Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 13

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 13

Lalu Aram membaringkan Thian Hong Li sambil berpelukan. Kontan saja mereka bergulingan saling tindih dengan posisi Aram di bawah dan Thian Hong Li di atas. Masih dalam pelukan, Thian Hong Li berkata, "Hihihi... Emmh, tak adil bila hanya aku yang tadi buka baju. Sekarang giliranmu, Engkoh Aram!" Cepat sekali Thian Hong Li membuka baju Aram lalu menciumi dadanya yang bidang. Karena gemas, ia gigit kecil tonjolan kecil berwarna cokelat di dada Aram. Pangkal pahanya sengaja digoyang-goyangkan di atas tombak pembabat rimba pemuda itu yang sejak tadi sudah menegang.

"Akh... Engkau nakal, sayang... Kalau begini aku jadi ingin bermain-main." Aram berkata sambil menyusupkan kedua tangannya ke dalam baju Thian Hong Li mencari "sesuatu".

Mereka berbicara dengan bahasa yang campur aduk. Maklum, selama dua Purnama ini mereka saling mempelajari bahasa daerah asing dan mengajarkan bahasa daerah asalnya masing-masing. Dengan disaksikan sang putri malam, terlihatlah dua insan manusia sedang bergumul meski cuma sebatas bercumbu rayu hingga larut malam sampai mata mereka terpejam dalam pelukan.

Pagi datang menjelang.

Matahari perlahan menanjak menuju puncak singgasananya.

Sinarnya yang berkilau singgah pada genangan air hujan, lalu memantul lagi ke udara.

Pagi ini Aram akan melanjutkan perjalanannya.

Ia pamit pada Thian Liong dan Thian Hong Li yang dengan berat hati melepas kepergiannya.

Terlebih lagi bagi Thian Hong Li.

Perkenalan dan pergaulan selama dua Purnama dengan pemuda tampan itu mengukir kesan teramat dalam hati Thian Hong Li.

Apalagi setelah kejadian semalam, keduanya menyatakan cinta. Masih terasa ciuman lembut di bibirnya juga cumbuan-cumbuan lembut di tubuhnya.

"Selamat jalan, Engkoh Aram...," ucap Thian Hong Li begitu berat, seperti tercekat di tenggorokan. Matanya berkaca-kaca hendak memuntahkan lahar dingin.

Thian Liong dan Thian Hong Li kini berdiri di depan pintu penginapan untuk melepas kepergian Aram.

Aram menghentikan langkahnya seraya menoleh.

Ucapan perlahan Thian Hong Li sempat tertangkap telinganya.

Dijawabnya kalimat perpisahan Thian Hong Li dengan seulas senyum.

Ia lantas naik kuda pemberian Thian Liong tadi pagi dan melanjutkan perjalanan ke depan.

Seorang pemuda berpakaian hijau dengan rambut yang dikuncir kuda menggunakan kain berwarna biru. Di atas ikatannya, menyembul sebuah gagang berukiran harimau. Ia memakai ikat berwarna cokelat muda. Pemuda itu tidak lain adalah Aram Widiawan.

Ia berjalan dengan seorang pemuda cakap berusia dua puluh lima tahunan dengan codet melintang dari alis kanan sampai alis kiri.

"Benarkah kejadian itu, Kang Sobar?" Aram tertunduk sedih...

Ternyata, pemuda yang di sampingnya adalah Si Pengabar Langit.

Setelah perpisahannya dengan Thian Hong Li dan Thian Liong, Aram menuju Desa Jampangkulon menemui Si Pengabar Langit untuk mengetahui keadaan Rimba Hijau saat ini. Tentu saja, kedatangannya di sana disambut gembira oleh kawan-kawannya.

Mereka kaget. Orang yang menghilang selama dua tahun setengah lebih itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka.

"Kau ke mana saja, Kang Aram...?" Ibal, kawan sekamar Aram dulu, bertanya dengan haru. Ia berusia satu purnama di bawah Aram.

Si Pengabar Langit pun mendukung pertanyaan itu.

"Baiklah, aku akan ceritakan... begini..." Aram pun menceritakan kejadian di mana ia dikejar-kejar lima manusia ular sampai ia kembali ke sana. Tentunya ada bagian-bagian yang ia sembunyikan.

"Lalu bagaimana, apakah ada yang selamat?" Aram memecahkan keheningan.

"Hhhffzz," Si Pengabar Langit menghela napas... lalu melanjutkan, "Mungkin ada. Anak mereka tak ditemukan mayatnya..."

"Melati..." desis Aram.

Ia merenung mengingat pertemuan dengannya. Ia ingat ketika ia bermain di taman dengannya.

"Kang Rama, kalau nanti sudah dewasa mau jadi apa?" Melati bertanya sambil memainkan rambutnya.

"Aku mau menjadi seorang pendekar yang hebat," Aram menjawab dengan berapi-api.

Melati terbelalak. "Ikh! Kak Rama mau jadi seorang pembunuh!"

Aram termenung, akhirnya menjawab, "Kenapa jadi pembunuh, Lati?" "Orang persilatan kerjanya membunuh saja, apa Kak Rama tidak tahu?"

Aram menundukkan kepala, matanya berkaca-kaca.

"Ikh, Kak Rama, mengapa engkau menangis?" Dengan panik, Melati berusaha menyeka air mata Aram.

"Dulu, dulu sekali aku pun sama sepertimu, Melati. Aku menganggap belajar silat hanya untuk membunuh. Tapi, sekarang aku menyesal aku tidak mempelajari ilmu silat. Orang tuaku terbunuh... Aku terlunta-lunta... Andai aku dulu menurut ayah dan ibuku, aku tidak akan sekarang dihina dan... dicaci orang."

Dengan tersendat-sendat, Aram berbicara... Ia teringat ayah dan ibunya... dan nasibnya.

"Kau kenapa, Aram?" Sebuah suara lembut menyentak lamunannya. Aram gelagapan. "Akh, tidak... tidak apa-apa, Kang Sobar... aku teringat masa lalu."

Si Pengabar Langit tersenyum. Dua tahun lebih mereka berpisah, kini ia tak bisa mengenali sosok pemuda di sampingnya. Waktu telah mengubah perangainya...

Ia ingat kejadian tiga hari ke belakang...

"Hei... pengemis-pengemis busuk, berikan uangmu!" bentak seorang lelaki berjanggut lebat memakai seragam kerajaan di sebuah pasar.

Orang-orang tak ada yang berani melarang. Mereka tahu, mengganggunya berarti kehilangan nyawa.

Di daerah itu, tak seorang pun yang tak mengenalnya. Ia bernama Otoy.

Seorang prajurit berpangkat Komandan.

Apalagi ditambah dengan konco-konconya yang merupakan jagoan dari golongan hitam. "Ampun, Tuan... kalau kami memberikannya... bagaimana kami makan..."" Seorang pengemis berusia setengah baya menolak.

Tubuhnya kering-kerontang tinggal tulang... tanda ia telah kenyang penderitaan.

"Pukulan Setan Raksasa, beri dia pelajaran!" perintah Otoy pada orang yang di sebelah kanannya.

Orang itu adalah seorang lelaki tinggi besar dengan kepalan sebesar kepala bayi.

Tanpa diperintah dua kali, Pukulan Setan Raksasa maju ke depan... Plakkk! Tangannya melayang.

Tak ampun lagi, pengemis berusia setengah baya terjerembap jatuh. Mulutnya memuntahkan darah sebab beberapa giginya copot...

Saat Pukulan Setan Raksasa mengangkat kaki kanannya hendak menendang pengemis setengah baya itu, "Jangan...!" Seorang anak berusia lima belas tahun memeluk tubuh pengemis setengah baya itu. Tapi, Pukulan Setan Raksasa mana peduli. Ia terus saja meneruskan tendangannya.

Tampaknya si pengemis setengah baya akan terhajar telak kena tendangan si Pukulan Setan Raksasa. Sett! Aaaakkkkkkhhhhh...!

Teriakan melengking terdengar. Orang-orang menutup mata, mengingat nasib si pengemis setengah baya.

Tapi ternyata suara teriakan itu bukan berasal dari si pengemis setengah baya, tapi dari si Pukulan Setan Raksasa. Orang-orang pada heran, bagaimana bisa demikian...

Di samping si pengemis setengah baya, berdiri seorang pemuda berpakaian warna cokelat dengan rambut yang dikuncir kuda menggunakan kain berwarna biru. Di atas ikatannya, menyembul sebuah gagang berukiran harimau. Ia memakai ikat berwarna cokelat muda. Pemuda itu tidak lain adalah Aram Widiawan.

Ia tersenyum tenang.

"Pemuda bau kencur, siapa kau? Berani sekali kau mengganggu urusanku, tak sadarkah kau berhadapan dengan siapa?" teriak Otoy dengan bengis.

"Hahaha... sudahlah, Paman Berewok, kau sudahi saja pertengkaran ini." "Apa? Sudahi? Jangan mimpi di siang bolong, bocah..." "Ini pagi, Paman Berewok." "Berisik! Aku tahu! Pukulan Setan Raksasa, Cakar Iblis, Taring Kematian, bereskan bocah bau kencur itu!" "Baik!" sahut mereka serempak.

"Sudahlah, Paman, mereka bukan tandinganku." Paras ketiga konco si Komandan berubah pias, lalu dari pias menjadi kemerahan. Raut wajah mereka berubah bengis.

"Jumawa sekali kau, bocah! Orang tuamu saja belum tentu mampu membunuhku, apalagi dirimu!" Cakar Setan mewakili kawan-kawannya.

Ketiga konco si Komandan terkejut, ngeri, gusar, takut bercampur aduk melihat paras si pemuda.

Saat berbicara tadi wajahnya tetap tenang dihiasi senyuman.

Tapi kini...

Mereka benar-benar tak mengerti.

Bukan hanya mereka yang terkejut, orang-orang yang menonton pun kini tak sanggup berbicara sepatah kata pun.

Si Pengabar Langit yang mengenal Aram juga tak habis mengerti. Wajah Aram kini tak ada lagi senyuman. Wajahnya itu kini bak mayat, begitu kaku tanpa perasaan. Tapi anehnya, wajah Aram tidak pias malah kemerah-merahan. Tubuhnya mengeluarkan asap tipis kemerah-merahan... Matanya yang merah bersinar menyala-nyala.

Lamat-lamat terasa hawa yang membuat pori-pori merinding. Sekalipun orang yang menonton adalah orang awam, mereka pun tahu apa yang terpancar dari tubuh pemuda itu: itulah hawa membunuh... hawa membunuh yang paling mengerikan di dunia ini, hawa yang dapat membunuh orang yang dituju tanpa perlu bertarung.

Si Pengabar Langit dan ketiga konco si Komandan yang merupakan orang-orang yang kenyang asam-garam kehidupan tahu. Itulah ilmu Aura Kematian, ilmu tingkat tinggi yang paling diidam-idamkan orang persilatan.

Sebuah ilmu yang merupakan sebuah legenda saja, ilmu itu dapat membunuh orang hanya dengan memandangnya saja.

Membunuh orang dengan tujuh lubang keluar darah.

Ketiga konco si Komandan sungguh tak menyangka akan merasakan sendiri ilmu itu. Selama ini mereka menganggap sebuah berita isapan jempol semata.

Mereka heran dari mana si pemuda dapat menguasai ilmu itu.

Bruk... brukk... brukk...! Suara orang jatuh bersahut-sahutan. Wajah Aram kembali seperti semula. Hawa membunuh perlahan-lahan lenyap... lenyap... dan lenyap...

Suasana pasar kini seperti kuburan, begitu sepi... Burung-burung pun seperti enggan untuk berkicau.

Aram tersenyum melihat hasilnya. Senyumnya begitu lembut, bak sinar mentari di pagi hari, menyejukkan siapa pun yang melihatnya.

Bunga-bunga pun seakan tersenyum mengiringi senyumannya. Angin sepoi-sepoi mengibarkan poninya... membuat orang-orang terlena seperti dibawa ke surga. Perasaan mereka terbawa melayang ke langit ketujuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment