Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 32

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 32

Pemuda itu mencegah. Jika hanya berbicara untuk didengar Si Sinting dari Timur saja, mungkin Kaisar Iblis akan membiarkan mereka bertarung kemudian memetik keuntungannya.

Namun, saat ini keadaannya berbeda. Meskipun suaranya dikeluarkan dengan perlahan, suaranya begitu menggaung di telinga orang-orang, meski jaraknya ratusan bahkan ribuan tombak. Hal itu mau tidak mau membuat Kaisar Iblis bertindak mencegah.

Dengan diawali geraman laksana singa kelaparan, Kaisar Iblis membentak, "Berhenti...!" Suaranya laksana guntur di siang bolong, membuat burung-burung terbang ketakutan.

Para hadirin dipaksa kembali menahan sakit telinganya dengan mengerahkan segenap tenaganya.

Iblis Langit Selatan tertegun, dengan mata nyalang seakan ingin menelan sosok pemuda yang sedang asyik bersantai tanpa memedulikan suasana di sekitarnya. Ia berputar arah kembali ke tempat di mana ia duduk semula.

"Hahaha... Siasat yang bagus, rubah cilik!" Ki Asmaradanu tertawa terbahak-bahak.

"Hanya siasat kecil, Ayah," Aram tersenyum pada Ki Asmaradanu.

Bagaimanakah ceritanya sehingga Ki Asmaradanu menjadi ayah angkat dari Aram? Suara tembang tak jelas judul maupun nadanya berkumandang di sebuah atap bangunan kuno, mengusik tiga orang pemuda berjubah cokelat yang berjalan di samping bangunan itu. "Akulah Sang Pangeran. Dilahirkan oleh bumi, Akulah Sang Pangeran. Dibesarkan oleh langit, panas dan dingin akan menjadi satu."

"Orang gila mana yang menyanyi tak jelas juntrungannya ini? Masa panas dan dingin menjadi satu, jadi hangat dong!" Gerutu seorang pemuda berjubah cokelat dengan peralatan kulit beruang kepada teman yang berada di sampingnya.

"Hahaha... Kau bodoh, Jempana. Bukankah itu sudah jelas, orang gila dari bangunan kuno? Jelas-jelas suara nyanyiannya dari sana." Pemuda berjubah cokelat dengan peralatan kulit buaya berseloroh, pemuda itu tak lain adalah Amuk Samudra, Si Ksatria Buaya.

Tapi tidak dengan orang yang satunya lagi. Ia merenung. Pemuda itu berjubah cokelat dengan peralatan rubah sebagai ciri khasnya.

Ia menghela napas dalam-dalam lalu ikut bersenandung.

"Sungguh mengerikan apabila telah menjadi satu." "Satu adalah sumber." "Sumber adalah kekuatan." "Kekuatan adalah kosong." "Kosong adalah diam." "La la la... Akulah Sang Pangeran..." Begitulah tembang itu saling bersahut-sahutan.

Ketika ucapan terakhir selesai diucapkan, Wushhh...

Suatu sosok bayangan menghadang di depan mereka. Amuk Samudra dan Jempana hampir saja tertawa terpingkal-pingkal melihat dandanan orang itu.

Ternyata yang datang adalah seorang kakek tua dengan dandanan super aneh. Bajunya terdiri dari dua warna: sisi kanan terbuat dari kain sutra berwarna biru, sementara sisi kiri terbuat dari karung goni berwarna cokelat.

Celananya juga terdiri dari dua jenis: kiri pendek dan kanan panjang...

"Siapa gerangan engkau, Kakek?" Pemuda berjubah cokelat menjura penuh penghormatan.

Si Kakek tertegun, ia terharu. Baru kali pertamanya ada orang yang menghormatinya sedemikian rupa.

"Siapa kau, anak muda?" Si Kakek balas bertanya.

Pemuda itu sama sekali tak tersinggung dengan kelakuan Si Kakek yang balik bertanya. Ia malah tersenyum... senyum yang indah bak bunga yang sedang mekar... begitu mengikat, malah mungkin lebih indah dari senyuman wanita, terbukti dengan terpesonanya ketiga lelaki yang kebetulan memandangnya.

Semua hening, diam.

Tak berselang begitu lama, Kakek aneh itu tersadar. Cepat ia mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Namun nahas, tak setitik pun tenaga dalamnya mampu menahan gairah untuk ikut tersenyum dari pemuda itu.

Ia penasaran, dikerahkannya lagi tenaga dalam yang ia miliki sampai tubuhnya gemetaran... Keringat berketel-ketel membasahi dahinya.

Pemuda itu berhenti tersenyum, ia menunduk, menunduk sangat dalam. Tik... butiran air mata membasahi permukaan bumi.

Entah bagaimana caranya, ketiga orang yang masih terbuai dengan senyuman itu, tiba-tiba menangis. Bukan hanya menangis mengeluarkan air mata, tapi... menangis tersedu-sedu. Mereka tak mengerti mengapa mereka menangis, yang jelas dari lubuk hati mereka yang terdalam tiba-tiba menyeruak kesedihan yang begitu mendalam.

Pemuda itu sadar, ia membuat orang yang berada di sekelilingnya ikut menangis gara-gara ulahnya.

Ia mengangkat wajahnya.

Tangannya bergerak perlahan membasuh air mata yang ada di pelupuk matanya.

"Saya Aram Widiawan, Kek!" Jawabnya sembari tersenyum penuh persahabatan. Bahkan lebih dari itu. Mungkin itu adalah senyum kekeluargaan.

Senyum yang hanya dimiliki oleh seorang anak kepada ayahnya.

"Dari mana kau tahu tembang itu, anak muda?" Si Kakek bertanya setelah berhenti dari tangisnya.

Aram tertegun, ia ingat kematian orang tuanya yang mengenaskan... kehidupannya yang harus terlunta-lunta dipermainkan nasib.

Aram tak menangis, karena jika menangis itu hanya akan membuat ketiga orang itu ikut menangis juga.

Ia tersenyum getir, tapi ia kecele. Gara-gara ia tersenyum getir, ketiga orang itu bagaikan dilemparkan ke jurang derita; penderitaan yang selama ini tertuang dalam penderitaan Aram, ikut tertumpah ruah ke dalam hati mereka.

Tapi, itu tak lama.

Sebab tiba-tiba muncul semangat yang menggelora. Semangat yang mampu mengangkat gunung sekalipun.

Semangat mereka bagaikan bara yang bergolak, bagaikan lahar yang bergejolak seakan ingin meraih angkasa.

"Mendiang orang tuaku, Kek!" jawab Aram dengan semangat yang membara.

Ia sadar, tenggelam terus dalam kesedihan tak akan membantunya bangkit.

Ia tahu, hidup itu seperti PEMERKOSAAN. Suka tak suka, mau tak mau, siap tak siap, harus tetap DINIKMATI.

Kakek itu termangu-mangu. "Kau ternyata sependeritaan denganku, anak muda... Sebaiknya kita duduk mencari tempat untuk bercakap-cakap." Kakek itu berbalik meninggalkan tiga anak muda yang sedang dilanda perasaan masing-masing.

"Kalian berdua, carilah makanan untuk sarapan siang!" Aram memerintah dua anak muda yang mematung, dilanda gelora semangat.

Tanpa menunggu keduanya menjawab, Aram segera beranjak mengikuti kakek yang pergi menuju arah bangunan kuno.

"Duduklah..." Kakek itu mempersilakan pemuda berjubah cokelat yang membuat hatinya berbeda dari yang lain.

Sampai-sampai kegilaannya juga ikut berhenti.

Aram segera menuju tempat yang disediakan oleh Si Kakek. Tanpa basa-basi lagi, ia duduk di tempat yang berdebu itu. "Namaku Asmaradanu..." "Saya sudah tahu, itu bukan nama asli, Kakek," Aram menyela.

Yang membuat Si Kakek melengak.

"Saya juga tahu, Kakek bukanlah berdarah manusia biasa. Setidaknya Kakek berdarah seorang pangeran..." Keduanya diam.

Tak ada kata, tak ada gerakan. Kakek itu memperhatikan wajah Aram yang tenang bagaikan lautan. Dalam hatinya ia berpikir, "Bocah ini benar-benar, tindak-tanduknya selalu berubah-ubah... Sebentar gembira, sebentar murung, sebentar sedih, sebentar tenang... Sungguh aneh, pengetahuan dan kecerdikannya sungguh luar biasa. Aku rasa dia hanya menggabungkan informasi dari tembang yang kunyanyikan dan saat aku memperkenalkan diri dengan ragu. Luar biasa... sungguh luar biasa..."

Langkah kaki terdengar beriringan mengusik kebisuan di antara dua sosok manusia yang duduk berhadapan.

"Ketua, kami datang!" Dua sosok bayangan berjubah cokelat tiba di hadapan kedua orang yang saling membisu.

Tanpa banyak cakap, mereka segera membuat api sementara yang satunya menusuk rusa yang cukup besar yang telah dikuliti.

Empat sosok manusia berdiam diri menghadapi api yang menjilat-jilat seonggok daging rusa yang cukup besar.

"Fyuuuh..." Helaan napas berat terdengar dari kakek yang mengaku bernama Ki Asmaradanu.

Sebenarnya, dalam dunia persilatan, siapakah yang tak mengenal Ki Asmaradanu?

Ialah Si Sinting dari Timur, seorang Datuk dari wilayah Timur.

"Nama asliku Raden Angkasa Puja Batara," Si Kakek membuka percakapan.

Aram diam saja dan menatap wajah Si Kakek dengan penuh penghormatan.

Sementara, Amuk Samudra dan Jempana tersenyum geli, "Bagaimana seseorang yang berpenampilan gila-gembel begitu bergelar seorang Raden?"

"Apa bukan membual besar?" pikir mereka.

"Aku dilahirkan oleh bumi dan dibesarkan langit... Pada masa muda, aku hidup terombang-ambing oleh harta dan pangkat. Waktu itu, aku bergelar Pangeran Pengemis. Aku memiliki seorang istri secantik bidadari, dan aku hidup dengannya dengan rukun dan bahagia. Ilmu silatku sangatlah tinggi, dengan dibekali kecerdikan yang tiada batas. Pada suatu hari, aku berjumpa dengan seorang manusia dengan kecerdikan laksana rubah. Dialah Si Rubah Seribu Wajah. Ketika kami bertemu, entah mengapa kami saling tertarik satu sama lain. Kami akhirnya bertarung kecerdikan dan diakhiri dengan persahabatan. Beberapa bulan kami bergaul, akhirnya kami sepakat untuk membuat sebuah ilmu silat yang kemudian disimpan dalam sebuah ilmu sastra." Kakek itu diam, ia mengenang masa mudanya, masa ia berjaya dengan segala kelebihannya.

"Lalu, bagaimana tanggapan kaum persilatan?" Aram bertanya, menghentikan lamunan Si Kakek.

"Banjir darah." Aram adalah seorang yang jika diberitahu satu tahu tiga, empat, bahkan lebih.

Hanya berdasarkan kata kunci "Banjir Darah," ia paham dengan apa yang terjadi.

Lain halnya dengan dua orang yang lain. Hanya satu yang mereka pahami: kakek itu gila atau tidak waras.

Mengenai ketuanya, sedari dulu mereka mengerti bahwa ketuanya memang sedikit kurang normal.

"Lalu bagaimana mengenai akhir kisahnya?"

"Mereka mengamuk... sampai-sampai mengorbankan Si Rubah Seribu Wajah sebagai kambing hitam dari kisah berdarah itu."

"Maksud, Kakek, kitab yang mereka dapatkan isinya adalah sebuah kemustahilan?"

"Benar. Memanglah benar."

"Lalu, bagaimana kondisi akhir Kakek sekeluarga dan Ki Pandu Permana?"

Wajah Ki Asmaradanu pucat, tertegun. Bagaimana mungkin anak semuda Aram dapat mengetahui nama asli dari Si Rubah Seribu Wajah?

Jangankan anak seusia dia, orang yang berusia enam atau tujuh puluhan tahun pun jangan harap mengetahui namanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment