Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 33

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 33

Memang pada masa mudanya, Si Rubah Seribu Wajah tidak ada yang mengetahui namanya selain orang yang paling dekat dengannya.

"Dari mana kau tahu nama lengkap sahabatku itu?" tanya Ki Asmaradanu dengan gemetar sembari menunjuk dahi Aram.

Aram tidak menjawab. Ia justru berdiri, lalu bersujud menyembah. "Ananda menghaturkan sembah untuk Ayah Angkat."

Jangankan Ki Asmaradanu yang terperanjat, Amuk Samudra dan Jempana pun terjengkang karena kaget. "Pana, sepertinya sifat gila Ketua sedang kumat," bisik Amuk Samudra kepada Jempana yang masih syok.

"Apa maksudmu, Anak Muda?" tanya Ki Asmaradanu di sela-sela kekagetannya.

Aram diam membisu. Alis Ki Jempana terangkat melihat pemuda itu masih dalam keadaan bersujud. Ia segera beranjak dan membangunkan pemuda itu. Setelah bangun, Aram segera menjawab.

"Mendiang Guru berpesan dalam kitab terakhirnya, yaitu kitab 'Aku Menghilang Datanglah Tenang, Aku Muncul Datanglah Darah'. Beliau menjelaskan bahwa siapa pun yang menjadi muridnya hendaknya memanggil 'Ayah' kepada salah seorang sahabatnya yang ikut menyelesaikan kitab penyatuan. Kini, aku telah menemukannya," Aram menjelaskan.

"Mendiang... Apa dia telah wafat?" Ki Asmaradanu memegang dada Aram.

Aram mengangguk dan menjelaskan kondisi di dalam jurang. Kakek itu menangis sambil memeluk dada Aram. Ia menangis meraung-raung seperti bocah yang tidak disusui ibunya. Aram membiarkan kakek itu menangis; ia paham bahwa menghentikannya bukanlah hal yang baik.

Ia malah bersenandung seperti seorang anak kecil. Menangis bukanlah hal yang memalukan; bukan hanya wanita yang bisa menangis, lelaki pun mampu karena lelaki bukanlah seutas baja. Biarkan tangis meledak, biarkan ia membawa kesedihanmu. Tangis bukanlah sifat pengecut. Menangislah sebelum engkau ditangisi. Setelah berhenti menangis, kakek itu tersenyum. Mereka bercakap-cakap riang hingga malam menyapa bumi.

Pembawa acara yang melihat hadirin telah tenang tiba-tiba mulai angkat bicara. "Para pendekar sekalian, tetamu, dan Saudara-saudari yang terhormat. Atas nama Perkumpulan Panji Telapak Perak, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Anda semua pada malam peresmian berdirinya Perkumpulan Panji Telapak Perak, perkumpulan yang akan merajai dunia persilatan."

Berbagai tanggapan muncul di dalam hati para tokoh yang memenuhi lapangan. Ada yang diam dan merasa geram dengan kecongkakan Perkumpulan Panji Telapak Perak. Ada pula yang tersenyum sinis, menganggap hal itu hanya gertakan kosong untuk memamerkan kekuatan.

"Para pendekar dan tamu sekalian, Kaisar Iblis, kaisar dari Perkumpulan Panji Telapak Perak dan kaisar kita semua, telah menurunkan titah bahwa nanti pada tengah malam, ketika bulan purnama berada di tengah langit, akan diadakan sembahyangan suci untuk meresmikan berdirinya Perkumpulan Panji Telapak Perak."

Pembawa acara itu berhenti sejenak, lalu berseru lagi, "Berdirinya Perkumpulan Panji Telapak Perak akan menjadi berkah bagi kaum persilatan khususnya dan umat manusia umumnya. Perkumpulan ini tidak mempunyai tujuan lain kecuali mempersatukan kaum persilatan yang sepanjang abad tidak pernah mengecap ketenangan dan kebahagiaan. Di bawah naungan Perkumpulan Panji Telapak Perak, dunia persilatan akan membuka lembaran sejarah baru. Semua kaum persilatan tanpa membedakan aliran, daerah, perguruan, dan tujuan, akan dilebur dalam satu wadah."

Pembawa acara kembali berhenti sejenak untuk mengamati tanggapan hadirin. Terdengar suara gaduh dari para hadirin; kebanyakan bernada geram dan bersungut-sungut penasaran. Setelah membiarkan suara itu bergemuruh, pembawa acara berseru keras, "Harap tenang!"

Seolah tersihir, hadirin kembali tenang. Di lain pihak, sejak awal muncul, Kaisar Iblis tidak pernah melepaskan pandangannya dari seorang pemuda berjubah cokelat yang di lehernya tersampir kulit rubah. Ia heran bagaimana mungkin seorang pemuda belia memiliki mimik wajah yang begitu luar biasa. Hakikatnya, pemuda itu tidak pernah mengubah parasnya sejak duduk di baraknya; ia begitu tenang bak lautan dalam.

"Pemuda itu sepertinya memiliki pegangan yang kuat. Benar-benar lawan yang patut diperhitungkan," pikir Kaisar Iblis dalam hati.

Tiba-tiba, suara suitan bergema di lembah yang panas itu, menghentikan tarian dan nafsu yang bergolak dalam tubuh hadirin. Seruan kaget, tertegun, marah, dan tangisan bersahut-sahutan. Kaum golongan putih benar-benar marah, terutama para gadis dan pemuda yang merasa terhina. Mereka menjerit histeris sambil merapikan pakaian yang berserakan. Para wanita segera memakai kembali pakaian mereka dan berpindah tempat.

Golongan hitam tidak ambil pusing; kejadian itu justru mereka jadikan ajang perkenalan. Lagipula, kejadian itu tidak merugikan mereka.

"Bangsat! Terkutuk!" Tiga puluh pemuda dan pemudi menerjang sisi panggung tempat Kaisar Iblis berada. Namun nasib nahas menimpa mereka. Ribuan anak panah melesat dari langit merajah mereka. Dalam hitungan singkat, tubuh mereka menghitam lalu mencair. Jelas sekali panah-panah itu mengandung racun ganas.

Setelah para penari turun kembali, Luyu Manggala bertanya, "Ketua, ini..."

"Itu adalah tarian iblis perangsang berahi. Mengapa kalian tidak terkena efeknya? Itu karena aku menggunakan Ajian Suci Tentram," Aram menjawab tegas, memotong pertanyaan Luyu Manggala seakan sudah mengetahui apa yang akan ditanyakan oleh pria yang biasa dipanggil Kerbau Manggala itu.

Ki Asmaradanu tersenyum. Kekagumannya terhadap kecerdikan dan kepekaan perasaan anaknya kini bertambah. Aram berpaling dan melihat empat orang sedang sibuk bertatapan mesra. Yang pertama adalah Angkara dengan seorang gadis Jepang bernama Yumi, dan yang kedua adalah Ryusuke dengan Jelita Indria. Dari tatapan mata mereka, Aram tahu bahwa mereka sedang mengenang apa yang pernah terjadi di antara mereka.

Mari kita bahas apa yang terjadi antara Angkara dan Yumi. Saat para gadis menari, Angkara sebenarnya sangat antusias. Namun, ia menghentikan ulahnya karena melihat seorang gadis melotot marah kepadanya. Mereka saling bertatapan, dan tiba-tiba wajah Yumi memerah. Angkara tertegun bingung, lalu teringat kejadian saat pertama kali mereka bertemu.

Waktu itu, setelah makan siang usai pertarungan dengan para Yoninshu, Yumi beranjak meninggalkan Angkara, Ryusuke, dan Jelita Indria. Angkara segera menyusul Yumi. Dengan kecepatan gerak Selaksa Rubah, Angkara berhasil menyusul Yumi yang sedang berjalan sambil melamun.

"Kau mau ke mana, Yumi?" tegur Angkara. Yumi tersentak karena tidak menyadari sedang diikuti. "Boleh kutemani?" tawar Angkara. Yumi sempat ragu sebelum akhirnya menjawab, "Boleh."

Keduanya berjalan mengikuti jalan setapak hingga berhenti di sebuah air terjun setinggi dua puluh tombak. Gemericik air terdengar merdu bak musik asmara. Airnya jernih bak cermin dari surgaloka. Tebing-tebing tinggi yang dihiasi akar beringin mengelilingi tempat itu, sementara burung-burung berkicau riang.

"Indah sekali tempat ini, Kanda," kata Yumi refleks. Panggilan "Kanda" terasa indah di telinga dan batin Angkara.

"Tapi tidak seindah dirimu, Dinda," jawab Angkara menggoda. Meskipun tahu itu rayuan belaka, Yumi tetap merasa senang. Hatinya bergejolak menuntut sesuatu yang mengisi jiwanya.

"Air ini begitu jernih."

"Namun tidak sejernih matamu."

"Dengarlah Kanda, nyanyian burung itu begitu merdu."

"Masih kalah dengan suara merdumu, Dinda Yumi."

"Lihat akar yang menjalar itu, Kanda. Begitu indah menghiasi tebing."

"Masih belum sadarkah engkau Dinda, bahwa akar cintamu telah menjalar di dalam relung jiwaku?" Angkara menyentuh dadanya.

"Aishiteru, Angkara."

"Apa? Ala Siraru?" Angkara berpura-pura tidak mengerti.

"Hihi, apa itu Ala Siraru? Aishiteru artinya aku mencintaimu, Kanda," wajah Yumi memerah.

"Oh, 'alapuyuh tu'..."

"Apa itu 'alapuyuh tu', Kanda?" Yumi mengernyitkan kening.

"Haha, aku mencintaimu juga, dindaku," jawab Angkara sambil tertawa.

"Bahasa daerah mana itu, Kanda?"

"Ketika aku di kedai, aku mendengar orang berambut keemasan menyatakan cintanya. Dia mengatakan 'I love you', dan perempuannya menjawab 'I love you too'. Aku kira itu 'alapuyuh'," jawab Angkara kikuk.

Yumi tertawa cekikikan mendengar penjelasan itu. Gemericik air terjun membasahi wajah dua insan yang sedang asyik memadu cinta tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment