Chapter 06
Namun tiba-tiba ia ingat akan nasehat ayahnya bahwa ia harus berlaku tenang jika menghadapi sesuatu urusan, biar bagaimana besar pun, maka amarahnya menjadi reda.
Sebagai gantinya, kembali ia menangis, menangis terisak-isak.
Lembayung menggurat langit, matahari pun telah terlihat kelelahan, awan berbondong-bondong berlarian seakan takut ketinggalan, capung-capung berterbangan di atas kepala seorang anak kecil berbaju coklat, dengan wajah terlihat muram, tangan terkepal, di depan anak itu terlihatlah sebuah gundukan tanah merah. "Paman Ardi bilang pelakunya adalah Iblis langit selatan dan muridnya... bagaimana cara aku membalas sakit hati ini?" terdengar lirih gumaman dari bibir kecilnya.
Tiba-tiba ia berteriak dengan lantang, "Iblis langit, tunggulah pembalasanku! Aku bersumpah akan membalas sakit hati ini, wahai Tuhan, dengan disaksikan kuburan ayah ibuku, bumi tempatku berpijak dan langit yang memayungiku, aku akan menjadi orang yang akan membalas semua ketidakadilan di muka bumi ini, meski harus melalui jalan darah..." Tiba-tiba langit mendadak mendung, terdengarlah petir menyalak tiga kali, bumi bergoncang, angin berhembus dengan dahsyatnya, seakan menjadi tanda bahwa sumpahnya telah didengar oleh Yang Maha Kuasa.
Di tempat lain, warga gempar melihat alam mengamuk dengan dahsyatnya, pohon-pohon tumbang bertebaran, rumah-rumah ambruk, mereka yakin bahwa Tuhan sedang marah karena mereka mungkin kurang bersyukur.
Sementara orang-orang persilatan yakin bahwa itu tanda bakal ada kejadian mengerikan yang bakal melanda, sementara orang-orang kosen menyangka telah ada seseorang yang menguasai ilmu yang dahsyat dan telah mencapai kesempurnaan.
Datuk golongan putih merasa was-was, mending jika yang menguasai ilmu itu adalah orang yang baik, maka keselamatanlah bagi golongan mereka, jika sebaliknya, maka hancurlah masa depan mereka.
Lain halnya dengan datuk golongan hitam, mereka cemas apabila orang kosen tersebut dari golongan putih, mereka yakin pasti kehancuran bagi mereka, jika sebaliknya, mereka juga was-was, berarti ada yang menyaingi mereka, itulah beberapa argumen orang-orang persilatan, apa yang bakal terjadi hanya Tuhan yang tahu.
Aram Widiawan pun masih ingat ketika ia terlunta-lunta di Kotaraja Padjampangan, mengarungi hidup di tengah kerasnya dunia persilatan.
Pada hari itu, matahari bersinar dengan teriknya, seorang pemuda berbaju coklat compang-camping tengah meminta-minta dengan menadahkan mangkuk dari batok kelapa di pekarangan sebuah rumah yang cukup bagus di tempat itu.
Pemuda itu, wajahnya penuh dengan debu, tapi tetap saja tak bisa menutupi wajahnya yang tampan, matanya semu kemerah-merahan, ya, tak salah lagi, ia adalah Aram Widiawan, tujuh purnama ia berjalan mengembara, mengikuti petunjuk peta dari ayah ibunya, dan sudah dua hari ini ia tiba di kota raja.
"Tolooooooonnggggggg..." tiba-tiba terdengar suara anak perempuan meminta pertolongan, membuyarkan lamunannya, dengan sebat, segera ia berlari ke arah suara jeritan tadi, dilihatnya seorang pemuda yang cukup tampan sedang membopong seorang gadis kecil menuju ke arah rimba sebelah utara.
Aram, yang sekarang bukanlah Aram yang dulu yang lemah, tak bisa melakukan apa-apa, sekarang ia sudah memiliki tenaga dalam yang lumayan, karena sejak kejadian tragis itu, ia ekstra berlatih dengan tekun.
Meski ia tak mengerti satupun gerakan ilmu silat.
Sekejap saja ia telah menyandak pemuda yang menculik gadis itu.
"Berhenti..." Aram membentak dengan mengerahkan tenaga dalamnya, sipemudapun terkejut, ia tak menyangka ada orang yang berani mengejarnya, tetapi ketika ia berpaling dan melihat bahwa yang mengejarnya hanya seorang bocah kecil, ia menghembuskan nafas lega, seraya membentak, "Hey, bocah bau kencur, mau apa kau mengganggu ku, tak tahukah kau berhadapan dengan siapa?" Dengarlah dengan telingamu yang congean itu!
Aku adalah Si Kumbang Pemetik Bunga, Si Kumbang Pemetik Bunga memperkenalkan dirinya, dia berharap si bocah segera lari, sipat kuping mendengar julukannya, tapi dia kecele, bukannya takut, Aram malah mengejek dirinya, "Mau kunyuk pemetik bunga atau babi pemetik bunga, kek tuan muda, mu ini gak takut, gak peduli, cepat serahkan gadis itu sebelum kukirim nyawamu ke akhirat," ejek Aram dengan lagak jumawa di buat-buat.
Si gadis dalam pondongan Si Kumbang Pemetik Bunga geli melihat gaya Aram, makin panaslah Si Kumbang Pemetik Bunga melihat lagak jumawa Aram, apalagi dia mendengar si gadis dalam pondongannya tertawa, ia menyangka si gadis menertawakan dirinya.
Cepat ia turunkan si gadis, "Bangsat, serahkan jiwamu!" Tiba-tiba Si Kumbang Pemetik Bunga loncat menyerang Aram.
Karena Aram tak mengerti gerakan ilmu silat, cepat ia loncat menghindar.
Beberapa jurus telah berlangsung, tiba-tiba Si Kumbang Pemetik Bunga gencarkan serangannya.
Ia benar-benar penasaran, kalau tak dapat merubuhkan lawan.
Bahkan dalam suatu kesempatan, ia menyapu kaki si Aram dan rubuhlah pemuda itu terbanting ke tanah.
Mangkuk yang berada di tangan kanannya terbentur pohon dan mencelat.
Saat itu Si Kumbang Pemetik Bunga terus mengangkat tangan hendak menyusuli menghantam kepala si Aram, "Mati kau," pikirnya dalam hati.
Si gadis yang tadi berada di pondongan Si Kumbang Pemetik Bunga menutup matanya, tak tega melihat kematian bocah penolongnya.
Crek...
Tiba-tiba mangkuk yang mencelat itu mengenai jalan darah yang berada di siku lengan Si Kumbang Pemetik Bunga.
Seketika tinju Si Kumbang Pemetik Bunga yang tengah mengacung di atas itu berhenti.
Dan terjadilah suatu pemandangan yang lucu.
Si Kumbang Pemetik Bunga berdiri tegak seperti patung, tangan kanannya diangkat ke atas kepala seperti hendak menghantam.
Tetapi Si Kumbang Pemetik Bunga tak dapat bergerak lagi, seperti sebuah patung.
Aram meringis kesakitan.
Pantatnya menghantam tanah yang cukup keras.
Sejenak kemudian ia berbangkit dan menghampiri Si Kumbang Pemetik Bunga.
Plakkk, ia menampar wajah Si Kumbang Pemetik Bunga, "Hm, rasakan ya engkau ini! Hahahaha...."
Cepat ia memandangnya, "Lho, mengapa engkau diam saja?"
Ah, ya, rasanya kok wajahnya sedikit bengkak ke kiri, "Apa karena tamparanku tadi, ya?"
Plakkkk, Aram kembali menampar wajah sebelahnya, "Nah, kalau begitu, kan pas," ujarnya dalam hati.
Bukan kepalang geram Si Kumbang Pemetik Bunga.
Wajahnya merah padam, "Bedebah, jangan keliwat menghina Si Kumbang Pemetik Bunga! Kalau mau bunuh, bunuhlah aku!"
"Heh, heh, heh, hihihi..." Tiba-tiba si nona dan si Aram tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Pada saat tertawa itu, Si Kumbang Pemetik Bunga melihat sebuah gambar gunung dan tulisan pet... di saku si bocah.
Aram tak sadar, karena kejadian itu lah, suatu hari ia akan dikejar tokoh-tokoh persilatan.
"Non, ayo kita pulang!" Aram mengajak sinona pergi.
Makin geramlah Si Kumbang Pemetik Bunga, mungkin karena geram, marah, jengkel, dan putus asa bercampur aduk dalam hati, Si Kumbang Pemetik Bunga akhirnya pingsan dalam posisi hendak memukul.
Di pekarangan rumah, di mana tadi Aram Widiawan mengemis, tampaklah beberapa penjaga sedang menundukan muka, mereka tampaknya sedang dimarahi seorang lelaki paruh baya, lelaki paruh baya itu kira-kira berusia 35 tahun, wajahnya cukup tampan dengan kumis tipis menghiasi bibirnya, di pinggangnya melingkar sebuah cambuk yang terbuat dari baja, ia adalah Ki Nanjar, atau lebih dikenal Si Rasul Cambuk Bumi.
Di sampingnya ada perempuan paruh baya yang sedang menangis terisak-isak, dia adalah Nyi Elas, istri Ki Nanjar.
"Kalian ini bagaimana sih?" Percuma aku membayar kalian, menjaga anak kecil pun kalian tak sanggup!
Cepat kalian cari anakku, jika kalian tak menemukannya, gaji kalian aku potong setengah tahun, bentak lelaki paruh baya itu.
"Baik, tuan."
"Tunggu apalagi, lekas enyah dari hadapanku!"
Para penjaga pun tak membuang waktu lagi, segera mereka lari serabutan, berpencaran.
"Kang Nanjar, bagaimana ini?" Istrinya bertanya dengan gelisah.
"Jangan khawatir, istriku, aku yakin anak kita baik-baik saja."