Chapter 22
Dengan cepat, ia menyerang Angkara. Ia juga tahu temannya menyerang Angkara, tetapi tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Angkara akan menggunakan senjata temannya untuk membunuhnya.
Ketika ia sadar, semuanya sudah terlambat; kepalanya sudah terlepas dari lehernya.
"Haha... sekarang giliranmu!" Angkara tertawa dan mendesak lawannya.
Sementara itu, Ryusuke terus terdesak.
Melihat Angkara berhasil membunuh salah satu lawannya, semangatnya terbakar. Segera ia melipatgandakan serangannya. "Pengecut! Pengecut! Tukang keroyokan!"
"Kak, serahkan dua orang kepada kami!" Tiba-tiba terdengar teriakan melengking halus dan merdu. Munculah dua sosok bayangan perempuan cantik, lalu langsung terjun ke arena.
"Yumi, Hai... Ambillah, pemimpinnya aku yang pegang," teriak Ryusuke dengan girang.
Sosok gadis langsing yang dibalut kain hitam tanpa penutup kepala itu langsung menyerang seorang yang memegang kendo.
Di Jepang, seorang ninja perempuan biasa dipanggil kunoichi.
Bret! Sebuah senjata rahasia berbentuk bintang dilemparkan Yumi, atau lebih dikenal sebagai shuriken. Trang! Trang!
Ninja yang memegang kendo itu menangkis, kemudian mereka terlibat dalam pertempuran sengit.
Sementara itu, perempuan yang datang bersama Yumi langsung melemparkan pedangnya seraya berteriak, "Pedang Pemburu Nyawa!" Melihat serangan itu, ninja yang diserang cepat membalas dengan ilmu tangan kosong yang disebut taijutsu.
"Harimau Menerkam Sembunyi!" teriaknya lantang. Brett! Duar!
Nyata sekali kepandaian wanita yang baru datang itu sangat hebat. Terbukti, dengan sekali sentakan, pedang yang dilemparnya berbelok dan menyabet leher.
Untunglah, ninja itu masih dapat berkelit dengan memukulkan tangannya pada batu dan bersalto di udara.
Melihat itu, Angkara yang menyaksikan kedatangan dua gadis cantik tidak mau menyia-nyiakan waktu lagi. Dengan cepat, ia meningkatkan kecepatan tubuhnya dan menyerang secepat bayangan.
Seketika, Angkara telah berada di belakangnya. Jrussssh! Katana milik ninja yang telah mati itu menghujam jantungnya.
Tidak ada suara keluhan, tidak ada suara jeritan. Yang terdengar hanya suara bedebum tubuh jatuh dan dentingan kusarigama.
Sejatinya, ia tidak diberi kesempatan untuk mengelak, bahkan menjerit pun tidak sempat.
Lalu, ia duduk di batu, memperhatikan dua gadis sedang bertarung. Ia berpaling ke arah lain. Dilihatnya Ryusuke sedang menuju akhir pertarungan; nyata sekali kepandaian Ryusuke lebih tinggi daripada ninja lawannya.
Dengan lantang, Ryusuke berteriak.
"Matilah kau!" Srinnggg! Craasss! Aaaaaaaakh! Jeritan menyayat hati berkumandang di pinggir jurang sebuah hutan.
Bagian dalam tubuh ninja itu berhamburan keluar, darah berpancaran laksana air terjun, usus-ususnya menjuntai keluar. Benar-benar kematian yang mengerikan.
Ryusuke menghela napas. Ia berpaling melihat pertarungan adiknya dan rekannya. Ketika ia mencari Angkara, ia terkejut melihat dua mayat bergelimpangan.
Sementara itu, Angkara entah ke mana.
Ia benar-benar kaget, bahkan ia tidak tahu kapan pemuda itu membunuh lawannya.
Diedarkannya pandangan ke sekeliling tempat itu. Tidak jauh dari dirinya, ia melihat Angkara sedang memperhatikan pertarungan adiknya.
Wajah Angkara kadang merah, kadang tegang, lalu tersenyum; begitulah berganti-ganti.
Ryusuke tersenyum melihat tingkah sahabat barunya itu. Karena adiknya ada yang memperhatikan, Ryusuke memutuskan untuk melihat perempuan yang membantunya.
"Hebat sekali gadis itu," Ryusuke menggumam.
Di arena pertarungan, gadis itu tiba-tiba melompat ke udara dan menari. Tariannya begitu gemulai dan indah.
Ninja Yoninshu dan Ryusuke terlongong-longong kagum melihat indahnya tarian di udara itu. Apalagi celana gadis itu berbentuk seperti payung sehingga pahanya yang putih mulus terlihat menggoda iman setiap pria.
Tiba-tiba dari atas langit meluncur sebuah titik keperakan. "Hujan Pedang Tunggal!" teriak gadis itu merdu.
Jrubb! Bruk! Ninja Nara itu tersate sebuah pedang.
Ryusuke terbelalak matanya melihat ninja Yoninshu itu terhunjam pedang dari wajah sampai anusnya.
Ia bergidik ngeri.
Dilihatnya adiknya juga sudah mengakhiri pertarungan.
Tap! Ringan sekali gadis itu menginjakkan kakinya di tanah, lalu menghampiri korbannya dan mencabut pedangnya, kemudian tersenyum pada Ryusuke.
Di lain tempat, pada waktu yang sama dengan gadis tadi menari.
Pertarungan Yumi dengan ninja Yoninshu bersenjata kendo juga sedang mencapai puncaknya.
Tampaklah Yumi sedang terdesak hebat. Ketika Yumi mundur, ninja itu melemparkan sebuah paku yang biasa digunakan dalam teknik Saimonjutsu.
"Jurus Rahasia Mengikat Bayangan Jerat Sukma!" teriak ninja Yoninshu itu.
Sekilas, terlihat Yumi akan kalah pada saat itu.
Angkara tegang, tetapi, tiba-tiba dari tangan Yumi melesat empat buah shuriken. Trang! Jrub! Jrubb! Jrubb!
Ia sangat terkejut bahwa lawannya akan melakukan itu.
Yumi tersenyum melihat lawannya mati dengan tiga buah shuriken menancap di tiga tempat: dahi, leher, dan dada.
"Kau hebat, Nona!" Angkara berkata dengan antusias.
"Terima kasih," jawab Yumi tersipu.
"Siapakah namamu, Nona Jelita?" Angkara merayu.
"Yumi, dan kau?"
"Angkara." Angkara melihat Ryusuke dan gadis itu mendekat ke arahnya.
"Kau juga hebat, Nona, tarianmu begitu menyesatkan sukma," tanpa basa-basi Angkara memuji.
"Hihihi... kau terlalu memuji. Lihatlah hasilmu sendiri. Kaulah yang paling banyak membunuh," gadis itu menjawab.
Angkara memperhatikan gadis itu.
Gadis itu berwajah cantik, usianya juga paling banter sekitar delapan belas tahun.
Ia mengenakan baju berbentuk jubah berwarna kuning gading.
Kain itu tipis, sehingga pakaian dalamnya yang berwarna biru tua itu terlihat membayang di balik jubah kuningnya.
Celananya berbentuk payung, sebatas mata kaki.
Rambutnya yang panjang sebatas pinggang dibiarkan lepas terurai ke depan; sebagian di dada kiri, sebagian lagi di dada kanan. Ia mengenakan ikat kepala bukan dari kain, melainkan dari tali sutra berwarna merah. Tali sutra itu sedikit panjang sehingga sisa ikatannya jatuh berjuntai melewati pundak kanannya.
"Apa ada masalah dengan wajahku, Kisanak?" gadis itu bertanya.
Ryusuke terdiam. Akhirnya ia menjawab.
"Kau gadis dari tanah Antah Berantah, ya?" Gadis itu tersentak kaget.
"Benar, namaku Jelita Indria." Ia memperkenalkan diri.
"Angkara," tanpa ditanya Angkara menyebutkan namanya. Tiba-tiba Ryusuke menyela, "Kau hebat, Angkara! Kau membunuh dua orang tanpa suara, sampai-sampai aku tidak tahu kapan kau menyelesaikan pertarungan."
"Hahaha... kau salah, Ryu. Aku tidak membunuh mereka. Merekalah yang saling membunuh sendiri. Lihatlah!"
"Ninja yang itu mati di bawah tikaman pedang katana milik ninja yang kepalanya buntung. Sedangkan ninja yang kepalanya buntung mati dipenggal oleh arit berantai milik ninja itu." Angkara menunjuk.
Memang benarlah kenyataannya seperti itu, tetapi mereka tahu, tanpa ia (Angkara) melakukan "sesuatu", mana mungkin mereka saling membunuh sendiri.
"Kruuukkkk... kruuukkkk!" Terdengar suara panggilan perut dari Yumi.
Ryusuke, Angkara, dan Jelita Indria berpandangan. Lalu tertawa terbahak-bahak, sementara Yumi tersipu malu seperti kepiting direbus.
Di sebuah desa di dekat Sungai Cikaso, Desa Sampar Angin namanya, terdengar orang-orang berbisik-bisik dengan heboh. Bahkan, kehebohan itu merambat ke desa-desa sebelahnya. Orang-orang persilatan dengan penasaran berbondong-bondong datang ke desa itu. Mengapakah demikian? Di tengah-tengah desa itu, orang-orang awam maupun orang persilatan dengan tercengang-cengang melihat seorang pemuda belia dengan pakaian dalam hitam dan jubah cokelat ketat. Jubahnya aneh karena jubah pribumi tanah Jawadwipa tidak ada yang seperti itu. Jubahnya panjang sampai mata kaki dengan belahan di belakang sampai lutut, dipenuhi dengan kantong baju. Bagian depannya terbuka memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna hitam, diikat tali selebar tiga jari sebanyak tiga tali di dada, satu tali di leher, dan satu tali di pinggang. Sepatunya terbuat dari kulit serigala, terlihat dari bulunya. Sampai lutut diikat dengan tali dari rotan. Kedua tangannya memakai sarung dari kulit serigala, seperti halnya dengan sepatunya, sampai sikut.
Siapakah dia kalau bukan Jali, atau Huru Hara sang Ksatria Serigala? Pemuda itu sedang asyik-masyuk menjajakan jualannya, layaknya seorang pedagang.
Lalu, mengapa bisa membuat orang-orang gempar? Terlihatlah, ternyata barang yang ia jajakan itu adalah segala macam barang dengan lambang Panji Telapak Perak.
Bahkan, panji Telapak Perak yang biasa digunakan dalam mengambil nyawa orang pun berserakan di sana. Orang-orang bertanya-tanya, siapakah gerangan pemuda ini yang berani bertindak seperti itu? Padahal, di dunia persilatan ini, siapakah yang berani berurusan dengan mereka?
"Kisanak, silakan jangan hanya dilihat saja, silakan dibeli barang-barang rongsokan ini," pemuda itu berkoar-koar.
Sudah dua hari ia berdagang di sana, namun tidak ada satu pun yang membeli, hanya sebuah kegemparan yang terjadi.
"Ekh, Kakak pengemis yang ada di jalan sana, mari, mari sini!" Huru Hara berteriak kepada salah seorang pengemis. Pengemis itu memakai baju penuh tambalan, wajahnya lugu, mendekati kebodohan. Dengan terheran-heran, ia mendekati Huru Hara.
"Ada apa, Kisanak?" ucapnya setelah dekat dengan Huru Hara.
"Buka baju dan celanamu, aku akan menambal yang bolong itu!" Huru Hara menunjuk lubang di dekat dada dan pantat si pengemis.
"Tapi..."
"Soal biaya, kau tidak usah pikirkan. Aku kasih gratis untukmu!" Betapa girangnya pengemis lugu itu. Memang ia tidak mempunyai uang sepeser pun untuk menambal pakaiannya.