Chapter 09
Aram menyisir rambutnya dengan menyisakan poni depannya dan sedikit rambut di samping telinganya, sementara rambut belakangnya ia kuncir seperti ekor kuda. Langit telah menjadi gelap, sepertinya sang maharaja telah tidur dan menyelimuti tubuhnya. Sang Putri malam pun malu-malu untuk menamakan wujudnya bintang, bintang-pun tampaknya enggan menampakan diri. Jeritan malam menjadikan malam ini begitu mengerikan, mengantar lelap seorang pemuda yang tergeletak di bawah pohon pinus.
Di sebuah desa yang cukup ramai, terlihatlah seorang pemuda berbaju kain belacu dengan rambut di kuncir kuda dan sebuah kain berwarna biru. Di atas ikatannya, menyembul sebuah gagang berukiran harimau dan ular membentuk huruf X. Ia berjalan sambil menengok kanan dan kiri, melihat deretan rumah, kemudian ia mendekati seorang pak tua yang sedang asyik menghisap tembakau. "Pak, maaf, boleh saya bertanya, kedai nya di mana ya?" ujar pemuda itu, yang ternyata adalah Aram Widiawan, yang baru saja sampai di desa pagi tadi.
Mata pak tua itu menyipit, memperhatikan Aram yang ia pikir berdandan cukup aneh. "Aden siapa? Apakah aden baru kali pertama datang ke desa ini?" jawabnya. "Ia, Pak, baru tadi pagi saya tiba di daerah ini. Oh, ya, ini daerah apa, Pak?" Aram mencoba berbasa-basi karena Pak tua itu belum juga menjawab pertanyaan yang ia ajukan tadi.
"Ini desa bernama Padanghaur den. Oh, ia, maaf, den, saya lupa, maklum sudah tua. Kedai nya berada kira-kira seratus meter di muka, di dekat pasar sana," jawab pak tua itu. "Terima kasih, Pak, kapan-kapan saya akan kembali ke sini lagi untuk sekedar bercakap-cakap dengan Bapak... saya pamit, Pak... mari," Aram melanjutkan perjalanannya dengan santai, karena di desa tersebut cukup ramai, mana mungkin ia menggunakan ilmu peringan tubuh, bisa-bisa ia dianggap hantu di siang bolong.
Kedai itu cukup besar dan terbilang ramai didatangi pengunjung. Beberapa kelompok telah duduk tersebar di dalam kedai. Beberapa orang-orang yang terlihat kasar, tampaknya mereka adalah orang-orang dari Rimba Hijau. Aram tidak mengindahkan keberadaan mereka. Ia menarik tempat duduk tanpa sandaran karena ia sudah lapar. Bisik-bisik terdengar dari orang-orang itu. Aram tahu mereka sedang membicarakan dirinya karena ia memiliki pendengaran tajam, tapi ia berlagak acuh saja, pura-pura tak mendengar.
Bagaimana mereka tidak membicarakannya, ia memiliki wajah yang dapat menaklukan setiap gadis, bermata merah bagai darah, berkain belacu dengan bolong di dada dan punggung, rambut di kuncir seperti kuda, diikat oleh seutas tali berwarna biru. "Mau pesan apa, den?" sapa pelayan kepada dirinya. "Ayam hutan rebus, sayur bayam, sebakul nasi, dan teh hangat?" Tak lama kemudian, pelayan datang membawa pesanan makanannya. Aram menyantap hidangan dengan gembira, hanya sesaat, sajian itu telah ludes, tidak bersisa.
"Ceuceu, apakah perguruan kita akan datang dan menyatakan diri takluk kepada Panji Telapak Perak pada lima purnama depan?" Empat orang memasuki kedai. Semuanya ternyata gadis-gadis jelita yang masih muda, berusia antara sembilan belas sampai dua puluh tahunan. Penampilan mereka memiliki ciri yang sama, yaitu memakai baju berwarna hijau dengan ikat kepala berwarna sama dengan pakaiannya. Mereka berasal dari Perguruan Teratai Putih, satu dari Lima Perguruan Utama.
Mereka mengambil tempat duduk tidak jauh dari pemuda berkain belacu itu. "Sejak kematian ketua Perguruan Bintang Kemukus dan Rajawali Emas, Lima Perguruan Tanah Jawadwipa mengalami guncangan yang cukup hebat, apalagi jago-jago dari Kaum Kelana juga banyak yang ditemukan tewas tebunuh dengan seluruh keluarganya?" kata seorang di antara empat orang muda, yang tadi dipanggil Ceuceu oleh seorang gadis yang memiliki lesung pipit di pipinya.
"Kekuatan Panji Telapak Perak melebihi kekuatan Perguruan Utama di Tanah Jawadwipa, apalagi menurut kabar terbaru, banyak jago-jago kosen yang telah lama mengasingkan diri turut bergabung dengan mereka, ditambah dengan jago-jago dari negri sebrang. Sekalipun Lima Perguruan itu bersatu, menurut penilaianku, tidak ada pilihan bagi Lima Perguruan untuk tidak menghadiri pertemuan itu, mengenai bergabung atau tidaknya tergantung situasi nanti, demi mengulur kehancuran Lima Perguruan Utama," ia menambahkan penilaian dengan dua mata dipenuhi kekecewaan dan keputusasaan.
Sekalipun kata-kata itu diucapkan pelan dan di kedai itu sangat bising, namun cukup terdengar jelas oleh Aram yang memiliki ilmu pendengaran yang awas, apalagi dulunya ia menjadi anggota telik sandi di Kotapraja Padjampangan. "Hem... tampaknya selama aku berada di dalam dasar jurang, telah banyak perubahan di dalam Rimba Hijau... tampaknya aku harus menemui..." belum selesai Aram membatin, "suiitttt suuiiittttt suuuiiitttttt" terdengar suara suitan tiga kali, mengejutkan seluruh penghuni kedai.
Tiba-tiba terlihatlah pemilik kedai tergopoh-gopoh memasuki ruang kedai dan berteriak, "Tuan-tuan, maafkan hamba, sudikah kiranya tuan-tuan meninggalkan kedai ini!" "Heh, cecunguk... berani sekali kau menyuruh kami meninggalkan kedai ini, kami sepasang harimau rimba tak sudi kau perintah!" bentak seorang lelaki sangar dengan garang di sudut selatan kedai. Dengan ketakutan, pemilik kedai itu menjawab, "Maafkan saya, tuan... tapi... tapi..."
"Ada kejadian apakah, kisanak, sehingga kisanak menyuruh kami meninggalkan kedai ini?" sela sigadis berlesung pipit dari Perguruan Teratai Putih. "Anu, anu, nisanak... Ki Renjana datang berkunjung." Mendengar itu, pucatlah orang-orang penghuni kedai, bahkan si Harimau Rimba yang tadi bersikap garang pun kini pucat pasi, mirip mayat. Tak menunggu lama, seluruh penghuni kedai membayar makanannya dan berbondong-bondong lari serabutan.
Mengapa demikian? Dalam rimba persilatan, ada pameo yang mengatakan, "Lebih baik berada dekat singa daripada dekat Si Iblis Tengkorak Mas" atau "Berurusan dengan Iblis Tengkorak Mas lebih menakutkan daripada jatuh ke jurang tanpa dasar." Dalam sekejap, kedai pun sepi, kecuali si pemuda berbaju kain belacu yang tak lain adalah Aram Widiawan, dan dua orang pemuda dengan penampilan yang sama, berbaju warna biru, berkuncir seperti rambutnya Aram, dengan ikat kepala biru laut dan kuning, bermata sipit, wajahnya tampan, hidungnya mancung, menilik wajahnya, sepertinya ia bukan penduduk pribumi.
"Tuan... tolong tinggalkan tempat ini segera... Iblis Tengkorak Mas benar-benar tidak punya perasaan, saya takut tuan sekalian jadi sasaran mereka..." kata pemilik kedai itu memohon. "Jangan khawatir, Pak, kami kan tidak memiliki sengketa apa-apa dengan orang yang Bapak tadi katakan," kata salah seorang pemuda berpakaian biru bernada kalem.
"Aduh, bagaimana ya, sa-saya benar-benar takut, tuan, kalau mereka melihat kedai belum kosong, saya juga yang kena hajar." Kata pemilik kedai itu menghibakan hati. "Jangan takut, Paman, kami bisa menjaga diri, mengenai diri Bapak, saya nanti akan memberikan penjelasan dan akan melindungi Paman," sahut seorang pemuda yang satunya lagi, memakai bahasa Jawa dengan logat daerah asing.
Aram yang mendengar kalimat dan logat aneh dari pemuda itu tersenyum kecil. Sementara pemilik kedai sedikit tenang mendengar ucapan itu, dia percaya pada pemuda-pemuda itu karena ia melihat pedang di punggungnya, meski masih meragukan kemampuan mereka.
Tapi, kecemasannya tak kunjung sirna, menyadari masih ada seorang tamu lagi yang belum beranjak. Si pemilik kedai berjalan ke arah Aram, diiringi tatapan aneh dari kedua pemuda tadi. "Tuan, bagaimana denganmu? Apakah kau sanggup melawan mereka?" tanya pemilik kedai langsung saja, sebab dia mengira tentunya Aram adalah pendekar juga, sebab pemuda ini tidak tinggalkan kedai.
Aram tidak menjawab, ia malah tersenyum misterius, ia tidak keluar kedai dengan tiga alasan, pertama, ia tidak tahu siapa Si Iblis Tengkorak Mas, kedua, ia masih lapar, dan yang ketiga, ia ingin mengenal orang-orang persilatan. Pemilik kedai uring-uringan melihat Aram malah tersenyum tanpa menjawab pertanyaannya.
"Orang persilatan memang aneh-aneh... lebih suka bunuh membunuh daripada mencari selamat..." gerutunya sambil tinggalkan tempat. Aram tersenyum mendengar gerutuan pemilik kedai itu. Dengan santainya, Aram duduk bersandar tanpa perlihatkan perasaan tegang, ia malah mengulum senyum yang membuat orang bertanya, senyuman apakah itu.
Brakkk....... salah satu meja mencelat terkena tendangan. Lalu munculah sesosok bayangan berwarna emas. "Silahkan masuk, tuan... silahkan..." kata si pemilik kedai dengan gemetar. "Hm, minggir kau!" bentak orang yang baru saja datang. Tangannya menggeser pemilik kedai sampai ia mencelat menindih meja, brakkk... hoek, sipemilik kedai muntah darah.
"Bagus! Kali ini tampaknya bakal ada pesta darah!!" katanya dengan wajah seram. Ternyata penampilan Si Iblis Tengkorak Mas membuat siapapun mengkirik, bagaimana tidak? Wajahnya kering kerontang, tinggal tulang, mirip tengkorak, rambutnya menjuntai sebahu berwarna putih, giginya bertaring, baju dalamnya berwarna hitam dengan jubah emas, dipunggungnya ia memanggul kepala tengkorak berwarna emas, di kedua tangannya membelit rantai sebesar tangan bayi.
Melihat itu, Aram belum mau cari urusan, dia asik bersandar sambil menengak minumannya, sementara kedua pemuda yang ada di pojok ruangan sudah gusar melihat pemilik kedai yang muntah darah dihajar orang di depan mata mereka. Pemuda yang memakai ikat kuning berdiri, saking marahnya. "Kau manusia busuk! Menghajar orang seenak perutmu sendiri, apa kau... kau..." pemuda ini tidak melanjutkan perkataannya sebab ditelan kemarahan yang tampaknya sudah sampai ke ubun-ubun, suaranya keras mengelegar, jarinya menuding-nuding dengan pedang pada orang yang baru saja datang.
Bukannya marah mendengar tantangan pemuda itu, Iblis Tengkorak Mas malah tertawa terbahak-bahak, "Bwahahahaha..........