Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 30

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 30

"Mengenai Sepuluh Perguruan itu, hamba telah membuat suatu kejutan bagi mereka..."

"Hmm, ceritakan rencanamu..."

"Hamba menjadikan pihak mereka sebagai kambing hitam dengan pihak kerajaan. Hamba yakin..."

Begitulah mereka berbincang-bincang mengenai siasat yang dijalankan oleh orang kepercayaan Kaisar Iblis.

Suara teriakan, bisikan, dan lainnya terdengar memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya. Jika Anda melihat dan mendengar satu juta jiwa berteriak, apakah yang akan terjadi?

Kejadian hari ini adalah peristiwa paling menggemparkan dalam dunia persilatan. Bukan hanya dari tanah Jawadwipa saja yang menghadiri kejadian ini, bahkan dari negeri lainnya seperti Swarnadwipa, Malaya (Malaysia dan Singapura), Gujarat, Mesir, Tionggoan, Jepang, dan beberapa negeri lainnya.

Mereka berkumpul dan bergumul menjadi satu berdasarkan golongannya. Di barak selatan adalah tempat Golongan Putih, sementara di barak utara adalah tempat para Golongan Hitam. Di tengah-tengah itu, berkelompoklah kaum dari Golongan Merdeka.

Di antara semua golongan, barak kaum Golongan Merdeka adalah yang paling sedikit, lalu Golongan Hitam, dan yang paling besar adalah kaum dari Golongan Putih. Memang pada masa itu adalah masa kejayaan Golongan Putih. Jika seandainya tidak ada kehebohan yang ditimbulkan Panji Telapak Perak, barangkali tidak ada satu pun anggota Golongan Hitam yang berani memunculkan wajahnya.

"Selamat siang saudara-saudaraku. Terima kasih telah menghadiri acara peresmian perkumpulan kami. Kami ucapkan selamat datang di Lembah Kematian, tempat berdirinya perguruan paling besar di jagat raya!"

Gemuruh para hadirin menyambut ucapan yang begitu jumawa dan takabur itu. Tiba-tiba...

"Ting... Tang... Teng... Tong..." "Jrek... Jeng... Dung... Dung..."

Suara tabuhan musik melantun tinggi dan merdu dari dalam bilik gua. Sontak saja semua orang terdiam. Suasana yang tadi bising kini berubah menjadi sepi seperti kuburan. Hanya suara musik yang semakin santer terdengar. Iring-iringan itu begitu indah, diawali dengan kedatangan sekelompok gadis polos tanpa selembar benang pun yang menari.

Orang dari Golongan Hitam dan Merdeka terbelalak kegirangan. Bagaimanapun, mereka adalah orang-orang yang sama sekali tidak mengindahkan peraturan. Sementara itu, orang Golongan Putih segera memalingkan wajah karena malu. Hanya beberapa orang dari golongan muda saja yang asyik memperhatikan. Setelah gadis-gadis itu, muncul kemudian rombongan lelaki berbaju hitam dengan sarung tangan perak.

Rombongan itu diikuti dengan sebuah tandu yang terbuat dari emas. Di belakang tandu itu, para dayang dan prajurit pilih tanding dari perkumpulan Panji Telapak Perak berjalan mengiringi. Iring-iringan terhenti. Seorang gadis cantik keluar dari tandu, ia kemudian memasukkan tangannya ke dalam tandu dan menuntun seorang lelaki paruh baya.

Semua orang yang hadir menahan napas, ingin menyaksikan sosok yang telah menggemparkan seluruh dunia persilatan, bahkan hingga negara-negara lain pun ikut terkena dampaknya. Kekejaman dan kesadisan mereka sangatlah luar biasa; mereka menghasut beberapa anggota perguruan untuk menghancurkan perguruan mereka sendiri. Mereka yang datang dari negeri lain adalah mereka yang membawa murid murtad dari perguruan masing-masing untuk menyatakan bergabung.

Lelaki setengah baya itu berwajah tampan tanpa guratan tua, hanya janggutnya saja yang sudah memutih di beberapa bagian. Rambutnya berwarna putih keperakan, diikat dengan kain putih yang menjuntai sampai ke punggung. Pakaiannya serba perak dengan jubah yang juga berwarna perak.

Ia berjalan gagah menuju singgasananya. Setelah ia duduk, musik berhenti dan semua pengawalnya segera membuat barisan pelindung. Setelah dihitung, anggota murid perkumpulan Panji Perak ternyata telah mencapai sekitar lima atau tujuh ribuan orang. Entah dari mana saja pasukannya itu berasal.

Semua hadirin terkesiap, tidak menyangka jika anggota perkumpulan Panji Telapak Perak begitu besar jumlahnya, hingga melampaui jumlah anggota tiga atau empat perguruan besar di tanah Jawadwipa. Adalah pantas jika perkumpulan Panji Telapak Perak mengaku sebagai partai paling besar di dunia jika dilihat dari kuantitasnya. Entahlah apabila dilihat dari kualitasnya, hadirin sekalian belum sempat melihatnya.

Tiba-tiba hadirin bergemuruh; seruan kaget, tercengang, ataupun desahan terdengar bersahut-sahutan. Melihat itu, anggota Panji Telapak Perak segera berpaling ke arah pusat perhatian. Mereka pun mendesah terkejut. Dari arah timur, melayanglah di udara beberapa sosok bayangan berwarna-warni membentuk formasi sisik ikan.

Semuanya mendarat ringan di bumi. Tampaknya mereka adalah tamu terakhir dalam pertemuan itu. Yang menjadi kepala barisan ternyata adalah seorang pemuda belia dengan jubah cokelat yang sudah menggemparkan dunia persilatan. Hanya saja, banyak di antara hadirin yang belum pernah melihat orang yang memakai perlengkapan dari kulit rubah.

Hanya orang tertentu saja yang mengetahuinya, termasuk Melati. Dengan ketajaman matanya, ia bisa melihat kawan lamanya yang telah mengisi hatinya. Ia bahagia sekaligus kecewa; mengapa sosok yang ia rindu-rindukan itu harus berjalan menuju barak kaum Golongan Merdeka?

Ki Jalak, sebagai orang yang sudah berpengalaman mengecap asam garam kehidupan, mengerti apa yang dirasakan Melati. "Itukah kawanmu itu?" tanyanya lirih. Namun, tidak cukup lirih karena ada orang lain yang mendengar. Diam-diam, orang itu merasa cemburu.

Siapakah itu? Tentu Anda sekalian masih ingat dengan sosok pemuda tampan dengan jubah kelabu. Perkenalan singkatnya dengan Melati telah menumbuhkan rasa nyaman dan bahagia; dialah pemuda bernama Waranggana. Waranggana bukan orang bodoh; ia paham bahwa dirinya telah mencintai gadis cantik itu.

"Benar, Eyang..."

"Engkau masih harus bersyukur, Anakku. Setidaknya ia masih dapat membedakan yang salah dan benar. Mungkin suatu saat ia akan masuk ke dalam Golongan Putih. Bagaimanapun, harus disyukuri ia tidak masuk ke dalam Golongan Hitam," ujar Ki Jalak bijak.

Di lain pihak, yang membuat orang-orang bertanya adalah bagaimana mungkin "Si Sinting dari Timur", Ki Asmaradanu, ikut dalam barisan itu. Padahal mereka tahu Ki Asmaradanu bukanlah tipe orang yang suka bergaul dengan orang lain. Adapun orang yang bergaul dengannya, keesokan harinya pasti akan menjadi gila. Mengenai kemampuannya, tidak usah diragukan lagi. Jika ia menjadi seorang dedengkot silat delapan penjuru, mustahil ia hanya kaum keroco.

Dengan santai, tanpa menghiraukan tuan rumah, mereka berjalan menuju barak yang berada di tengah. Tak menunggu waktu lama, mereka sudah tiba di barak. Luar biasa, mereka semua berjalan dengan santai, tetapi jarak dua kilometer lebih bisa mereka capai dengan mudah.

Sesampainya di sana, mereka menyebar lalu menyiapkan sebuah kursi untuk pemuda berjubah cokelat dengan peralatan dari kulit rubah itu. Tentu saja ulah mereka mendapat perhatian penuh dari jutaan pasang mata. Bagaimana seorang remaja diperlakukan begitu terhormat? Mereka tahu kemampuan masing-masing orang itu; sembilan dari sepuluh orang merasa jerih bila berhadapan dengan mereka. Namun, saat ini mereka melayani seorang remaja yang masih begitu belia. Bukankah itu menjadi sebuah pertanyaan?

"Melati, tampaknya temanmu itu telah menjadi orang yang besar," Ki Jalak berkata memecah keheranan hadirin.

"Maksud Eyang?"

"Kau tahu siapa orang yang melayani temanmu itu?"

Melati menggeleng. Bagaimanapun, ia baru saja keluar dari perguruan; mengenai masalah dunia persilatan, ia masih buta sama sekali.

"Hm, kau kenal pemuda itu rupanya, Anak Manis..."

Suara merdu yang mendayu-dayu menghentikan obrolan Ki Jalak dan Melati. Keduanya berpaling, dilihatnya dua sosok perempuan cantik. Yang pertama berambut terurai sepanjang punggung. Matanya memandang tajam; usianya sudah paruh baya namun masih memiliki keindahan yang menarik. Perempuan itu mengenakan jubah tanpa lengan berwarna merah. Dadanya ditutup dengan selembar kain warna hijau muda, namun masih tampak kencang dan menantang. Dilihat dari ciri-cirinya, jelaslah ia salah satu datuk ilmu silat yang dikenal dengan julukan "Dewi Pemanah Asmara" yang bernama asli Nyi Permata Dewi.

Sedangkan perempuan yang kedua memiliki raut wajah yang agung. Usianya lebih tua dari Nyi Permata Dewi, kira-kira sudah mencapai enam puluh tahunan. Perempuan itu mengenakan baju dan celana berwarna hijau. Ikat pinggangnya dibalut kain beludru berwarna hijau pula. Tampaknya hijau adalah warna kesukaan perempuan itu. Di pinggangnya terselip sebilah pedang bersarung hitam dengan gagang ukiran bentuk kepala naga. Dialah sosok bernama Nyai Dewi Renjani atau biasa dipanggil Bidadari Penakluk Naga.

"Haha... Kalian berdua, perempuan-perempuan cantik dari kalangan tua, sepertinya juga tertarik dengan pemuda itu," Ki Jalak menggoda Nyi Renjani dan Nyi Permata Dewi dengan jenaka.

"Tua bangka awet muda, sepertinya maut masih menyayangimu!" Nyi Permata Dewi berseloroh.

"Apa dia kekasihmu, Anak Manis?" Nyi Renjani menggoda Melati.

Melati memerah, ia tertunduk malu. Pada waktu itu memang ada hukum tidak tertulis bahwa diam berarti mengakui. Di belakang mereka juga terdengar beberapa percakapan mengenai orang-orang yang menjadi tamu terakhir itu. Bahasa mereka sangat beragam karena kaum rimba hijau yang berkumpul saat itu merupakan gabungan dari beberapa negeri.

"Siapakah pemuda aneh itu, Kakang?" tanya seorang kakek berbaju putih dengan selendang hijau tersampir di pundaknya. Dialah Kyai Ahmed Sofyan bin Malik, seorang penduduk tanah Jawa keturunan bangsa Arab.

"Entahlah, Adi. Tampaknya ia adalah pimpinan dari pemuda-pemudi berjubah cokelat yang aneh itu," seorang kakek berselendang putih di pundaknya menjawab pertanyaan adiknya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment