Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 05

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 05

Malam ini ia tak bisa tidur. Perlahan, ia membuka Kitab tipis itu. Kitab itu hanya terdiri dari lima halaman, sampulnya tertulis "Kitab Penyatlum" - hanya itu yang mampu ia baca karena sebagian Kitab itu sobek.

Halaman pertama tertulis: "Satu adalah seribu. Seribu adalah satu." Halaman kedua tertulis: "Semua berawal dari Satu, maka kembalilah menjadi satu." Halaman ketiga tertulis: "Panas dan dingin akan menjadi mengerikan apabila telah menjadi satu." Halaman keempat tertulis: "Satu adalah sumber. Sumber adalah kekuatan." Halaman terakhir tertulis: "Kekuatan adalah kosong. Kosong adalah diam." Ia benar-benar bingung, meskipun ia mempelajari sastra, tapi baru kali ini ia melihat Kitab seaneh ini.

Karena lelah, akhirnya ia memutuskan untuk tidur. Malam semakin larut. Suara hewan malam dan nyanyian malam mengiringi tidurnya.

Tiba-tiba, terdengar suara derapan kaki kuda mendekati desa dan berhenti di depan gubuk Ki Gunawan Widiawan. Ki Gunawan Widiawan dan Nyi Widiawan, yang tengah bersemadi, langsung membuka mata. Keringat dingin mulai mengucur, karena mereka tengah keracunan hebat dan tenaga dalam pun hanya mampu digunakan setengah bagian. Mereka benar-benar khawatir, terutama mengingat nasib anak semata wayang mereka. "Nyi, lekaslah engkau sembunyikan anak kita!" teriak Ki Gunawan Widiawan.

Tiba-tiba, terdengar suara hancurnya pintu rumah Ki Gunawan Widiawan yang terkena sebuah pukulan tenaga dalam. Tiga bayangan melesat ke dalam rumah. "Hey, siapa kalian? Datang menghancurkan pintu rumah orang. Ada keperluan apa?" Ki Gunawan membentak. Yang dibentak hanya tertawa dingin dan menjawab: "Ketahuilah, aku Iblis Langit Selatan. Menginginkan nyawamu dan hendak meminta suatu barang. Hahaha... cepat serahkan peta itu!"

Ternyata yang datang adalah lelaki setengah baya dengan wajah sangar, dihiasi kumis yang melintang, rambutnya berwarna merah akibat ilmu yang dipelajarinya, yaitu Tenaga Sakti Selasa Racun Langit. Dialah Si Iblis Langit Selatan, dan dua bayangannya lagi adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahunan yang memakai baju biru, dan seorang wanita berusia dua puluh tiga tahunan. Mereka adalah murid Si Iblis Langit Selatan.

"Peta apa?" jawab Ki Gunawan Widiawan berlagak pilon. "Gerrr, disaat seperti ini kau masih berlagak bloon. Sepertinya kau perlu diajar adat keparat!" Serangannya tanpa peringatan apa pun, Iblis Langit Selatan menyerang dengan merapal jurus pukulan Racun Selatan tingkat tiga. Bau amis menyebar kira-kira tiga tombak dari arena pertarungan.

Ki Gunawan Widiawan yang melihat Si Iblis Langit menyerangnya dengan tanpa peringatan membuatnya gusar. Cepat ia salurkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh dan mencabut pedangnya dengan menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam pedang, kemudian merapal jurus Menggulung Ombak Samudra dari rangkaian ilmu pedang Pelintang Jagat Pembelah Sagara.

Iblis Langit membatalkan serangannya karena ia harus menyelamatkan diri dari tebasan pedang yang menuju lehernya. Iblis Langit merasa kagum juga kepada lawannya, dalam keadaan keracunan, ia masih mampu bertarung hampir seimbang dengannya.

Ratusan jurus telah mereka keluarkan, ruangan tamu Ki Gunawan Widiawan telah porak poranda terhempas angin akibat pertarungan mereka. Tiba-tiba, Hoek Ki Gunawan Widiawan muntah darah, ternyata ia terlalu memforsir tenaganya, ia lupa bahwa ia sedang keracunan hebat.

"Krek... aaakkkkhhhh!" Ki Gunawan Widiawan menjerit karena tiba-tiba murid lelaki Iblis Langit Selatan menyergap dan mematahkan tulang kaki nya. "Keparat kau, membokong orang dengan pengecut!" teriak Ki Gunawan Widiawan. Si pemuda berbaju biru tertawa dingin dan "krek....aaakkkhhhhrrgg!" "Berani sekali lagi kau memaki ku, ku patahkan seluruh tulang mu!" Dengan bengis, ia tendang Ki Gunawan Widiawan sampai mencelat, "bruk!" tubuhnya menimpa meja sampai hancur berkeping-keping, sekerasnya tertimpa tubuh Ki Gunawan Widiawan.

Bukannya jerih, Ki Gunawan Widiawan malah memaki lebih pedas, wajahnya merah menatap Iblis Langit Selatan dengan kebencian yang memuncak. "Iblis Langit, pengecut, berani hanya keroyokan dan membokong... ayahnya pengecut, tukang pemerkosa, penjilat, anaknya apalagi..." Merah padam, Iblis Langit dikatain ayahnya seorang pengecut, tukang pemerkosa, dan penjilat. Seret, ia mencabut gada emasnya, "wukkkk" dipukulkannya gada emasnya ke arah kepala Ki Gunawan Widiawan. Gada emas Iblis Langit Selatan tampaknya akan menghancurkan kepala Ki Gunawan Widiawan, tinggal sejengkal lagi mengenai ubun-ubun Ki Gunawan Widiawan.

Tiba-tiba, trang... sebuah pisau terbang menyambar gada emasnya. Iblis Langit Selatan terperanjat melihat sebuah pisau mampu menahan gada emasnya. Diam-diam, ia berpikir, "Hebat juga tenaga dalamnya, tampaknya rencana malam ini akan banyak halangan."

"Kakaaaanggggg!" Suara merdu melengking di kesunyian malam yang gelap ini. Tanpa menghiraukan keadaan sekitarnya, Nyi Widiawan meloncat memeluk suaminya. Tiba-tiba, ia merasakan ada desiran halus di belakangnya. "Celaka, senjata rahasia!" Nyi Widiawan menghindar, tapi "jrubb", beberapa jarum menembus kulitnya yang mulus.

" Bruk!" Nyi Widiawan terjerembab jatuh, kemudian merangkak mendekati suaminya. Sambil menangis, Nyi Widiawan berkata, "Kangmas, meski kita tak dilahirkan dalam waktu yang sama, tak kita sangka kita akan mati dalam waktu yang sama." Ki Gunawan Widiawan tersenyum mendengar ucapan istri tercintanya itu. Ia tak berbicara, hanya tatapan mata dan gerak tubuh menyatakan kebahagiaannya.

Nafas mereka semakin lemah dan lemah, putuslah nyawa mereka. "Geledah rumah ini, cari peta itu juga anak mereka. Kita harus membasmi sampai ke akar-akarnya, jangan sampai kita memelihara anak harimau," tegas ucapan Iblis Langit Selatan. Bukan omong kosong jika ia dimuliakan oleh orang-orang persilatan. Akhirnya, mereka menggeledah rumah Ki Gunawan Widiawan, tapi naas, peta maupun anak Ki Gunawan Widiawan tak mereka temukan. Saat itu juga, mereka membakar rumah Ki Gunawan Widiawan.

Fajar telah menyingsing, suara telapak kuda berlari semakin jauh, tak terdengar lagi. Akhirnya, para warga pun keluar dan berbondong-bondong menuju rumah Ki Gunawan untuk melihat musibah yang menimpa keluarga Ki Gunawan Widiawan. Sebenarnya, para warga pun mengetahui musibah keluarga Ki Gunawan Widiawan itu terjadi semalam, hanya saja mereka tahu jika ingin menolong pun hanya akan menjadi korban sia-sia.

Lalu, bagaimana dengan Aram Widiawan, putra Ki Gunawan Widiawan? Saat Ki Gunawan Widiawan menyuruh Nyi Widiawan menyelamatkan anak semata wayangnya, cepat-cepat Nyi Widiawan masuk ke kamar anaknya, diciumnya kening Aram dengan penuh kasih sayang. Set, tuk... tiba-tiba Nyi Widiawan menotok jalan darah tidurnya. Tanpa babibu lagi, Nyi Widiawan memanggul anaknya, kemudian berlari ke belakang rumahnya dengan mengerahkan ilmu peringankan tubuhnya. Sekejap saja, ia telah berada di bukit belakang rumahnya.

Diletakkannya tubuh Aram Widiawan di salah satu rumput yang agak tebal. Dibelainya rambut panjang anaknya itu. "Nak, jadilah anak yang berguna, ibu menyayangimu." Pluk, airmata ibunya jatuh di pipi Aram. Tiba-tiba, pendengarannya yang tajam mendengar suara pertarungan di dalam rumahnya. Cepat-cepat ia berlari dengan mengerahkan ilmu peringan tubuhnya. Sesampainya di sana, betapa terperanjatnya ia melihat suaminya terancam bahaya. Disambarnya pisau dapur yang kebetulan menggantung di dinding sebelah kirinya. Dengan mengerahkan tenaga dua belas bagian, ia melemparkan pisau dapur yang diambilnya barusan dengan merapal jurus Bidadari Memberi Berkah.

Dan kelanjutannya seperti apa yang diketahui oleh pembaca. Suara kokok ayam menjadi tanda pagi telah menjemput. Dengan malu-malu, sang mentari pun terangi jagat raya. Semilir angin membelai lembut pepohonan dan rumput. Di lereng bukit Cikijing, tampak seorang anak usia tiga belas tahunan terbaring lemah. Pelan-pelan ia membuka matanya, ia kebingungan karena saat ini ia berada di lereng bukit, bukan berada di kamar nya.

Dengan berlari-lari kecil, ia pulang ke rumahnya. Sesampainya di halaman rumahnya, ia malah diam berdiri, matanya terbelalak kaget mengetahui bahwa rumahnya tinggal puing-puing. Tiba-tiba, pluk, ada tangan yang memegang pundaknya. "Nak Aram, sabar yah." Dengan cepat, ia berbalik, "Paman Ardi...! Apa yang terjadi? Dimana ayah dan ibuku?" "Sabar, anakku, mari engkau ikut ke rumah paman, nanti paman akan menceritakan semuanya." Akhirnya, bayu pun mengikuti Ki Ardi ke rumahnya. Sesampainya di sana, Aram serasa terbang arwahnya melihat ayah ibunya terbujur kaku bersimbah darah.

Gubrakkk, saking tergoncang perasaannya, Aram Widiawan pun pingsan. Ki Ardi hanya bisa menghela napas berat melihat Aram pingsan. Tak begitu berselang lama, Ki Ardi beserta para warga pun segera menolong Aram dan membaringkannya di kamar. Dua kentongan telah berselang, akhirnya Aram siuman. "Mah... pah... kenapa... kenapa kalian meninggalkan ananda sendiri... Hik... hikkk...!"

Akhirnya, ia berusaha bangun untuk melihat saat-saat terakhir wajah orang tuanya. Setelah masuk ke ruang tengah, pandangannya tampak olehnya, keadaan dalam rumah pamannya. Warga-warga sedang mempersiapkan pemakaman orang tuanya. Mayat orang tuanya sekarang terbaring dalam keadaan bersih, meski ada setitik dua titik noda darah, tampaknya baru dibersihkan. Bukan main sedih dan terharu hatinya.

Aram jatuhkan diri di samping jenazah orang tuanya. Otaknya berputar, memikirkan hidupnya yang seterusnya tanpa orang melindungi dirinya. Air matanya mengembang, sakit hatinya, tangannya dikepalkan. "Aku akan membalas dendam akan kematiannya, kedua orang tuaku! Akan kucari tempat yang dikatakan ayah, tunggulah pembalasanku!" ia berjanji dalam hatinya, matanya beringas dan tangannya dikepal-kepalkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment