Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 29

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 29

Lelaki paruh baya itu mengenakan pakaian serba putih dengan hiasan bulu burung jalak diikat kepalanya. Tak salah lagi, dialah salah seorang datuk silat dari golongan putih, yakni Kyai Jalak atau biasa dipanggil Pendekar Burung Jalak. Kakek-kakek itu menoleh dan memperhatikan gadis yang bertanya dengan saksama.

"Silakan."

"Rombongan apa ini? Apakah ada sesuatu yang luar biasa sehingga paman dan orang-orang ini mengadakan perjalanan bersama?" Kakek itu tersenyum sesaat, tapi wajahnya kembali agak mendung.

"Kalau melihat dari gerak-gerikmu, aku yakin kau ini termasuk orang persilatan."

"Memang benar!"

"Jadi, mengapa kau tidak tahu apa artinya rombongan besar-besaran ini, apalagi dirimu ikut dalam iring-iringan bersama kami!"

"Saya memang tidak tahu, Eyang... saya hanya mengikuti langkah kaki ini saja, apalagi saya sama sekali tidak mengenal daerah ini. Saya pikir bahwa inilah satu-satunya jalan menuju desa terdekat," sahut gadis itu jujur.

"Sebenarnya apa yang terjadi, Eyang?" tambahnya.

Kakek itu menghela napas panjang. Diperhatikannya wajah gadis bercaping tadi. Gadis itu mengerti, segera ia lepas capingnya dan muncullah seraut wajah yang cantik khas Desa Parahyangan.

Setelah melihat bahwa gadis itu berkata jujur, kakek itu berkata, "Hm... baiklah, tak ada salahnya kuceritakan padamu. Menurutmu, perkumpulan manakah saat ini yang paling berpengaruh?" Si kakek balik bertanya.

"Apakah Panji Telapak Perak?" dengan hati-hati gadis itu berkata.

"Benar... Engkau benar sekali, Anak manis..."

"Apakah kalian mencari kematian?" Terbelalak mata gadis itu.

"Tak ada pilihan bagi kami, anak manis. Jika kami menolak hadir, nyawa keluarga kami bakal melayang."

"Intinya, semua orang takut...?"

"Jika hanya aku, nyawa yang hanya selembar ini melayang toh tidak jadi masalah. Ketahuilah, sebenarnya rombongan kami ini bukan dari satu perguruan atau perkumpulan yang sama. Hanya saja, karena kami datang dengan tujuan yang sama, maka dalam perjalanan kami bergabung."

"Bergabung untuk apa?"

"Berjuang menyelamatkan keluarga yang ditawan," jawab kakek itu.

Gadis itu mengangguk-angguk mengerti.

"Manusia memang berbeda-beda sifat. Ada yang memandang kematian seolah pergi ke rumah, ada juga yang menganggap kematian seolah pergi ke neraka."

"Maksud Eyang, apakah ada di antara iring-iringan yang hendak bergabung dengan mereka?"

"Kau memang pintar, anak manis. Bolehkah aku bertanya, ke manakah sebenarnya tujuanmu, anak manis?"

"Saya tak memiliki tujuan tertentu, Eyang, seperti yang tadi saya katakan. Saya pergi ke mana pun mengikuti langkah kaki ini. Mengenai rencana, mungkin ada."

"Kalau begitu, apakah rencanamu?"

"Saya ingin bertemu dengan sahabat saya, Eyang."

"Kalau begitu, ikutlah denganku. Barangkali di sana engkau menemukannya. Bagaimanapun juga, semua orang persilatan telah diundang ke sana."

"Baiklah... Siapakah namamu, Eyang?"

"Aku biasa dipanggil Kyai Jalak oleh teman-teman persilatan, haha... Aku lupa menanyakan siapakah namamu, anak manis?"

"Melati."

Lembah Kematian, sebuah lembah mati yang dikelilingi tebing-tebing tinggi nan terjal. Sekelilingnya hanya rumput setinggi mata kaki. Tempat yang jarang terinjak manusia itu kini bagaikan sebuah lapangan tempat berkumpulnya manusia. Sekitar satu setengah juta manusia bertebaran di sekeliling sebuah panggung besar di samping sebuah gua. Sekeliling itu dijaga oleh beberapa ratus jiwa yang sepertinya prajurit dari Panji Telapak Perak. Dengan angker, mereka berdiri menenteng berbagai macam senjata. Wajah mereka tertutup topeng berwarna perak dengan pakaian yang sama, yakni hitam.

"Kita sampai," suara seorang kakek-kakek kepada orang yang berada di sampingnya.

"Hemm... tampaknya bakal ada pembantaian besar-besaran, Eyang," jawab seorang gadis. Wajah gadis itu tak tampak sebab ditutupi caping lebar. Namun, dilihat dari lekukan tubuhnya yang menggoda setiap insan lelaki, sepertinya gadis itu berwajah jelita.

"Haha... kau memang seorang gadis pintar, diberi tahu satu, kau tahu tiga."

"Ah, Eyang..." Gadis itu tersipu.

"Mari, kita ke sana." Dengan beriringan keduanya melangkah ke tengah lapangan dan menuju ke barak di sebelah selatan. Kedatangan mereka ternyata menjadi pusat perhatian. "Selamat datang, Kyai Jalak," sapa seorang pendekar bercambang lebat.

"Bagaimana kabarmu, Cambang Beringin?" jawab seorang kakek yang ternyata adalah Pendekar Burung Jalak.

"Siapakah pendekar wanita yang bersamamu, Kyai?" Seorang pemuda tampan dengan jubah kelabu bertanya. Di dunia persilatan ia terkenal sebagai Pendekar Pedang Surya, sedangkan nama aslinya adalah Waranggana.

"Namanya Melati, julukannya aku tak tahu," Kyai Jalak menjawab.

Tak lama berselang, Kyai Jalak terlibat obrolan ringan dengan berbagai pendekar. Karena memang selain terkenal akan ilmu silatnya, Ki Jalak juga terkenal akan keramahannya. Sebenarnya, Ki Jalak bukanlah orang asli tanah Jawadwipa, melainkan dari sebuah pulau lain yang bernama Pulau Dewata. Tak lama setelah rombongan Ki Jalak datang, muncullah beberapa rombongan lain yang tampaknya akan menghadiri acara itu.

Di lain tempat, di sebuah istana di dalam gua di Lembah Kematian tampaklah suatu pemandangan yang begitu mendebarkan dada, juga membakar birahi, dan membuat orang merinding karena ngeri. Mengapa demikian? Di sebuah ranjang yang mewah duduk bersandar seorang lelaki paruh baya yang bertelanjang bulat. Ia bersandar di dada seorang gadis berusia kira-kira sembilan belas tahun yang juga tanpa selembar benang pun. Di samping kanan dan kirinya duduk beberapa gadis yang telanjang bulat, usia mereka sebaya. Mereka sibuk melayani lelaki paruh baya itu sambil tertawa jalang. Ada yang memainkan puting dada. Ada juga yang asyik menggosok-gosok bukit kembarnya di paha atau betis. Ada yang menari sambil duduk di atas pangkal paha. Ada yang sibuk menyuapi makan, juga ada perempuan yang sibuk menggosok-gosok dadanya di telapak kaki lelaki paruh baya itu.

Lelaki setengah baya itu berwajah cakap tanpa guratan-guratan tua, hanya jenggotnya saja yang beberapa sudah memutih. Rambutnya berwarna putih keperakan diikat dengan kain putih yang menjuntai sampai punggungnya. Di perutnya terdapat garis yang melingkar kemudian ke dada kanan dan kirinya lalu ke arah tangannya yang memutih keperakan. Di sudut lain terdengar jeritan-jeritan ngeri, jeritan kesakitan, ada juga jeritan ketakutan. Mengapa demikian? Ternyata di sana sedang ada penyiksaan terhadap beberapa manusia, dari yang paling ringan hingga yang paling berat, bahkan kematian. Yang paling ringan ternyata adalah dirajam dengan cambuk besi yang membara. Beberapa manusia sedang digantung di udara dalam keadaan polos. Beberapa manusia merintih-rintih bahkan menjerit ketika beberapa anggota tubuhnya dicacah ataupun dicincang hidup-hidup.

Kaisar Iblis memang orang yang kejam. Menikmati jeritan-jeritan kematian adalah salah satu kesukaannya. Lalu, bagaimana dengan gadis-gadis itu? Pada awalnya mereka pun sama halnya ketakutan, bahkan mungkin akan terkencing-kencing di celana melihat kejadian itu, apalagi bila ia melihat kaum sejenisnya yang disiksa dengan memasukkan pedang/gada ke kemaluannya. Seperti kata pepatah, "Bisa karena Biasa", begitulah yang terjadi pada mereka. Karena terlalu sering disuguhi kejadian seperti itu, lambat laun hatinya terbina. Maka dari itu, akhirnya mereka menganggap kekejian yang tak berperikemanusiaan itu adalah suatu pertunjukan yang monoton. Entah salah apakah mereka, hingga mereka mengalami hal yang mengerikan seperti itu.

Sedang asyik-asyiknya bersenang-senang dengan para dayangnya, lelaki setengah baya itu dikejutkan dengan kemunculan seorang kepercayaannya.

"Hamba menjumpai Yang Mulia Kaisar Iblis." Seorang pemuda yang memakai pakaian serba putih keperakan mensoja.

"Ada apakah, Adiraja, sehingga engkau sendiri yang harus menghadap?" Lelaki paruh baya yang dipanggil Kaisar Iblis menjawab.

"Datuk delapan penjuru telah hadir." Kaisar Iblis mengerutkan kening. "Bukankah itu salah satu siasat kita?"

"Memang... Tapi," Adiraja ragu-ragu.

"Teruskan!"

"Saat ini si Sinting dari Timur, Ki Asmaradanu, tak tampak batang hidungnya. Bahkan Pasukan Telik Sandi tak dapat menemukan dia. Ketika si Sinting dari Timur bertemu dengan seorang pemuda berjubah coklat dengan perhiasan kulit rubah, mereka kehilangan jejak di sebuah bangunan kuno. Tampaknya telah muncul seorang tokoh baru, selain yang aku ketahui."

"Hemm..., pemuda berbaju coklat..." desis Kaisar Iblis.

"Braaakkk!" Sebuah meja hancur berkeping-keping dilanda kemarahannya. Perempuan-perempuan yang tadi bersenang-senang kini ketakutan. Dengan sigap mereka membereskan patahan meja dan pergi keluar ruangan.

"Bagaimana dengan Ketua Perguruan Golongan Merdeka yang telah berani terang-terangan memusuhi kita? Hemm... tadi kau bilang, beberapa pendekar muda dengan jubah coklat, siapakah mereka?"

"Entahlah. Yang pertama bernama Angkara, ciri-cirinya ia memakai peralatan dari kulit kijang. Ia selalu bersama temannya dari negeri asing. Yang kedua seorang yang bernama Huru-Hara, ciri-cirinya ia memakai peralatan dari kulit serigala dengan temannya yang bernama Kerbau Manggala, juga berpenampilan sama, hanya peralatannya terbuat dari kulit kerbau. Yang ketiga, dua orang perempuan memakai ciri-ciri dari kulit domba. Lalu yang keempat bernama Amuk Samudra. Ciri-cirinya ia memakai peralatan dari kulit buaya. Selama ini dia mengacaukan lautan, bajak laut diporak-porandakan. Mungkin hanya ia yang bekerja di lautan. Yang kelima, ia bernama Murka Semesta, ia memakai peralatan dari kulit ular. Bahkan kabarnya, Si Pengabar Langit juga berpakaian sama, namun ia memakai peralatan dari kulit harimau. Lalu sekarang muncul lagi orang yang memakai peralatan dari kulit Rase."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment