Chapter 10
Orang berikat kepala biru memandang pemuda baju biru berikat kuning dengan ejekan. "Eh, bocah bau kencur! Lebih baik kau belajar berbicara lagi pada ibumu, hahahaha!" katanya sambil memainkan janggutnya.
Pemuda baju biru berikat kuning itu marah sekali. Dengan sekali lompat, dia sudah berada di atas meja makan di depannya. "Baik, kalau begitu aku ingin tahu apa kau memiliki tulang baja daging besi! Berani berbicara seenaknya di depanku!" usai berkata begitu, sipemuda meloncat dan mengangkat kaki kiri, melakukan suatu gerakan berputar, mengikuti perputaran kaki kanannya yang berputar terlebih dahulu ke kanan menurut arah jarum jam.
Tangan kiri ditekuk rapat dan tangan lainnya mengibas. "Ciaaaattt... Naga membalikan tubuh!" teriaknya lantang. "Toako, hati-hati..." pemuda satunya lagi mengingatkan.
Sementara Iblis Tengkorak Mas melihat serangan mendadak sipemuda, tertawa dingin. "Baik, kau akan mendapatkan yang kau inginkan." Kaki kanannya berjinjit, tangan kiri yang terpampang menekuk di depan, serta kepalan tangan kanannya terkepal di pinggang dengan mengalirkan lima bagian tenaga sakti tengkorak emasnya. Ia memapak serangan sipemuda keras lawan keras. "Menggerayangi malam dengan gerakan imyang" desisnya lirih. Duk... blarrrr... dua buah tenaga sakti beradu, meja dan kursi berterbangan terhempas angin.
Pemilik kedai siang-siang sudah ngacir ketakutan, entah pergi ke mana. Sementara Aram terdorong dengan meja dan kursinya ke dekat jendela, namun anehnya, perabot makanan bekasnya makan tetap di tempatnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Si pemuda terkejut melihat jurus dan tenaga dalam yang dimiliki Iblis Tengkorak Mas. Diam-diam, ia berpikir, "Hebat juga tenaga dalamnya. Nyatanya, tanah Jawadwipa berisi dengan jago-jago tangguh."
Jurus demi jurus telah mereka keluarkan. Menginjak jurus ke lima belas, sipemuda meloncat mundur. Ia heran karena jurus-jurusnya dapat dipatahkan dengan mudah. Srettt... Iblis Tengkorak Mas kembali menerjang dengan jurus tengkorak emas, menggoyangkan tubuh. Si pemuda sungguh tidak menduga Iblis Tengkorak Mas melancarkan serangan ketika ia mundur. Dengan gerakan lincah, ia berkelit ke belakang, maksudnya untuk menghindari kepalan Iblis Tengkorak Mas yang beracun.
Tapi jurus Tengkorak Mas menggoyangkan tubuh memang benar-benar hebat. Saat sipemuda bergerak ke belakang, Iblis Tengkorak Mas memiringkan tubuh dan melejitlah tendangan kaki kiri. Desssss... pundak sipemuda terserempet tendangan. Iblis Tengkorak Mas tidak berhenti sampai di situ. Ia susuli tendangannya dengan totokan yang mengarah jalan darah kematian di leher. Wussshhhh... "Awas serangan!" tiba-tiba dari belakang Iblis Tengkorak Mas terdengar bentakan. Iblis Tengkorak Mas segera membatalkan serangannya dan menggunakan jurus burung pipit kembali ke sarang. Ia bersalto ke belakang.
"Bersyukurlah kau bisa lolos dari kematian, bocah!" Iblis Tengkorak Mas dengan tertawa mengejek. Wajahnya tetap tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Kau tak apa-apa, sute?" tanya pemuda satunya lagi. "Aku tak apa-apa, toako," jawab sipemuda berikat kuning sambil meringis menahan luka di pundaknya. "Mari kita serang bersama-sama, sute. Iblis ini benar-benar hebat."
Tak menunggu jawaban sutenya, Pemuda yang dipanggil toako meloncat sambil mencabut pedangnya. Srett... tubuhnya meliuk deras menyerang Iblis Tengkorak Mas. Orang yang diserang sunggingkan senyum remeh.
Dengan gerakan sebat, dia tangkis pedang itu dengan jurus belitan benang Iblis menjerat sukma. Trang! Dentangan pedang akibat benturan pedang dengan tangan Iblis Tengkorak Mas.
Si pemuda dengan sebat menyabetkan pedangnya dengan jurus ayunan naga api. Melihat itu, Iblis Tengkorak Mas merunduk sambil melancarkan serangan. Ia menekuk kaki kirinya ke bawah dan membentuk posisi mengambang. Kaki lainnya di dudukan sedemikian rendahnya dengan gerak tusukan pada jari-jari tangan serta gerak menadah ke atas pada tangan kiri di sisi belakang dan memantapkan diri dengan geseran pada kaki kanan menyamping diikuti kaki lainnya sambil menggerakan telapak kanan untuk menampar.
Plakkkkk... tangan sipemuda terpukul, pedangnya mencelat ke atas. Bukkk... dengan mudahnya telapak lainnya mendarat di dada sipemuda. Melihat nyawa toakonya terancam bahaya, sang sute meloncat dan bersalto di udara kemudian menendang pedang toakonya yang terpental.
Wusssssssssshhhh... mendengar suara desingan tajam mengarah Iblis Tengkorak Mas, mendengar suara desingan itu, si Iblis Tengkorak Mas segera bergulingan ke samping.
Treepppp... pedang yang tadi terpental menancap di lantai, menyisakan gagang pedang berukiran naga.
Brukkkkk... pemuda berikat kuning terjatuh berdebuman di lantai.
"Suteeee..." pemuda berikat biru mendekati sutenya dan memapahnya. Ternyata, saat si sute loncat dan menendang pedang, bahunya mendadak terasa sakit karena kaget, ia kehilangan keseimbangan dan jatuh terlentang.
Melihat itu, Aram tak tega. Segera ia putar otak. Tiba-tiba, ia mendengar iringan langkah kaki yang cukup banyak.
Mendengar itu, Aram teringat dengan salah satu ilmu rubah bersiasat di dasar jurang yang bernama "meminjam pisau menyembelih kuda". "Akh... penjaga keamanan" desisnya pelan. Meski pelan, tapi Iblis Tengkorak Mas dan dua pemuda asing itu juga mendengar.
"Cisss... bisa urusan bertambah panjang bila aku kepergok pasukan keamanan. Bisa-bisa rencanaku gagal" Iblis Tengkorak Mas membatin. Sebenarnya, rencana apakah yang sedang dijalankan si Iblis Tengkorak Mas? "Entahlah..."
Hatinya berpikir begitu, sementara mulutnya berkata, "Hahahahaha... bocah-bocah bau kencur, tiba-tiba aku ingat suatu urusan. Mengenai urusan kita, aku sudahi sampai di sini. Kita lanjutkan kapan-kapan, hahaha!" suaranya masih terdengar di kedai, sementara orangnya entah telah pergi ke mana.
Benar-benar pameran tenaga dalam yang tinggi.
"Kisanak, sebaiknya kita pun pergi sebelum kita kepergok pasukan keamanan yang akan merepotkan kita" pemuda berikat biru mengajak pemuda yang asyik bersandar di dekat jendela yang tak lain adalah Aram.
"Hahahahahaha..." Aram malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar ajakan si pemuda.
Melihat itu, sipemuda berikat biru mengerutkan keningnya.
Jalanan desa Padanghaur begitu ramai. Tampaklah tiga pemuda tampan berjalan berdampingan. Sekali-kali terdengarlah tawa mereka.
"Kau memang cerdik, kisanak. Sampai-sampai Iblis Tengkorak Mas pun kena kau kibuli, hahaa" "Hahaha... seandainya tidak ada iring-iringan pengantin itu, tampaknya aku juga bakal kesulitan mengibulinya" jawab Aram merendah. "Haha... kisanak terlalu merendah. Oh, ya, kita belum saling kenal. Pepatah mengatakan tidak kenal maka tak sayang. Nama saya Thian Liong, dan ini adik saya, Thian Hong Li" Thian Liong memperkenalkan diri.
"Aram, Aram Widiawan" Aram menjawab sambil tersenyum.
Begitulah mereka bercakap-cakap dengan riang. Dari situ, Aram mengetahui bahwa mereka adalah pendekar dari negri yang bernama Tionggoan. Mereka pergi ke tanah Jawadwipa karena mengejar penghianat dari perguruannya, perguruan yang bernama Thian Liong Pay.
"Oh, ya, malam ini kau menginap di mana, engkoh Ram?" Thian Hong Li memecahkan kesunyian.
"Entahlah, mungkin di hutan... haha, maklumlah orang kere. Eh, engkoh itu apa, sih?" Aram bertanya jenaka.
Thian Hong Li tersipu-sipu, wajahnya merah, bibirnya cemberut, sementara Thian Liong tertawa.
Melihat itu, Aram benar-benar bingung. Ia coba perhatikan wajah Thian Hong Li. Wajahnya putih bersih, hidungnya mancung, matanya sipit, bulu matanya lentik, alisnya hitam kecil, bibirnya kemerah-merahan, pipinya semu merah.
Aram benar-benar terpesona melihat wajah Thian Hong Li. Wajahnya lebih dekat ke wajah perempuan daripada ke lelaki.
Diperhatikan seperti itu, Thian Hong Li makin salah tingkah.
"Thian Liong, bolehkah aku belajar bahasa kalian?" Aram mencoba mengalihkan topik karena ia melihat wajah Thian Hong Li semakin menggenaskan.
"Tentu, jika kau ingin belajar. Kau menginap bersama kami saja, mau" Thian Hong Li menawarkan.
"Gratis?" "Gratis" Thian Liong tertawa.
"Kau sekamar saja denganku, lagipula ruangannya juga cukup luas!" Thian Liong menambahkan. "Ia, deh, tadinya aku mau sekamar dengan Thian Hong Li saja" Aram nyengir.
Mendengar itu, Thian Hong Li makin merah saja, mirip kepiting direbus.
Dengan berjalan kaki, ketiganya menuju ke sebuah bangunan cukup besar.
Baru sampai di depan pintu gerbangnya, tampak dua orang yang berdandan seperti pelayan penginapan berdiri menyambut mereka.
"Selamat sore, Tuan bertiga. Tuan, bagaimana jalan-jalannya?" sapa salah satu pelayan kepada Thian Liong.
"Sangat baik, paman. Bahkan kami telah berkenalan dengan pemuda dari tanah Jawadwipa ini!" Thian Liong menunjuk Aram.
Sipelayan tersenyum. "Mari masuk, tuan" sipelayan mempersilahkan.
Setelah melalui ruangan depan, mereka sampai di sebuah teras terbuka.
Si pelayan berjalan bersama mereka menuju kamar di sebelah utara.
Kedua kamar itu saling berhubungan, jadi ada pintu yang menembus di dalamnya.
Pelayan itu membukakan pintunya sambil berkata, "Silakan masuk, kalau ada keperluan apa-apa, panggil saja. Semuanya akan kami persiapkan." Thian Liong tersenyum. Ia memang bahasa Jawanya lebih lancar daripada adiknya, Thian Hong Li.
"Tidak ada apa-apa lagi, paman. Terima kasih!" ucapnya lembut.
Sambil berbicara, mereka melangkah masuk ke kamar.
Dekorasi kamar itu indah sekali.
Di sebelah timur terdapat sebuah tempat tidur yang besar.
Di tengah-tengah ruangan ada meja dan bangku yang alasnya terbuat dari bambu.
Sedangkan kaki meja dan sandaran bangkunya terbuat dari kayu jati yang diukir dengan halus.
Begitu merapatkan pintu kamar, Thian Liong segera mengganti bajunya.
Sedangkan Aram segera terbang ke ranjang. Huppppzz... bruk... tak lama kemudian terdengar desahan nafas yang teratur. Dasar kelor.
Thian Hong Li tersenyum melihat ulahnya. Segera ia masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Tiga kentongan telah berlalu. Aram menggeliat bangun. Dilihatnya Thian Hong Li dan Thian Liong sedang bercakap-cakap. Keduanya duduk di sisi meja.