Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 23

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 23

"Kau memang baik, Kisanak... Hehe... Baiklah, tapi..."

"Ini, kau pakai dulu." Huru-hara memberikan sebuah selimut seakan mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh pengemis itu.

Beberapa saat kemudian, "Ini sudah..." Huru-hara menyerahkan pakaian kepada sang pengemis lugu. Dengan tergesa-gesa, pengemis itu mengenakan pakaiannya.

Karena kesal tidak ada yang membeli dagangannya, Huru-hara mencoba bercakap-cakap dengan pengemis itu. "Eh, siapakah namamu?"

"Luyu Manggala. Dan kau?" pengemis itu balik bertanya.

"Huru-hara," balas Huru-hara singkat.

"Hahahaha! Pantas sekali namamu dengan kelakuanmu itu."

"Apa maksudmu?" Huru-hara bingung.

"Kau tahu? Kau sangat terkenal di seluruh penjuru dunia persilatan dengan tingkahmu yang bisa dibilang tidak normal ini," kata Luyu Manggala.

"Apa maksudmu?" Huru-hara tersinggung.

"Apa kau tahu semua orang persilatan segan dan takut pada gambar bendera-bendera yang kau jual itu?"

"Bwahaha! Apakah kau juga takut dengan gambar rongsokan dan panji-panji kecil tak berguna ini? Benda ini lebih pantas aku pasang di pantatmu!" Huru-hara tertawa terbahak-bahak.

Dengan penasaran, Luyu Manggala berdiri dan menatap pantatnya sendiri. "Hahaha! Kau memang penambal ulung, Sobat. Memang benar gambar panji ini lebih berguna dan pantas menempel di pantatku ini. Dengan begini, gambar ini pasti akan dihibur parfum paling alami."

Lalu keduanya tertawa bersamaan, tetapi mata mereka melihat ada beberapa orang memandang dengan api kemarahan di wajah mereka. Orang-orang persilatan semakin gaduh mendengar percakapan itu. Huru-hara tersenyum penuh arti. Melihat itu, mata Luyu Manggala berkilat tajam. Sepertinya ia paham dengan apa yang ingin dilakukan oleh pedagang belia yang satu ini.

Huru-hara bukanlah orang bodoh, tentu saja ia paham maksud kilatan mata itu. Dalam hatinya, Huru-hara berpikir, "Hem... Meski terlihat bodoh, ternyata orang ini cerdik juga. Tak ada salahnya jika aku menjadikannya rekan."

"Huru-hara, bagaimana kalau kita berteman?" ajak Luyu Manggala.

"Bukankah sekarang kita sudah berteman?" Huru-hara menatap wajah Luyu Manggala.

Meskipun terlihat bodoh, Luyu Manggala ternyata sangat cerdik. Beberapa patah kata dari Huru-hara membuatnya kagum. Tak disangka, seorang pedagang belia memiliki bobot ucapan seorang terpelajar. Luyu Manggala tentu saja paham maksud ucapan itu, lalu tersenyum dengan penuh kekaguman. Ia paham bahwa Huru-hara tidak hanya menjadikannya seorang teman, tetapi juga seorang sahabat.

Orang awam mungkin berpikir, apa bedanya teman dengan sahabat? Bukankah itu sama saja? Namun, orang-orang ahli tentu saja dapat membedakan teman dan sahabat. Teman bisa saja berganti seiring waktu, tetapi sahabat selalu menjadi nomor satu kapan pun dan di mana pun. Sahabat lebih berharga daripada seorang kekasih, sebab kekasih bisa saja membuat kita sakit karena sebuah kata "cinta". Bahkan yang lebih ironis, kekasih bisa menjadi musuh. Lain halnya dengan sahabat.

"Kau pernah mendengar kabar berita akhir-akhir ini, Sobat?" tanya Luyu Manggala.

Sobat. Sebuah panggilan sederhana namun memiliki begitu banyak arti.

"Berita apa?"

"Berita tentang kekejaman Panji Telapak Perak yang saat ini sedang engkau perjualbelikan?"

Orang-orang di sekitar segera menajamkan pendengaran. Jika Anda adalah orang persilatan, mungkin Anda juga akan melakukan hal yang sama. Bagi kalangan rimba hijau, hal apa yang membuat mereka begitu bersemangat? Di kalangan rimba hijau, ada sebuah pepatah tentang enam buah malapetaka yang menyenangkan. Pepatah itu mengatakan: "Harta, benda mustika, wanita, tuak, dan berita terbaru adalah sumber kehidupan sehari-hari. Burung mati mencari makanan, manusia mati karena harta. Orang gagah binasa karena wanita. Rimba hijau banjir darah karena benda mustika. Karena tuak orang gila, dan karena berita baru mereka celaka."

"Hahaha! Untuk apa takut pada kaum kroco seperti mereka? Kau tahu tentang Sepuluh Perguruan Merdeka?" jawab Huru-hara.

Dengan mengerutkan kening, Luyu Manggala menjawab, "Tidak. Baru kali ini aku mendengarnya darimu."

"Dengarlah, Sobat. Seorang penjaga gerbangnya saja memiliki ilmu silat beraneka ragam. Kau tahu Jurus Teratai Membuka milik Perguruan Teratai Putih, Jurus Rajawali Sayap Emas milik Perguruan Rajawali Emas, Jurus Bintang Kemukus Menimpa Bumi dari Perguruan Bintang Kemukus, Sembilan Jurus Pedang Bumi dari Perguruan Pedang Bumi, dan Jurus Golok Pembunuh Harimau dari Perguruan Golok Harimau? Nah, untuk ukuran pembantunya saja memiliki dasar ilmu beladiri seperti itu, bisa kau bayangkan seperti apa murid utama dan pemimpinnya?"

Bola mata Luyu Manggala melotot seperti gundu. Bahkan beberapa orang yang berlalu-lalang dan yang memasang telinga mendengarkan sambil mendesah tak percaya.

"Kau sadar dengan ucapanmu, Huru-hara?" Luyu Manggala tergagap, bahkan ia mengubah panggilannya tanpa sadar.

"Hahaha! Tentu saja aku sadar. Kau tahu si Ular Bermata Seribu? Dari dialah aku tahu," jawab Huru-hara acuh tak acuh.

Di dunia rimba hijau, siapakah yang tidak tahu si Ular Bermata Seribu? Seorang tokoh muda yang menggemparkan dengan sepak terjangnya. Perguruan mana pun dibuat pusing olehnya, bahkan istana pun ia obrak-abrik. Namun anehnya, semua korbannya tidak ada yang berani menaruh dendam. Yang lebih hebat lagi, seorang Adipati Rajalela yang merupakan penguasa juga tidak berani mengusiknya. Hampir semua orang mengenalnya. Bahkan bila kau bertanya kepada seorang anak kecil, ia pasti menjawab, "Oh, Ular Bermata Seribu yang berani tidur di kamar Adipati dan seenaknya mengobrak-abrik istana itu, ya?"

Bila kau bertanya kepada seorang gadis, maka mereka akan menjawab, "Oh, lelaki tampan dengan jubah cokelat itu, ya?"

"Aku adalah sahabatnya!" Benarkah gadis-gadis itu sahabatnya? Jawabannya, tidak! Bahkan mereka tidak pernah berjumpa dengannya. Hanya segelintir orang saja yang benar-benar tahu. Lalu mengapa mereka berkata bahwa dia adalah sahabatnya? Jawabannya satu: mereka terkena racun yang bernama "gosip".

Perempuan mana di dunia ini yang tidak senang bergosip? Jika kau bertanya padaku, maka kujawab, "Tidak tahu." Kau tahu wanita suka dengan "sesuatu" yang bernama "cantik". Mungkin seperti itulah tingkah mereka untuk menggambarkan kesukaan wanita dalam bergosip. Orang tertentu mengatakan bahwa wanita memiliki "dua bibir"; ternyata memang tidak begitu jauh dari keadaan itu.

Tiba-tiba...

"Eh, Bocah! Kau ngoceh sembarangan rupanya! Sepuluh perguruan tahi kucing! Jangankan sepuluh perguruan, seratus pun jangan harap dapat mengalahkan kami! Aku Parisada yang akan pertama kali membunuh pemimpin mereka! Katakan, di mana sarang mereka!" teriak seorang lelaki brewokan yang ternyata bernama Parisada.

"Kami...? Ah! Jangan-jangan kau anggota Panji Telapak Perak?" Huru-hara menuding Parisada sambil setengah berteriak.

Orang-orang yang lalu-lalang seketika berhenti dan langsung menatap Parisada. Parisada kena batunya. Dengan tergagap, ia menjawab, "A-apa maksudmu, Bocah?"

"Benar juga katamu, Huru-hara. Aku juga tadi melihat ia memandang dengan kemarahan tertahan kepadamu waktu kau mengatakan panji ini cuma barang rongsokan," Luyu Manggala menimpali.

Wajah orang-orang di pasar itu semakin berkobar amarahnya. Lalu mereka bergerak mengepung Parisada.

"Benarkah demikian, Parisada?" teriak seseorang yang memakai baju loreng dengan cakar baja di tangannya.

"Pendekar Cakar Baja... Apa kau juga percaya dengan bualannya?" Parisada menjawab dengan gugup. Wajahnya celingukan mencari jalan kabur.

Melihat kesempatan baik, Huru-hara berteriak, "Jika memang kau bukan anggota Panji Telapak Perak, mengapa kau segugup itu? Apalagi sampai mencari jalan kabur!"

Ucapan itu bagaikan guntur di siang bolong di telinga Parisada, sedangkan bagi orang-orang yang mengepung, keyakinan mereka semakin mantap. Diam-diam Parisada berpikir, "Ternyata bocah ini licin luar biasa. Aku kena jebakannya. Melawan orang sebanyak ini jelas aku tidak akan mampu. Sebaiknya aku kabur saja. Selama gunung masih hijau, aku tidak akan kehabisan kayu bakar."

Ia mencari celah untuk melarikan diri, tetapi ia tercekat. Di sebelah utara, seorang wanita jelita berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri tegak. Ia berpakaian serba kuning; jubah tanpa lengan warna kuning, kain penutup dada dan pinggul warna kuning, bahkan pedangnya—dari sarung hingga gagang—dililit kain warna kuning. Ia siap mencabut pedang. Di dunia persilatan, ia dikenal sebagai Dewi Kuning.

Di sebelah barat, seorang kakek berdiri dengan angkernya. Kakek itu memakai baju hijau dengan caping lebar yang menutupinya. Ia dikenal sebagai Dewa Hijau Bercaping. Di sisi lainnya, ada si Pedang Kilat, Rajawali Biru, Harimau Tanpa Taring, dan si Kakek Tua Daun Ilalang, serta beberapa pendekar lainnya. Serempak semua merangsek mendekati Parisada, tetapi...

"Berhenti!" Dari arah langit terdengar bentakan melengking yang halus dan merdu.

Serentak semua orang menatap langit. Seketika wajah mereka terperangah, terlebih Pendekar Rajawali Darah Biru dan Pendekar Teratai Salju. Di langit terlihat sesosok gadis berbaju merah cabai seolah menari di angkasa dan perlahan turun ke bumi. Pendekar Rajawali Darah Biru tentu saja mengenali ilmu peringan tubuh yang digunakan sosok itu. Ilmu peringan tubuh itu bernama Bayangan Rajawali Langit Emas. Sedangkan Pendekar Teratai Salju mengenali tarian yang luar biasa indah itu sebagai jurus Teratai Langit Mekar. Mereka terkejut bagaimana gadis itu mampu menggunakannya sesempurna itu, padahal guru besar mereka pun belum tentu mampu melakukannya.

Ternyata gadis itu memakai cadar berwarna merah, namun tetap tidak bisa menutupi wajahnya yang ayu. Dara itu berbadan langsing namun sintal, mengenakan jubah merah tanpa lengan. Jubahnya tidak dikancingkan, tetapi ia mengenakan penutup dada semacam kemben yang terbuat dari kain tipis warna hitam. Tipisnya kain membuat lekuk tubuh di dadanya tampak membayang dari luar, terlihat kencang dan menantang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment