Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 26

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 26

Aram gelagapan karena dengan tersenyum penuh arti Thian Liong menatapnya seraya masuk ke rumah.

"Hong Moay... kau terlihat sedikit kurus... Aku kangen kamu," bisiknya di telinga Thian Hong Li.

"Aku... aku juga kangen kamu, Engkoh Aram." Cup! Sebuah ciuman lembut mendarat di pipi Thian Hong Li.

Hati Thian Hong Li bagaikan bunga di taman nirwana, mekar indah lembut menyentuh relung-relung jiwa.

Mereka bertatapan dengan mesranya.

"Mau sampai kapan kalian bermesraan seperti itu?" Sebuah suara yang lembut terdengar menyentak keduanya.

Dengan tersipu-sipu keduanya melepas pelukan dan masuk ke ruangan.

Mereka tak sadar bahwa ada sepasang mata yang memandang penuh kebencian di pinggir jalan.

Malam yang dingin begitu dingin membekukan tulang.

Menyaksikan dua insan yang sedang melepaskan rindu, mereka duduk berdua sebab Thian Liong pergi lagi ke warung tempatnya bekerja.

"Dingin ya, Hong Moay?" Aram memecah keheningan.

"Hihi..." Thian Hong Li cekikikan.

"Mengapa engkau malah tertawa, Dinda?" Aram mencoba mengubah bahasanya.

"Dingin-dingin begini enaknya melakukan apa ya?" "Emmcch... minum kopi atau..." "Atau apa?" "Atau begini..." Aram memeluk Thian Hong Li dan menciumnya.

"Akkkhhh... kau nakal, Kanda," jerit Thian Hong Li manja.

Mulut bicara begini, tetapi tubuhnya berkata lain. Thian Hong Li dengan mesra memagut bibir Aram dan membelai rambutnya.

"Aku cinta kamu, Thian Hong Li," bisik Aram ketika mereka mengambil napas.

Namun, Thian Hong Li membalasnya dengan ciuman, "Emmcchhh," gumamnya.

"Aku sayang kamu, Thian Hong Li," Aram kembali berbisik.

Yang dibalas dengan ciuman mesra lagi.

"Emmcchhh." "Bolehkah aku melakukan hal yang dulu kita lakukan, Sayang?" "Lakukan apa yang kau ingin lakukan, Kandaku... aku pun merindukan itu," balas Thian Hong Li.

"Kapan Kakakmu pulang?" "Besok pagi," dengan tatapan penuh pengharapan Thian Hong Li menatap mata Aram.

Wajahnya kemerah-merahan menahan sesuatu.

Matanya sayu, bibirnya merah menggoda, setengah membuka seakan mengharapkan sesuatu.

"Kita pergi ke kamarmu saja, ayuk!"

Segera Aram membopong Thian Hong Li dan membaringkannya di ranjang.

Mereka berciuman dengan bernafsu, saling membelit, menerjang, menyedot, menggigit, dan melepaskannya jika mereka sudah kehabisan napas lalu kembali bertempur.

Tangan Aram tanpa permisi menyusup ke balik pakaian Thian Hong Li dan melepaskan kaitannya.

Lalu meremas gundukan yang berada di sana.

Thian Hong Li memegang tangan Aram dan melepaskannya.

"Kenapa?" Aram kecewa.

Thian Hong Li tak menjawab. Ia turun dari pembaringan.

Dan kejadian selanjutnya membuat Aram tak bisa berkata-kata selain memandang dengan berdebar-debar dan kagum.

"Mengapakah demikian?" Seraut wajah yang cantik bak bidadari berdiri tanpa selembar benang pun melekat di tubuhnya, kulit yang putih mulus tanpa cacat terpampang begitu saja di depan mata Aram Widiawan, si pemuda berusia 17 tahun.

"Sayang..."

"Aku berikan semuanya untukmu, jangan menolak!" Cuppp... emmcchhh. Thian Hong Li kembali mencium Aram.

Mereka kembali bertempur seru. Dengan mesra Aram membelai, meremas gunung milik Thian Hong Li sekehendak hatinya yang begitu berisi.

Kini Aram bebas bergerak karena tak ada lagi penghalang. Tangan kirinya turun ke bawah dan membelai sungai di dalam rimba dengan lembut.

Thian Hong Li mendesah-desah nikmat, tangannya bergerak memegang dada Aram.

Karena kasihan, sambil bercumbu Aram melepas pakaiannya.

Malam begitu dingin, tetapi mereka malah berbugil ria, bergulat saling menjatuhkan. Darah membasahi sprei. Suara erangan semakin santer, suara dua buah senjata yang bertempur juga semakin santer terdengar hingga pada suatu kesempatan mereka mencapai puncaknya. Suara jeritan melengking terdengar, cairan bening bercampur darah dari sungai di dalam rimba mengalir.

Membawa sejuta kenangan.

Begitulah malam itu mereka kembali bertempur berulang-ulang sampai keduanya lemas dan tertidur bertindihan.

"Tuaknya, Kang..." Suara merdu yang penuh kebahagiaan terdengar di pagi yang temaram ini membuai seorang pemuda tampan yang baru selesai bersemedi.

Pemuda itu mengambil tuak dan menyimpannya di samping tubuhnya.

"Mengapa tak diminum, Kang?" Pemuda itu tak menjawab, ia malah bersenandung.

Puisi Merah Jambu

Bila kau tanyakan aku,

Apa artinya cinta,

Sungguh, aku pun tak tahu,

Ku hanya merasakannya.

Tapi bila kau tanyakan,

Cintakah aku padamu?

Dengan tulus kuakui:

Bersyukur memilikimu.

Jalan hidup ini pertemukan aku denganmu,

Waktu jadi saksi, aku di sini untukmu.

Terkadang kau kusakiti,

Kau tahu, itu bukan maksudku.

Terkadang engkau tak peduli,

Aku memikirkanmu.

Kita hadapi, kita bernyanyi,

Kita jalani bersama hidup ini.

"Ah, kau bisa saja, Kakang. Aku ke dapur dulu ya, mau masak..." Gadis yang ternyata adalah Thian Hong Li berkata.

"Baiklah... hati-hati, jangan sampai tersulut api." Pemuda yang ternyata adalah Aram Widiawan berkata mesra.

Di dunia ini tak ada satu pun kehidupan yang selamanya bahagia. Meski pikiran kita ingin berbahagia selamanya, namun bila takdir berkehendak lain, apalah daya kita.

Dengan lesu, seorang pemuda tampan berpakaian pelayan berjalan menuju sebuah rumah mungil di pinggir jalan. Seorang pemuda lain yang tadi asyik minum tuak di pintu datang menyambutnya.

"Ada apa, Kakang... wajahmu begitu kusut?" Aram menyapa.

"Kita bicara di dalam saja, Aram," Pemuda berpakaian pelayan yang tak lain adalah Thian Liong menjawab.

Dengan beriringan, keduanya kembali ke rumah.

Dan kebetulan sekali, sepertinya makanan sudah siap.

"Adik, kebetulan Kakak belum makan..." Dengan wajah tersenyum getir, Thian Liong berkata.

Thian Hong Li menatap kakaknya dengan heran. Tak biasanya kakaknya itu berwajah demikian.

Tanpa banyak bicara, mereka bertiga segera mulai bersantap.

"Aku dipecat tanpa diberikan suatu alasan apa pun, membuat hati ini tak puas dan penasaran," Thian Liong berkata dengan berapi-api.

"Apa?" Thian Hong Li terkejut sementara Aram diam saja.

"Sepertinya ada yang tidak beres," ujar Aram dengan gayanya yang khas ketika ia berpikir.

"Menurutmu bagaimana?" Thian Liong heran. "Sepertinya ada sangkut pautnya dengan aura negatif kemarin."

"Aku masih belum mengerti."

"Ketika aku datang ke mari, dan melepas rindu dengan Hong Moay, aku merasa seakan punggungku ditatap dengan aura kebencian."

"Bagaimana kau bisa merasakannya?"

"Aku memiliki sebuah ilmu yang bernama Aura Kematian. Dengan ilmu itu, tubuhku peka terhadap aura-aura negatif.

Jadi, itu alasan aku bisa mengetahuinya."

"Jadi, menurut Engkoh, siapa?" Thian Hong Li menyela.

"Entahlah... Hemmcchhh... sepertinya ia berpengaruh." "Ah, bagaimana ini? Jikalau memang ia berpengaruh, aku yakin di semua tempat ini tak akan menerimaku.

Sepertinya kita harus meninggalkan desa ini.

Dan menyelidiki mereka di tempat baru... Tapi di mana?"

"Aku tahu tempat itu. Kau ikutlah denganku. Kalian tak keberatan, kan?"

"Ah, jadi merepotkanmu, Aram."

"Bukankah kita ini bersahabat?"

Sahabat sejati, suatu kata yang sederhana namun begitu memiliki arti.

Banyak yang mengartikan persahabatan sejati memiliki makna berbeda di tiap daerah. Tetapi tetap satu inti utamanya: saling adil dalam memberi, tanpa ada kaitan ini lemah tak berdaya, atau kaya maupun miskin.

Aram merenung, dahinya berkerut.

Melihat itu, Thian Hong Li seakan mengerti bahwa kekasihnya sedang berpikir, sehingga ia tak mengganggu.

"Ada apa, sepertinya kau mendapatkan sesuatu yang buruk?" Thian Liong bertanya. "Sepertinya hari ini ada sedikit keonaran.

Sebaiknya, Kakang segera menjual rumah ini. Biarkan aku yang akan menawarkan kepada tetangga, sementara kalian lekaslah berkemas." Wussstttt... setitik bayangan biru melesat ke jendela meninggalkan dua insan berbeda yang merasa sedih, kagum, bercampur-aduk, tetapi tak lama kemudian mereka segera melakukan tugasnya.

"Bruk!" Suatu buntalan jatuh berdebum di hadapan Thian Liong dan Thian Hong Li. Sebagai orang yang melatih silat dan memiliki indra yang peka,

mereka tahu jika tadi ada benda yang jatuh dari udara, maka dari itu siang-siang mereka sudah menghindar dan memasang kuda-kuda.

Ketika mereka mendongak ke langit, tampaklah suatu bayangan biru sedang menari di udara.

Bayangan itu meliuk-liuk menggapai langit. Wunggg... tep! Setelah beberapa saat, bayangan itu mendarat di bumi.

"Engkoh Aram, kau mengagetkan kami!" pekik Thian Hong Li, disusul dengan Thian Liong, "Sudah?"

Aram tertawa dan menjawab.

"Hahaha... beres. Itu uangnya," Aram menunjuk buntalan yang jatuh tadi.

Mata Thian Hong Li terbelalak melihat uang sebanyak itu, padahal saat mereka membeli rumah itu, jumlahnya tidak sebanyak itu.

"Kau... dijual kepada siapa?" Dengan tergagap, Thian Hong Li berkata.

Yang dijawab dengan senyuman indah.

"Hmm... kita kedatangan tamu," Thian Liong berkata sambil memandang ke sebuah jalan. Benarlah, di sana tampak tiga orang berjalan beriringan menuju mereka.

Orang pertama, seorang pemuda berwajah cakap dengan kumis tipis di atas bibirnya, bajunya hijau dengan sebuah kipas di pinggangnya.

Orang kedua adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh tahunan memakai baju biru namun terlihat seperti pemuda berusia dua puluh tahunan. Satunya lagi adalah wanita berusia dua puluh lima tahunan yang memiliki wajah seorang gadis belia.

"Selamat datang, Samwi, di kediaman kami. Tetapi mohon maaf, tempat ini sudah bukan menjadi milik kami, sehingga tidak dapat mempersilakan kalian bertiga." Wajah salah satu orang yang tampaknya adalah pimpinan mereka kaget karena itu di luar dugaan mereka.

"Hemm... tampaknya kalian tidak bodoh," ucapnya sinis.

Aram tak memedulikan mereka. Dengan lagaknya yang khas, ia berkata kepada Thian Hong Li, "Sepertinya ada anjing yang tak kebagian tulang, maka dari itu ia mengamuk membabi buta."

"Hihi... dan sekarang anjing itu menggonggong tak keruan," Thian Hong Li cekikikan.

"Anjing kurap... berani kau menghinaku, hah?!" Pemuda berpakaian hijau itu membentak.

"Kita sama sekali tak menghinamu atau apa, kau sendiri yang mengaku."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment