Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 24

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 24

Pakaian bawahnya berupa kain tipis berwarna hitam yang berbelahan dari bawah hingga ke atas. Jika kakinya menendang, belahan kain itu tersingkap, memperlihatkan apa yang ada di baliknya. Sebuah selendang merah melilit pinggangnya.

"Hahaha... Nona Anjardani, kita jumpa lagi. Kau semakin cantik saja," teriak Huru Hara.

Anjardani diam saja, namun Huru Hara yakin gadis itu tersipu. Ia yakin setiap wanita pasti senang jika dipuji cantik.

"Siapa kau, Nona...?" Parisada mencoba bersikap tenang.

"Kau ingin tahu?" "Ya..." "Aku adalah calon pengiringmu ke neraka...!" "Hahaha, kau jangan membual, Nona Manis... Katakanlah siapa dirimu...." Tanpa banyak bicara lagi, Anjardani menyerang Parisada dengan selendang yang berada di pinggulnya.

"Hiaaaattttt! Bukkk..." Dengan telak, selendang itu menghantam pundak Parisada. Parisada, yang tidak menyangka akan diserang, terkejut dan cepat mengelak. Namun, naas, serangan itu terlalu dahsyat untuk dielak. Sambil meringis kesakitan, ia memegangi pundaknya.

"Baik, supaya arwahmu tentram di alam sana, aku beritahukan padamu. Namaku Anjardani, Penjaga Gerbang salah satu perguruan yang kau katakan tahi kucing tadi.... Aku tidak punya banyak waktu... jadi...." "Wussstttt... Prak... Bruukkk..." Tanpa ampun lagi, kepala Parisada hancur berkeping-keping. Dengan dingin, Anjardani melanjutkan perkataannya.

"Mengasuh lah di alam baka..." Semua pendekar terpengarah. Mereka tahu sewaktu gadis itu melancarkan serangannya. Tapi, sebelum mereka sempat mencegah, nyawa Parisada telah meninggalkan raganya. Kini mereka sadar dan semakin yakin bahwa kemampuan dari sepuluh perguruan golongan merdeka benar-benar tidak dapat diremehkan. Tidak lebih dari dua jurus, Parisada yang terkenal hanya tergeletak tak bernyawa. Siapakah yang akan percaya jika tidak melihatnya sendiri... tapi itu benar-benar terjadi... siapakah yang akan menyangkal kekejaman si dara, keindahan si dara, kesaktian si dara. Mereka benar-benar seperti baru bangun dari tidur, bahwa mereka yang merasa jago hanya seorang yang tidak berguna. Siapakah yang salah? Ilmunya, gurunya, atau dia sendiri?

"Huru Hara, berhentilah mengoceh tak keruan. Aku ambil kain dan panji-panji ini." *Settt*, empat keping uang menempel di meja pajangan.

"Untuk apakah, Dani?" Dengan lembut Huru Hara bertanya.

"Untuk kucing peliharaan Ketua, kain ini untuk tidurnya," Anjardani mengacungkan kain itu.

"Dan panji itu?" Anjardani berpikir sejenak.

"Untuk latihan berburu babi oleh tuan muda," akhirnya ia menjawab. Habis itu, ia berkelebat lenyap, meninggalkan bau harum bunga yang khas. Para pendekar mengerti ucapan itu jelas untuk menghina Panji Telapak Perak.

Sekejap itu, berita tentang kegemparan yang dilakukan Huru Hara di tiap desa, di manapun dia berada, selalu menarik minat setiap orang persilatan. Apalagi sekarang makin santer kabar yang menyatakan bahwa Huru Hara memiliki seorang sahabat dungu melebihi kerbau, yang selalu memporak-porandakan orang persilatan yang berani mengganggu mereka.

Apa yang Anda pikirkan dan lakukan jika Anda melihat seorang gadis cantik?... jika Anda normal, pasti Anda akan berusaha mencari perhatiannya, bukan? Begitu pula yang terjadi di sebuah warung makan di dekat pantai Ujung Genting ini. Semua lelakinya pada ribut, ada yang memamerkan hartanya, ada juga yang memasang tampang kegagahannya. Sudah jamak bila di mata seorang lelaki ingin menikmati seorang wanita. Apalagi jika seorang lelaki melihat gadis semacam ini yang mungil menggemaskan, dengan pakaian dalamnya yang berwarna merah muda sangat memancing perhatian, karena pada hakikatnya baju itu terlalu tipis untuk ukuran baju dalam, sehingga dada yang sekall itu pun terpampang jelas, apalagi puncaknya yang kecoklatan seakan ingin menerobos kain itu dan sepertinya dada itu menantang orang untuk memilikinya. Rambutnya tergerai lurus sepunggung menambah kecantikannya. Tapi anehnya, gadis itu memakai jubah yang aneh, yakni jubah berwarna coklat, jubah coklat ketat, memperlihatkan lekukan tubuh gadis itu. Jubahnya panjang sampai mata kaki dengan belahan di belakang sampai paha, sehingga kalau berjalan atau sedikit mengangkat kakinya, paha yang indah itu akan mengintip malu-malu, memancing gairah lelaki, apalagi gadis itu hanya memakai celana dalam saja. Bagian depannya terbuka, memperlihatkan baju dalamnya yang berwarna merah muda. Jubah itu diikat tali selebar tiga jari sebanyak tiga tali di dada, mengganjal di sisi dua gundukan bukit di dada, mempertegas besarnya bukit itu. Satu tali di leher, dan satu tali di pinggang. Sepatunya terbuat dari kulit domba hitam sampai lutut, diikat dengan tali dari rotan. Kedua tangannya memakai sarung dari kulit domba hitam seperti halnya dengan sepatunya, sampai siku.

Lelaki-laki di sana pada menelan ludah seakan ingin menelan gadis itu bulat-bulat. Semua mata tertuju pada gadis yang sedang asyik masyuk tersenyum dengan sekali kali mengangkat gelas air minumnya itu. Meski ada yang berlagak sok acuh, tapi diam-diam matanya suka melirik-lirik. Tiba-tiba... Gubrakkk... Seorang pemuda jatuh terlentang dari kursinya, tapi tak ada seorang pun yang memperhatikan apalagi menertawakan karena semua mata tertuju pada paha gadis itu. Ternyata tuak kekuning-kuningan yang berada di gelas gadis itu tumpah dan membasahi paha mulusnya. Mungkin karena tak tahan menahan gejolak birahinya, pemuda itu sampai terjungkal dari kursinya.

Mengapakah orang-orang di sana tak langsung mempermainkan gadis itu di sana? Padahal di warung itu hanya ada seorang gadis. Lagipula, mereka adalah kaum persilatan, apalagi gadis itu terlihat begitu lemah. Ternyata, di samping gadis itu berdiri dua orang yang bertolak belakang sifatnya. Orang pertama berwajah begitu lemah lembut, tenang, malah terlalu tenang... sampai di wajahnya tak ada satupun orang yang bisa menebak perasaannya. Ibarat kerikil tercebur ke dalam lautan. Penampilannya serba putih. Sikapnya santai, saking santainya ia duduk berselonjor kaki di udara, seolah udara itu adalah kursinya.

Sedangkan orang yang kedua, wajahnya terlihat begitu serius, saking seriusnya sampai tak ada senyumanpun di bibirnya. Ia berdiri di sana, tak ada setitik gerakpun ia bergerak. Ia berdiri tak bergeming. Padahal mereka disana sudah hampir tiga kentungan.

"Ia datang," dengan senyuman yang begitu memabukkan lelaki, gadis itu berkata. Suaranya bak burung nuri yang sedang berkicau. Tiba-tiba ia berkata dengan lantang sembari menatap pintu masuk. "Selamat datang, saudari..."

"Hihi... Terima kasih, saudari... atas sambutannya..." Terdengar suara lembut merdu mendayu-dayu. Jika seorang gadis dapat meributkan satu warung, apalagi berdua?... Dari pintu masuk munculah seorang gadis cantik berpakaian dalam hitam berjubah sama dengan gadis yang duduk di kursi, hanya saja, gadis yang satu ini memakainya dengan gaya seorang pria, yakni memakai celana panjang yang selazimnya dipakai oleh seorang laki-laki, dan pelengkap pakaiannya dari kulit domba putih. Meski ia bergaya seperti pria, tapi tetap tak dapat menutupi kecantikannya yang ayu. Ia berjalan dengan lemah gemulai menghipnotis setiap mata lelaki yang memandangnya tak berkedip, lalu duduk dihadapan gadis yang duduk di kursi.

"Kasturika, bagaimana kabar kalung yang diambil gagak?" tanya gadis yang menunggu di kedai tadi.

"Hihi... Kalung yang diambil gagak telah dibagikan kepada anaknya! Lalu bagaimana kabar lebah yang berebut madu dengan kupu-kupu, adik Cempaka?" Ternyata gadis yang dari tadi menunggu di warung bernama Cempaka, lalu gadis yang baru datang adalah Kasturika, si Dewi Damai Buana. Maksud dari kalung adalah harta milik hartawan yang dicuri, sedangkan gagak adalah dirinya (Kasturika), lalu dibagikan kepada anaknya jelas sekali bahwa harta yang dicurinya telah dibagikan kepada rakyat. Mengenai lebah yang berebut madu dengan kupu-kupu adalah informasi yang didapatkan dari pelanggan (lebah), sedangkan kupu-kupu melambangkan gadis yang bernama Cempaka, karena memang profesinya sebagai wanita malam.

"Telapak tangan ku telah pegal dan memang sudah bergerak. Memang telapak tangan tak bisa digerakkan hanya dengan tangan saja, melainkan dengan kerjasama anggota tubuh," ucap Cempaka.

Kasturika termenung, lalu berkata, "Biarlah kutemui 'Ke'dai 'Tua' untuk berbicara beberapa patah kata."

"Hihi... Kau nakal, Kak Kasturi. Oh ya, nampaknya pada saat pesta nanti bakal ada sandiwara menjebak undangan saat penjamuan. Yang kurang hati-hati bakal dikasih kue lo. Kau mau datang?" Selain itu, sandiwaranya juga menggunakan macam-macam alat untuk menunjangnya, dijamin seru.

Kasturika tertegun. "Darimana kau dapat bocoran itu, ayi Cempaka? Bukannya itu rahasia?"

"Hihi... Aku tahu dari mempelai, jadi gak bakalan salah."

"Kau tahu skenario sandiwaranya?"

"Tentu, ini lihatlah," Cempaka menyerahkan gulungan lontar.

Mimpipun tidak jika kaum persilatan di sana mengetahui jikalau pembicaraan dua gadis itu menyangkut dunia persilatan. Setahu mereka, dua gadis itu sedang asyik masyuk membicarakan perkawinan sahabatnya.

"Nona berdua ingin memesan apakah?" sapa salah seorang pelayan sambil melap sebuah baki dengan sebuah ikat pinggang berwarna merah.

"Nasi putih sebakul dan ayam panggang kecap, minumannya tuak saja. Oh ya, Paman, bisakah Paman menyampaikan kepada pemilik 'Ke'dai Tua bahwa kami mengundang ke pesta pernikahan teman kami, dan ini surat undangannya." Kasturika menyerahkan daun lontar kepada pelayan itu.

"Baik, Nona."

"Tunggu...! Ambilah ini," Cempaka menyerahkan sekeping uang perak.

"Terima kasih, Nona." Pelayan itu meninggalkan kedua nona jelita itu, yang sedang asyik bercengkrama diiringi tatapan mata para lelaki.

"Tuan, Tuan berilah sedikit rezeki tuan kepada kami...." seorang pengemis mengiba di pintu warung. Pengemis itu menengadahkan mangkuk, mangkuk itu berwarna merah darah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment