Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 25

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 25

Seorang pelayan warung membentak, "Ambilah, dan segera enyah dari sini, kau menghalangi setiap pengunjung. Lihatlah gara-gara dirimu banyak yang diam di luar." Ia melemparkan sekeping uang, selembar daun lontar, dan selembar kain lap.

Tanpa diperintah dua kali, pengemis itu segera menyingkir, menjauhi kedai. Setelah sampai di suatu kota, tiba-tiba, dengan congkak, seorang anak muda berpenampilan mentereng merebut mangkuk si pengemis dan mengambil uangnya.

"Enyah kau dari hadapanku," bentaknya sambil menudingkan jari ke jidat pengemis itu.

Tangannya yang berlengan panjang terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah gelang indah berwarna merah darah. Orang-orang yang melihat itu menghela napas panjang.

Di desa itu, siapakah yang tak mengenal Tuan Muda Jumantara.

"Biadab kau, mentang-mentang kau orang kaya, beraninya memeras seorang yang lemah," bentak seorang gadis yang datang dengan dua orang pria dan seorang gadis berbaju merah muda dengan jubah warna hitam.

Gadis muda itu menyandang pedang di punggung.

Sedangkan yang membentak adalah seorang gadis berjubah kuning gading. Kain jubahnya tipis, sehingga pakaian dalamnya berwarna biru tua terlihat membayang di balik jubahnya. Celananya berbentuk payung, sebatas mata kaki. Rambutnya yang panjang terurai hingga pinggang dibiarkan jatuh ke depan, sebagian di dada kiri, sebagian lagi di dada kanan. Ia mengenakan ikat kepala, bukan dari kain, melainkan dari tali sutera berwarna merah. Tali sutera itu sedikit panjang sehingga sisa ikatannya jatuh berjuntai melewati pundak kanannya.

"Gadis cantik, siapakah kau?" Tuan Muda Jumantara terkejut melihat seorang gadis membentaknya.

Paras mukanya sedikit berubah melihat seorang lelaki memakai jubah coklat dengan perlengkapan kulit kijang tersenyum geli melihatnya. Tanpa mempedulikan si gadis, Tuan Muda Jumantara berbalik dan melangkah menuju rumah bordil.

Si gadis tersinggung. "Keparat!" teriaknya sambil memasang kuda-kuda hendak menyerang, tapi ia membatalkan serangannya karena ditahan seorang lelaki berwajah kekuningan.

"Mengapa engkau menahanku, Kakang Angkara?" tanya gadis itu dengan keheranan.

Pemuda itu, yang ternyata Angkara, tersenyum. "Kau akan mengerti nanti... Jelita!"

Dengan terburu-buru, Tuan Muda Jumantara memasuki rumah bordil. Sesampainya di sana, Nyi Mala datang menghampirinya. "Selamat datang, Tuan Muda?" sapanya.

"Aku ingin bercengkrama dengan si kupu-kupu malam," kata Tuan Muda Jumantara dengan angkuh seraya menyodorkan beberapa uang kertas.

"Kebetulan si kupu-kupu malam sedang tidak memetik bunga. Mari ikuti saya, Tuan..." Lalu keduanya melangkah menuju kamar.

"Silakan bersenang-senang, Tuan Muda." Nyi Mala melanjutkan langkahnya ke belakang dan menyusuri kebun bunga. Bunga itu ditanam dengan indahnya, seakan diatur sedemikian rupa.

Nyi Mala maju ke depan dua langkah, ke kiri dua langkah, maju sepuluh langkah. Dengan gesit ia melompat ke kanan sejauh dua kaki, setelah itu berjalan menyusuri bunga mawar hingga ia sampai di pondok sederhana. Dilihatnya seorang pemuda cakap dengan codet melintang dari alis kiri sampai kanan. Dialah Si Pengabar Langit.

"Kupu-kupu terbang membawa kabar burung," sapanya.

"Burung hinggap di pondok mungil," jawab Si Pengabar Langit. Nyi Mala menyerahkan uang kertas dan kembali ke ruangan kerjanya.

"Angkara, aku masih tak mengerti dengan kejadian tadi," tanya seorang pemuda memakai jubah coklat di sebelahnya, disetujui oleh kedua temannya yang lain.

"Sudahlah, nanti kalian mengerti. Kita hampir sampai. Ikuti langkahku, jangan sampai salah langkah," kata Angkara sambil berjalan diiringi ketiga yang lainnya. Mereka melewati kebun bunga, hutan bambu, gundukan batu, dan beberapa kolam hingga sampai di suatu pondok yang cukup besar.

"Kita sudah sampai," Angkara memecah kebisuan. Dengan berkerut kening, Angkara melihat Jelita sedang termangu-mangu melihat jalan yang barusan dilewatinya.

"Ada apa, Jelita?" tanya Yumi.

Jelita terkejut. "Barisan bunga penyesat arwah, barisan selaksa dewa bambu menjebak iblis, barisan cermin air gaib, dan barisan padang gurun tak bertepi," desisnya.

"Siapakah yang membuat barisan kuno ini, Kakang?" Jelita bertanya kepada Angkara.

"Sahabatku," jawabnya singkat, dan melanjutkan perjalanan. Mau tak mau ketiga lainnya mengikuti.

Sesampainya di depan sebuah pondok mungil, tiba-tiba, "Kau sudah datang, Angkara, malah membawa dua gadis dan satu laki-laki gagah. Kau hebat, Angkara, hahaha... Silakan masuk, silakan masuk..." terdengar orang berkata dari dalam.

Mau tak mau ketiga sahabat Angkara berubah wajahnya, kecuali Angkara yang memang mengenal suara itu. Bagaimanapun, orang yang mengetahui kedatangan orang seperti mereka jelas merupakan seorang jagoan. Angkara membuka pintu, dilihatnya seorang anak muda yang sangat tampan sedang berhadapan dengan dua orang tamunya yang memang sepertinya bukan orang tanah Jawa. Mereka tak lain adalah Thian Hong Li dan Thian Liong.

"Sepertinya kau sedang ada tamu, Ketua...!" Tanpa sungkan, Angkara duduk di sebuah tempat duduk yang terbuat dari kulit kijang. Teman-temannya terkejut, tak disangkanya ketua yang dikatakan hebat oleh Angkara hanyalah seorang pemuda sebaya mereka.

"Benar. Kenalkan, inilah Thian Hong Li dan Thian Liong dari Negeri Tiongkok." Thian Hong Li dan Thian Liong bangkit dan memberi hormat. "Thian Hong Li dan Thian Liong memberikan hormat kepada Siwi...!" Ryusuke dan Yumi juga bangkit dan menjura 90 derajat. Begitulah mereka berbasa-basi dan bercakap-cakap untuk saling mengenal diri masing-masing.

Bagaimana cara Thian Hong Li dan Thian Liong bisa ada di sana? Kita mundur dua hari ke belakang. Matahari bersinar terik, menyengat kulit, membakar jagat raya. Awan berarak menari di angkasa raya, menyelimuti seorang pemuda berbaju biru dengan kuncir kuda di belakang kepalanya.

Pemuda berbaju biru itu sepertinya baru sampai di Desa Padanghaur. Ia terheran-heran menyaksikan keramaian pada hari itu yang tidak seperti biasanya. Kemudian ia memasuki sebuah kedai yang sangat ramai. Tidak ada tempat kosong sehingga terpaksa ia berdiri sambil menengok ke sana kemari. Ia melihat dua orang lelaki yang sedang bersantap sambil mengobrol tak henti-hentinya. Karena di situ masih ada tempat kosong, maka pemuda itu mendekati mereka.

"Maaf," ucapnya sambil menghormat pada kedua orang itu. "Bolehkah aku duduk di sini?"

"Silakan," sahut salah seorang sambil memandangnya.

"Terima kasih," Pemuda itu tersenyum dan duduk. Segera seorang pelayan menghampirinya.

"Tuan mau makan apa?"

"Semangkok nasi dan sop sapi," jawab pemuda itu. Tak lama kemudian, pelayan sudah menyediakan pesanannya. Ketika ia mulai bersantap, kedua orang di dekatnya terdengar mengobrol lagi.

"Kau sudah mendengar berita baru?"

"Berita apa?"

Orang yang berbadan gemuk itu menggeleng-gelengkan kepala. "Sepertinya dunia persilatan bakal banjir darah lagi."

"Mungkin kau benar, aku juga pernah mendengar berita yang menggemparkan di dunia persilatan," kata temannya sambil manggut-manggut.

"Aaakh," orang berbadan gemuk itu menghela napas panjang. "Sepertinya generasi sekarang ini bakal mengalami masa-masa suram."

"Ya," Temannya menggeleng-gelengkan kepala. "Menurutmu, tokoh muda yang baru saja muncul, apakah membantu memerangi kesuraman, atau malah membantu?"

"Entahlah," dengan murung keduanya terus mengobrol. Pemuda itu menyelesaikan makan dan berpamitan kepada keduanya. Dengan tenang ia berjalan santai dan menepuk pundak seorang pemuda tampan berbaju pelayan. Sepertinya ia hendak pulang ke rumahnya.

Pemuda itu terperanjat. Dari gerak-geriknya yang gesit dan cekatan, sepertinya pemuda berpakaian pelayan itu mengerti ilmu silat. Dengan cepat ia berpaling dan melongo.

"Hahaha... Kita jumpa lagi, Thian Liong." Pemuda itu memeluk Thian Liong.

Dengan gelagapan, Thian Liong menjawab, "Setan cilik, kau... Adiku, sampai murung kangen padamu."

"Haha, bagaimana denganmu? Kangen tidak padaku?"

"Tidak."

"Bohong!"

"Hahaha..." Bruk! Thian Liong balas memeluk pemuda yang ternyata Aram Widiawan itu.

"Yuk, kita pulang sekarang," ajak Thian Liong.

"Bagaimana kabar Hong Moay?"

"Hong Moay?"

"Ah... anu... Maksudku adik Thian Hong Li."

"Haha... Kau lihat saja nanti..."

Bibir ini tak bisa bicara kala cinta sedang berkata, walau sejuta coba menyapa, ku hanya bisa tertawa. Mungkin rasa itu akan pudar di suatu saat yang terbakar, tapi hati ini akan terus gembira, tak pedulikan suasana terkira. Cinta yang bisa membuat manusia menari di tengah-tengah udara, tertawa di langit dunia tanpa ada batasannya.

Setangguh atau secerdik apapun seorang lelaki, jika ia dihadapkan dengan kata "CINTA", hilanglah sudah kekagahan dan kecerdikannya. Ia akan seperti anak yang baru lahir. Perlu diketahui, cinta merupakan senjata yang paling ampuh di dunia ini, bahkan melebihi sebuah pedang. Cinta juga merupakan senjata yang paling jitu untuk membunuh.

"Kau kejam..."

"Oh, ya, aku tadi kepengin menginap yang dulu, tapi kata pemilik penginapan kau telah pindah."

"Ya, bagaimanapun kalau menginap terus uangku bakal tekor, makanya aku membeli sebuah rumah baru, meski mungil."

Begitulah mereka terus bercakap-cakap hingga mereka tiba di depan sebuah rumah mungil yang sederhana namun asri. Bunga-bunga mekar dengan indahnya menghiasi seorang gadis cantik yang sedang asyik memetik bunga.

Aram terpelongo takjub. "Bidadari bunga..." serunya tanpa sadar.

Gadis itu terkejut seketika. Ia berpaling dan melongo, bibirnya yang ranum terbuka menantang. Aram terlena melihat bibir yang indah itu.

"Jangan melongo kayak kesurupan begitu, ayo masuk!" Thian Liong geli melihat Aram seperti kehilangan sukma.

Aram gelagapan, wajahnya merah menahan malu, kepergok perasaannya. Dengan cepat ia mengikuti Thian Liong yang sudah duluan masuk ke halaman.

"Engkoh Aram..." Seorang gadis memeluk Aram.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment