Chapter 20
Pemuda berjubah coklat tertawa terbahak-bahak dan membentak, "Dengan apa kau berani mengambil uangku, hah? Memangnya kau kira ilmu silatmu lebih tinggi daripadaku?" Ninja itu menjawab dengan sinis.
Seketika, air muka pemuda berjubah coklat berubah. Rupanya, ucapan ninja itu dengan tepat mengenai lubuk hatinya. Tiba-tiba, sorot matanya menjadi buas, dan ia membentak, "Kalau kau anggap ilmu silatmu cukup tinggi, boleh juga kau coba-coba dengan aku, yang kalah harus menuruti pemenang bagaimana?" "Baik, aku terima tantanganmu," jengkel si ninja tak kalah sengit.
"Ingat, kalah harus menuruti perkataan yang menang, kau sudah sanggup, tidak boleh mungkir janji..." Belum habis ucapan pemuda berjubah coklat, mendadak tubuhnya mengapung dari punggung kudanya, kedua kaki nya sekaligus menendang, yang diarahkan adalah kedua mata lawan.
Sama sekali ninja itu tidak menyangka gerak tubuh pemuda itu bisa sedemikian gesit dan cepat, ia benar-benar terkejut. Tapi ilmu ninjutsu ninja ini memang juga tidak lemah, pengalaman tempurnya juga luas, dalam keadaan terkejut ia tidak menjadi gugup.
Sebaliknya, ia malah mendesak maju sambil mengegos ke samping, dengan demikian ia sempat memutar ke belakang pemuda berjubah coklat dan tanpa menoleh lagi sebelah tangannya terus menabok wajah pemuda berjubah coklat. Serangan ini sangat cepat, gayanya juga indah, pemuda berjubah coklat terkejut serangannya dapat dielakannya dengan mudah, bahkan dapat membalas menyerang.
Cepat ia merunduk, kedua tangannya memantek bumi, kaki kanannya ditendangkan ke belakang diikuti kaki kiri sambil jungkir belakang, srettt, tumit pemuda berjubah coklat menendang dagu si ninja, benar-benar serangan balasan yang tak kalah hebat.
Ninja itu terkejut dalam posisi demikian, lawan masih memberikan serangan balasan. Cepat kedua kaki nya memancal, ia berjumpalitan di udara, lalu turun beberapa depa di sebelah sana. Katanya dengan tertawa, "Eh, tunggu, tunggu dulu!" "Tunggu apa?" terpaksa si pemuda berjubah coklat menghentikan serangannya.
"Sampai berapa jurus kita bertarung untuk menentukan kemenangan?" tanya ninja itu. "Dua puluh jurus cukup," jengkel pemuda berjubah coklat. "Cukup, malah cukup untuk membunuhmu, hiaaaattttttt!" tanpa memberi aba-aba, ninja itu menyerang pemuda berjubah coklat.
Dengan menyatukan kedua telapak tangannya dan menggerakan beberapa kali diiringi mulutnya yang komat-kamit, ninja itu berteriak jurus pertama "Nara Ryuu: Rouha" (jurus ninja aliran Nara: ledakan serigala), tangan kirinya menghentak ke depan, sinar putih bergulung-gulung meluncur ke muka, duaaaarrrrrrr! Untung sebelumnya pemuda berjubah coklat melompat ke udara, ketika ia menengok, ia bergidik melihat tempatnya tadi ia berdiri berlubang sebesar kubangan kerbau.
Belum sempat pemuda berjubah coklat mendarat, tiba-tiba ninja itu berteriak jurus kedua "Nara Ryuu: Rouketsu" (jurus ninja aliran Nara: serangan serigala), wussshhh, sinar putih keabu-abuan meluncur, cepat pemuda berjubah coklat itu memapak dengan jurus "Rubah keluar sarang", duaaaarrrrrrr! Dua buah tenaga sakti beradu di udara, binatang-binatang berterbangan mencari selamat, pohon-pohon bertumbangan terhempas angin.
Terlihatlah pemuda berjubah coklat terbang terbawa hempasan tenaga sakti, segera ia menggunakan ilmu pemberat yang bernama "paku bumi", sementara ninja tadi terpental hingga dua tombak, tapi ia tidak gentar, cepat ia kembali menyerang "Nara Ryuu: ninpo Raijuukou" (jurus ninja aliran Nara: Raungan monster petir), breetttttt, kilatan petir menyambar pemuda berjubah coklat, pemuda berjubah coklat gusar, segera ia menyerang "Rubah melumat mangsa", teriaknya lantang, duarrrrr, kembali terdengar dentuman tenaga sakti yang beradu.
Pemuda berjubah coklat menyatukan kedua telapaknya di depan dada dengan kuda-kuda kaki kanan di depan ditekuk di lutut dan bersanggah di kaki kiri. Mulutnya berkumat-kamit merapal mantra, "Hiaaaaattt, Rubah menyembah mayat", teriaknya melengking seraya menyentakan tangannya ke depan, selarik sinar biru keluar menyentak ke muka, menerjang sesosok bayangan hitam yang sedang bersiap-siap "Jurus ke-19 Nara Ryuu: ninpo kamaitachi" (jurus ninja aliran Nara: sabit musang angin).
Blarrrr, kembali terdengar dentuman menggelegar. Tampaklah si ninja yang ternyata ninja Nara mencelat karena tenaga dalamnya kalah tinggi. "Berhenti, jangan berkelahi lagi," kata pemuda berjubah coklat dengan tertawa. "Mengapa? Kau mengaku kalah?" ninja Nara itu mendengus.
"Sekali kau keluarkan tenaga lagi, segera kau akan mati dengan tujuh lubang keluar darah. Nah, kuberitahukan dengan maksud baik, janganlah kau tidak percaya lagi." Saking gusarnya, ninja Nara berbalik tertawa, katanya, "Kau setan cilik ini membual seperti setan, kau kira dapat menggertak diriku. Kita belum selesai, masih ada satu jurus."
"Menggertak kau? Tidak, sama sekali aku tidak main gertak, tapi bicara sungguh-sungguh. Apakah kau tahu di dunia persilatan ada semacam ilmu gaib yang disebut 'Rubah Menyembah Mayat beracun'? Artinya, barang siapa terkena pukulan ini, kecuali berdiri tak bergerak, bila bergerak, maka tidak lebih jauh bergerak, orangnya pasti akan roboh dan tamat riwayatnya."
"Omong kosong, di dunia ini mana ada ilmu pukulan begitu," jengkel si ninja Nara. Walaupun di mulut ia tidak percaya, tapi diam-diam ia pun merasa seram, kaki terasa lemas, dan tidak berani bergerak lagi.
Sambil menatap orang dengan tajam, pemuda berjubah coklat itu berkata lirih, "Ilmu pukulanku ini sudah ratusan tahun kehilangan turunan, apalagi kau dari negri asing, dengan sendirinya kau tidak tahu, dan tentu juga tidak percaya. Namun tanpa sengaja kudapatkan ajaran orang sakti dan berhasil meyakinkan ilmu pukulan ini, maka..."
"Kau telah berhasil memukul aku satu kali, begitu bukan?" ninja Nara dengan mendengus. Walaupun ia sengaja berlagak tak mengacuhkan ucapan pemuda berjubah coklat itu tadi, tapi dalam keadaan demikian, siapa pun pasti waswas dan tidak berani sembarangan bergerak.
"Hah, sekali ini ucapanmu memang tepat," demikian pemuda berjubah coklat itu menanggapi, "cuma aku hanya memukul satu kali, bahkan memukul dengan perlahan. Asalkan kau mau mengaku kalah padaku, maka dapatlah kutolongmu." "Jika kau kira dengan beberapa patah katamu ini dapat menggertak diriku, maka keliru besar dan salah alamat," jengkel si ninja Nara.
"O, jadi kau tidak percaya?" pemuda berjubah coklat itu menegas. "Baik, sekarang kau boleh meraba tulang igamu yang nomor tiga di sebelah kiri, coba apakah di situ terasa kemeng atau tidak? Itulah gejalanya kalau terkena pukulan berbisa 'Rubah Menyembah Mayat beracun' yang kukatakan tadi."
"Hm..." kembali ninja Nara mendengus, tanpa kuasa tangannya terus meraba tulang iga yang disebut pemuda berjubah coklat, tanpa terasa sorot matanya lantas berubah juga. Pemuda berjubah coklat tampak menunduk memandang bayangan sendiri yang membayang di sebelah kaki, katanya, "Bagaimana, terasa sakit dan kemeng bukan?"
Walaupun jarinya rada gemetar, tapi di mulut ninja Nara itu tetap berteriak, "Sudah tentu sakit, setiap orang pasti mudah merasakan sakit di bagian ini." "Tapi itu bukan rasa sakit biasa, melainkan rasa sakit khusus, rasanya seperti tertusuk jarum, bagai terbakar, sakit bercampur panas, betul tidak?" sembari bicara, sorot mata pemuda berjubah coklat beralih ke muka lawannya, lalu menyambung pula dengan perlahan, "Sekarang coba raba lagi... bukan, bukan di situ. Ya, ke kiri sedikit, ya di situ..." Begitulah tanpa terasa jari ninja Nara bergerak mengikuti komando pemuda berjubah coklat, mendadak pemuda itu berseru, "Ya, betul di situ tempatnya, tekan jarimu sekuatnya!"
Benar juga, tanpa terasa jari pemuda baju putih menekan bagian tubuh sendiri dengan kuat. Tapi segera tubuhnya terasa kaku kesemutan, "bluk", ia terguling dan tak dapat bergerak lagi. "Hahaha!" pemuda berjubah coklat tertawa gembira, "betapa pun cerdikmu, akhirnya kena kukerjai juga. Nah, apakah kau tahu cara bagaimana kau tertipu olehku?"
Walaupun tak dapat bergerak, tapi mata pemuda berjubah coklat melotot dengan geregetan, matanya merah membara, tapi mulut sukar berucap. "Nah, dengarkan, di dunia ini pada hakikatnya tidak ada pukulan Rubah menyembah mayat beracun segala, apalagi menguasai ilmu demikian itu. Namun di dunia ini memang benar ada semacam ilmu gaib yang disebut 'Rubah menipu mangsa' dengan ilmu menutuk simpul darah memotong nadi, sebuah ilmu pertabiban sebagai medianya, aku dapat mengalahkanmu, jadi, selamat tinggal" dengan santainya pemuda berjubah coklat itu duduk minum menonton ninja Nara yang tergeletak di sampingnya, "hahaha... sekarang aku ingin melihat wajahmu, lagipula aku tahu wajahmu waktu kau mengintipku di pasar, hehehe..." ia tertawa sambil berjalan santai menuju si ninja Nara.
Sorot mata si ninja Nara benar-benar ketakutan, jika ada lobang, ingin sekali ia mengumpat di sana. Srett... topengnya terbuka, benarlah apa yang diduganya, ternyata wajah di balik topeng itu seraut wajah tampan, matanya sipit, kulitnya putih bersih, rambutnya sepundak. Wajahnya pucat pias, ia benar-benar ketakutan, ia tak takut mati, tapi ia takut pemuda berjubah coklat itu menyuruh dia untuk menentang hati nuraninya.
Sett tuk... ninja Nara tak menduga pemuda berjubah coklat itu malah membebaskannya dengan senyuman tulus. "Sekarang apa permintaanmu? Apapun yang kau minta, aku akan lakukan," ninja Nara menunduk. "Siapa namamu?" pemuda berjubah coklat malah bertanya.
Ninja Nara melengak tak mengira pertanyaan pemuda berjubah coklat. Dengan gelagapan ia menjawab, "Ryu, Ryusuke". "Kau mau jadi sahabat setiaku, menyongsong masa depan yang gemilang dalam kedamaian?" ninja Nara bertambah melongo lagi, lagi ia mendengar ucapan diplomatis dari pemuda berjubah coklat.
Ditatapnya wajah pemuda berjubah coklat itu, sorot mata yang hangat dan bersahabat cepat ia melengos, ia tak sanggup lagi menatap wajah itu. "Baik, tuan, aku mau," akhirnya ia menjawab.