Chapter 16
Kemudian ia menyambung, "Adakah Ketua sudah mempunyai rencana?" Si Pengabar Langit tertawa, kemudian mengangguk. Setelah diam sejenak, ia berkata lagi.
"Saudaraku, sudah saatnya kita bersatu. Sebelumnya benar, kita memang merupakan organisasi bawah tanah. Tapi selama ini, organisasi kita tidak bekerja sebagaimana mestinya sebuah organisasi. Selama ini kita tidak pernah bekerja secara struktural. Kita bekerja demi kepentingan masing-masing. Akibatnya, banyak teman-teman kita yang kehilangan nyawa secara sia-sia."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Ketua?" tanya seorang pemuda tampan berbaju perlente.
"Pertama, kita akan merehabilitasi organisasi ini," ujar Si Pengabar Langit.
"Maksud Ketua?" tanya seorang pengemis muda dari golongan pengemis.
"Hmm... Kita harus memilih ketua baru, ketua yang sesuai dengan kondisi saat ini," kata Si Pengabar Langit dengan semangat.
Diam-diam Aram menghela napas, sementara para hadirin dibuat gempar untuk kesekian kalinya. "Ketua, apa maksudmu?" "Lalu siapakah yang akan menggantikan Ketua?" Suara protes terdengar di mana-mana.
"Diam!" bentak Si Pengabar Langit karena kesal melihat situasi yang mendadak riuh. "Keputusanku sudah bulat, tak bisa diganggu gugat. Siapa yang tidak setuju, silakan keluar."
Ruangan itu menjadi hening. Mereka saling pandang, tetapi tak ada seorang pun yang keluar. Melihat hal itu, Si Pengabar Langit akhirnya berkata, "Dewi Mawar dari golongan wanita malam, Ki Guntur dari golongan petani, Tuan Muda Rehan dari golongan hartawan, Ki Makmur dari golongan pedagang, Nyai Asri dari golongan pelayan, Siwa dari golongan pengemis, Samudra dari golongan kuli, Brahma dari golongan peternak, Raja dari golongan nelayan, dan Si Tangan Kilat Ki Kodir dari golongan pencuri, harap maju ke depan."
Mereka bersepuluh adalah orang-orang yang paling disegani dari kelompok masing-masing. Si Pengabar Langit mengerti bahwa untuk mengalahkan ular, harus dihancurkan kepalanya. Maka, ia memanggil para pemimpin dari tiap golongan.
"Menurut kalian, siapakah yang paling tepat memegang predikat ketua?" tanya Si Pengabar Langit.
Mereka bersepuluh merenung. Sesekali mereka melirik ke arah Aram yang sedang diam mencorat-coret daun lontar. Seperminum teh berlalu, masih belum ada yang menjawab. Akhirnya, Si Pengabar Langit memutuskan untuk memberikan mereka waktu berunding.
"Kalian bersepuluh, berundinglah. Aku beri waktu seanak nasi."
"Baik, Ketua!" jawab mereka serempak. Lalu mereka pergi ke sudut selatan untuk berunding.
"Hah... Kakang, mengapa engkau menyuruh mereka memilih ketua selain dirimu? Jika begitu, bagaimana ketua baru nanti mau menerima masukan dariku?" keluh Aram.
"Hahaha... Terkadang hal ini perlu dilakukan, Aram. Aku bukan orang yang haus kekuasaan. Biarlah kedudukan ketua ini bergiliran, dengan begitu tidak akan ada rasa iri hati," ujar Si Pengabar Langit bijak.
Waktu seanak nasi telah berlalu. Para pemimpin golongan telah selesai berunding dan majulah Ki Guntur sebagai perwakilan mereka.
"Ketua, kami telah selesai berunding. Kami memutuskan, jika Ketua Si Pengabar Langit tidak ingin menjabat lagi, maka kami mengangkat adiknya, Pendekar Seribu Diri, Aram Widiawan."
"Hah? Apa? Kalian gila!" kata Aram gelagapan. Matanya yang merah melotot sebesar gundu.
"Apakah kalian sudah mempertimbangkannya baik-baik?" tanya Si Pengabar Langit yang sebenarnya sudah menyangka bahwa adiknya lah yang pantas menggantikannya.
"Sudah, Ketua!" jawab mereka serempak.
"Baik. Dan kau Aram, apakah kau siap?" tanya Si Pengabar Langit lagi.
"Tapi, apakah semuanya setuju? Aku takut ada yang merasa keberatan," jawab Aram.
"Sebagai ketua baru, kaulah yang harus menanyakannya kepada mereka!" jawab Si Pengabar Langit sambil tertawa. Ia benar-benar mengagumi sosok adiknya yang telah mengalami banyak perubahan.
Dengan tegang, Aram berdiri dan maju ke depan. Dengan serius, ia menatap semua orang di depannya. Entah mengapa, orang-orang di bawah panggung merasa seakan tatapan pemuda itu menusuk hati kecil mereka. Semangat menggelora yang tak mereka mengerti asalnya tiba-tiba menyeruak dan bergejolak di tubuh mereka.
"Apakah di antara Saudara sekalian ada yang merasa keberatan dengan diangkatnya diriku? Jika ada, silakan maju ke depan," desisnya lirih. Anehnya, semua orang di tempat itu bisa mendengar desisan tersebut.
Betapa terperanjatnya Ki Guntur mendengar suara itu. Ia pernah mendengar dari gurunya bahwa Ilmu Suara Guntur tingkat dua belas dapat mengeluarkan suara sejauh dua mil dan bisa dikendalikan sesuai kehendak hati, meski hanya berupa desisan. Ia heran dari mana ketua barunya bisa menguasai ilmu itu.
"Tidak! Kami semua mendukungmu!" teriak mereka serempak.
"Apakah itu keluar dari hati nurani kalian?"
"Benar! Demi Tuhan Yang Maha Kuasa, kami setuju kau menjadi ketua baru kami!"
"Baiklah jika kalian setuju, tapi dengarlah, aku memiliki syarat. Aku ingin perkumpulan ini memiliki prinsip 'hitam bukan putih'. Berpikir secerdik rubah dan bertindak seperti ksatria yang dituntun hati nurani. Aku ingin kalian menjunjung kebebasan bertindak, tidak kaku dalam berpikir, tidak memihak kepada kesalahan, dan tidak tunduk pada peraturan rimba persilatan yang selalu menganggap hitam adalah kejahatan dan putih adalah kebaikan. Jangan memeras yang lemah. Kalian bebas bergaul dan bertindak sesuka kalian asal jangan membawa nama Perkumpulan Rahasia ini. Apakah kalian setuju?"
Para hadirin makin bersukacita karena memang banyak dari mereka yang terbiasa bergaul di dunia hitam. "Setuju!"
Aram tersenyum misterius mendengar itu, lalu ia mulai berbicara mengenai organisasi yang akan dipimpinnya.
"Hadirin sekalian, Saudaraku yang sangat aku hargai. Sudah lazim bagi suatu organisasi untuk memiliki nama. Adakah di antara hadirin yang mengajukan usul nama yang bagus untuk perkumpulan kita?"
Ternyata ada tiga orang yang mengacungkan tangan.
"Ada lagi?" tanya Aram meyakinkan. Namun, tidak ada lagi yang mengajukan usul. "Baik, dari sebelah kiri, silakan. Mohon dijelaskan beserta alasannya."
"Maafkan kelancangan saya, Ketua. Nama saya Ujang. Saya mengusulkan nama 'Awan Putih Berarak'. Alasannya, sebagaimana yang Ketua uraikan tadi, lambang awan berarak menjelaskan bahwa kita tidak memihak kepada siapa pun. Lalu putih melambangkan bahwa kita bertindak atas dasar kebenaran hati nurani yang bersih."
"Bagus, bagus. Selanjutnya?" Aram manggut-manggut.
"Maafkan kelancangan saya, Ketua. Nama saya Hadi. Saya mengusulkan nama 'Langit Biru'. Alasannya, kita sebagai anggota telik sandi mengetahui bahwa tak ada yang bisa dirahasiakan dari kita, sebagaimana langit memayungi bumi."
"Itu pun bagus," puji Aram. "Silakan, yang terakhir."
"Maafkan kelancangan saya, Ketua. Nama saya Jiran. Saya mengusulkan nama 'Bendera Angin Semilir'. Alasannya, kita terdiri dari berbagai golongan dan bertindak seperti semilir angin yang menyejukkan setiap orang."
"Semua pendapat kalian sangat cocok. Adakah di antara hadirin yang bersedia menentukan pilihan?" Aram menyerahkan pilihan kepada forum agar tidak ada perselisihan hanya karena sebuah nama.
"Bagaimana jika Ketua saja yang menentukan?" celetuk seseorang dari golongan nelayan.
"Hahaha... Aku bukan orang yang egois. Aku lebih suka memberikan keputusan kepada kalian agar kita memiliki rasa memiliki yang tinggi," Aram tertawa ringan. Mereka pun terus berdiskusi mengenai nama organisasi tersebut.
Tiba-tiba, seseorang dari golongan peternak berkata, "Maafkan kelancangan saya, Ketua. Saya berpendapat jika terus seperti ini, entah akan berlanjut sampai kapan. Sebaiknya kita gabungkan saja ketiga usulan tersebut."
"Jadi, apa kesimpulanmu, Kisanak?" sela Aram.
"Bendera Awan Langit."
"Haha... Itu lebih baik! Kau memang cerdik, Kisanak!" puji Aram, yang membuat laki-laki itu tersipu sekaligus bangga.
"Bagaimana, Sahabatku? Apakah kalian setuju?"
"Setuju!" terdengar suara tawa gembira dari para hadirin yang antusias.
Aram tersenyum kepada Si Pengabar Langit dan semua kawan-kawannya. "Baik. Mengenai urusan Panji Telapak Perak, kita urus belakangan. Kita kokohkan dulu tiang organisasi kita. Kalian bersepuluh yang tadi berunding memilihku, silakan maju ke depan!" perintah Aram berwibawa.
Meski tidak mengerti, mereka bersepuluh tetap maju. Aram kembali memerintah, "Kalian bersepuluh, mohon keluarkan satu benda yang paling kalian sukai."
Dengan heran, mereka menurut. Dewi Mawar mengeluarkan saputangan, Ki Guntur mengeluarkan pipa cangklong, Tuan Muda Rehan mengeluarkan kipas, Ki Makmur mengeluarkan dompet, Nyai Asri mengeluarkan gelas, Siwa mengeluarkan batok, Samudra mengambil rancatannya, Brahma mengeluarkan tambang, Raja mengeluarkan kalung kerang, dan Si Tangan Kilat Ki Kodir mengeluarkan sarung tangan.
"Tolong letakkan di depan panggung ini," perintah Aram. Para hadirin bertanya-tanya dalam hati untuk apa benda-benda tersebut.
"Baik, Ketua." Mereka meletakkan barang-barang tersebut di depan panggung.
"Kang Sobar, aku mohon letakkan juga ikat pinggang milikmu."
"Baik."
Setelah memejamkan mata sejenak, Aram berkata lagi, "Eksan, Arti, Jali, Dace, dan Ibrahim, maju ke depan dan letakkan ikat kepala milik kalian. Dan untuk setiap golongan, pilihlah salah satu yang paling kalian percaya untuk maju ke depan, sebutkan nama, lalu letakkan ikat pinggang kalian." Setelah berunding, majulah sepuluh pemuda sebagai perwakilan dari setiap golongan.