Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 08

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 08

Di tengah hamparan daun-daunan, salah satu daun mendarat di pipi seorang pemuda tampan dengan rambut panjang yang riap-riapan. Bagi seseorang yang pernah berlatih ilmu silat, naluri dan perasaannya akan lebih peka dengan keadaan di sekitarnya. Pemuda itu tersentak kaget dari lamunannya, lalu melompat ke udara dan melakukan salto dua kali seraya berteriak, melepaskan kepenatan pikirannya.

Ia mendarat di bumi dengan suara desisan nyaring, dan hawa panas melanda daerah di sekitar dasar jurang tersebut, menandakan tenaga dalamnya telah mencapai kesempurnaan. Siapakah pemuda itu? Dialah jagoan kita, Aram Widiawan. Gara-gara memikirkan masa lalunya, ia kehilangan waktu selama 6 kentongan. "Wah, hari sudah terang, aku harus cepat-cepat keluar dari jurang ini," pikirnya.

Tetapi suatu persoalan yang amat menyulitkan hatinya memenuhi otaknya kembali. Jurang itu dikitari oleh tebing-tebing curam yang puncaknya menembus awan, dan dia harus melalui tempat mana untuk naik ke atas? Matanya dengan tajam memperhatikan keadaan di sekeliling tempat itu, dan akhirnya ditemui juga pada suatu tebing yang amat terjal terdapatlah sesuatu tonjolan-tonjolan batu yang menghubungkan dasar jurang dengan puncak tebing jurang.

Tonjolan itu ada kurang lebih dua kaki di atas permukaan tanah. Jika bukan karena pandangan mata yang sangat tajam dan teliti, tidak mungkin orang lain bisa menemukannya. "Batu-batu itu lumayan tinggi juga, kuat gak ya menahan tubuhku?" Aram pikir dalam hati. "Karena kepingin cepat-cepat meninggalkan jurang itu, terpaksa dengan menempuh bahaya dia pergi mencoba."

Hawa murninya ditarik dari pusar kemudian disalurkan ke seluruh tubuh, sesudah bersuit nyaring tubuhnya mendadak dengan amat cepatnya meloncat naik ke atas dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang bernama Selaksa Rubah Menjadi Bayangan, warisan Sirubah Seribu Wajah. Menurut perkiraannya, loncatannya kali ini akan mencapai setinggi tiga atau empat kaki, lalu dengan cepat tubuhnya akan menempel pada tonjolan batu pertama.

Siapa tahu loncatannya kali ini bukan cuma mencapai tiga atau empat kaki saja, bahkan bagai anak panah yang terlepas, tubuh Aram Widiawan dengan cepatnya meluncur setinggi puluhan kaki. Hal ini benar-benar berada di luar dugaannya semula. Dalam keadaan yang terperanjat, mendadak matanya tertumbuk pada tonjolan batu yang kesepuluh yang berada kurang lebih satu kaki jauhnya dari tempat dia berada.

Sepasang tangannya segera dipentangkan ke samping, sedang kaki nya menjejak tengah udara, dengan hebatnya tubuhnya meluncur ke arah tonjolan tersebut. Ternyata tonjolan kesepuluh yang ia pijak benar-benar kuat. Setelah beberapa kali panjatan, akhirnya Aram Widiawan berhasil juga keluar dari dasar jurang itu.

Sesudah berdiam beberapa purnama di dalam sebuah gua di dasar jurang yang gelap dan amat lembab, dan kini muncul kembali di atas alam yang berhawa segar, membuat kemurungan di dalam dadanya seketika itu juga tersapu bersih. Mendadak dia angkat kepalanya bersuit panjang, suara suitan itu persis seperti pekikan naga yang baru saja keluar dari sarangnya.

Saat ini tenaga dalam yang berhasil dimiliki dirinya sudah mencapai pada taraf kesempurnaan. Suara suitan itu sudah tentu amat nyaring sekali sehingga menggetarkan seluruh permukaan bumi, membuat binatang kecil melarikan diri serabutan saking kagetnya. Dengan merapal ilmu Selaksa Rubah Menjadi Bayangan, ia melesat seperti anak panah yang dilepaskan busurnya menuruni gunung, benar-benar suatu pameran ilmu peringan tubuh yang dahsyat.

Aram terus saja berlari, setelah satu atau dua mil berlari, sampailah ia di sebuah hutan pinus. Akhirnya ia menurunkan kecepatan larinya dan berjalan biasa dengan langkah lenggang-kangkung. Tiba-tiba Aram tersandung sesuatu. "Sialan, ekh kok rasanya bau busuk, bau apa ini?" Ditatapnya "sesuatu" yang membuat ia tersandung tadi. "Akh, mayat!" Aram berteriak kaget.

Mendadak terdengar seseorang berseru, "Kang Jaka, rasanya kok seperti ada bau mayat?" "Kalau begitu pasti ada sesuatu yang tak beres, mari kita periksa tempat ini." Mendengar tanya jawab itu Aram jadi kaget, pikirnya, "Jika mereka sampai masuk kemari dan menemukan mayat ini, aku pasti akan dituduh sebagai pembunuhnya." Dari kejauhan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang bergerak mendekati dirinya.

Walaupun masih jauh, namun Aram dapat melihat dengan jelas, kedua orang itu adalah kakek berusia lima puluhan tahun yang berwajah bengis. Orang pertama bermata segitiga dengan wajah bulat, sedang orang kedua berwajah pucat pias bagai mayat yang sudah mati berapa hari, jenggot putih terurai dari janggutnya. Mereka berdua mengenakan baju terbuat dari kain belacu putih, sepatunya terbuat dari tali jerami.

Kedua orang itu memang merupakan jagoan paling tangguh dari kalangan hitam, Rubah Bermata Tiga Ki Jaka Lono serta Jenggot Mayat Ki Romal. Dalam pada itu Aram yang tertegun tak ingin membuat urusan yang akan menyulitkan dirinya, cepat ia salurkan tenaga dalamnya untuk bersiap-sedia. Tidak menunggu lawan mendekatinya, dengan jurus Rubah Sakti Cakar Mangsa, dia lepaskan sebuah dorongan ke depan.

Waktu itu Jaka Lono sedang bercakap-cakap dengan adiknya Ki Romal, merasakan datangnya serangan, ia segera menghardik, "Kakang, hati-hati, ada yang membokong!" Sambil membentak, dia lancarkan juga sebuah pukulan. Ki Romal kuatir adiknya ketimba musibah, buru-buru dia lompat menghampiri sambil bersiap-sedia.

"Aduuuh...!" Dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu tubuh Ki Joko Lono dan Ki Romal sudah mencelat sejauh dua tombak dengan dada bolong, tubuh mereka terhajar telak pukulan Silat Rubah dengan tenaga sakti mata darah yang dikerahkan hingga mencapai sepuluh bagian.

Mimpi pun Aram tidak menyangka kalau tenaga dalamnya begitu sempurnanya, ia terlonggong-longgong, bagaimanapun ini pertama kalinya ia membunuh. Sementara ia tertegun, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda. Dalam posisi begini Aram tak bisa membuang waktu lagi, cepat-cepat dia membuka pakaian Ki Jaka Lono, memakainya, dan memindahkan barang miliknya.

Ia tak peduli meskipun pakainnya bolong dengan bercak-bercak darah di bagian dada dan punggungnya, daripada bugil, lebih baik ia memakainya. Cepat-cepat ia berlari, mengerahkan ilmu peringan tubuhnya, lebih kurang satu kentongan kemudian ia sudah tiba di dekat air terjun.

"Lebih baik aku membersihkan diri dulu dan mencuci pakaian ini, sudah dua tahun aku tidak mandi," Aram pikir. Dengan perlahan-lahan Aram melepaskan pakaian dan menyimpan buntalan pedangnya di balik semak-semak. Dengan tubuh bugil, Aram lari-lari kecil menuju air terjun, sekali jejak tubuhnya melambung ke atas dan bersalto lima atau enam kali di udara, itulah jurus Rubah Sakti Bergulingan.

"Dengan didahului kepala, tubuh Aram mendarat di air." "Fuahhh.... hahaha, segarnya!" Aram benar-benar gembira menikmati mandinya, ia berenang sepuas hati diselingi dengan menyelam ke dasar sungai. "Kcipak kcipak..... tiba-tiba terdengar suara ikan meloncat, mengiringi suara siulan merdu yang tak beraturan nadanya, tampaklah seorang pemuda tampan berkulit seputih salju dengan rambut riap-riapan tak terikat, sedang asyik mandi sambil main-main air.

Tiba-tiba pemuda itu menghentikan siulannya, ia memekik terkejut, "Akh, ikan apa itu?" Cepat-cepat ia menyelam mengikuti ikan yang tadi ia lihat sepintas, ia terkejut melihat ikan itu berwarna hijau keemasan. Tapi ternyata ikan itu telah hilang di balik batu hitam yang cukup besar.

Disebabkan penasaran, akhirnya ia mengangkat batu hitam itu, tapi naas, ikan tersebut telah raib entah ke mana. Tapi, ia tak sia-sia melakukan itu, dilihatnya ada sebuah peti dengan lebar 5 cm dan panjang 10 cm. Pikirnya, "Peti apa ini? Sebaiknya aku lihat di atas saja." Dengan gesit, ia ambil peti itu, kemudian ia kembali ke permukaan dan berenang ke tepian.

Segera ia berpakaian, setelah selesai ia segera membuat api unggun. "Malam telah tiba, sebainya aku menginap saja di sini," ucapnya kepada diri sendiri. Segera ia beranjak ke bawah pohon pinus dan mengambil ranting, tak lupa juga ikan yang tadi ia tangkap, setelah mencuci pakaian.

Lalu membakarnya di atas api unggun yang ia buat. "Waw, mantappp.... sudah lama aku tidak makan ikan, oh, aku lupa peti tadi, isinya apa ya?" Segera saja ia mengambil peti tadi dan membukanya, ternyata isinya dua buah senjata yang unik dan dua utas tali berwarna biru.

Senjata yang pertama adalah sebilah keris berkeluk enam sepanjang 8 cm, disarungnya ia membaca sebuah tulisan "Perasaan". Yang kedua, sebuah kujang kecil sepanjang 9 cm, gagang dan sarungnya berukiran harimau. Sama halnya dengan keris tadi, disarungnya juga terdapat tulisan "Kekuatan Sejati".

"Senjata yang bagus...... punya siapa ya?" Karena tak ada penjelasan mengenai dua senjata ini, lebih baik buatku saja, dan aku akan memberi nama... hemmmmm...... kujang kecil keris keluk sembilan.... akh, kurang pas, hemm.... kujang harimau keris mungil..... hihi norak... akh, lebih baik aku ambil dari tulisan ini saja, hehehe... Kujang Kekuatan Sejati dan Keris Perasaan.

Aram pun mengambil dua utas tali berwarna biru dari peti, namun tiba-tiba ia terkejut, mengapa? Ternyata ketika ia mengangkat tali dari peti, tiba-tiba petinya hancur menjadi abu. "Ada apalagi ini? Kenapa petinya jadi abu?" Akh, peduli amat... lebih baik tali ini aku jadikan ikat rambut saja, lumayan daripada riap-riapan kaya gini.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment