Chapter 27
"Mungkin benar kata pepatah, anjing selalu berkata anjing!" ujar Aram dengan diiringi senyuman aneh.
Betapa geramnya ketiga orang itu. Jelas mereka bukanlah orang bodoh; tanpa diberitahu pun mereka mengerti bahwa itu adalah senyuman mengejek.
"Diberi jalan surga malah memilih jalan neraka. Kau memilih jalan kematianmu, Bocah!" bentak pemuda itu sengit.
Bukannya marah, Aram malah tertawa terbahak-bahak. Jangankan ketiga lawannya yang heran, Thian Hong Li dan Thian Liong pun terperangah.
"Mengapa kau tertawa, hah?!"
"Aku merasa geli dengan tingkahmu."
"Ger... rasakan ini! Hiaat!"
Pemuda berbaju hijau itu menekuk kaki kanannya. Kedua tangannya ditarik ke belakang, lalu dengan sekali sentakan, meluncurlah sinar berwarna biru. Namun, Aram dengan santainya meliuk tanpa menggeser kakinya. Serangan itu melesat dan menabrak pohon. *Duar!* Seketika daun-daun pohon itu berguguran, lalu menguning saat menyentuh tanah.
Berubah paras Thian Hong Li dan Thian Liong. Ketika mereka memperhatikan pohon itu, ternyata pohon tersebut telah meluruh menjadi debu. Sungguh mengerikan jika mengenai manusia.
"Hm... Pukulan Rajawali Emas Meluruhkan Gunung, masih belum sempurna," Aram mengomentari dengan santai.
Wajah pemuda berpakaian hijau itu memerah malu. Baru kali ini ada yang berani menghinanya.
"Tahukah kau sedang berhadapan dengan siapa, anjing kurap, hah?!" tanya pemuda berpakaian hijau itu dengan menahan kemarahan yang meledak-ledak.
"Persetan dengan dirimu! Perlu kuingatkan, kita itu seperti air sumur dengan air sungai, satu sama lain tidak saling mengganggu. Kenapa kau seenaknya memecat sahabatku?"
"Hahaha! Itulah pelajaran bagi seorang kakak yang berani mengizinkan adiknya yang manis untuk kau peluk."
"Hem... apakah kau mencintai kekasihku?"
"Mencintai sih tidak, tapi aku menyukai wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang aduhai."
"Anjing cabul! Berani kau menghinaku!" Thian Hong merah padam karena marah.
"Haha! Adik yang manis, kau semakin cantik kalau marah. Ikutlah denganku. Aku adalah Virahin, putra Panglima Caturangga dari Keraton Barat. Aku yakin jika kau ikut denganku, kau akan hidup bergelimang harta dan kenikmatan surgawi. Haha!"
"Namamu saja membuatku jijik, apalagi kelakuanmu! Aku tidak sudi ikut denganmu!" bentak Thian Hong.
"Kalau dengan jalan baik-baik tidak bisa, dengan kekerasan pun boleh. Kalian berdua, bantu aku!"
Set! Dua orang itu maju ke depan hingga terjadi pertarungan tiga lawan tiga. Aram berhadapan dengan lelaki berbaju biru, Thian Hong Li melawan Virahin, dan Thian Liong menghadapi wanita cantik berumur dua puluh lima tahunan.
"Daripada bertempur seperti ini, benar-benar menguras tenaga, salah-salah nyawa melayang. Lebih baik kita bertarung di ranjang saja, Adik manis," rayu Virahin kepada Thian Hong Li.
Wajah Thian Hong Li memerah. Dengan gusar, ia segera membuka serangan. Thian Hong Li memasang kuda-kuda, lalu maju beberapa langkah dalam posisi menyamping disertai pukulan punggung tangan. Dengan gerak cepat, kaki kirinya maju ke dalam dalam suatu loncatan, diikuti tarikan mundur pada kaki kiri dan penutupan perlahan dengan menangkupkan kedua tangan di dekat dada. *Wuss... Blar!* Bila diceritakan memang panjang, tetapi dalam kenyataannya itu terjadi hanya dalam hitungan detik.
Dengan kening berkerut, Virahin segera memasang kuda-kuda rendah dengan kedua tangan mengepal setengah tertekuk di depan tubuh. Ia menyambut serangan Thian Hong Li dengan menangkis menggunakan tangan kanan dan membalas dengan kepalan kiri. *Des!* Terjadilah adu tangan yang dialiri tenaga dalam.
Di arena lain, keadaan Thian Liong pun tidak jauh berbeda. Mereka saling merangsek dan saling libas. Jurus demi jurus telah mereka keluarkan. Thian Liong segera menjinjitkan kaki kanannya untuk ditarik mendekat pada kaki lainnya sambil memutarkan tubuh ke arah kiri, diiringi pengangkatan kaki kiri. Tangan kirinya memutar dan tangan kanan dipersiapkan untuk melakukan pukulan dengan kepalan.
Mendapat celah, wanita cantik itu segera menyerang. Sambil tersenyum, Thian Liong mengayunkan langkah kaki kiri ke depan, diikuti geseran kaki kanan. Kepalan tangan kirinya melepaskan pukulan kuat sementara tangan lainnya terayun ke atas. *Beg!* Ulu hati wanita itu terkena telak. Ia segera mundur tiga langkah dan mengatur kembali kuda-kudanya.
"Ternyata kau hebat juga, Bocah Tampan," ujar wanita itu.
Ternyata ia terlalu meremehkan Thian Liong, kesalahan yang harus dibayar mahal dengan rasa sakit di ulu hati yang bukan main.
Thian Liong tersenyum. "Siapakah namamu, Nona?"
"Untuk apa aku harus memberitahumu?" jawab wanita itu genit.
Thian Liong tergugu. "Ah... anu... emh..."
"Hihihi... kau lucu sekali, Tampan. Baiklah, namaku Cintamani. Orang persilatan memanggilku Iblis Pemuas Berahi."
Thian Liong melongo. Namun, gara-gara kelengahannya itu, ia harus membayar dengan pundaknya. Memanfaatkan kelengahan tersebut, Cintamani menerjang menggunakan jurus Langit Mendua Bumi Bersedih. *Deg!* Seharusnya serangan itu mengenai dada Thian Liong, tetapi bukan Thian Liong namanya jika harus menyerah begitu saja. Ia berkelit meski pundaknya tidak bisa diselamatkan.
Sementara itu, di pihak lain, Aram melawan lelaki berbaju biru. Pertarungan diawali dengan adu kekerasan. Keduanya sama-sama tidak meraih keuntungan, tetapi nampaknya Aram menang setingkat dibanding lawannya. Hal itu terbukti dari wajahnya yang tetap tenang.
"Laknat, sebutkan namamu! Aku tidak ingin membunuh orang yang tidak memiliki nama," ucap lelaki berbaju biru itu garang.
"Aram Widiawan," jawab Aram singkat.
Lelaki berbaju biru itu terdiam merenung. "Apa hubunganmu dengan si pengecut Gunawan Widiawan dan perempuan binal Widia Seta?"
"Mengapa kau memanggil beliau dengan sebutan tidak pantas seperti itu? Mulutmu itu sedikit pun tidak layak menanyakan hal itu!" jawab Aram dengan sewot.
"Cih! Apa hebatnya mereka? Hanya dengan beberapa jurus, kami bertiga dapat membunuh keduanya dengan mudah. Aku, Gandapura, murid si Iblis Langit, tidak pernah sudi memandang tinggi mereka," ejek Gandapura dengan angkuh.
Wajah Aram menegang dan memerah padam. Matanya yang merah berkilat tajam, sementara tubuhnya menggigil menahan amarah. Melihat lawannya gemetar, Gandapura semakin sombong.
"Haha! Aku, Gandapura si Tangan Telengas, tidak akan membunuhmu asal kau merangkak pergi dari sini! Haha!"
"Keparat, mati kau!" teriak Aram melengking. Suaranya menggelegar bagaikan suara guntur di siang bolong.
Keempat orang yang sedang sengit bertarung terkejut mendengar suara yang begitu kencang. Bahkan pemuda berbaju hijau memegangi telinganya karena tidak kuat menahan tenaga dalam yang tersalur di dalamnya. Thian Liong dan Thian Hong Li segera mundur ke belakang, begitu pula dengan Virahin dan Cintamani. Kini mereka menonton kedua "naga" yang sedang bertarung.
Di arena pertarungan, Aram memutar kedua tangan di atas kepalanya. Keajaiban pun terjadi. Awan tiba-tiba mendung dan angin bertiup dingin merasuk tulang. Jika hanya itu, tentu belum bisa disebut ajaib. Namun, petir menyalak meraung-raung memekakkan telinga dengan cahaya yang menyambar-nyambar. Itulah jurus Raungan Petir Murka Langit, salah satu jurus pamungkas dari ilmu Halilintar Perobek Bumi.
Gandapura mengerti lawannya sedang mengerahkan ilmu simpanan. Ia pun mengerahkan segenap kemampuannya.
"Hiaaaaa!"
Teriakan melengking dari keduanya menggelegar. Dua sosok bayangan melesat dan bersatu di tengah jarak. *Bret... Wer... Jlegar... Duar!* Beriringan dengan menyambarnya petir, dua buah tenaga sakti bertemu di udara. Sosok manusia terhempas tenaga sakti, sementara pohon-pohon tercabut dari akarnya. Bagaikan topan prahara melanda tempat itu. Semua yang berada dalam jarak dua puluh tombak berantakan dan debu mengepul tinggi.
Penduduk di sekitar tempat itu sudah mengunci rumah mereka sejak siang hari karena ketakutan. Sementara itu, kaum rimba hijau berdatangan ke tempat tersebut untuk mengintip dari kejauhan.
Di balik kepulan debu, dua sosok bayangan biru saling menerjang dan melibas. Tampaknya keduanya tidak ada yang mau mengalah. Entah berapa jurus mereka saling beradu tenaga. Dari saling bentrok tenaga, kini mereka mengubah siasat bertarung dengan kecepatan. Yang tampak kini hanya dua bayangan biru yang saling bertemu dan terpisah; sulit dibedakan mana Aram dan mana Gandapura.
Setelah melewati ratusan jurus, tiba-tiba keduanya meloncat mundur. Belum jelas siapa yang akan memenangkan pertarungan hidup mati ini. Baju di bagian dada Gandapura robek dan mulutnya berdarah; nampaknya ia sudah menderita luka dalam yang cukup parah. Di lain pihak, Aram pun tidak jauh berbeda. Meski mulutnya tidak mengeluarkan darah, hidungnya mengucurkan cairan merah, pertanda ia terluka tidak ringan.
Dengan kembali memasang kuda-kuda, Aram segera menaikkan kaki kanan sambil melakukan gerak putaran. Tangan kanannya bergerak dari arah luar ke atas, sementara tangan kirinya ditarik ke depan dada sambil menghimpun tenaga dalam.
Di sisi lain, Gandapura tidak kalah sigap meski harus menahan sakit di dadanya yang sesak. Ia segera memasang kuda-kuda dan mengerahkan tenaga dalam Selaksa Racun Langit hingga sepuluh bagian. Ia menurunkan kaki kiri ke arah samping, tangan kanan digerakkan menyilang di dada, sementara tangan kirinya diturunkan sejajar dengan ikat pinggang.
Dari gerakan yang cepat, kini mereka berubah menjadi tenang. Saking tenangnya, gerakan demi gerakan itu bahkan sanggup dilihat oleh anak kecil sekalipun. Namun jangan salah, semakin tenang gerakannya, tenaga dalam yang dikeluarkan justru semakin dahsyat. Kerikil-kerikil beterbangan di udara seakan kehilangan gravitasi bumi. Dari penjuru barat, Aram mendorongkan tangan kanannya dengan gerakan selambat siput berjalan. Begitu tenang, bahkan angin pun seakan tidak sudi menyingkir dari dorongan itu.