Chapter 17
Eka Purnama dari golongan hartawan, Iqbal dari golongan peternak, Kenanga dari golongan wanita malam, Tanjung Putri dari golongan pelayan, Sagara dari golongan pengemis, Jagat Balik dari golongan nelayan, Buana Dewa dari golongan tukang kuli, Dewa Ares dari golongan pencuri, Pratama dari golongan petani. Aram mencabut sebuah kujang kecil dari rambutnya, lalu dengan khidmat ia meletakkannya bersama benda-benda yang lain.
Kemudian, Aram kembali memerintah, "Ambil jarak lima tombak dari benda-benda yang kalian simpan."
Para hadirin melihat Aram tanpa berkedip. Jelas mereka terkagum, terkejut, dan bangga bercampur aduk.
Aram menarik napas, lalu mengerahkan tenaga sakti mata darah. Matanya tiba-tiba mencorong berwarna merah. Terlihatlah benda-benda yang terletak di depan panggung melayang-layang. Kabut merah mengepul membungkus... sekejap mata. Kemudian Aram menghentikan kegiatannya. Asap kemerahan perlahan mulai lenyap, dan entah mengapa benda-benda yang tadi berbeda warna kini semuanya berwarna merah darah, dengan rajah awan dan langit berwarna biru di tiap benda itu.
Sungguh takjub tak terkira para hadirin melihat pameran ilmu kedigdayaan secara gratis.
"Kang Sobar, dengan tanda kepercayaan sabuk ini, aku mengangkat engkau sebagai wakil ketua."
"Baik, Ketua. Terima kasih atas kepercayaanmu."
"Ki Guntur, dengan tanda kepercayaan pipa cangklong ini, aku angkat engkau sebagai pendamping kanan. Tugasmu adalah meluruskan setiap tindakanku yang dianggap menyimpang dari kebiasaan organisasi."
"Rehan, dengan tanda kepercayaan kipas merah ini, aku angkat engkau menjadi pendamping kiriku. Tugasmu adalah memberikan saran dan menampung saran demi kemajuan organisasi kita."
"Ki Makmur, dengan tanda kepercayaan dompet ini, aku mengangkatmu sebagai Juang. Tugasmu mengelola uang, baik pemasukan maupun pengeluaran."
"Brahma, dengan tanda kepercayaan tambang ini, aku mengangkatmu sebagai Julis. Tugasmu mencatat semua kejadian dalam organisasi, baik anggota, dan sebagainya."
"Dewi Mawar, Siwa, dan Nyai Asri, dengan tanda kepercayaan saputangan, batok, dan gelas ini, aku mengangkat kalian sebagai Duta Langit. Tugas kalian adalah mengelola setiap informasi yang masuk dari Komandan Bendera."
"Raja, Ki Kodir, dan Samudra, dengan tanda kepercayaan kalung kerang, sarung tangan, dan rancatan ini, aku mengangkat kalian sebagai Duta Bumi. Tugas kalian adalah mengupayakan keuangan organisasi kita."
"Eksan, Arti, Jali, Dace, dan Ibrahim, dengan tanda kepercayaan ikat kepala ini, aku mengangkat kalian sebagai Ksatria Satwa."
"Dan kalian bersepuluh, aku mengangkat kalian sebagai Komandan Bendera. Tugasmu adalah memimpin anggota-anggota yang lain dari tiap golongan kalian."
"Apakah kalian semua ada yang keberatan? Silakan, ada yang mau bertanya?"
"Tidaaaakkkkk!" Gemuruh tepuk tangan bergema di kedai itu.
Mereka benar-benar takluk dengan ketua baru mereka. Baru kali ini mereka benar-benar sedang berorganisasi.
"Demi keutuhan kelompok ini, aku akan sedikit memberikan kalian bekal. Aku harap semua anggota membuat sebuah lingkaran," Aram berteriak.
Tanpa diperintah dua kali, mereka berbaris dan membuat lingkaran tanpa kecuali.
"Silakan kalian bersila dan saling berpegangan tangan. Jika ada hawa mengalir, jangan ditolak, biarkan ia masuk ke dalam tubuh kalian," Aram berbicara dengan tegas.
Dengan mengerahkan ilmu yang disebut memindahkan pikiran dan hawa, Aram mengajarkan mereka ilmu yang ada di dalam rimba persilatan, yaitu ilmu yang ada dalam kitab silat rubah mencuri kitab.
Dua jam telah berlalu. Aram menghentikan pengerahan tenaga dalamnya, lalu menyuruh mereka bersemadi sebentar, juga untuk melatih ilmu yang ia turunkan.
Betapa bahagianya mereka mendapat perhatian lebih dari ketua mereka. Perlu diketahui, satu rangkaian ilmu silat dari satu perguruan utama pun bisa malang melintang, apalagi jika semuanya.
Menjelang senja, setelah makan dan minum, para hadirin membubarkan diri dengan senyuman kebahagiaan di bibir mereka, kecuali jajaran yang tadi siang diangkat menjadi bagian pengurus. Mereka berdiskusi sampai menjelang fajar dengan segala rencana yang sudah dimatangkan.
Keesokan harinya, Aram memanggil Ksatria Satwa dan mengajak diskusi, selain mengenai urusan perkumpulan Panji Telapak Perak. Ketika tiba di pintu kamar ketuanya, anggota Ksatria Satwa melongo melihat penampilan ketuanya. Bagaimana tidak melongo, Aram memakai baju dalam hitam dengan jubah cokelat ketat. Jubahnya aneh karena jubah pribumi tanah Jawadwipa tidak ada seperti itu. Jubahnya panjang sampai mata kaki dengan belahan di belakang sampai lutut, dipenuhi kantong baju. Bagian depannya terbuka memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna hitam, diikat tali selebar tiga jari sebanyak tiga tali di dada, satu tali di leher, dan satu tali di pinggang. Sepatunya terbuat dari kulit rubah sampai lutut, diikat dengan tali dari rotan. Kedua tangannya memakai sarung dari kulit rubah, seperti halnya dengan sepatunya, sampai siku.
"Selamat datang, Kawanku. Silakan masuk, jangan berdiri saja di pintu."
"T-terima kasih, Ketua," Dace menjawab.
Setelah semuanya duduk, Aram memulai diskusi.
"Siapakah kalian? Aku beri tugas pertama?"
"Tentu, Ketua," mereka berlima menjawab serempak.
"Dace, ambillah bungkusan di sudut itu," Aram menunjuk sebuah bungkusan cukup besar di sudut kamar.
Dace, seorang pemuda tampan dengan rambut sepundak, lalu beranjak mengambil bungkusan di sudut ruangan dan meletakkannya di depan Aram.
"Kalian ambillah pakaian ini masing-masing satu buah. Pergilah ke bilik sana, dan ganti baju kalian."
Setelah semua kembali ke ruangan dengan memakai pakaian yang sama, terlihatlah bahwa mereka begitu seragam. Meski mereka sedikit kesulitan memakai baju yang begitu mentereng yang seumur hidup baru mereka lihat, tapi mereka tidak ada yang protes.
"Boleh kita lanjutkan?" Aram memulai percakapan.
"Siap, Ketua..." dengan semangat mereka menjawab.
"Dace, mulai saat ini engkau bernama Angkara, kau adalah Ksatria Kijang. Pakailah. Tugasmu adalah sebagai kepala dari Ksatria Satwa." Aram mengambil sebuah sepatu dan sarung tangan dengan model yang sama seperti ia pakai. Bedanya, yang kali ini ia serahkan terbuat dari kulit kijang.
"Eksan, mulai saat ini engkau bernama Amuk Samudra, kau adalah Ksatria Buaya. Pakailah. Tugasmu adalah menguasai perairan di berbagai daerah, karena ku tahu kau dari kampung nelayan. Awasilah para Komandan Bendera. Kau paham?" Aram mengambil sebuah sepatu dan sarung tangan dengan model yang sama dengan yang tadi dan menyerahkannya.
"Paham, Ketua. Terima kasih atas kepercayaanmu."
"Ibrahim, mulai saat ini engkau bernama Murka Semesta, kau adalah Ksatria Ular. Pakailah. Tugasmu adalah menyebarkan setiap berita yang perkumpulan rencanakan, juga mempengaruhi setiap insan persilatan. Satu lagi, kau harus berubah menjadi seekor ular yang licin. Usahakan agar perkumpulan kita tak tersebar di rimba hijau. Jika perlu, kau harus berubah menjadi seekor ular naga demi perkumpulan kita. Kau paham?" Aram mengambil sebuah sepatu dan sarung tangan dengan model yang sama dengan yang tadi dan menyerahkannya.
"Paham, Ketua. Terima kasih atas kepercayaanmu."
"Jali, mulai saat ini engkau bernama Huru Hara, kau adalah Ksatria Serigala. Pakailah. Tugasmu adalah membuat keonaran-keonaran dalam dunia persilatan, terutama mengenai Panji Telapak Perak. Aku memberi kebebasan kepadamu untuk bertindak. Kau paham?" Aram mengambil sebuah sepatu dan sarung tangan dengan model yang sama dengan yang tadi dan menyerahkannya.
"Paham, Ketua. Terima kasih atas kepercayaanmu."
"Arti, mulai saat ini engkau bernama Kasturika berjuluk Dewi Damai Buana, kau adalah Ksatria Domba. Pakailah. Tugasmu adalah menenangkan setiap orang dari golongan lemah, termasuk para rakyat, mengenai tindakan lainnya aku tidak akan membatasi dirimu. Satu lagi, aku tak akan melarang engkau untuk memeras para hartawan atau pejabat yang memeras rakyat. Aku tahu kau takkan menghilangkan kebiasaan mencurimu. Kau paham?" Aram bicara dengan tersenyum seraya mengambil sebuah sepatu dan sarung tangan dengan model yang sama dengan yang tadi dan menyerahkannya.
"Paham, Ketua. Terima kasih atas kepercayaanmu."
"Dace, sebagai pimpinan, aku akan memberimu wewenang untuk menambah seorang anggota baru, yang akan bertugas sebagai duta macan. Carilah orang di luar anggota Telik Sandi Bendera Langit Kita. Engkau siap?"
"Siap," Dace menjawab dengan mantap. Memang di antara kawan-kawannya ia memang terkenal berwibawa dan tegas mengambil keputusan.
"Jali, aku tahu tugasmu yang paling berat, maka aku juga mengizinkan engkau untuk mencari sahabat baru yang akan bertugas sama denganmu, yaitu duta kerbau."
"Terima kasih, Ketua," jawab Jali dengan terharu. Ia memang di antara kawan-kawannya paling terkenal paling binal, paling liar, dan si pembuat ulah. Dengan ditugasinya sebagai orang yang akan membuat onar, ia benar-benar merasa bahagia.
"Dan kau Eksan, aku tahu tugasmu mengawasi Komandan Bendera sangatlah sulit. Kau juga aku beri wewenang untuk mencari sebuah teman. Carilah seorang yang pas untukmu dan jadikanlah ia Ksatria Beruang."
"Dan kalian berdua yang tidak mendapat bagian teman, aku tahu, kalian sudah memiliki anggota sendiri dari luar anggota Telik Sandi. Jadi aku tidak terlalu risau."
"Baik, Ketua," mereka bertiga menjawab.
Arti dan Ibrahim benar-benar terkejut tak kepalang. Tak disangkanya ketua barunya mengetahui secermat itu, maka bertambahlah rasa kagum mereka.
"Kalian tak perlu khawatir. Aku Ksatria Rubah, dan Kang Sobar Ksatria Harimau, akan membantu kalian secara bergiliran," timpal Aram lagi.
Lima orang Ksatria Satwa benar-benar tak menyangka bahwa ketua mereka bakal turun sendiri. Dengan berkaca-kaca terharu, mereka memandangi ketua baru mereka.
"Kalian tak usah bersikap demikian. Meski kita adalah anggota dan ketua, tapi kita bersikap layaknya seorang sahabat saja."