Chapter 14
Aram menundukkan kepalanya, melihat tiga mayat dengan tujuh indranya mengeluarkan darah. Melihat itu, ia benar-benar sedih. "Hhhhhhhhh," ia menghela napas berat. Suaranya bak guntur di siang bolong, membawa kesedihan bagi siapa pun yang mendengarnya. Tak sadar, orang-orang yang berada di pasar mengucurkan air mata.
Suara itu mengingatkan luka-luka di hati kecil mereka.
Wusss, Aram melesat menyambar Si Pengabar Langit yang sedang di bawah pengaruh kesedihannya.
Seperminum teh kemudian, akhirnya orang-orang yang berada di pasar tersadar.
Terdengar bisik-bisik mereka seperti suara tawon berpindah sarang.
Entah dari mana asalnya, terdengar teriakan, "PENDEKAR SERIBU DIRI!" Begitulah teriakan itu berkumandang ke mana-mana.
Gemparlah dunia persilatan karena kedatangan tokoh muda berjulukan "Pendekar Seribu Diri." "Hahaha... Kenapa melamun, Kang Sobar? Kini giliran kau yang melamun, hahaha!" Aram tertawa geli.
"Aku merasa takluk sekarang padamu, Aram. Otakmu benar-benar luar biasa.
Mencari jago tangguh sangat mudah, orang jenius juga banyak...
Tapi," "Tapi apa, Kang Sobar?" "Orang seperti dirimu di dunia ini hanya dirimu seorang." "Maksud Kang Sobar?" "Orang yang dianugerahi otak setajam silet, secerdik kancil, selicik rubah, selicin ular, setangguh elang hanya dirimu." "Akh, Kang Sobar ada-ada saja...!
Padahal aku biasa saja..." Aram tersipu malu.
"Hahaha... Merendah boleh saja, tapi ada batasnya. Kalau ada apa-apa, kau boleh minta kepada Kakang. Meski Kakang harus mempertaruhkan nyawa, Kakang siap." "Akh, Kakang jangan begitu dong, aku malu..." "Hahaha...
Aram, sebenarnya apakah kau sudah punya guru?" Si Pengabar Langit mengalihkan pembicaraan.
"Sudah..." "Siapa? Boleh Kakang tahu?" "Rubah Seribu Muka. Bukankah saya juga sudah mengatakan kepada Kakang!" "Haha... Maksud Kakang, orang yang masih hidup, yang membimbingmu secara langsung?" "Tidak, Kakang!
Saya tidak punya." Si Pengabar Langit diam merenung sesaat, lalu menatap mata Aram yang berwarna merah.
"Kau mau mendengarkan nasihatku, Aram?" Wajah Aram serius melihat wajah Si Pengabar Langit yang serius.
"Tentu, Kakang." Si Pengabar Langit tersenyum, itulah salah satu yang ia sukai dari pemuda ini, mampu menyesuaikan diri dalam keadaan apa pun!
"Kakang harap kau mencari seorang guru demi menuntun langkahmu selanjutnya. Engkau tak perlu mencari orang yang lebih tinggi darimu... karena ilmu itu mutlak. Semua bersumber dari alam. Carilah seseorang dengan perangai yang cocok denganmu. Tak perlu dari golongan putih, aku yakin engkau sudah mampu membedakan mana hitam mana putih..." Aram terharu mendengar nasihat Si Pengabar Langit. Ia memang menganggap Si Pengabar Langit sebagai kakak kandungnya sendiri.
"Kakang Sobar, bagaimana kalau engkau yang menjadi guruku?" Aram bertanya dengan khidmat dan serius. "Hahahaha... Terima kasih atas penghargaanmu yang tinggi ini, Aram. Aku tak mau. Kau sudah aku anggap adik sendiri. Jika memang engkau begitu menghargaiku, anggaplah aku ini kakakmu." Aram berkaca-kaca matanya. "Baik... Baik, Kakang. Bagaimana kalau kita angkat saudara saja?" "Begitu pun lebih baik. Ayo pulang! Kita rayakan bersama kawan-kawan kita." Langit malam begitu gelap, bintang-bintang bagaikan berlian-berlian berserakan mengelilingi sang putri malam, membuatnya begitu anggun di singgasananya. Dua sosok berbaju hitam diam di genting sebuah rumah yang paling besar di tempat itu.
"Wah, doyan juga nih Komandan..." Sesosok bayangan di sebelah kanan menggumam. "Hahaha... Apa kita bertindak sekarang, Aram?" Yang di sebelah kiri bertanya.
Ternyata mereka adalah Aram dan Si Pengabar Langit.
"Tidak, biarkan ia bersenang-senang dulu, haha," Aram menjawab.
Sebenarnya, sedang apakah Si Komandan? Terdengar suara lenguhan dan napas memburu dari dalam ruangan. Dari atas genting, mereka melihat dua sosok berlainan jenis saling merengkuh, saling menindih di atas tempat tidur yang diterangi sebuah lampu kecil. Suara dua buah benda berlainan yang beradu semakin santer. Si Komandan kini semakin mempercepat irama pertempurannya.
Sepertinya ia akan mencapai puncaknya.
Tapi, keduanya tersentak kaget ketika dengan tiba-tiba genting-genting terbuka dan munculah dua sosok bayangan berbaju hitam.
Perempuan yang berada di pelukan Si Komandan segera melepaskan diri dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ketika ia hendak menjerit, benda bulat sebesar kelereng telah mengenai jalan darah tidurnya. Tanpa mengeluarkan suara, perempuan itu ambruk di atas ranjang.
Melihat itu, Si Komandan ketakutan dengan gusar. Ia hendak berteriak, tapi sebuah benda panjang tipis telah melintang di lehernya.
"Selamat malam, Komandan kurang ajar!"
"Kau..." Dengan geram dan jeri, Si Komandan melihat seorang pemuda tampan yang beberapa hari telah membuatnya malu. "Mau apa kau kemari, bocah? Apa kau belum juga puas membuatku malu, hah?" bentak Si Komandan. "Aku mau mengambil tabungan rakyat, Paman," Aram tersenyum. "Tabungan rakyat? Kau pikir aku bank keliling, hah?" "Loh, bukannya beberapa tahun ke belakang ini kau mengambil uang dari rakyat? Nah, sekarang rakyat membutuhkannya, jadi aku mau ambil." "Kau...kau...mau memerasku, hah?" Aram tersenyum. Ia mengambil gulungan daun lontar di balik bajunya dan memperlihatkan sebuah gulungan daun lontar.
"Jadi, engkau aku menyerahkan ini kepada Adipati?" "Kau...kauuu!" Dengan ketakutan, gusar, dan marah, apalagi anak itu datang kala ia hampir mencapai puncaknya.
Komandan itu menudingkan jarinya.
"Bagaimana kau mau terima dagang denganku? Kau serahkan aku harta itu, lalu aku menyerahkan ini. Kalau kau tak mau, aku mau pergi sekarang dan coba-coba berdagang dengan Adipati." Pucat-pias wajah Si Komandan. "Baiklah...baik...tunggu aku. Aku akan memanggil Juang (Juru Uang) pribadiku... Pengawal..."
"Hamba, Komandan," jawab si prajurit di balik pintu.
"Panggil Ki Bayu..." Mendengar suara Komandannya yang sedikit bergetar, si pengawal menaruh curiga. Tapi, ia tak berani membangkang perintah atasannya.
"Hamba sudah datang, Komandan." "Masuklah," terdengar sahutan dari dalam.
Kriettt... Suara pintu dibuka, dan munculah seraut wajah kakek. Kakek itu berwajah persegi dengan janggut putih menjuntai, tubuhnya buncit dibalut baju sutra. Ia terperangah kaget melihat kondisi junjungannya dalam keadaan bugil. Di depannya terlihatlah dua sosok bayangan berbaju hitam. Sebagai orang yang sudah makan asam garam kehidupan, ia mengerti bahwa urusan ini bukanlah urusan yang sepele.
"Ki Bayu, kemarilah..." Dengan wajah muram, Komandan itu memerintah.
"Ada apa sebenarnya, Komandan? Hamba sungguh tak mengerti." Komandan Otoy tidak menjawab, ia malah bertanya kepada Aram, "Berapa yang kau butuhkan, anak muda?" "Sepuluh juta keping emas," Aram menjawab dengan santainya, seolah jumlah seperti itu tidaklah besar.
"Ap...apa?! Apa kau tak salah?" Bukan hanya Si Komandan dan Si Juang saja yang terbeliak kaget, Si Pengabar Langit yang tadi diam saja di samping Aram juga tak kalah kagetnya mendengar permintaan Aram.
Dengan cepat ia mengubah paras wajahnya, tak lama kemudian wajahnya kembali tenang. Ia paham bukan tanpa sebab pasti adik angkatnya berkata seperti itu.
"Hahaha... Tidak, sama sekali tidaklah salah, Paman. Jangan kikir, Paman. Aku tahu itu tak seperempatnya hartamu yang kau timbun di bawah gudang beras." Dengan sebuah senyuman misterius di bibirnya, Aram melanjutkan.
"Aku tahu Paman dan Kakek berdua sedang berpikir dari mana aku tahu itu. Ia kan?" Meski halus ucapan Aram, tapi setiap patah katanya bagaikan belati mustika yang menusuk-nusuk hati mereka.
Komandan Otoy dan Ki Bayu tergugu, wajahnya merah. Dengan lesu, Komandan Otoy berkata, "Kau...baiklah, aku terima dagang darimu. Silakan tunggu di sini. Kami akan menyiapkan uangnya. Bagaimana dengan gulungan daun lontarnya, apakah kau berikan sekarang atau nanti setelah uangnya siap?"
"Hihi... Aku bukan orang bodoh, Paman. Lagipula, aku tidak butuh uang itu, Paman. Aku memeras Paman demi kebaikan Paman, hahaha... Kalau aku mah sudah merasa cukup dengan lima buah peti perak dan tiga peti emas di ruangan bawah tanah di sumur Sungai Cikaso... Dan meng—" "Ap...apa? Dari mana kau tahu tempat it...itu...kau...?"
"Jangan dipotong dulu, Paman, aku belum selesai bicara," Aram memotong ucapan Komandan Otoy.
"Mengenai uang yang aku minta, aku harap Paman menyiapkannya saja. Besok para warga akan datang ke rumah Paman. Aku sudah menyebar surat undangan atas nama Paman. Jadi, Paman tak usah repot-repot mengangkut keluar. Dengan begitu, nama buruk Paman selama ini akan berubah, hehe. Aku baik, bukan? Dan mengenai surat ini akan kuserahkan kepada Paman satu per satu. Daun lontar ini berisi sepuluh lembar, jadi aku akan memberikan kepada Paman per satu juta keping emas. Mengenai barang yang ada di rumah penginapan "Rimba Hijau", aku sudah mengamankannya. Sudah kupasangi barisan gaib CERMIN BAYANGAN SEMU dan beberapa perangkat rahasia...hahaha!" Aram tertawa tergelak-gelak. Suara itu membuat Ki Bayu dan Komandan Otoy semakin geram. Wajah mereka merah padam menahan kemarahan.
Sementara di pihak lain, Si Pengabar Langit semakin keheranan. Ia benar-benar merinding melihat kemampuan adiknya. Setelah pertarungan dengan ketiga konco Komandan itu, Aram pingsan selama dua hari.
Setelah kali pertama bangun, yang dilakukannya adalah meminta tiga orang anak buah Si Pengabar Langit—dengan kata lain, sahabatnya sendiri—untuk melakukan "sesuatu" yang Si Pengabar Langit sendiri tak tahu apakah itu.
"Kau terlalu menghina, bocah!" teriak Ki Bayu sembari maju ke depan, tapi kembali mundur sebab ditahan Komandan Otoy.
"Dia bukan tandinganmu, Ki. Kau ingat pengawal pribadiku, Ki? Bocah itu bisa membunuhnya tanpa bertarung dengan mereka," Komandan Otoy berusaha menenangkan Ki Bayu.