Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 31

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 31

Kakek ini biasa dipanggil Kyai Abdul Sofyan bin Malik, kakak dari Kyai Ahmed Sofyan.

"Apakah mungkin bila pemuda berusia tak lebih dari delapan belas tahun mampu mengendalikan sekawanan pemuda-pemudi yang begitu luar biasa?" seorang pendekar lain menyela. Pendekar itu memakai celana pangsi sebatas mata kaki, sementara bagian atasnya polos, alias telanjang dada. Di pinggangnya sebuah trisula pendek menggantung gagah. Dialah si Trisula Bugil, seorang pendekar golongan putih dari negeri Malaya.

"Aku juga tak mengerti, tetapi tak ada yang mustahil di dunia ini," jawab Kyai Abdul Sofyan bin Malik tenang.

"Ah, kalau tak salah, dia adalah Pendekar Seribu Diri..." ucap salah satu dari pendekar di dalam kerumunan.

"Ah, jangan mengada-ada kamu, bukankah Pendekar Seribu Diri identik dengan baju biru dan kuncir kudanya?"

"Mungkin ia bosan dengan tampilan lama..."

"Wa... wes.... wosh......." Mereka bercakap-cakap dengan sesekali diselingi oleh beberapa pendekar di sekelilingnya, sehingga di barak kaum golongan putih riuh dengan desas-desus tak kunjung usai bagai suara tawon yang sedang pindah rumah. Meski mereka berbisik-bisik dengan lirih, bila dilakukan oleh beberapa ribu orang, jelaslah itu merupakan suatu hal yang mustahil bila dibandingkan dengan keadaan seperti di kuburan.

Hal serupa terjadi di barak golongan hitam. Mereka berbisik-bisik riuh rendah bersahutan. Seorang kakek-kakek bermata cekung, dengan tulang pipi dan tulang rahang saling bertonjolan. Jubah ungunya tak dikancingkan. Di lehernya menggantung kepala tengkorak sebesar kepala bayi, menambah keseramannya. Juga besi yang melintang di lehernya, lengkap dengan seutas rantai yang membelit sebagian tubuhnya. Dialah Ki Sapta yang dikenal sebagai Iblis Pembunuh Raga. Menurut kabar yang beredar, ia adalah seorang tahanan kerajaan Kresnapaksa. Namun, saat berada di dalam penjara, ia bertemu dengan seorang sakti sehingga ia dapat keluar dari penjara dengan membantai seluruh pasukan keamanan tahanan dalam penjara. Dia hanya menyisakan onggokan-onggokan daging yang berserakan sebagai bukti kekejamannya. Maka, sejak saat itu ia dijuluki Iblis Pembunuh Raga.

"Cisss... Itukah sosok ketua dari sepuluh perguruan merdeka? Sungguh memalukan, mereka malah membungkuk-bungkuk di hadapan bocah bau kencur itu. Sungguh tak disangka, orang-orang yang berani menentang Panji Telapak Perak hanyalah kumpulan bocah-bocah bau kencur!" dengus Iblis Pembunuh Raga kepada kakek-kakek yang sedang melotot menyaksikan gadis-gadis cantik dari rombongan terakhir. Kakek itu berwajah kurus kering kerontang bagai jerangkong, tubuhnya lebih mirip kerangka daripada seorang manusia. Di ujung jari-jarinya mencuat kuku-kuku runcing warna kehitam-hitaman. Dilihat dari ciri-ciri kukunya, dialah Ki Seta atau Iblis Pemakan Jantung.

"Emch... daripada melihat bocah yang belum selesai menyusu, lebih baik kau lihat perempuan-perempuannya saja. Kau lihat tubuh-tubuhnya yang aduhai itu, hahaa... apalagi jantungnya, sluuurrrppphh..." Iblis Pemakan Jantung ngiler, tetesan air ludahnya bercucuran membasahi baju rombengnya.

Di lain pihak, ada dua orang sosok manusia yang memandang tamu terakhir dengan kebencian. Pula terdengar mereka bercakap-cakap.

"Guru, itulah pemuda yang telah membunuh Kakang Gandapura dan melukaiku dengan Ajian Birahi Kematian," seorang wanita berwajah pucat berkata kepada seorang lelaki paruh baya yang berwajah sangar dihiasi kumis yang melintang, dengan ciri khasnya yaitu rambut berwarna merah, yang tak lain adalah si Iblis Langit Selatan.

"Gerrr..." Ia menggeram. Orang yang berada di dekatnya memperhatikan Iblis Langit Selatan dengan heran.

Lalu, bagaimana dengan Golongan Merdeka? Ya, tentu saja mereka gembira. Bagi mereka, menjadi pusat perhatian dalam tatapan kagum dan segan adalah hal yang langka. Adalah suatu keajaiban bila mereka masih hidup jika memiliki ilmu yang pas-pasan, sebab Golongan Hitam dan Putih memusuhi mereka. Lalu, di manakah mereka bisa berpijak? Padahal jumlah mereka tidaklah seperempat dari tiap golongan putih maupun hitam. Mereka segera memasang gaya sok jagoan. Ada yang tertawa terbahak-bahak, juga ada yang sok acuh.

Kini hebohlah seluruh barak, baik dari golongan putih, merdeka, hitam, juga beberapa prajurit Panji Telapak Perak pada berbisik-bisik. Tapi, ada satu hal yang perlu diperhitungkan, yakni semua hadirin, bahkan beberapa petinggi dari Panji Telapak Perak, baru pertama kalinya melihat sosok-sosok dari para penggetar langit dan bumi persilatan, khususnya bumi pertiwi tanah Jawa. Mau tak mau mereka mengkaji ulang pikiran-pikiran mereka yang menyatakan bahwa dalang dari mereka adalah kaum tua.

Para pemuda maupun pemudi melotot menyaksikan kehadiran tamu terakhir dengan tajam. Suara siulan, rayuan, sindiran, ajakan, maupun yang lainnya bersahutan memecah kegaduhan yang ada, ditambah jeritan-jeritan histeris gadis-gadis muda. Bagaimanapun, Ksatria Satwa, khususnya, adalah sosok-sosok pemuda-pemudi yang memiliki kelebihan dalam fisik. Wanita mana yang tidak histeris bila menyaksikan Si Ular Bermata Seribu? Apalagi sekarang harus menyaksikan beberapa pemuda tampan yang berpenampilan sama. Gilakah dunia? Apakah memang di dunia ini harus tercipta orang yang dapat menggegerkan dunia hanya bermodalkan tampang? Mau tak mau hari ini harus terjadi juga.

"Oh, keindahan, kau datang memberi sejuta kenangan, meninggalkan segala penderitaan."

"Khiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.........." Jeritan melengking menembus langit seakan ingin mengoyak-ngoyak bumi dari arah panggung. Ternyata yang berteriak adalah pembawa acara yang tadi mempersilakan hadirin. Semua hadirin terkejut. Dari jumlah manusia yang hampir mencapai dua juta itu, serempak duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam. Hanya beberapa orang saja yang tidak terpengaruh dengan teriakan itu, termasuk rombongan dari tamu terakhir, yakni Aram Widiawan dan kawan-kawan.

"Tampaknya mereka tak lagi dapat bersabar," kata seorang wanita muda dengan tahi lalat di dagunya. Di antara semuanya, mungkin dialah yang paling seronok pakaiannya. Bagaimana tidak? Dengan percaya diri ia memakai jubah tanpa pakaian lagi di dalamnya. Jubah kancing kesatu dan keduanya tidak dikancingkan, sehingga tonjolan di dadanya mengintip malu-malu. Jubahnya lumayan panjang hingga menutupi lututnya, tapi gilanya, jubahnya itu terdapat belahan sampai lima jari dari pangkal paha. Dia bernama Kenanga, ketua dari Partai Kupu-kupu Malam.

"Haha... mungkin kau benar, sayang..." jawab seorang pemuda tampan berbaju merah darah dengan kipas di tangannya. Dia bernama Eka Purnama, ketua dari Partai Naga Darah Biru. Ucapan mereka terputus karena tiba-tiba mereka mendengar logat gaya bicara yang mereka kenal.

"Selamat tinggal. Semoga arwahmu di alam baka bahagia menjadi darah pertama di lembah kematian ini." Terdengar gumaman dari bibir seorang pemuda yang sedari tadi memejamkan mata. Di lehernya tersampir bulu rubah yang masih utuh. Sekilas, bulu rubah itu seakan rubah asli yang sedang melilit di lehernya. Bulu rubah itu ia dapatkan dari anak buahnya yang bernama Rival, ketua dari Partai Harimau Niaga. Sehari sebelum memulai berangkat ke Lembah Kematian. Teman-temannya yang sedari tadi diam terheran-heran apakah yang ia maksudkan, namun kebingungan mereka tak lama karena mereka dibuat mengerti juga.

"Aaaakkkhhhhh!" Jeritan melengking menyayat dari barak Golongan Hitam. Semua orang terkejut. Ketika berpaling, mereka melihat pemandangan yang paling mengerikan. Bagaimana tidak? Sesosok tubuh, mungkin perempuan jika dilihat dari lekukan tubuhnya, sedang bermandi darah dari tiga belas lubangnya (mata, hidung, telinga, puting susu, mulut, pusar, kemaluan, anus, dan pori-pori). Tubuhnya mengeluarkan darah bagaikan air mancur. Sebagian orang, meski menyingkir, tapi masih ada yang terkena percikan darah itu. Sungguh kematian yang menggenaskan. Hebatnya sosok perempuan itu, meski kesakitan atau merenggang nyawa, tapi tak setitik pun berpindah atau berubah dari posisinya.

Siapakah sosok perempuan itu? Tentu Anda sekalian masih ingat dengan sosok perempuan yang bernama Cintamani, bukan? Kala itu, Cintamani sedang berbisik-bisik dengan Iblis Langit Selatan. Namun mendadak Cintamani berdiri terbawa reaksi dari aliran darahnya. Yang terheran-heran tentu adalah Iblis Langit sendiri. Ketika ia berdiri itu, darah tiba-tiba menggumpal di tenggorokannya. Cintamani gugup. Cepat ia salurkan tenaga dalamnya. Kali ini ia benar-benar mati kutu, sebab tenaga dalamnya bagaikan melemparkan batu di tengah samudra. Hilang...

Tak berselang begitu lama, darah tiba-tiba mengucur deras seperti pancuran dari ketinggian. Seluruh pori-pori kulitnya mengeluarkan darah, juga lubang-lubang lainnya tak ketinggalan. Melihat kematian murid yang tinggal satu-satunya itu, Iblis Langit Selatan gusar bukan kepalang, apalagi kematian muridnya itu berada di depan matanya sendiri tanpa ia sedikit pun dapat menolong. Segera ia menjejakkan kaki di tanah dengan ringannya, ia melambung tujuh-delapan tombak di udara. Setelah menginjak tanah, seperti angin saja ia melesat menuju barak golongan merdeka.

Set... Iblis Langit Selatan melesat menuju tempat duduk seorang pemuda berjubah coklat dengan peralatan kulit rubah. Tidaklah susah mencarinya karena ia memiliki ciri-ciri khas yang sangat mencolok. Namun niat itu harus ia urungkan sebab seseorang telah menghadangnya di depannya. Ketika ia perhatikan, ternyata seorang kakek tua dengan dandanan super aneh. Bajunya terdiri dari dua warna, kanan terbuat dari kain sutra berwarna biru, sementara yang kiri terbuat dari karung goni berwarna coklat. Celananya juga terdiri dari dua jenis, kiri pendek dan kanan panjang. Di dunia ini, tak ada seorang pun yang memiliki ciri demikian selain si sinting dari Timur, Ki Asmaradanu.

"Ayah angkat... biarkan tuan rumah yang mengurusnya. Bagaimanapun, mereka takkan membiarkan dia berulah semaunya sendiri di dalam acara mereka sendiri."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment