Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 04

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 04

Ayah ada, apakah?" Kenapa aku harus sembunyi di sini?" Seorang gadis cilik berusia kira-kira tiga belas tahun bertanya terheran-heran. Apalagi ia melihat ibunya menangis sedih dengan terisak-isak. "Ketahuilah, wahai anakku, keluarga kita sedang berada di ujung tanduk. Sudahlah, anakku, engkau belum saatnya untuk mengetahui. Usiamu masih dini untuk mengetahuinya."

Anakku, kita tidak punya banyak waktu. Ini, ambilah. Ingat, jangan sampai engkau berikan kepada orang lain. Engkau boleh membukanya apabila engkau sedang dilanda kesedihan yang dalam. Engkau paham, anakku?" Ayahnya menyerahkan sebuah bungkusan yang cukup besar kepada anaknya. "Ya, Ayah, ananda paham."

"Masuklah, lekas, anakku. Ibumu mencintaimu," timpal ibunya dengan penuh kasih sayang, seraya mencium keningnya. Kemudian, kedua suami istri paruh baya itu pun pergi ke ruang tengah dan mulai bercakap-cakap. "Tak kusangka aku, Ki Nanjar, si Rasul Cambuk Bumi, harus pasrah menunggu kematian. Wahai istriku, maafkanlah daku sehingga melibatkan engkau. Sungguh, aku merasa malu," dengan getir Ki Nanjar berusaha untuk tersenyum kepada istri tercintanya, meski hanya sebentuk garis yang sedikit melengkung ke atas.

"Tidak apa-apa, Kang, meski aku tidak bisa ilmu silat, namun aku ingin selalu bersama denganmu. Pahit manis kita telan bersama-sama," kata Nyi Elas. Tiba-tiba, sebuah suara yang tajam menusuk memotong ucapan Nyi Elas. "Bersiaplah menghadapi kematianmu, Nanjar... Aku datang untuk mencabut nyawamu!" Brakkkkkkk... Genting rumah Ki Nanjar ambrol set...

Tiba-tiba, muncullah tiga sosok manusia berpakaian hitam dengan gambar telapak perak di dada mereka. Wajah mereka tidaklah jelas karena mereka memakai topeng berwarna perak. "Huh... Tak semudah itu, pengecut-pengecut bertopeng! Tunjukan wajahmu jika engkau memang seorang ksatria!" damprat Ki Nanjar yang merasa geram dengan kehadiran mereka. "Nanjar, sudah siapkah engkau menuju neraka?" sahut si lelaki bertopeng yang berada di tengah, yang mungkin adalah pemimpin rombongannya.

"Kalian jumawa sekali, jahanam! Justru kalian lah yang akan menghadap Raja Neraka!" balas Ki Nanjar sengit dengan nafsu membunuh menghiasi wajahnya. "Kalian berdua, kita lakukan sesuai rencana, dan kau, Nanjar, kau hanya calon penghuni neraka. Jadi, jangan banyak bacot tak berguna! Sreeng... Hiaaaaaaaaaattttttt!" Pemimpin dari rombongan manusia bertopeng mencabut pedangnya dan meloncat dengan gaya burung pipit kembali ke sarang, mendapat serangan mendadak.

Ki Nanjar, sebagai jago yang sudah malang melintang di dunia persilatan, tak membuatnya gugup. Dengan cepat, ia menyambar cambuk saktinya dengan merapal jurus sabetan halilintar. 'Wuuuuukkkkkkk' 'Traannnnggggg' Lelatu api bertebaran akibat bentrokan dari cambuk dan pedang. Cepat-cepat, si lelaki bertopeng mundur dengan bersalto tiga kali di udara. Diam-diam, lelaki bertopeng itu berpikir dalam hatinya, "Ternyata cambuk si bangkotan tua terbuat dari besi lemas. Aku harus berhati-hati, apalagi tenaga dalamnya juga lumayan tinggi."

Ki Nanjar yang mendapatkan angin segera mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam cambuk dan merapal jurus perisai naga petir. Menyambar jurus itu merupakan jurus pertahanan sekaligus menyerang yang hebat. Jika ada air pun, jangan harap masuk ke dalam lingkaran yang diciptakan Ki Nanjar. Suara cambuk yang mengaung juga memberikan efek bagi lawan karena mengandung daya magis. Lelaki bertopeng terkejut mendapat serangan yang luar biasa itu dengan cepat menangkis dengan jurus pedang Iblis telapak perak. "Trang..... duarrrrr......." Jurus demi jurus telah mereka keluarkan. Tak terasa, mereka sudah bertarung sebanyak seratus dua puluh lima jurus.

Peluh membasahi jidat Ki Nanjar. Tiba-tiba, "Buukkkk!" Ia terkejut karena ia dibokong oleh lelaki bertopeng yang lainnya. Karena gugup, "Srraaaaaattttt!" Bluk, kepala Ki Nanjar jatuh ke bumi, disusul oleh tubuhnya. "Kakaaaaannnggggggg!" Jerit Nyi Elas. Sret, jraasssshh... Sebuah pedang telah menusuk punggungnya tembus ke dada. Srattt, tiba-tiba lelaki bertopeng itu mencabut pedangnya sekaligus memenggal kepala istri Ki Nanjar. Sungguh sadis.

Jerit kematian bergema di malam yang sunyi. Api berkobar membakar rumah Ki Nanjar. Keesokan paginya, warga gempar. Tak ada satupun keluarga dan bujang Ki Nanjar yang selamat. Yang tertinggal kini hanya puing-puing rumah dan mayat yang terbakar, juga sehelai panji kecil bersulam telapak tangan berwarna perak.

Kini, dalam rimba persilatan, telah muncul organisasi rahasia yang menjadi momok yang menakutkan bagi para pendekar. Siapapun pendekar yang mendapatkan panji kecil bersulam telapak tangan berwarna perak, setangguh apapun, maka keesokan harinya ia akan menjadi mayat tanpa kepala. Orang menyebut panji itu "Panji Telapak Perak Pemburu Nyawa".

Lalu, bagaimana nasib si gadis cilik? Selamatkah ia? Detik terus mengalir, menghanyutkan menit, dan menggulirkan jam. Hari berganti hari, purnama berganti purnama. Entah berapa purnama telah berlalu, menjadikan seorang anak saksi bisu. Dua tahun telah berlalu. Kini, Aram Widiawan sudah berusia enam belas tahun. Tubuhnya bertambah besar dan tinggi, karena ia tak pernah keluar dari goa dan hanya memakan buah-buahan dan rumput-rumputan. Kulit tubuhnya menjadi putih dan halus, mirip kulit seorang perempuan, dengan rambut sepundak riap-riapan terbawa angin. Matanya kini berwarna merah, menunjukan tenaga sakti mata darahnya telah mencapai tingkat sepuluh.

Kitab-kitab yang berada di dalam gua pun telah dilalap dan dihapalkannya diluar kepala, tinggal mematangkan dan pengalamannya saja. "Duapuluh empat purnama telah lewat, aku harus keluar dari sini," pikirnya dalam hati. Kemudian, ia mengambil pedangnya, pedang yang ia temukan dulu sewaktu mengubur kakek tua penghuni gua sebelumnya. Hanya pedang itu harta yang dimilikinya, bajunya pun kini hanya mampu menutupi auratnya saja.

Dengan secepat kilat, ia keluar dari gua menuju tempat dulu ia jatuh. Cahaya matahari remang-remang menyinari permukaan jurang. "Aih, aku rindu keramaian," dilihatnya sebuah batu di bawah pohon teureup yang menjulang tinggi di dasar jurang. "Lebih baik aku istirahat dulu di sana," pikirnya, sambil melangkah. Tak lama kemudian, ia telah duduk di atas batu tersebut. Plukk... Sebuah benda dan selembar kulit hewan jatuh dari celananya yang sudah ancur.

Aram Widiawan terkejut karena selama ini ia melupakan keberadaan benda itu. Kemudian, diambilnya, benda tersebut adalah sebuah botol kecil berisi pil yang dulu ia temukan dari saku si kakek, sedangkan kulit hewan itu adalah sebuah peta, ya, peta yang dulu hampir merengut nyawanya. Sambil menatap peta tersebut, pikirannya menerawang.

Di sebuah desa kecil yang subur, itulah Ki Gunawan Widiawan dan Nyi Widia Seta mengasingkan diri dengan seorang anak tunggalnya, Aram Widiawan. Menjelang senja, Aram Widiawan pulang dari mainnya. Ia tengah keheranan melihat ayah dan ibunya murung. "Pah, Mah, ananda pulang... Pah, Mah, kenapa kalian terlihat sedih seperti itu?" Apakah karena ananda tidak mau belajar ilmu silat dan hanya mau mempelajari sastra dan tenaga sakti mata darah? Aram Widiawan bertanya dengan keheranan.

"Duduklah, anakku, betul apa yang kamu katakan. Anakku, ayah dan ibumu sangat mengkhawatirkan dirimu yang tak bisa silat. Kami takut engkau menderita," ujar ayahnya dengan memelas. Aram Widiawan yang masih bocah berusia tiga belas tahun kebingungan. Bagaimanapun, ia masih belum mengerti ucapan ayahnya karena faktor usianya yang masih kecil.

"Sudahlah, Kang, biarkan saja ia membersihkan diri dulu, supaya ia lebih segar," ibunya menyela pembicaraan di senja hari itu. Malam harinya, terlihatlah tiga orang manusia berbeda jenis dan usia sedang asik mengobrol, meski wajah mereka terlihat muram. "Anakku, tahukah kamu mengapa kami memanggil mu?" tanya Ki Gunawan Widiawan, memecahkan kesunyian di antara mereka.

"Tidak, Ayah," jawab Aram Widiawan. "Tahukah kau tentang si Iblis Langit Selatan?" "Tidak, Ayah, apakah dia orang jahat, Ayah?" "Ya, anaku, dia adalah seorang Iblis maha keji. Kekejiannya lebih dari tiga datuk golongan hitam," kata Ki Gunawan Widiawan. "Lalu, apa hubungannya dengan kita, Ayah?" "Sangat erat, anaku. Bu, ambilkan barang itu!" "Baik, Kang," sahut Nyi Widia Seta, sambil melangkah ke kamarnya, diiringi tatapan bingung Aram Widiawan.

Tak lama, munculah ibunya dengan membawa sebuah kitab tipis yang tampak kuno. "Aram, anakku, ini adalah peta tempat penyimpanan Kitab ilmu milik ibu, ayah, nenek, dan eyang gurumu. Ambilah, dan hapalkan Kitab ini. Kelak akan berguna bila sudah kau hapal, bakarlah. Jangan kau serahkan peta ini kepada siapapun... Ingat, Aram... Apakah kau mengerti?" "Ya, Ayah, tapi..." "Tapi apa, Aram, anakku?" "Ananda belum mengerti, mengapa Ayah memberikannya pada ananda," jawab Aram Widiawan.

Ki Gunawan Widiawan menghela nafas dalam-dalam. Nyi Widia Seta tertunduk, air matanya mengalir bak sungai Ciawi. "Aram, anaku, ayah dan ibumu tidak bakalan lama lagi hidup di dunia fana ini. Ayah dan ibumu terkena racun langit yang tidak ada penawarnya. Ayah dan ibumu masih hidup berkat tenaga dalam kami yang cukup tinggi, itu pun hanya mampu bertahan paling delapan hari," kata Ki Gunawan Widiawan, berhenti sejenak untuk melegakan dadanya yang sesak.

Aram Widiawan sangat terkejut mendengar perkataan ayahnya. Ia benar-benar shock mendengar berita itu. Ia langsung menangis tersedu-sedu. "Anakku, kau sayang kami?" tanya Ki Gunawan Widiawan, dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan tegas, tidak seperti biasanya. "An... Ananda sayang Ayah juga Ibu... Hik... Hikkkk," jawab Aram Widiawan, disela-sela isak tangis.

"Jikalau kau sayang kami, berhentilah menangis, dan sanggupkah kau melaksanakan keinginan kami?" Ki Gunawan Widiawan melanjutkan ucapannya, tanpa menunggu jawaban anak semata wayangnya itu. "Kami minta kau malam ini menghapalkan dan memahami Kitab itu. Besok, ayah akan mengujimu! Pergilah ke kamarmu, dan hapalkan juga pahamilah!" "Iya, Ayah," sahut Aram Widiawan, seraya bangkit dan pergi ke kamarnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment