Pengumpul Ilmu Tunggal Jagat, Nyi Widia Seta.
Selang beberapa hari saja, kematian para ketua perguruan terkenal kesegala penjuru, tak lupa panji kecil bergambar telapak tangan dengan disulam benang perak juga menjadi bahan pembicaraan para kaum persilatan, dan menjadi momok yang paling ditakuti pada zaman ini.
Malam yang dingin dan gelap, karena sang putri malam tidak muncul di peraduannya, "wuuusshhhhh..." tiga sosok bayangan berwarna hitam melesat seperti bayangan hitam ke sebuah rumah yang cukup besar di daerah Kotaraja Padjampangan.
"Ayah..."