Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 07

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 07

Mendadak Ki Nanjar melihat tiga penjaga rumahnya tergopoh-gopoh mendekatinya. "Tuan, kami melihat Tuan Putri berada di dekat rimba sebelah utara, ia sedang digendong oleh seorang anak jembel," lapor Ki Ujang, salah satu penjaga rumah Ki Nanjar Si Rasul Cambuk Bumi.

Secepat anak panah, Ki Nanjar melesat ke arah rimba. Benar saja, terlihat anak gadisnya sedang digendong oleh seorang anak jembel. Betapa geramnya hati Ki Nanjar. Tiba-tiba, dilihatnya lagi anaknya turun dengan tertatih-tatih dan berlari ke arahnya, dan langsung memeluk Ki Nanjar.

Ki Nanjar menyambar golok dari tangan Ki Ari. "Anak kurang ajar, beraninya kau menculik anakku!" Ki Nanjar mengangkat goloknya, hendak menyerang Aram, si bocah jembel. Tapi, tidak jadi, karena anaknya merengek-rengek, "Ayah, jangan, jangan... ia tidak bersalah."

"Tidak bersalah apa?" Ki Nanjar bertanya. "Ia berani menculikmu." "Tidak, Ayah, bukan dia, justru dia yang menolongku, Melati. Jika tidak ada dia, mungkin... mungkin..." "Mungkin apa, anakku?" "Kesucian anak akan dinodai oleh Sikumbang Pemetik Bunga." Melati kemudian menceritakan apa yang menimpanya sampai ia digendong oleh Aram. Ternyata, ia terpeleset, sehingga kaki nya keseleo, jadi terpaksa harus digendong.

"Apa berani sekali Sikumbang Pemetik Bunga mengganggu anakku, grrr..." Ki Nanjar marah. "Jadi, anak jembel tadi yang menolongmu?" Ki Nanjar bertanya. "Benar, Ayahanda," Melati menjawab. "Kalau begitu, aku harus berterima kasih padanya," Ki Nanjar berkata.

Ki Nanjar berbalik menuju tempat Aram berada, namun ternyata ia melihat anak itu berlari terbirit-birit. "Hei, anak muda, tunggu!" Ki Nanjar berteriak, kemudian ikut berlari mengejar.

Sebenarnya, Aram berlari karena ketakutan ketika Ki Nanjar mengacungkan golok ke arahnya. Ketika sudah jauh dari tempat tadi, tiba-tiba ia mendengar suara yang menyuruhnya berhenti. Ketika ia berpaling, makin kencanglah ia berlari. "Kenapa ia mengejar?" batinnya menggerutu.

Sementara itu, Ki Nanjar juga kebingungan melihat pemuda yang disuruhnya berhenti makin berlari kencang. "Ia tak sadar bahwa ia berlari dan berteriak-teriak itu sambil mengacung-acungkan golok yang ia pinjam dari Ki Ari." "Kenapa ia malah lari?" Mungkin ia tidak butuh ucapan terima kasih. Baik, kau tidak mau, maka aku akan memaksanya."

Setelah sekian lama berlari, napas Aram sudah ngos-ngosan. Apalagi, tenaga dalamnya tidaklah begitu tinggi. Akhirnya, Ki Nanjar dapat menyandak Aram. Terjadilah sebuah peristiwa yang lucu, di mana seorang lelaki paruh baya memeluk seorang bocah di kubangan lumpur pesawahan.

"Ampun, Pak... ampun... jangan bunuh saya, saya tidak bersalah!" Aram berteriak-teriak sambil menutupi kepalanya dengan tangan. Tubuhnya basah kuyup, keringat dingin mengucur tiada hentinya. Bagaimana tidak, sebilah golok melintang di lehernya.

"Siapa yang mau membunuhmu, nak?" Ki Nanjar bertanya, keheranan. Padahal, di sekelilingnya tidak ada orang selain mereka. Ki Nanjar masih belum sadar juga bahwa golok yang ia pinjam dari Ki Ari melintang di leher pemuda yang ia kejar.

"Ini... ini... golok..." Ki Nanjar pun berpaling, ia juga terkejut melihat golok yang ia bawa melintang di leher pemuda yang ia kejar. Ki Nanjar pun menyatakan bahwa ia tak sadar membawa golok karena ia panik. "Hahaha... hahaha... pantas saja kau lari begitu terbirit-birit, nak. Hahaha..." Akhirnya, keduanya pun tertawa terbahak-bahak.

Sejak hari itu, Aram tinggal di rumah Ki Nanjar. Disana, ia belajar jurus-jurus ilmu silat, meski hanya dasarnya saja. Malah, ia hanya mempelajari dua jurus ilmu kepandaian, yaitu Sijago Membalikan Tangan dan Monyet Liar Mencari Buah.

Setelah tiga purnama, Aram memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Tentu saja, keputusannya itu membuat sedih keluarga Ki Nanjar, terutama Melati. "Kang Rama... apakah kau akan kembali kesini?" Melati bertanya. "Tentu, aku janji secepatnya aku akan kesini lagi," Aram meyakinkan.

Dengan diiringi air mata, Aram berangkat melanjutkan perjalanan. Melati terisak-isak, ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupnya. Perasaan apa itu? Hanya dia yang tahu.

Setiap pesta pasti akan bubar, itu lah yang dikatakan pepatah. Itulah yang terjadi antara Aram dan Melati, putri Ki Nanjar. Sekeras apapun hati seseorang, pasti memiliki hati nurani. Meski Aram terlihat tegar, hatinya pun merasakan sedih seperti Melati. Hanya karena dendamnya, ia memutuskan untuk membusungkan dada, pilihan seorang ksatria sejati.

Langit tetap tidak berubah, masih berwarna biru. Begitu pun dengan matahari. Berjalan terseok-seok, jatuh bangun, meraih asa. Setiap perjalanan pasti ada tepian. Di depan sebuah kedai, terlihatlah seorang pemuda berbaju coklat, berwajah penuh debu, ia memegangi perutnya yang lumayan berotot. Sekali-kali ia mengecap mulutnya sendiri, melihat orang sedang menyantap makanan.

Perutnya terus berbicara, meminta jatah. "Duh... laparnya," terdengar gumaman seperti suara lebah dari bibirnya. Ia adalah Aram Widiawan, yang baru saja tiba di desa itu setelah dua purnama berjalan dari Kotaraja Padjampangan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Baju pemberian Melati kini telah kumal, disana-sini ada yang sobek. Pembekalan pemberian Ki Nanjar pun telah habis.

Sedang asyiknya memperhatikan orang yang makan, tiba-tiba pundaknya ada yang tepuk. Ketika ia menoleh, tampak seorang laki-laki berparas cakap menatap kepadanya. Di atas alis kanannya ada tanda codet menggaris sampai atas alis kiri, seperti bekas barang tajam. Senyumannya yang menawan telah menarik sekali hatinya.

Itulah orang yang belakangan ia kenal sebagai Si Pengabar Langit, yang telah angkat ia dari gelandangan tak berguna menjadi seorang anak yang cerdas, tangkas dalam dunia telik sandi. Yang melindungi dan mencintainya sebagai kakak pengganti orang tuanya, ia beserta kawanan gelandangan lainnya memanggilnya Kakang Sobari.

Masih berbayang saat itu, mula-mula ia ketika ia bertemu Si Pengabar Langit. "Ayi, apa kau mau makan?" tanyanya Si Pengabar Langit di waktu itu. Aram menganggukan kepala. "Mari ikut aku!" kata Si Pengabar Langit, berbareng tangannya Aram dipegang, diajak berlalu dari situ untuk kemudian mereka memasuki kedai di depannya.

Aram menurut, disuruh duduk di atas bangku yang dikitari meja makan. Setelah pesan makanan, Si Pengabar Langit berkata lagi pada Aram, "Ayi, namamu siapa? Darimana?" Aram menundukan kepala, mengawasi bajunya yang kumel dan robek disana-sini. Ia tetap diam.

"Ayah dan ibumu ada di mana?" tanya Si Pengabar Langit sekali lagi, bertanya memancing si bocah bicara. "Ayah dan ibu mati dibunuh orang," sahutnya kemudian, tanpa menyebutkan namanya.

Sementara itu, pelayan sudah siapkan hidangan di atas meja. Aram awasi makanan di depannya. Ia menelan ludah, mengilar, dia rupanya. Si Pengabar Langit memperhatikan si Aram. Pakaiannya compang-camping, hatinya merasa sangat kasihan.

"Mari kita makan!" mengajak Si Pengabar Langit, seraya mulai bersantap. Aram tidak perlu diundang dua kali, sebab sudah dari kemarin ia tidak makan. Segera ia mulai mencobai makanan yang barusan membuat ia menelan ludah, saking kepingin cicipi.

Ia makan banyak, malah dua kali ia minta tambah nasi. Si Pengabar Langit ketawa, menampak perbuatan Aram yang lucu, apalagi ia sudah melupakan sendoknya, dan langsung makan dengan tangan.

"Eh, namamu siapa?" tanya Si Pengabar Langit, mengingatkan si bocah pertanyaannya tadi yang tidak dijawab. "Namaku Aram, Aram Widiawan," jawabnya, mulutnya penuh nasi.

Geli hatinya Si Pengabar Langit melihat Aram yang gembul makannya. "Bagus," kata Si Pengabar Langit. "Kau mau bergabung denganku?" "Gabung menjadi apa?" Aram malah balik menanya. "Pasukan Telik Sandi," sahut Si Pengabar Langit. "Telik sandi itu apa?" Aram menghentikan kegiatan makannya sebentar. "Organisasi mata-mata," jawab Si Pengabar Langit, enteng.

Aram mengawasi sebentar pada orang di depannya. "Mau, aku mau, tapi aku tidak paham dengan cara kerjanya!" katanya. "Jangan khawatir, aku dan teman-teman barumu akan mengajarimu," kata Si Pengabar Langit.

Demikian, sejak itu Aram Widiawan menjadi anggota Telik Sandi di kota Ciburial. Melebihi dari dugaannya sendiri, Si Pengabar Langit melihat kecerdikan dan ketajaman otak Aram begitu luar biasa. Tiap pelajaran memata-matai keadaan dunia persilatan, ia pahami dengan sekali mengajarkan, paling banyak dua kali, sudah cukup. Ini juga kalau sangat berbahaya.

Pada suatu ketika, ia sedang memata-matai seorang lelaki berkerudung hitam. Tiba-tiba, ia kehilangan orang yang diincarnya. Ia pun memutuskan untuk berhenti memata-matai dan kembali ke jalanan.

Tiba-tiba, Jleg, lima sosok tubuh menghadangnya. "Itu dia orang yang saya katakan," tiba-tiba dari samping Aram melihat seorang pemuda berkerudung hitam yang ia intai tadi. "Hahahahaaa... kau tak akan menyangka, bukan bocah. Kau telah kami jebak, hahah... ternyata kau si Kumbang Pemetik Bunga, bagaimana dengan rambutmu?" ejek Aram, enteng.

Merah padam wajah si Kumbang Pemetik Bunga, mengingat kejadian sebelas purnama lalu. "Cepat serahkan peta itu, bocah bau kencur!" terdengar bentakan menggelegar dari salah satu penghadangnya. Sungguh kejut alang kepalang Aram mendengar lima orang penghadangnya mengetahui ia membawa peta penyimpanan kitab pusaka keluarganya.

Diam-diam, ia berpikir, "Jika aku melawan mereka, jelas aku akan kalah. Lebih baik aku ambil langkah seribu saja." Wussssttt, ia berlari kembali ke rimba sebelah belakang. Brettt, terdengar sobekan kain. Ternyata, celananya robek tersangkut akar. Ia terus berlari dan berlari, hingga ia sampai di puncak Gede. Tentu, pembaca mengetahui kelanjutannya.

Semilir angin sepoi-sepoi menerbangkan daun-daunan yang berserakan di dasar jurang puncak gunung Gede. Tepp...

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment