Chapter 28
Tangan kanan menangkis serangan tangan kiri Gandapura yang menyilang ke bawah.
Saat kedua tangan beradu, langit mendung bergemuruh disusul kilat. Hujan rintik-rintik turun. "Blaaaarrrrrr" Jlegar....jlegarrr....
Kilat menyambar, memeriahkan suasana. Dari kubangan arena, angin prahara muncul.
Sesosok bayangan biru melesat ke arah selatan.
Semakin bertarung, Gandapura semakin heran dan geram. Ia menekuk pinggang, memasang kuda-kuda, lalu melontarkan pukulan Racun Langit. Kali ini, ia mengerahkan seluruh kekuatannya, sementara Aram hanya menggunakan sepuluh bagian tenaganya. Aram berada dalam posisi yang dirugikan.
Mungkin karena kalap dan dibutakan dendam, ia harus membayar mahal, meskipun sehelai jiwanya tak melayang.
Aram menenangkan hati. Sambil menggeram, ia menggerakkan kedua tangan sembari menarik napas. "Lihat serangan—" Di tengah bentakan, tubuhnya terapung ke atas. Di udara, ia mengibaskan lengan bajunya ke belakang, meluncur laksana anak panah dari busurnya. Tubuhnya melengkung, kedua tangan bergerak.
Suara "plak-plok" dan ledakan tenaga sakti serta ajian bergema di angkasa. Hantaman angin pukulan dahsyat bagai gunung menindih menerpa Gandapura. Gandapura telah lama berkelana di Rimba Hijau, pengalamannya luas. Ia telah ratusan kali bertempur menghadapi lawan tangguh, namun belum pernah ia menghadapi lawan muda setangguh ini. Serangan lawan menuntut seluruh kemampuannya dan telah memeras seluruh tenaganya. Kini, lawan menyerang sedahsyat gunung. Bila ia mengangkat kepala, bayangan telapak tangan yang begitu banyak mengaburkan pandangannya.
Itulah yang dinamakan jurus telapak kilat membelah gunung.
Pengalaman berkata bahwa lawan-lawannya, meski masih muda, memang lihay. Ia tidak berani melawan secara kekerasan lagi. Ia mundur dua langkah sambil memutar badan.
Sebelah tangan menepuk balik, sementara tangan yang lain didorong miring ke atas, membalas menggempur ke arah Aram.
Namun, dengan mengandalkan kegesitannya, Aram dengan mudah menghindar dan balas menyerang. Gandapura kembali diserbu bayangan telapak tangan. "Blang" Telak, batok kepalanya kena tamparan keras. Seketika, kepalanya pusing, mata berkunang-kunang.
Memanfaatkan kesempatan itu, Aram segera menyusul serangan dengan jurus luar biasa dahsyat. Jurus itu adalah jurus yang pertama kali ia gunakan saat bertarung dengan Gandapura, yakni Raungan Petir Murka Langit.
Pendekar Golongan Putih yang bersembunyi mencaci. Mereka menganggap menyerang orang yang tak berdaya bukanlah perbuatan ksatria. Mengintip orang yang bertarung pun bukanlah sikap ksatria. Seandainya yang bertarung dengan Gandapura adalah pendekar golongan putih, mungkin ia ada harapan hidup. Tapi sayang, Aram Widiawan bukanlah dari golongan putih. Saat tersadar dari pusingnya, Gandapura terkejut ketika sebuah pukulan berada sejari di dadanya. Jerit pun tak sempat, apalagi menghindar.
"DUAAARRRRRR........." "JELEGAARRRRRR.........." WUUUSSSSTTT...BLAAARRRR...............!!!
Bumi dan langit kembali disibukkan dengan ledakan ajian dan tenaga sakti yang bergabung.
Debu bagaikan selimut bumi.
Pohon-pohon bagaikan anai-anai yang bertebaran.
Burung enggan berkicau.
Langit masih kelabu.
Berpacu dengan jeritan petir.
Ketika semua kembali normal, debu telah jatuh ke bumi, petir berhenti meraung, dan kegelapan mulai menghilang. Di atas kubangan selebar lima tombak berdiri seorang pemuda tampan berbaju biru dengan rambut dikuncir kuda, mematung memandang angkasa.
Di depannya, seonggok tulang tengkorak berserakan.
Dua tiga cairan bening jatuh ke pipinya. "Ayah, Ibu, ananda telah menghabisi satu pembunuh kalian," gumamnya tersendat. "Kakaaaaaang!" Seorang wanita berteriak melengking.
Dengan terseok-seok, wanita itu melangkah mendekat ke kubangan dan segera meratapi kakak seperguruannya yang telah menjadi seonggok tulang akibat hempasan jurus Raungan Petir Murka Langit.
"Kau harus membayarnya dengan nyawamu!" Hiaaaaatttt! Dengan kalap, wanita itu menerjang, meski tubuhnya masih sempoyongan karena terluka parah akibat hempasan angin dari dua tenaga sakti.
Dengan tenang, Aram menyambut terjangan Cintamani. Ia hanya menepiskan ujung lengan bajunya. "Wusss" Seberkas sinar keperakan melesat ke arah dada Cintamani.
Cintamani terkejut. Ia ingin menghindar, tapi apa dayanya. Serangan itu datang begitu cepat. Tak sempat ia memejamkan mata, serangan itu sudah menimpa dadanya. "Dukkk...Aaaaakkkhhh" Jerit melengking terdengar dari Cintamani. Ia terpental menumbuk dinding tanah yang telah berkubang.
"Saat ini, aku tak akan membunuhmu, tapi aku akan menyampaikan tantangan kepada gurumu. Ingatlah, jurus yang aku gunakan bernama Ajian Birahi Kematian." Wajah Cintamani pucat. Sebagai golongan hitam, ia tahu apa itu Ajian Birahi Kematian. Ilmu itu adalah ilmu dari golongan hitam yang beberapa tahun terakhir menghilang dari peredaran dunia persilatan. Barang siapa terkena ilmu itu, birahinya akan memuncak sepuluh kali lipat. Jika ia melampiaskan birahinya, ia akan mati dengan keluar darah dari tiga belas lubang (mata, hidung, telinga, puting susu, mulut, pusar, kemaluan, anus, dan pori-pori).
Cintamani heran bagaimana orang dari golongan putih menguasai ilmu itu. Tak tahan ia bertanya. "Bukankah engkau dari Golongan Putih? Bagaimana engkau menguasai ilmu itu?" "Salah. Aku bukanlah dari golongan putih." "Hah...! Jadi engkau dari Golongan Hitam?" "Juga bukan..!" "Ap....Apa kau ketua dari salah satu perguruan golongan merdeka?" "Bukan. Mereka hanya temanku. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan menguliti tubuhmu." "Tap...Tapi..." "Aku paham. Saat pertemuan di Lembah Kematian, aku akan menyembuhkanmu." Gembira Cintamani mendengar itu. Dengan menahan sakit, ia berdiri dan dengan terbirit-birit Cintamani melarikan diri ke arah selatan.
Aram menghela napas panjang. "Jika kau masih hidup," ujarnya pelan setelah Cintamani tak lagi terlihat. Lalu, dengan sekali lompatan, ia sudah berada di samping Thian Liong dan Thian Hong Li. "Mari kita pergi. Nampaknya di sini sudah kedatangan tamu-tamu." Dengan ilmu peringan tubuh, mereka menyambar buntalan yang telah disiapkan dan menghilang di antara rumah-rumah penduduk.
Di depan sebuah penginapan, dua pemuda dan satu pemudi melangkah masuk dengan santai.
"Ada yang bisa saya bantu, tuan-tuan?" sapa seorang pelayan.
"Adakah kamar yang mirip sebuah pondok mungil?"
"Ada... Ada. Apakah yang ada tamannya atau tidak?"
"Saya memesan keduanya, paman."
"Mari,, mari saya antarkan." Ketiganya memasuki penginapan itu, lalu melangkah ke taman, melewati rumpun bunga, bambu, gundukan batu, dan beberapa kolam. Tanpa sadar, Thian Liong dan Thian Hong Li mengikuti langkah Aram hingga mereka sampai di sebuah pondok mungil.
Dengan tenang, Aram masuk ke dalam dan mengajak kedua temannya. Mereka bercakap-cakap asyik hingga mendengar langkah kaki.
"Satu.... Dua.. Tiga... Empat..." Thian Hong Li menghitung.
"Dua gadis muda, dan dua pemuda," ralat Aram.
^^^^^(one)^^^^^
"Cucuku..., Melati." Sebuah suara serak terdengar bergetar. Seolah merasa berat dengan apa yang diutarakannya itu. "Hari ini genap sudah empat tahun kau tinggal bersama kami. Dan semua kepandaian kami telah diturunkan kepadamu, hingga tidak ada lagi yang dapat kami turunkan padamu! Rasanya sudah waktunya eng-kau turun ke dunia ramai untuk membasmi kejahatan yang akhir-akhir ini merajalela! Dan mencari musuh-musuh orang tuamu." 'Tapi, Kakek.... Ini..., ini...' Gadis yang dipanggil Melati tak mampu meneruskan ucapannya. Ia terharu sekali dengan kebaikan dan kasih sayang yang dilimpahkan kakek dan nenek angkatnya, sekaligus gurunya, selama ini.
"Sudahlah, Cucuku! Esok sebelum matahari terbit, kau sudah harus berangkat!" ujar Ki Dewa Pedang tegas.
Melati membisu. Rasanya memang berat meninggalkan orang tua itu sendirian di sini. Tapi mengingat kejahatan telah merajalela, bahkan mungkin ada anak yang senasib dengannya akibat pembantaian dengan intrik yang sama seperti yang terjadi padanya, maka gadis itu harus melaksanakan tugas yang diberikan gurunya.
"Nah! Sekarang, Kakek dan Nenek akan bertapa dan tidak ingin diganggu lagi!" ujar Nyi Sateja sambil melangkah meninggalkan Melati yang duduk termangu.
Beberapa saat kemudian, Melati tersadar dan segera berlari. Dikejar guru-gurunya, ia langsung bersimpuh di hadapan kakek dan nenek itu.
"Kek..., Nek..." ucapnya serak sambil memeluk kedua kaki Nyi Sateja. Setelah mengusap-usap kepala Melati, Nyi Sateja dan Ki Dewa Pedang bergegas meninggalkan tempat mondok yang biasa mereka gunakan saat menggodok Melati. Mereka tidak ingin menunjukkan kesedihan yang malah akan memberatkan langkah muridnya nanti.
Mentari pagi bersinar malu-malu di balik himpitan dua bukit. Burung-burung berlomba mencari makanan. Siulan merdu dari mulut mereka bersahut-sahutan mengiringi seorang gadis berpakaian kelabu dan caping lebar di kepalanya. Ia berjalan dengan tenang menyusuri jalan setapak yang entah menuju ke arah mana. Tapi gadis itu tetap melangkahkan kakinya sambil menenteng pedangnya. Dari gerak-gerik si gadis, orang yang berpengalaman dapat menduga kalau gadis itu bukan seorang wanita sembarangan.
Gadis itu berjalan tidak sendirian. Di depan dan di belakangnya mengekor puluhan orang yang mungkin juga berasal dari Rimba Hijau, menilik dari penampilan mereka.
"Eyang, boleh saya bertanya?" sapa si gadis pada seorang kakek-kakek yang juga berjalan dengan santai.