Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 11

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 11

Segera ia mencuci wajahnya di wadah yang tersedia di sisi ranjang, lalu beranjak mendekati mereka. "Sudah bangun, Ram? Bagaimana tidurnya?" Thian Liong menyapa. "Lumayan nyenyak juga," ujarnya sambil mengambil tempat duduk.

Baru saja ia duduk, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. "Tuan, hidangan sudah datang!" Terdengar pula suara pelayan tadi. Aram berbinar matanya mendengar itu. "Masuk!" sahut Thian Liong.

Tampak si pelayan rumah penginapan melangkah masuk bersama dua orang pelayan lainnya. Hidangan yang disuguhkan berupa masakan yang mewah. Setelah sipelayan meninggalkan ruangan dan menutup pintu rapat-rapat, Thian Liong berkata: "Silakan dimakan, Aram." Tak menunggu perintah ke empat kalinya, segera Aram menyantap makanannya. Begitulah mereka bersantap sambil bercanda ria.

Pada suatu kesempatan, tangan Aram menyambar kepala Thian Hong Li. Thian Hong Li terkejut, tapi terlambat. Bretttss, tali pengikat rambutnya terjambret, dan rambutnya pun terurai. Ketika rambutnya terurai, itulah kelihatanlah wajah aslinya. Aram ternganga terkesiap begitu melihat hasil ulahnya. Seorang gadis cantik berambut hitam terpampang di depan wajahnya.

"Kau...!" ucap Aram dengan lidah yang seperti kelu. "Jadi selama ini kau menyamar jadi laki-laki..." Thian Hong Li tersipu malu karena ketahuan belangnya. Aram geleng-geleng kepalanya karena kaget. Thian Liong tertawa berkakakan.

Sejak hari itu, Aram tinggal bersama Thian Liong dan Thian Hong Li. Untuk mengisi waktunya, mereka berlatih silat dan saling belajar mempelajari baca tulis. Aram belajar kepada Thian Liong dan Thian Hong Li, sedangkan Thian Liong dan Thian Hong Li belajar kepada Aram.

Langit menangis terisak. Air matanya jatuh perlahan, basahi bumi. Seakan turut berduka citanya atas kehancuran sebuah keluarga. Si Rasul cambuk Bumi. Rintik hujan mengguyur puing-puing rumah yang masih mengepul, mengeluarkan asap.

"Trakkkkk!" Sebuah bekas pintu terangkat. Munculah sepasang mata jeli, berkaca-kaca, entah karena hujan ataukah air mata. Hanya dia yang tahu. "Ayah... Ibu... Siapakah yang melakukan ini...?" ucapnya terisak-isak. Brukkk, ia memukul pintu itu hingga mencelat. Munculah seraut wajah cantik seorang gadis cilik berbaju kain sutra berwarna kuning.

Kemudian ia berlari menubruk orang tuanya dan menangis terisak-isak. Ternyata ia adalah Melati, seorang gadis cilik, anak Kinanjar dan Nyi Elas, yang tersisa dari pembantaian keluarganya. Tiba-tiba, ekor matanya yang jeli melihat sebuah panji kecil bergambar telapak perak. Srett, karena guncangan hatinya yang terlalu berat, ia pingsan.

Serrrrr... wutt treppp... Sebelum ia mencapai tanah, sesosok bayangan putih menyambar tubuhnya.

Di sebuah gua di lembah dewa-dewi, tampaklah seorang gadis cilik terlentang di pembaringan batu. Srettt... tiba-tiba mata jelinya terbuka. Ia terlihat keheranan melihat dirinya berada di tempat yang ia tak kenal. Ia menggeliat, kemudian bangkit dari tidurnya.

"Kau sudah bangun, nak!" Sebuah suara merdu yang sedikit serak menyentak kesadarannya. Ia berpaling dan terkejut melihat seorang wanita tua berbaju kuning duduk bersila di belakangnya. Di wajahnya terdapat beberapa garis ketuaan, hidungnya mancung, di kedua telinganya menggantung anting-anting berbentuk keris kecil, matanya terpancar aura yang menyejukan hati siapapun yang memandangnya.

"Siapa kau, Nek?" Gadis yang ternyata adalah Melati bertanya dengan keheranan. "Hahahaha... Nenek sudah lupa nama nenek, Cah Ayu. Tapi orang-orang menyebut nenek Nyi Sateja," tutur si nenek dengan lembut.

"Melati menyesal tidak belajar silat sesuai apa yang ayahanda inginkan... huu... huuu" Melati tiba-tiba menangis teringat nasib orang tua dan dirinya. Ia menyesal kenapa waktu ia disuruh belajar silat oleh orang tuanya, malah kabur untuk bermain-main. Ia memukuli kepalanya sendiri sambil menangis.

"Setiap makhluk hidup suatu saat pasti akan menghadapinya, hanya kapan dan bagaimana ia mati menghadapnya, apakah ia mati dalam keadaan syahid atau kafir. Rahasia kematian hanya Tuhan yang tahu. Kau dan aku akan pula suatu saat akan mengalami hal seperti itu. Sadarilah, nak! Hidup adalah sebuah tantangan, maka hadapilah. Hidup adalah sebuah nyanyian, maka nyanyikanlah. Hidup adalah sebuah mimpi, maka sadarilah. Hidup adalah sebuah permainan, maka mainkanlah. Hidup adalah cinta, maka nikmatilah."

Melati benar-benar tertegun mendengar wejangan Nyi Sateja. Baru kali pertama ini ia mendengar wejangan seperti ini. "Baik, Nek, meski Melati tak sepenuhnya mengerti ucapan Nenek, tapi suatu saat Melati yakin bisa mengerti," ujarnya jujur, polos, dan semangat.

Begitulah, di bawah bimbingan sinenek, Melati mempelajari silat. Pada suatu hari, Melati diajak untuk pergi menemui seseorang. Melati tak tahu jikalau di lembah itu masih ada penghuninya.

"Kita sampai, Melati," sinenek berkata. Belum Melati menjawab, tiba-tiba terdengar suara laki-laki yang sudah serak berkata, "Kesalahan terbesar yang dibuat manusia dalam kehidupannya adalah terus-menerus merasa takut bahwa mereka akan melakukan kesalahan."

Nyi Sateja tersenyum dan menjawab, "Kebanggaan kita yang terbesar bukan karena tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kita jatuh." Melati melongo mendengar tanya-jawab itu, meski sudah lama bergaul dengan sinenek, tapi tak disangkanya akan ada orang yang memiliki kesukaan yang sama.

"Silakan masuk, Teja, sudah lama engkau tak kemari. Siapakah bocah ayu di sampingmu itu, Teja?" "Hihihi... pendengaranmu semakin tajam saja, Kakang!" Nyi Sateja tertawa sambil masuk, menggandeng tangan Melati.

"Silakan duduk," suara lembut seorang lelaki tua. Ternyata lelaki itu berwajah lembut dengan garis-garis ketuaan di wajahnya, rambutnya putih keperakan, usianya kira-kira sudah mencapai seratus tahunan lebih, namun masih tampak kekar dengan tonjolan otot di masa mudanya. Orang persilatan memanggilnya Ki Dewa Pedang Terbang.

"Kakang, saya membawa anak ini, saya harap Kakang ikut membimbingnya," Nyi Teja langsung ke inti tanpa basi lagi. Ki Dewa Pedang Terbang memperhatikan Melati, dilihatnya susunan tulangnya baik untuk mempelajari ilmu silat.

"Baik, aku terima permintaanmu, Nyai." "Terima kasih, Kakang," Nyai Teja gembira mendengar Ki Dewa Pedang Terbang menerima permintaannya. "Kau siap kami gembleng, Melati!" "Siap, Nek!" Melati antusias.

"Hahaha, kau hanya siap digembleng nenekmu saja, yah?" Ki Dewa Pedang Terbang bertanya jenaka. Melati tersipu. "Siap, Kek," ujarnya pelan.

Purnama demi purnama telah berlalu. Terlihatlah seorang gadis berusia 15 tahun sedang menari di atas rumput setinggi lutut. Sungguh luar biasa ilmu peringan tubuhnya. Sekali-kali tampaklah sinar perak berhamburan mengelilingi tubuhnya, kesiuran angin lembut berbaur bau harum menyejukan jiwa berhembus di sekitarnya. Di sebelah utara tampaklah seorang kakek berbaju hitam bersila di atas pucuk ilalang, sementara di sampingnya duduk seorang nenek berbaju kuning bersila sambil mengulum senyum lembut.

"Hiatttt... Kelelawar sakti menembus kegelapan," teriaknya melengking tinggi. Wusssshhh, srettttttt, sebuah pedang melesat secepat anak panah ke muka. "Pedang terbang kelelawar mengincar sasaran," gadis itu perdengarkan lengkingan tinggi, lalu ia bersilat dengan gerakan melompat terbang seperti kelelawar. Dua tangannya memainkan gerakan yang berbeda, matanya tampak tertutup sebelah, sebab mata kirinya memperhatikan suara yang didengarnya dengan telinga layaknya kelelawar, dan mata kanannya memperhatikan sasaran pedang.

Memasuki jurus keempat puluh, sontak gerakan anak itu berubah hebat. Gadis itu berteriak keras, tangannya menggenggam pedang dengan kedua tangan, lalu berkelebat, melemparkan pedangnya ke langit. Sementara tubuhnya berputar seperti gasing. "Hujan pedang dewi kelelawar... hiaaaattttt," crep-crep-cep, pedang itu menancap di tanah, dan gerakan gadis itu pun berhenti.

Gadis itu mengatur nafasnya yang sedikit memburu, lalu ia bersila di depan kedua gurunya. Ki Dewa Pedang memejamkan matanya sambil tersenyum tipis, ia berbahagia mendapatkan seorang penerus yang luar biasa. Dalam hatinya, ia berkata, "Anak gadis ini bakatnya sangat luar biasa," padahal jurus yang kuajarkan adalah gabungan dari jurus dewi kelelawar sakti dan jurus pedang terbang pemburu nyawa.

"Latihanmu sudah cukup, Melati! Tetapi masih jauh dari sempurna," si nenek berkata. "Memang benar, Nek, dari seminggu yang lalu, ananda masih belum bisa menggunakan jurus terakhir... selalu saja gagal mencapai sasaran," Melati berkata dengan sedih.

"Dengarlah, muridku! Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan, saat mereka menyerah," Ki Dewa Pedang berkata dengan bijak. "Maka dari itu, belajarlah menerima keadaan, karena hanya mereka yang berani gagal dapat meraih keberhasilan."

Melati tersenyum mendengar kata-kata kakek nenek angkat sekaligus gurunya ini. Setelah tinggal bersama mereka, telah banyak kata-kata bijak yang telah ia serap. "Melati, pelajarilah perlahan-lahan kitab pemberian orang tuamu. Bagaimanapun, kitab yang kau bawa itu kesaktiannya tidak di bawah yang kami ajarkan," Nyi Sateja berkata.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment