Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 18

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 18

"Aku risih diperlakukan dengan terlalu banyak adat," dengan bersungut-sungut Aram berbicara. Gayanya yang lucu membuat kelima ksatria tertawa santai, mengurai kekhusyukan.

Begitulah mereka terus berdiskusi. Lalu, Aram menurunkan ilmu Rubah Bersiasat, dan Selaksa Rubah menjadi bayangan bagi para Ksatria Satwa, beserta ilmu Halilintar Perobek Bumi sebagai olah kanuragannya. Dina Jandela Tina jandela urang silih gupayan lemu paneuteup deudeuh jeung geugeut neuteup eunteub tara nu nyora simpe henteu nyarita ngukir ciptaan tresna jeung asih marengan Lir nu keur ngimpi, lir nu keur ngimpi gambar lamunan naon geuning nu katepi.

Lir nu disirep, lir nu disirep geter katineung reureuh geuning, rep rerep.

Tina jandela urang silih kiceupan imut kareueut raga katresnaan padeukeut langit keur lenglang jauh tina kamelan gurang jadikeun galeuh pasini lawungkeun.

Terdengar lantunan sajak yang merdu dari sebuah bilik penginapan desa Padanghaur. Suaranya begitu syahdu menggelitik jiwa. Ternyata, orang yang bersajak adalah seorang jelita berwajah Tionghoa yang tak lain adalah Thian Hong Li. Ia sedang termangu-mangu di dekat jendela, mengingat kejadian dua hari yang lalu. Ia masih ingat ketika dirinya bercumbu dengan kekasihnya di jendela ini.

Terdengar ia melantunkan sajak Sunda lagi, yang ia pelajari dari Aram, si pemuda yang telah berani merebut hati dan tubuhnya itu.

Wengi Enjing Tepang Deui Disimbutan ku halimun diaping ku indung peuting. Lalaunan ngalayangna sukma ninggalkeun jasmani. Emh, aduh, sukma ninggalkeun jasmani ngalayang ka awang-awang ret nepangan ka nu tebih nepungan ka urang gunung malati di pinggir pasir kakara pisan ligar nakapendakna tacan lami katuruban dangdaunan kahempi ka nagara sari.

Kembang diburu dirungrum sawengi henteu kapanggih patapan henteu kalanglang raraosan mah sawarsih. Emh, aduh, raraosan mah sawarsih hawar-hawar sora hayam ciri parantos janari nu nyumput teh humarurung teungteuingeun milik diriharianeun teuing kadar misahkeun anu keur asih kembang nganggo dihalangan ditundung ku indung peuting.

Gunung geus aya di pungkur indit hate mah murilit duh, indit hate mah murilit.

Miang ge da sumoreang Parangtritis kapiati aduh enung pileuleuyan wengi enjing tepang deui, duh, aduh, wengi enjing tepang deui.

Setelah puas bersajak, Thian Hong Li dengan berat hati meninggalkan jendela itu. Dengan santai, ia mengambil kain handuk di lemarinya dan beranjak ke kamar mandi. Disampirkannya handuk yang ia pegang di kaitan yang sudah disiapkan.

Dengan perlahan, ia membuka pakaiannya. Tubuh yang langsing dan sekali, apalagi kulitnya yang putih seperti susu, menambah kecantikannya. Dengan hati-hati, ia melepaskan pakaian dalamnya yang tersisa hingga ia polos tanpa selembar benang pun.

Thian Hong Li tersenyum lembut melihat tonjolan di dadanya. Ya, ia melihat enam tanda kemerahan di sana.

Benar-benar aneh, mengapa ada tanda seperti itu di sana?

Ia beranjak ke depan cermin besar setinggi dua setengah depa. Dengan bangga, ia mematutkan diri di sana dengan sesekali membolak-balikkan badan indahnya.

Tangan Thian Hong Li diangkat setinggi dada dan memegang gunung kembarnya. Dengan lembut, ia meremas-remas miliknya itu. Pikirannya melayang melamunkan kejadian sama ketika berada di tempat itu, bedanya waktu itu ada kekasihnya yang dengan nakalnya memanjakan dirinya.

Napas Thian Hong Li makin memburu. Ia ingat, ketika ia sedang seperti itu, ia mendapatkan ide gila yang langsung ia utarakan, "Engkoh Aram, berikan aku tanda agar aku bisa mengingat belaianmu ini." Dan ironisnya, Aram mengabulkan, bahkan bukan cuma satu, tapi langsung enam. Tiba-tiba, Thian Hong Li melenguh mendapatkan puncaknya, bagaikan gunung meletus yang menyemburkan lava. Thian Hong Li menggelepar-gelepar.

"Akkkkkhhh!" Setelah puas melakukan aksinya, Thian Hong Li mengambil air lalu mandi. Setelah selesai, ia melap tubuhnya dan keluar mengganti baju. Di tengah kesunyian malam di bulan Suro, seorang gadis bernyanyi-nyanyi kecil di sebuah jalan yang sunyi, "Kumalayang di alam dunya langit numendung kalimpudan ku mega hideung angin ngahiliwir nyereset kana ati matak ngageuingkeun lelembutan diri ngan hiji gusti nuwidi numaha agung balebat fajar ti wetan nyingraykeun hideungna mega peuting batara alam nu endah mukakeun gapura sagara hirup nubaris jadi lalakon hirup kumalayang di alam dunya." Begitulah ia bernyanyi Sunda berulang-ulang dan berhenti ketika ia mendengar erangan lirih.

Dengan mengendap-endap hati-hati dan menajamkan pendengarannya, Thian Hong Li perlahan mendekati arah suara rintihan. Dengan menggunakan jurus yang bernama Membedakan Suara Menentukan Arah, Thian Hong Li tahu, suara itu berasal dari semak yang tak jauh dari dirinya.

Dengan mengintip di balik semak yang cukup lebat, tanpa sadar Thian Hong Li terpekik, "Hiii!" Dengan ngeri, Thian Hong Li mundur selangkah. Meski Thian Hong Li seorang pendekar wanita, tak urung ia merasa ngeri. Ternyata di hadapannya terbaring seorang kakek tua dengan tubuh bersimbah darah. Tangan kirinya buntung sebatas siku, wajahnya penuh dengan darah dan debu, bajunya hancur tak karuan.

Sepertinya ia telah berjalan jauh.

"Hahahaha.... Tampaknya, dewata masih menginginkan dunia ini tidak hancur. Hahaha!" Kakek itu tertawa meski harus dibayar mahal dengan napasnya. Dengan tersenggal-senggal, ia berkata, yang lebih tepat adalah mengigau, "Neng Geulis, kadieu, tong sieun. Aki lain jelema garong." Terkejut Thian Hong Li mendengar itu, dengan hati iba dan menambah semangatnya, Thian Hong Li mendekati kakek tua itu. "Ki, kunaon aki kok jadi kieu?" dengan logat Sunda yang kaku, Thian Hong Li mencoba berkomunikasi.

"Sepertinya, engkau bukan orang sini, anak muda," dengarlah.... "Aku memiliki permintaan, maukah engkau mengabulkannya?" "Baik, Kek, selama itu tak menentang jalan ksatria dan hati nurani," Thian Hong Li menjawab.

"Angkat aku menjadi gurumu." Thian Hong Li bingung, ia harus menjawab apa. Tapi melihat kondisi Si Kakek, Thian Hong Li nekat. Tanpa menunggu lama, ia bersujud di hadapan Si Kakek. "Murid, menghormat kepada Suhu... eh, Guru."

"Anak baik, dengarkanlah kata-kata ini, pasang telingamu baik-baik. Ajian pertama bernama Ajian Bulan Bentang: "Kuring sujud di taneuh hideung nyaksian bentang nu herang mencenges siga srangenge......." Yang kedua, Ilmu Bedog Sanca Oray: "Kolebat oray ngabentuk sinar, ngareol......." Begitulah Kakek itu menjelaskan dua buah ilmu sakti andalannya kepada Thian Hong Li.

Lalu, ia menyuruh Thian Hong Li mengulang dan mengulang.

"Muridku, aku bernama Ki Cakravala, berjuluk Si Kakek Bulan Bentang. Seminggu yang lalu, aku menemukan tiga kitab pusaka yang menjelaskan tentang perjalanan sukma manusia untuk mencapai jati niskala. Benar kata pepatah, manusianya tidak membuat masalah, tetapi kepunyaannya membuat malapetaka. Gara-gara kitab itu, aku harus menderita seperti ini. Muridku, jika seseorang mengeroyokmu, setangguh apa pun dirimu, maka kau akan mengalami kematian, dan itu terjadi padaku." Dengan tersenggal, Si Kakek bercerita. Lalu, ia memasukkan tangannya ke dalam pakaian dan menyerahkan buntalan kuning kepada Thian Hong Li.

"Muridku, inilah ketiga kitab itu. Ambillah dan pelajarilah secara sembunyi-sembunyi. Jangan menceritakan kepada siapa pun. Bila ada yang menanyakan kau murid siapa, katakanlah murid Si Candramawa." "Pergilah dari sini cepat sebelum ada yang melihatmu."

Mata Thian Hong Li berkaca-kaca. "Guru, mana murid berani meninggalkan Suhu dalam keadaan seperti ini...!" Di luar dugaan, Si Kakek menjadi berang saat Thian Hong Li berkata seperti itu.

"Lekas enyah! Jangan menyia-nyiakan harapanku! Jika kau masih belum enyah, aku akan bunuh diri sekarang." Thian Hong Li sama sekali tak sakit hati dibentak seperti itu. Justru, ia semakin menyayangi gurunya. Dengan mengeraskan hati dan air mata bagaikan laut tumpah membasahi bajunya.

Thian Hong Li beranjak bangkit dan berkelebat menembus kegelapan.

"Kau memang murid terbaikku," desah Ki Cakravala.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Ki Cakravala mengambil sebotol cairan. Lalu, diminumnya. Setelah itu, Ki Cakravala menusuk jalan darah kematiannya.

Dua kentungan kemudian, berkelebat sepuluh orang bayangan di depan mayat Ki Cakravala yang sedang berubah perlahan-lahan menjadi cairan.

"Racun pelebur raga," desah salah satu bayangan itu.

"Kau kenal dengan pemilik racun itu, Adi Daksina?" ujar yang lain.

"Raja Racun Penyebar Maut.... Hanya dia yang memiliki racun ini."

"Berarti dia target kita. Beritahu kelompok lain!" yang tadi bicara memerintah.

"Baik, Tuanku."

Wussshhhhhh! Sepuluh bayangan tadi berpencar meninggalkan seonggok cairan mayat Ki Cakravala.

Dengan tersedu-sedu menangis, Thian Hong Li berlari kembali ke penginapan. Sesampainya di kamarnya, ia terkejut melihat kakaknya sedang menimbang-nimbang keris miliknya.

"Kau dari mana saja, Hongmoay? Mengapa kau menangis?" Thian Liong memecah keterkejutan Thian Hong Li.

"Tidak apa-apa kok, Engkoh Liong," Thian Hong Li berbohong lalu ia duduk di sebelah kakaknya.

"Engkau dapat dari mana senjata aneh ini, Hongmoay?" Thian Hong Li mengalihkan topik.

"Engkoh Aram yang memberikannya padaku. Itu bukan senjata aneh, Kak, namanya keris."

"Oh, keris! Di negara kita tidak ada senjata unik seperti ini ya, Hongmoay?"

"Benar, Kak. Keris itu bernama Keris Perasaan?"

"Emmmcchhhh.... perasaan." Lalu, Thian Liong menatap adiknya, seakan mengerti "sesuatu."

Thian Hong Li salah tingkah.

Untuk menutupi salah tingkahnya itu, Thian Hong menceritakan kejadian tadi kepada Thian Liong.

"Boleh aku lihat itu, Hongmoay?" "Tentu." Setelah itu, Thian Hong Li menyerahkan bungkusan yang ia bawa. Thian Liong membukanya.

Ternyata isinya adalah daun lontar berisi aksara Sunda kuno.

Daun lontar itu dibentuk sedemikian rupa hingga membentuk kipas.

Untuk yang pertama, tertulis berbagai macam hal-hal spiritual dan moral yang akhirnya diberi nama Sewaka Darma. Yang kedua berjudul Bujangga Manik, dan yang ketiga Sri Ajnyana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment