Chapter 21
Mendengar itu, pemuda berjubah cokelat tersenyum, senyum yang tak dapat dipastikan benar-benar misterius.
"Ryu, kau dengar apa yang kuminta!" Ryusuke mengangguk. "Kau meminta aku 'tuk menjadi sahabatmu." Pemuda berjubah cokelat tersenyum puas. "Kalau begitu, rubahlah panggilanmu itu. Aku tak suka."
"Namaku saat ini adalah Angkara."
"Baiklah, Angkara. Tadi sebelum bertarung, kita telah melakukan perjanjian. Aku tak suka mengingkari perkataanku. Ucapan lelaki sejati ibarat anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Ucapan adalah motivasi terkuat dalam hidupku," Ryusuke berkata semangat.
Angkara merenung beberapa saat. Ia tahu lelaki sejati semacam Ryusuke. Jika permintaannya tidak diluluskan, itu merupakan penghinaan baginya.
"Baiklah, pertama aku ingin engkau berhenti berbuat mempertaruhkan nyawa hanya demi uang. Kau tahu apa sebabnya?" ucap Angkara. Timpalnya lagi, "Mari kita tinggalkan tempat ini. Kita bercakap-cakap sambil jalan saja." Angkara membangunkan Ryusuke sambil menuntun kudanya.
Mereka pun berjalan bersama sambil bercakap-cakap. Ryusuke masih diam, wajahnya merah karena malu. "Maafkan aku, Angkara.... aku memang benar-benar membutuhkan uang itu...." desis Ryusuke.
"Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk," (P.T. Barnum) Angkara berujar. Ryusuke diam tak berkomentar.
"Aku tahu kau sedang ada masalah. Katakanlah, barangkali aku bisa membantumu," Angkara berkata dengan spontan. Ryusuke mendelong, bagaimana orang di sampingnya bisa berkata demikian. Ia mempertimbangkan, haruskah ia memberitahukan. Di tengah ia berpikir, dirinya ditambah keheranan lagi, sebab Angkara berkata lagi, "Aku tahu kau sedang berpikir, haruskah engkau memberitahukanku atau tidak. Perlu kau camkan baik-baik, sahabat selalu ada di saat engkau membutuhkan. Teman bisa saja silih berganti, tapi sahabat tetap sejati."
"Huffzz," Ryusuke menghela napas. Percuma saja ia bertindak rahasia. Orang yang ada di sampingnya benar lain dari yang lain. Tindakannya benar-benar tak bisa diduga.
"Baiklah, percuma saja aku menyembunyikannya. Kau memang lain dari yang lain. Sebaiknya aku ceritakan dari awal. Kau suka mendengarkan?" Angkara mengangguk. "Aku datang dari Desa Kouraningun, negeri matahari terbit (Jepang). Di negri kami ada lima aliran ninja terbesar yang paling disegani, yaitu Nara, Emerarudo, Iga, Okazaki, dan Fuurai. Aku termasuk Aliran Ninja Nara. Disana aku memiliki seorang sahabat, namanya Kyoshiro. Ia berencana meninggalkan Kouraningun, ia ingin melepas statusnya sebagai seorang ninja. Tidaklah mudah bagi seorang ninja untuk meninggalkan kelompoknya menurut peraturan kami. Ninja yang ingin melepas statusnya akan dikejar sampai kemanapun hingga ia mati. Tapi,... aku tidak rela kehilangan dia karena Kyoshiro adalah sahabatku yang paling berharga. Diam-diam aku membawa adikku serta untuk membantuku menyelamatkan Kyoshiro. Beberapa purnama silam, ada kabar bahwa ia pergi ke tanah ini. Maka kamipun bergegas kemari."
Ryusuke mengambil napas sebentar lalu melanjutkan. "Tapi tanah ini sungguh luas. Meskipun aku seorang mata-mata yang cukup handal, tapi kemanakah aku harus mencari? Maka dari itu aku memerlukan tenaga bantuan. Tujuh hari yang lalu aku bertemu dengan seorang wanita. Ia mengaku bahwa ia seorang pemimpin telik sandi. Akupun meminta bantuan darinya, tapi ia mengajukan syarat di muka. Ia meminta uang seratus keping perak sebagai imbalan. Maka dari itu......."
"Kau... mengumpulkan uang. Sementara adikmu kau suruh untuk mengawasi pergerakan orang yang diberi tugas untuk membunuh temanmu itu. Ketika kau di pasar tadi, melihatku menghambur-hamburkan uang kepada pedagang, kau berniat merampoku. Kau lebih suka merampoku meski risikonya lebih tinggi daripada merampok pedagang karena kau tak ingin menyusahkan orang lemah. Benar bukan?" Angkara menebak lanjutan dari penuturan Ryusuke.
Ryusuke tersenyum, kini ia telah terbiasa dengan watak orang yang berada di sampingnya. "Hemmzz... kau memang lain dari yang lain. Kau sudah mendapatkan gelar..." Angkara menggeleng. "Belum," jawabnya.
"Boleh aku memberikan gelar padamu?" Pendekar Kijang Berbaju Cokelat... bagaimana menurutmu?" Ryusuke mengajukan usul.
Angkara merenung, ia tersenyum dan menjawab, "Boleh.... Burung... Elang...!" Angkara menatap langit.
"Koak... Koak..." Benarlah apa yang dikatakannya. Terlihatlah seekor burung elang berputaran di udara dan menukik menuju ke tempat mereka berjalan. Tepat! Ia hinggap di pundak Ryusuke. Burung elang itu lumayan besar, ada kain berwarna merah yang melingkar di lehernya membentuk segitiga. Di kakinya terlihatlah sebuah tabung bambu sebesar ibu jari.
"Gawat.... Yoninshu sudah bergerak, kita harus bergegas...." teriak Ryusuke dengan tegang. Angkara tetap tenang, ia bertanya, "Surat dari kawanmu?"
"Benar..........! Sebaiknya kita lari.." Dengan mengerahkan ilmu peringan tubuh, Ryusuke melesat ke muka, kemudian diikuti oleh Angkara. Mereka melesat bagaikan sebuah bayangan sampai akhirnya mereka sampai di luar sebuah desa dan berjalan seperti orang normal.
"Ryusuke, sebaiknya pakaianmu kau ganti. Dengan pakaian seperti itu, kau terlalu mencolok," Angkara mengusulkan. Ryusuke sungguh mendongkol, ia balas menjawab, "Memangnya penampilanmu itu tak mencolok?"
"Hahaha...... tapi lebih baik darimu bukan? Kau membawa pakaian orang normal....." Angkara tambah mengolok. "Gerr.... Emang kau pikir aku orang gila...., pakaian gantiku ku jual. Kau punya lebih?" Ryusuke uring-uringan. "Nih,......."
Di depan sebuah kedai yang cukup ramai, terlihatlah dua pemuda sebaya dengan penampilan sama. Yang membedakan mereka cuman wajah dan matanya. Orang pertama berwajah tampan berkulit kuning, matanya bersinar terang, dan yang kedua berwajah tampan berkulit putih, matanya sipit. Mereka adalah Angkara dan Ryusuke yang baru saja tiba di sana.
Di kedai itu tidaklah terjadi hal-hal yang menarik, tetapi ketika mereka keluar dari kedai, Angkara tiba-tiba melesat ke muka, membuat Ryusuke keheranan. Tapi tak lama kemudian, ia ikut melesat mengejar. Di sebuah hutan yang lebat dan rimbun itu terjadilah suatu kejar-kejaran. Kelihatanlah pemuda berjubah cokelat di tengah, yang tak lain adalah Angkara, mengejar lima orang sosok hitam di muka. Tapi tiba-tiba lima sosok berbaju hitam itu berhenti. Yang tentu saja membuat ia kaget. Cepat ia meloncat ke sebuah dahan di pohon dan nangkring di sana.
Terdengar sebuah bentakan keras menggelegar, "Kau pikir bisa kabur dari kami, Kyoshiro? Matilah kau." Salah seorang yang memegang kusarigama (arit berantai) setelah memutar dua kali, cepat ia membeset ke bawah.
"Tunggu........" Tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari belakang. Tahu-tahu di belakang lima sosok ninja tersebut muncul seorang pemuda berjubah cokelat lainnya yang tak lain adalah Ryusuke.
"Heh, apa kau juga mau ikut berkhianat, Ryusuke? Cepat minggir,...." bentak seorang ninja yang memegang katana dengan kedua tangannya.
"Sudahlah, Ryusuke, engkau pergilah... aku tahu niat baikmu itu, tapi ini tetap peraturan..... meski aku bukan seorang ninja lagi. Aku percaya, sampai sekarangpun tanganmu tetap seakrab dulu, seperti bunga teratai dan bunga sawi," Kyoshiro tersenyum. Pedih hati Hanjii,...
"Duaaarrrrr......" Tiba-tiba sebuah bom peledak meledak. Debu mengepul. Ternyata salah seorang dari ninja yang berpakaian hitam melemparkan sebuah bom peledak. Itulah yang disebut dengan Kajutsu. (Teknik tentang bahan peledak dan senjata api). Setelah debu menghilang, kelihatanlah hanya sebuah pedang katana tergeletak di tanah. Ternyata Kyoshiro telah jatuh ke jurang.
"Kyoshirroooooooo............" teriak Ryusuke menyayat. "Kalian Yoninshu jahanam hiaaattttt....." Ryusuke mencabut katana di punggungnya dengan kedua tangannya, lalu bergerak menyabet. Bret! Trang! Ninja Yoninshu menangkis. Dengan kalap kembali ia menyerang. Hiaaaatttt! Trang trang... "Manusia tak tahu diri, hiaaattttt!" Ninja yang lain menyerang. Sebentar saja terjadi pertarungan yang tidak seimbang, lima lawan satu.
"Jika dibiarkan saja, Ryusuke pasti mati." "Hemmm.." Angkara bergumam. "Huh... Keroyokan... Ryusuke, serahkan dua orang pengecut yang memegang arit berantai, dan orang yang memakai pedang pandak di sebelahnya," Angkara melengking dan menerjang. Ryusuke tak menjawab, ia terus mencecar ninja yang menyerangnya.
"Huh... Dasar pengetahuan dangkal.... Jaga katana ini," teriak ninja yang memegang katana yang dianggap pedang pandak oleh Angkara. Ia anggap remeh Angkara karena bagaimanapun Angkara masih belia.
"Aku terima berikut rentenya, srett! Tep..." Sungguh luar biasa katana yang sedang disabetkan bisa ditangkap oleh jari, dengan menjepit katana dengan telunjuk dan ibu jarinya. Angkara mengerahkan Aji Halilintar Perobek Baja. Srrttttt..... Bagai terkena setrum saja, ninja itu gemetar. Ia kaget, benar pedang yang ia pegang bagai listrik ribuan volt yang menyerang dirinya. Sebagai ninja yang sudah berpengalaman dalam membunuh, apalagi kelompok Yoninshu merupakan murid-murid utama dari aliran Nara Desa Kouraningun. Mendapat serangan seperti itu tidak membuatnya gelagapan. Cepat ia lepaskan katananya dan bersalto belakang dua kali.
Melihat kejadian itu, ninja yang memegang kusarigama menganggap hanya sebuah kebetulan saja. Dengan sebat ia memutar kusarigamanya sebanyak empat putaran dan menyabetkan ke muka ke arah leher. "Putus lehermu, putus nyawamu!" teriak ninja itu.
"Leher kawanmu, putus nyawanya," balas Angkara sambil merunduk dan mengait rantai kusarigama itu. Crassss! Brett! Glutuk... Sebuah kepala jatuh menggelinding, darah mengguyur bumi. Tanpa jeritan, tanpa keluhan, benar-benar sadis...... Ninja yang memegang kusarigama terkejut melihat kawannya terpenggal kepalanya. Ia tak menyangka kawannya akan ikut ke arena pertarungan. Rupanya ninja yang memegang katana masih penasaran ia dapat dipecundangi dengan mudah.