Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 19

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 19

Jika itu diberikan beberapa bulan ke belakang, mungkin mereka akan sulit mengerti tulisan tersebut. Namun, berkat bimbingan Aram, mereka akhirnya menguasai aksara Sunda Kuno. Masih terngiang di kepala mereka ketika Aram menjelaskan sejarah tentang aksara tersebut.

"Di tanah Nusantara, ada yang dinamakan Abjad Protosinaitik: Abjad Fenisia, Abjad Aramea, dan Abjad Brahmi. Dari Aksara Brahmi, diturunkanlah Aksara Pallawa, Aksara Kawi Kuno, Aksara Sunda Kuno, lalu menurunkan Aksara Sunda Baku. Aksara ini memiliki kerabat antara lain Aksara Bali, Batak, Baybayin, Hanuno'o, Jawa, Kaganga (Rejang), Lontara (Bugis), Rencong, dan Tagbanwa. Aksara Sunda diurutkan menjadi delapan belas yang berbunyi: *ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, wa-sa-ha*."

Setelah membaca, mereka menyimpulkan bahwa isinya merupakan ilmu tingkat tinggi. Ketiganya memiliki kesamaan, yaitu menceritakan perjalanan sukma menuju kayangan demi mencapai tujuan akhir. *Bujangga Manik* berbentuk prosa puitis, sedangkan *Siksa Kandang Karesian* dan *Sri Ajnyana* merupakan teks puisi. Dengan kecerdasan mereka, keduanya berhasil menerjemahkan konteks sebenarnya, yaitu cara-cara semadi menuju Bumi Kencana (Gedung Kencana), langit tertinggi tempat sukma mencapai Jati Nirkala (Keabadian Sejati). Dengan tak mengenal lelah, keduanya menerjemahkan dan berlatih ilmu dari kitab daun lontar itu.

"Saudara-saudaraku, para pemimpin perkumpulan Telik Sandi. Saya selaku ketua baru mengucapkan terima kasih kepada kalian yang telah memberikan kepercayaan kepada saya. Saya meminta petunjuk dan saran dari para kisanak dan nisanak sekalian," Aram bangkit dan menjura.

"Terima kasih, Kisanak. Silakan duduk, silakan duduk!" Setelah semuanya duduk, Aram membuka percakapan, "Dapatkah kita memulai acara ini?" Para petinggi organisasi tidak menjawab; mereka hanya mengangguk menunggu Aram melanjutkan ucapannya.

"Baik, kalau semuanya sudah siap, saya akan memulai pertemuan ini. Pertama, saya akan membicarakan mengenai Komandan Bendera dan anggotanya. Kedua, saya mau membicarakan mengenai penambahan anggota. Dan yang terakhir, saya mau membicarakan mengenai wibawa para pengurus organisasi."

Para petinggi diam saja merenungkan ucapan Aram. Sebelumnya, mereka tidak pernah mengalami hal-hal rumit seperti ini. Bagi mereka, cukup ada ketua maka segalanya beres. Aram memperhatikan wajah mereka. Ia paham ini adalah kali pertama bagi mereka. Ia melanjutkan, "Baik, kita bahas yang pertama. Saya ingin organisasi ini dirahasiakan serapat-rapatnya."

"Maksud Ketua? Bukankah dari dulu organisasi ini sudah merupakan organisasi rahasia?" Nyi Mawar menyela. Aram mendesir melihat Nyi Mawar membungkuk saat berbicara; dadanya yang montok dan putih halus mengintip di balik bajunya yang cukup seronok. Seketika ia tersadar dan segera menguasai hatinya. Para petinggi organisasi tersenyum melihat ketua mereka yang wajahnya sebentar tersipu, sebentar serius, bahkan cenderung misterius. "Tidak mengecewakan dijuluki Pendekar Seribu Diri," pikir mereka dalam hati.

"Maksud saya, saya ingin membuat organisasi ini menjadi organisasi rahasia di balik rahasia," Aram menjawab misterius.

"Saya benar-benar tidak mengerti," Rehan menyahut dengan bingung.

"Haha... saya jabarkan secara sederhana. Mohon Anda sekalian membuat organisasi di dalam organisasi. Singkatnya, para Komandan Bendera membuat sebuah organisasi baru yang rahasia," Aram menerangkan.

"Maksud Ketua, para Komandan Bendera membuat sebuah organisasi rahasia namun bergerak dengan meninggalkan jejak, bertindak sembunyi-sembunyi, lalu merekrut anggota baru atas nama organisasi yang dibentuk sesuai dengan bendera masing-masing?" Samudra menebak.

"Benar sekali, Samudra. Kau tahu mengapa kita bertindak demikian?" Aram menguji.

"Tidak, Ketua."

"Bagaimana dengan Anda sekalian?" Semua menggeleng tidak mengerti.

"Inilah siasat Rubah Membentengi Lubang. Ada yang paham dengan siasat ini?" Aram bertanya. Namun, semuanya lagi-lagi menggeleng. "Saya takut pihak perkumpulan Panji Telapak Perak memiliki organisasi yang mengendalikannya," ujar Aram mantap.

Darah para petinggi organisasi mendesir. Mereka membayangkan jika Panji Telapak Perak saja sudah menggegerkan rimba hijau, apalagi organisasi yang mengendalikannya.

"Nah, tadi malam saya telah memikirkan nama sepuluh organisasi bendera. Jika Anda sekalian setuju, boleh dipakai. Jika tidak, juga tidak mengapa." Lalu Aram mendiktekan hasil pemikirannya: Partai Naga Darah Biru untuk golongan hartawan; Partai Harimau Niaga untuk golongan pedagang; Partai Sumber Macan untuk golongan peternak; Partai Kupu-Kupu Malam untuk golongan wanita malam; Partai Belalang Sembah untuk golongan pelayan; Partai Pengemis Serigala untuk golongan pengemis; Partai Hiu Lautan untuk golongan nelayan; Partai Kaitan Dewa Beruang untuk golongan tukang kuli; Partai Gagak Intan untuk golongan pencuri; dan Partai Cangkul Arwah Kerbau untuk golongan petani.

"Ketua memang berotak seekor rubah," puji Dewa Ares. "Kami setuju." Begitu pun yang lain, mereka menerima nama-nama yang diberikan oleh ketua mereka.

"Bagus kalau begitu. Mengenai yang kedua, aku harap para Komandan Bendera mendiskusikan dengan para anggotanya mengenai pengurus-pengurus di dalamnya. Saya tidak akan ikut campur. Saya cuma berpesan agar para anggota utama tidak mengatakan keberadaan Organisasi Bendera Awan Langit kepada anggota baru."

"Dan yang terakhir, kemarin saya telah menulis beberapa kitab yang saya sesuaikan dengan kesepuluh partai. Kitab-kitab itu yakni: Kitab Naga Biru, Kitab Harimau Membeli Jiwa, Kitab Macan Memerah Sukma, Kitab Kupu-Kupu Menghisap Raga, Kitab Belalang Menyembah Mayat, Kitab Tongkat Cakar Serigala, Kitab Hiu Menghisap Samudra, Kitab Kaitan Pencungkil Jantung, Kitab Gagak Mencuri Permata Hidup, dan Kitab Cangkul Arwah Kerbau. Ini, ambillah."

Aram menyerahkan buntalan yang ia simpan di belakangnya. Para petinggi organisasi tercengang. Sama sekali tidak menyangka buntalan kain butut itu berisi kitab-kitab sakti.

"Para saudara Komandan Bendera boleh mengambil kitab yang sesuai dengan nama partainya dan dipersilakan memulai pertemuan dengan anggotanya di tempat yang kalian sepakati bersama." Dengan tertib, Komandan Bendera mengambil kitab masing-masing dan keluar ruangan.

"Para duta dan pendampingku sekalian, mohon untuk melingkar dan bersila seperti halnya kemarin saat selesai pertemuan akbar," Aram memerintah.

"Baik, Ketua."

Setelah semua selesai melingkar, Aram menggunakan kembali ilmunya yang bernama Memindahkan Pikiran dan Hawa. Ia memindahkan pikiran tentang ilmu Tenaga Sakti Mata Darah, Halilintar Perobek Bumi, dan Jurus Pukulan Geledek—yang merupakan gabungan ilmu sihir, kebatinan, dan olah kanuragan. Dahsyatnya ilmu itu tidak terkira. Selain pikiran, Aram juga memindahkan tenaga dalamnya kepada mereka. Tiga jam kemudian, semuanya pingsan karena kelelahan.

Setelah diurut dan disaluri tenaga dalam oleh Si Pengabar Langit, dua kentungan kemudian Aram siuman lalu bersemadi memulihkan kekuatan. Para duta dan pendamping kini semakin mengagumi ketua mereka saat melihat asap kemerahan keluar dari tubuh Aram. Suasana di sekeliling menjadi panas luar biasa, namun anehnya tempat itu seakan diguyur salju hingga beberapa bagian terbungkus es.

Seorang pemuda tampan berwajah kuning pucat dengan penampilan perlente keluar dari kedai tuak. Ia memakai baju dalam hitam dengan jubah cokelat ketat yang panjangnya sampai mata kaki. Jubahnya memiliki belahan di bagian belakang hingga lutut dan dipenuhi banyak kantong. Bagian depannya terbuka, memperlihatkan baju dalam hitam yang diikat tiga tali di dada, satu di leher, dan satu di pinggang. Sepatunya terbuat dari kulit kijang setinggi lutut, diikat tali rotan. Tangannya pun memakai sarung kulit kijang hingga siku. Ia segera naik ke punggung kuda dan memacunya menembus rimba.

Belum seberapa jauh, tiba-tiba seseorang menghadang di tengah jalan. Di bawah cahaya matahari, terlihat jelas pakaian orang ini sehitam malam, menutupi seluruh tubuh dan hanya menyisakan mata yang bersinar. Pedang pendek tersampir di punggungnya. Pemuda berjubah cokelat segera mengenalinya melalui sorot mata. Bagi seorang ahli, penyamaran wajah tidak akan bisa menutupi identitas yang terpancar dari mata. Penghadangnya adalah orang yang menguntitnya sejak dari kedai.

Sambil tertawa, ia menyapa, "Eh, kiranya kau berada di sini. Apakah kau sedang berjemur?"

"Menunggu kau!" dengus orang itu.

"Menunggu aku?" Pemuda berjubah cokelat memastikan sambil tertawa.

"Tentu. Kau pikir dengan menyamar seperti itu kau dapat mengelabui aku?"

"Ah, kukira belum tentu. Kalau kau tidak menguntitku dari awal, kuyakin kau tidak akan mengenaliku juga," ujar pemuda berjubah cokelat. "Kupikir kau bukan menungguku, tetapi menunggu agar aku menyerahkan uang yang kubawa, benar kan?"

Sepasang mata orang berpakaian hitam itu berkilat. Di Jepang, mereka dipanggil ninja, yaitu kelompok organisasi pembunuh bayaran berdarah dingin.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment