Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 15

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 15

Diam-diam Aram berpikir, "Jika tidak kuberi pelajaran, tampaknya mereka tidak akan jera. Aku harus memperlihatkan sesuatu agar mereka tahu kelihaianku." Akhirnya ia berkata, "Hahaha... Aku masih bermurah hati pada kalian berdua dengan tidak menambah uangnya setelah apa yang kalian rencanakan tadi. Kau pikir aku tidak tahu siasat yang kalian gunakan? Haha... Kalian terlalu merendahkan diriku."

"Apa maksudmu, Anak Muda?" bentak Ki Bayu di sela kemarahannya.

"Hmm... Kau, Paman Komandan, kau hendak menjebakku, bukan? Tak perlu dijawab, aku sudah tahu. Aku memiliki lima poin untuk membongkar muslihat itu. Poin pertama, kau sengaja mengaku menyerah dan menanyakanku agar aku memberikan daun lontarnya setelah semua harta kau siapkan. Poin kedua, sengaja kau menanyakanku untuk memberikan daun lontar itu sekarang atau nanti untuk menutupi akal bulusmu. Poin ketiga, kau menyuruh bendaharamu itu agar menyiapkan prajurit di sekitar rumahmu. Kau pikir aku tidak paham dengan gerakan jarimu dan beberapa kata dengan penekanan nada suaramu? Poin keempat, kau akan mengerahkan prajuritmu dan membunuh kami berdua. Daun lontar ini dapat, emas pun tidak keluar, hahaha!"

Wajah Komandan Otoy dan Ki Bayu pucat pasi. Mereka benar-benar menemui lawan yang sepadan.

"Dan... dan yang kelima...?" tanya Ki Bayu yang sudah tidak tahan lagi.

"Dan kelima, kau mengakuinya sendiri, haha!" Aram tertawa terbahak-bahak. Bahkan Sipengabar Langit pun tidak tahan untuk ikut tertawa.

"Nah, kami permisi dulu. Sampai berjumpa esok!"

Wusss! Dua sosok bayangan melesat menyusuri malam, meninggalkan dua orang yang berdiri mematung.

Pagi yang cerah di bulan Desember. Sudah dua hari ini hujan tidak turun, seakan ikut berbahagia menyaksikan rakyat yang berbaris rapi di sebuah halaman rumah paling besar di tempat itu. Senyuman bahagia selalu tersungging dari bibir mereka. Terlihatlah seorang lelaki paruh baya berbaju prajurit berpangkat komandan sedang membagikan bungkusan. Senyuman getir tampak di bibirnya. Helaan napas berat selalu terdengar setiap kali ia selesai menyerahkan bungkusan-bungkusan yang menumpuk rapi di belakangnya.

"Nah, sudah satu juta keping emas," ucap seorang kakek berbaju sutra kepada dua sosok manusia yang sedang ongkang-ongkang kaki di atas pohon. "Ini, ambillah." Salah seorang dari mereka melemparkan sebuah daun lontar.

Bagaikan melemparkan besi, daun lontar itu melesat secepat bayangan. *Crep!* Akhirnya daun lontar itu menancap di atas meja, lalu kembali terkulai layaknya daun lontar biasa. Ternyata mereka adalah Komandan Otoy, dan yang meminta daun lontar itu adalah Ki Bayu. Sementara itu, dua sosok di atas pohon tidak lain adalah Sipengabar Langit dan Aram.

Waktu terus berlalu, matahari terus merangkak kembali ke peraduannya. Lembayung kuning memayungi buana. Setelah senja, akhirnya pembagian uang itu selesai.

"Nah, benar bukan kataku, Paman? Warga sekarang memuji-muji kebaikan Paman, haha," kata Aram sambil meloncat ke tanah.

Ki Bayu dan Komandan Otoy tidak menjawab. Mereka menatap Aram dengan penuh kebencian. Aram bukan orang bodoh, ia mengerti keadaan itu. Ia tertawa tergelak.

"Hahaha... Paman, gulungan daun lontar berisi dokumen rahasia Adipati yang kau pegang itu sudah aku salin dan perbanyak. Jadi, jika Paman melakukan sesuatu yang kurang berkenan di hati kami atau mengganggu rakyat lagi, dokumen itu akan aku sebarkan. Bukan hanya di desa ini, tetapi juga di desa-desa lainnya. Kau masih ingat, bukan, perjanjian dengan Adipati Tungga Jagat? Sekecap saja kata itu bocor keluar, kepalamu dan keluargamu akan dihukum penggal semua, hahaha!"

Betapa terperanjatnya Komandan Otoy dan Ki Bayu. Akhirnya mereka terduduk lemas di tanah.

"Ternyata setan cilik itu sudah mempersiapkan segalanya," bisik Ki Bayu kepada Komandan Otoy yang dibalas dengan anggukan.

"Ayo kita pergi, Ayi Aram," ajak Sipengabar Langit.

Wusss! Mereka meloncati pagar yang tingginya mencapai tiga tombak lebih. Dengan kejadian itu, pendekar muda yang berjuluk Pendekar Seribu Diri itu semakin dieluk-elukkan oleh rakyat dan menjadi buah bibir di kalangan persilatan karena kecerdikannya.

Di pagi yang kurang mendukung aktivitas, dua orang memacu kuda bagaikan dikejar setan. Ternyata mereka adalah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun berkuncir kuda yang tidak lain adalah Aram Widiawan, dan seorang lagi pemuda berusia dua puluh tahun lebih yang memakai baju biru langit dengan luka menggaris dari alis kiri sampai alis kanan, ciri khas Sipengabar Langit.

Kira-kira dua mil mereka melarikan kuda hingga sampailah di sebuah pasar yang cukup ramai. Salah seorang dari mereka turun dari kuda dan menuntunnya menuju seorang penjaja kain.

"Paman, saya minta kain yang paling bagus selain sutra, berwarna cokelat," ucap Aram kalem dengan senyuman khasnya.

"Ada kain sari, Den, tapi harganya cukup tinggi. Paman mendapatkannya dari pedagang Tiantok. Kebetulan warnanya hanya ada cokelat dan merah. Mau berapa, Den?" sahut pedagang kain itu berpromosi.

*Sret!* Aram menyodorkan dua keping emas. Seketika mata si pedagang kain terbelalak.

"Segini cukup, Paman?" tanya Aram.

"Cukup... cukup! Malah lebih dari cukup, Den. Masih banyak sisanya!"

"Kalau begitu, tambah dengan kain hitam saja, Paman. Omong-omong, tukang jahitnya di mana?"

Mendengar itu, mata pemilik kain bertambah berbinar. "Di sini juga ada, Den. Aden ingin model seperti apa?" Aram pun menjelaskan model yang ia inginkan. "Saya ingin membuat sepuluh pasang, Paman," tambahnya.

Setelah menambatkan kudanya, Sipengabar Langit mendekati Aram dan bertanya, "Baju untuk apa, Ayi?"

"Ada saja, Kakang. Nanti Kakang juga akan tahu, hehe," jawab Aram berlagak misterius.

"Kau memang suka membuat Kakang jantungan, seperti kejadian-kejadian sebelumnya."

"Ah, Kakang ada-ada saja. Kakang mau membantu Ayi tidak?"

"Kau ini seperti kepada orang lain saja. Cepat, apa yang harus Kakang bantu?"

"Hehe... aku minta Kakang belanja, mau kan? Kakang bawa alat tulis?"

Tanpa menjawab, Sipengabar Langit menyerahkan alat tulisnya. Aram terlihat mencoret-coret sebuah daun lontar.

"Ini, Kang," ucap Aram seraya menyerahkan daun lontar itu kepada Sipengabar Langit.

Sipengabar Langit membaca tulisan itu sambil mengerutkan kening. Ia tidak mengerti apa yang akan dilakukan adik angkatnya ini. Tertulis: *Sepuluh pasang sepatu sebatas lutut, sarung tangan sebatas siku yang terbuat dari kulit harimau, kijang, buaya, ular, macan, rubah, beruang, serigala, domba, dan kerbau. Serta tali rotan sepanjang dua depa sebanyak sepuluh buah.*

Meski tidak mengerti, akhirnya Sipengabar Langit berangkat juga mengelilingi pasar untuk membeli perlengkapan yang ia sendiri tidak paham gunanya. Kedatangan mereka menghebohkan pasar yang sejak pagi sepi karena hujan.

Di sebuah kedai paling besar di Desa Jampangkulon, terlihat sekitar seratus orang dengan penampilan berbeda-beda sedang mengadakan rapat. Terdapat sepuluh golongan yang dapat dibedakan melalui ciri-ciri mereka: golongan petani, peternak, pengemis, wanita cantik berpakaian seronok, hartawan, pelayan, pedagang, pencuri, nelayan, dan tukang kuli.

Di tempat lain, terdapat panggung yang cukup besar. Di sana berdiri dua pemuda yang masih belia, yaitu Sipengabar Langit dan Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan.

"Ekhem... ekhem..." Sipengabar Langit berusaha menenangkan para anggota rapat yang sedang asyik bercengkerama. "Saudara-saudaraku sekalian, terima kasih atas kedatangan kalian ke tempat ini. Aku, Sipengabar Langit, merasa tersanjung." Sipengabar Langit memberi hormat kepada anggota rapat.

Sikapnya itu membuat para hadirin merasa rikuh. "Ketua, Anda terlalu sungkan. Bukankah Anda ketua kami? Untuk apa Anda memberi hormat kepada kami? Sesungguhnya kamilah yang seharusnya berlaku demikian," sela salah seorang gadis berbaju merah dengan pakaian yang cukup terbuka.

Gadis itu berwajah mungil dan cantik. Matanya bundar indah berbinar-binar dengan bulu mata lentik, bibir mungil, hidung bangir, serta kulit kuning mulus. Dengan rambut panjang lurus berponi, gadis itu tidak lain adalah Dewi Mawar, yang dikenal dengan nama Mawar saja.

Ucapan itu dibenarkan oleh banyak pihak, membuat Sipengabar Langit tersenyum. "Baiklah, Saudaraku, jika memang itu kehendak kalian."

"Ketua, adakah sesuatu yang penting sampai Ketua mengumpulkan kami semua seperti ini untuk pertama kalinya?" tanya salah satu orang dari golongan hartawan.

"Benar, Saudaraku. Kami mengumpulkan Saudara sekalian dikarenakan mengenai perkumpulan Panji Telapak Perak dan pertemuan orang-orang gagah dari berbagai penjuru di Lembah Kematian untuk menghadiri undangan mereka," ujar Sipengabar Langit langsung ke inti permasalahan.

Gemparlah seluruh hadirin. Suara bisik-bisik terdengar seperti tawon yang sedang berpindah. Di antara mereka, siapa yang tidak mengenal Panji Telapak Perak? Sebuah organisasi yang paling menggemparkan di kalangan persilatan, bahkan beberapa anggota perkumpulan mereka sudah ada yang menjadi korban.

"Harap tenang!" teriak seorang kakek dari golongan petani. Kakek itu berwajah ramah, dihiasi jenggot dan kumis putih. Suaranya bagaikan guntur, begitu lantang hingga mampu mengalahkan suara bisik-bisik para hadirin. Kakek petani itu bernama Ki Guntur, sesuai dengan suaranya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment