Chapter 12
Aram tinggal bersama Thian Liong dan Thian Hong Li. Pertemuan Orang Persilatan Jawa Dwipa dengan perkumpulan Panji Telapak Perak tinggal tiga purnama lagi. Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya. Di mulut sebuah jendela kamar, Aram terpekur. Ia mencoba merenungi perjalanan hidupnya dari ketika ia terpaksa terlunta-lunta sampai sekarang. Lama dia begitu.
"Tuaknya, engkoh Aram..." Aram tersadar dari kecamuk pikirannya. Didapatinya Thian Hong Li telah berdiri di depannya, membawa dua gelas bambu berisi tuak. "Wah! Malam-malam seperti ini, memang tepat kalau disuguhkan tuak buat ngisi perut," seloroh Aram seraya menyambut gelas di tangan kanan Thian Hong Li. "Terima kasih, ya." Gadis manis di depan pemuda itu tersipusipu sambil menengak tuak yang lain yang berada di tangan halusnya.
Kulit wajahnya yang putih memperlihatkan semu merah, kala mata Aram berusaha menangkap mata sipitnya. "Mmm, tuak ini betul-betul nikmat. Kau yang beli, Hong Moay?" tanya Aram yang mulai bisa berbahasa Tionghoa. Thian Hong Li mengangguk malu, tanpa berani mengadu pandang dengan pemuda tampan yang duduk di jendela itu. Setelah bergaul dua purnama ini, hubungan mereka memang tambah akrab.
"Kau tambah cantik saja, Hong Moay!" Aram mulai merayu. Lagi-lagi Thian Hong Li tersipu. Wajah ayu berhias rona merah itu membuat Aram gemas. Hati pemuda itu mau tak mau memuji keayuan gadis Tionghoa ini yang begitu alami. Dadanya berdegub dengan kencang. Bulu matanya yang lentik, berkelopak lembut. Hidungnya tinggi menipis, dan bibirnya merah delima.
"Kau semakin pintar merayu, engkoh Aram." Thian Hong Li tidak bisa menyembunyikan rasa senang di wajahnya. Itu bisa dilihat dari bias mata beningnya. Dia pun duduk di depan Aram malu-malu. Kepalanya tertunduk dalam memandang ke hamparan genting-genting rumah, memang tempatnya menginap memang berada di lantai dua. Lama keduanya terdiam.
"Hong Moay, aku ada perkataan yang hendak disampaikan," Aram memecahkan keheningan. "Ada apa, engkoh Aram? Katakanlah..." Dada Thian Hong Li berdegub kencang, ia berpikir Aram akan menyatakan cintanya. "Aku takut engkau marah dan sedih," Aram berkata dengan bertele-tele, membuat Thian Hong Li bertambah yakin akan dugaannya.
"Ak...Aku Mencintaimu, Tapi,..." Aram berkata dengan perlahan dan menggantung. Ucapan ini memang ia tunggu-tunggu, meski ada tapinya yang membuat ia deg-degan. "Tapi apa, engkoh Aram?" Aram terdiam sesaat, kemudian ia memegang tangan Thian Hong Li dan menatap wajahnya, "Besok aku harus melanjutkan perjalanan," ucapnya dengan perlahan.
Ucapan itu ibarat guntur di siang bolong di telinga Thian Hong Li, tak sadar matanya berkaca-kaca. Ia berkata seakan tak percaya apa yang didengarnya, "Ap...apa?" "Aku harus melaksanakan wasiat orang tuaku, Hong Moay," mulut bicara, tanganpun ikut bekerja, dipeluknya tubuh ramping Thian Hong Li. Cup, Aram mengecup pipi Thian Hong Li, Thian Hong Li diam saja, karena pada dasarnya ia pun mencintai Aram, ia malah menutup matanya dan membuka bibirnya yang ranum seakan menantang.
Mendapat angin, Aram mendekatkan bibirnya, cupppp emmmzzz... Mereka berciuman seakan tak akan ada lagi hari esok, lidahpun seakan takut ketinggalan, mereka bertempur, bergulat menuntaskan nafsu birahi. Tangan kanan Aram mulai berpindah ke bawah, meremas pinggul Thian Hong Li. Emmcchh terdengar desahan halus dari mulut Thian Hong Li.
Sementara tangan kirinya meremas bukit yang menantang di dadanya, tak lama kemudian Aram melepaskan baju luar Thian Hong Li, dan menyingkapkan baju dalamnya, sehingga tersembulah dua buah gunung kembar putih mulus dengan puncak coklat kemerahan. Lalu ia mulai menciumi leher Thian Hong Li, terus turun ke bawah sampai di puncak bukit yang tegak menantang, membuat Aram semakin bernafsu, diciumi, dan dijilatnya sekeliling lingkaran puncaknya, dengan sedikit gigitan kecil membuat Thian Hong Li bernafsu, ia terus mendesah-desah lembut memecahkan kesunyian.
Akhirnya ia melingkarkan tangannya dan memegang kepala Aram, terus menekan ke dadanya, seakan menyuruh Aram untuk tidak menghentikan aksinya. Mereka terus bercumbu dengan nafsunya, apalagi ditambah tuak yang menambah mereka semakin bernafsu. Entah berapa lama Aram menghentikan usahanya, lalu membalikan tubuh Thian Hong Li, kemudian didudukan di pangkuannya.
"Ada apa, Kakanda? Kenapa berhenti?" Thian Hong Li berkata dengan nafas sedikit memburu, sebab tangan Aram dengan nakalnya masih meremas-remas lembut gunung kembarnya. "Aku sayang kamu, Dinda Hong... Dinda, karena keadaanlah aku pergi meninggalkanmu, aku yakin suatu saat kita akan bertemu lagi, dan aku akan meminangmu, dengan jarak kita akan merindu, dengan jarak kita bisa menguji berapa besar cinta kita," ucap Aram sambil melakukan aksinya.
"Shttt, ia, Kanda... hhhh... berapa lamapun aku akan terus menunggumu... shttt... uukkhhh, meski lautan kerinduan tak bertepi, meski gunung menjulang tinggi... shtt... akh... akh... berapa jauh pun dirimu berada, Dinda yakin hati Kanda..." Thian Hong Li menjawab di sela-sela nafas dan birahi yang melandanya. Betapa terharunya hati Aram mendengar ucapan itu.
Dibalikannya wajah Thian Hong Li dan mencium bibirnya. Lalu menghentikan semua aksinya. "Kanda, mengapa engkau berhenti?" Thian Hong Li berbalik dengan mata sayu dan sedikit kecewa, karena tak mendapat puncak yang ia inginkan. Melihat wajah itu, Aram benar-benar tak tahan ingin melumatnya, tapi ia menahan diri dan tersenyum.
"Dinda... aku ingin memberikan sesuatu untukmu," Aram mencabut keris bergagang ular, berkeluk sembilan di kepalanya. Thian Hong Li terkejut melihat sebuah senjata aneh menurutnya, senjata itu adalah pedang kecil bergagang ular, ketika ia mencabut keris tersebut, sinar kuning dan hawa dingin memancar. "Pedang apa ini, engkoh?" "Mengapa pedangnya berkelok-kelok seperti ini?" Thian Hong Li bertanya dengan mimik keheranan.
"Haha... ini namanya keris, Hong Moay... Keris ini bernama Keris Perasaan, ini tanda cinta kita, Hong Moay, aku punya pasangannya berupa sebuah kujang, lihatlah di rambutku..." Aram menjawab sambil matanya melotot memperhatikan dua buah gunung menjulang di depannya. Rupanya Thian Hong Li sengaja tidak membetulkan posisi baju dalamnya.
Thian Hong Li pun memperhatikan, ternyata benarlah dirambut Aram terlihat sebuah gagang senjata berbentuk harimau. Merasa dirinya diperhatikan seperti itu, Thian Hong Li merasa malu juga, tapi ia tetap bertahan... malah ia diluar tersenyum manis. Lalu tangannya bergerak mengambil pedang pendek yang berada di dekatnya. Kemudian diarahkan ke arah kaitan baju dalamnya dan breetttt... Baju dalamnya robek dan jatuh...
Sehingga tubuh bagian atasnya yang putih dan tanpa cacat terpampang di mata Aram. Melihat itu, jakun Aram semakin turun naik, ia melongo... "Hong Moay... Dinda Hong... Indah nian tubuhmu..." ucapnya tanpa sadar. Thian Hong Li tersenyum senang mendengar ucapan itu. Wanita mana yang tidak bahagia jika kekasih memuji kecantikan atau keindahannya? Begitupula dengan Thian Hong Li.
Demi cintanya, ia rela menyerahkan segala yang ia punya. "Engkoh Aram, apakah engkau suka?" ucapnya malu-malu. Tangannya bergerak melipat baju dalamnya sehingga menjadi selebar 4 cm. Sehingga jadilah seutas tali berwarna coklat muda. Karena memang baju dalamnya berwarna coklat muda... Perlu diketahui, pada zaman itu, pakaian dalam wanita hanya berbentuk kain yang di belitkan di dada, untuk yang bagian pentingnya pun hanya 2 kain yang dibelitkan.
Satu ke bawah dan satunya lagi di pinggang. "Engkoh Aram... kandaku, Dinda ini tidak memiliki apapun yang bisa diberikan kepadamu, hanya kain jelek ini yang Dinda punya" set... Thian Hong Li memasangkan kain itu di kepala Aram sehingga menjadi sebuah ikat kepala. Grepppss... Aram memeluk Thian Hong Li dengan terharu. Dicium bibirnya yang ranum, yang dibalas Thian Hong Li dengan tak kalah mesra.
Aram menghentikan ciuman di bibir Thian Hong Li, berpindah dengan menciumi lehernya, lalu dadanya. Beberapa saat kemudian, ketika Aram sibuk mengulum puncak gunung kiri Thian Hong Li dan meremas-remas dengan sekali-kali memutar-mutar gunung kanan Thian Hong Li, Thian Hong Li menjerit mencapai puncaknya. "Aaaaaakkkhhh..." Dengan mata sayu, Thian Hong Li menatap Aram dan mencium bibirnya.
Ia mendesis lirih di telinga Aram, sebab tenaganya berkurang, ia merasa seakan tubuhnya dicopoti tulang-tulangnya ketika mencapai puncaknya tadi. "Engkoh Aram, apakah engkau sudah pamitan dengan Liongko?" "Belum... sebab dari kemarin aku belum sempat berkata apa-apa dengannya, kau tahukan kakakmu itu pulang kerjanya pagi, terus, aku tak tega mengganggunya," jawab Aram lembut.
"Hong Moay, sebaiknya engkau berpakaian lagi, nanti masuk angin," tambah Aram mesra. "Baiklah, Sayang," Thian Hong Li beranjak dari pangkuan Aram dan mengambil baju luar yang tadi dibuka, lalu memakainya. Lalu berjalan ke pintu kamar sebelah, "Hong Moay, engkau mau kemana?" "Aku mau ngambil baju dalam lagi, kan punyaku tadi, ada di kepalamu, hihi..." Thian Hong Li menjawab cekikikan.
"Hong Moay, sayang, sebaiknya engkau tetap begitu saja, engkau tambah mempesona jika begitu," Aram meminta dengan senyuman nakal. "Emmmmhhh..." terdengar gumaman dari bibir Thian Hong Li, sepertinya ia sedang mempertimbangkan permintaan Aram... "Baiklah," akhirnya ia berkeputusan, lalu berjalan dan memeluk kekasih hatinya.
Dengan sigap, Aram membopong Thian Hong Li ke kamar sebelah, bau bunga semerbak tercium dari hidungnya, ditutupnya pintu rapat-rapat, lalu dihampirinya pembaringan yang berkelambu putih bersih itu.