Chapter 34
Mereka berpandangan sembari berpegangan tangan. Perlahan, entah siapa yang memulai, bibir mereka bertemu di tengah jarak. Keduanya terdiam, menahan napas dalam-dalam. Kemudian, bibir mereka membuka, saling menjilat dalam sebuah kuluman, bergulat mencari kenikmatan dari setiap sentuhan.
"Sudahlah, Kanda. Aku gerah, mau mandi," Yumi melepaskan kuluman bibir Angkara dan menjawab dengan napas tersengal-sengal.
Tanpa menunggu jawaban Angkara, Yumi segera melepaskan pakaian sekaligus pakaian dalamnya. Tubuh mulus khas Asia kini terpampang di depan Angkara. Meski hanya dari belakang, Angkara sudah merasa jantungnya copot. Yumi turun ke air yang jernih dan berbalik.
"Kau mau mandi bareng, Kanda?" Yumi mengajak.
Angkara semakin melongo. Meski tubuh Yumi terendam air, keindahannya masih jelas terlihat karena airnya begitu jernih. Mendengar Yumi mengajak mandi bersama, Angkara berjalan seperti kambing congek hendak turun ke air, namun ia membatalkannya sebab Yumi mencegah.
"Tunggu, kau mau mandi dengan berpakaian seperti itu, Kanda?" Yumi mencegah dengan gemas.
Angkara seolah tersadarkan, segera ia melepaskan pakaiannya dengan hati-hati.
"Akh!" Begitu melihat "tombak penembus rimba" milik Angkara, Yumi berseru kaget. "Wow, besar sekali tombak milikmu, Kanda!"
Angkara tersenyum, ia berjongkok di depan Yumi. Tanpa malu-malu, Yumi yang sudah terpicu birahi segera mengambil "tombak" itu dan menciuminya seperti gula. Kenikmatan luar biasa membuat Angkara mendesis lirih, badannya ikut gemetar hebat.
Setelah beberapa saat, Angkara mencabut "tongkat" itu. Tetesan cairan bening ikut mengucur dari ujungnya.
"Kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya, Dinda?" Angkara bertanya sambil turun ke air dan memeluk tubuh Yumi. Yumi tidak menjawab, ia hanya menggeleng lemah sambil mendesis karena merasakan pantatnya ada yang meremas.
Cupp... Angkara menciumi tubuh Yumi, dimulai dari kening, pipi, mulut, leher, dan turun ke bawah hingga mencapai puncak kemerahan. Meski baru pertama kali Angkara maupun Yumi melakukan perbuatan yang seharusnya dilakukan suami istri itu, nafsu telah menuntun mereka. Dengan mengandalkan naluri, mereka bergerak secara alamiah. Angkara bukanlah orang dari golongan Putih, ia tidak memedulikan bahwa hal yang dilakukannya ini merupakan hal tabu bagi golongan putih. Sementara itu, di negara Yumi, hal seperti ini bukanlah hal yang sangat tabu. Ia belum pernah melakukan hal seperti ini karena ia belum pernah berpacaran saja.
"Shhhtt... Akh... Akh..." Desahan memburu dari dua insan yang sedang bergumul, selaras dengan suara gemericik air terjun. Tangan Angkara tidak diam, sibuk membelai ini dan itu, membuat Yumi semakin menggeliat.
"Srett... Aakhhh..." Lenguhan panjang terdengar dari mulut perempuan cantik berwajah oriental itu yang sedang berada dalam pelukan Angkara. Sepertinya ia sudah mencapai puncak pertamanya.
"Kau... kurang ajar, Kanda... Tanganmu begitu nakal," Yumi menggoda Angkara dengan genit dibuat-buat. Angkara malah menjawab yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pertanyaan Yumi.
"Tahanlah, Dinda." Yumi tertegun tak mengerti, ia merenung dan akhirnya mengangguk. Sepertinya ia tahu apa yang diinginkan kekasih dambaan hatinya itu.
"Srett... Akhh... Pelan, Kanda..." Setitik air mata jatuh ke pipi Yumi. Wajahnya meringis, sepertinya ia kesakitan. Setelah beberapa saat, rasa sakit itu sepertinya telah menghilang, terbukti dengan wajahnya yang berubah rileks.
"Emhh... Akh... Akh..." Angkara merasakan "tombaknya" dijepit dua bilah jurang yang tak berpangkal. Segera ia menggoyangkan badannya berulang kali. Semakin lama tusukannya makin tajam dan kuat. Sebentar ia menusuk, sebentar ia mencabutnya lagi, kemudian menusuk sambil memutar. Sebentar kemudian ia menekan sambil menggesek.
Beberapa gebrakan kemudian, Yumi sudah mendesis sambil merintih. Mukanya merah padam karena rangsangan birahi. "Oooh... aaah... aduh... aaaah... Kanda Angkara..." Peluh telah membasahi seluruh tubuh Yumi, tapi badannya masih bergoyang terus tanpa henti.
Mereka bertempur semakin seru hingga pada suatu saat...
"Emchhh... Akkhhhh..." Keduanya berteriak melengking, lalu terkulai lemah bersandar pada batu. Cairan putih kemerah-merahan sudah meleleh keluar dari sebuah jurang di dalam "hutan rimba" milik Yumi.
"Terima kasih, Dinda..." Angkara mencium kening Yumi yang dibalas dengan kecupan mesra. Keduanya lalu membersihkan diri. Mereka naik ke daratan dan mengulanginya lagi sampai lima kali. Pada pertarungan terakhir, keduanya sudah terbiasa, mampu saling memahami apa yang diinginkan masing-masing.
Angkara segera berbaring di batu sungai yang lumayan lebar sambil menyelonjorkan kakinya. Yumi menarik napas panjang, tubuhnya segera ditekan ke bawah.
"Sreettt!" "Hutan rimbanya" mampu melenyapkan "tombak hitam yang berdiri kekar". Kontan saja Angkara menjerit, "Pelan, sayang!" Saking nikmatnya, ia mulai gemetar hebat.
Yumi tidak memedulikan ocehan Angkara, segera ia naik dan menurunkan tubuhnya secara berirama. "Bukitnya" bergeliat di depan Angkara yang sedang telentang. Yumi tidak memedulikan itu, ia semakin semangat meraih puncaknya. Ia tidak memedulikan tubuhnya yang sudah letih lelah. Tidak kuat menahan rangsangan, Angkara segera memegang "bukit kembar" Yumi yang menggelantung. Ia meremasnya dengan keras. Yumi memekik kesakitan, tapi ia tidak mencegah, juga tidak menghentikan pendakiannya. Ia terus berjalan semakin atas, semakin atas, sampai akhirnya ia tak dapat lagi menahan gelombang dahsyat yang menerpanya. Ia menjerit keras, "Aakkhhhh..."
Seperti dicopoti tulangnya, Yumi dan Angkara berbaring berpelukan. Setelah mengatur pernapasan, segera keduanya berbenah dan kembali ke tempat di mana tadi mereka makan, dengan senyuman keindahan di bibir.
Begitulah yang berada dalam pikiran Angkara dan Yumi yang saling bertatapan mesra. Lalu, bagaimana dengan Ryusuke dan Jelita Indria? Ternyata mereka pun sedang membayangkan hal yang sama. Mereka teringat dengan kejadian yang berkesan di hati mereka, bersamaan waktu dengan Yumi dan Angkara.
Setelah ditinggal Angkara dan Yumi, Ryusuke dan Jelita Indria bertatapan, keduanya tersenyum penuh makna. Pertemuan mereka yang singkat itu ternyata telah mengusik naga yang sedang tidur dalam jiwa mereka. Bagaikan kekasih yang sudah setahun tidak bertemu, keduanya segera berpelukan erat, sangat erat, sampai Ryusuke merasakan dua buah "senjata kenyal" di dadanya. Wajah Ryusuke memerah. Gara-gara kejadian itu, bagaikan dialiri tenaga dalam, "tombak" yang tadinya lemas kini siap berperang. Jelita Indria tersenyum, ia juga dapat merasakan sebuah "senjata" yang sudah siap bertarung kini sedang menodongnya. Keduanya bertatapan, saling mengerti kebutuhan masing-masing. Mereka segera mendekatkan wajah, dan terjadilah pertarungan yang jarang disaksikan orang, terutama anak-anak yang belum dewasa.
Tanpa mereka sadari, pakaian mereka satu per satu telah berserakan di tanah. Kemudian, sambil bertarung, mereka berjalan beriringan menuju sebuah pohon paling besar di tempat itu. Napas mereka mulai terengah-engah sebagai tanda bahwa energi mereka sedang terkuras. Ryusuke dan Jelita Indria tak kuasa menahan lagi. Mereka berdua mulai saling berpelukan semakin erat, tubuh mereka bagaikan ular yang meliuk-liuk, saling menempel satu sama lainnya. Bagian bawah badan mereka saling ditempelkan, saling bergesekan...
"Kanda...!" Jelita Indria merintih lirih. Matanya sayu, mengharapkan sesuatu. Sembari mendesis, ia mulai merentangkan sepasang pahanya. Ryusuke segera berjongkok dan mulai menjelajahi "hutan rimba" milik Jelita Indria. Mula-mula menjelajahi sekelilingnya, kemudian ia mulai menerobos ke dalam "jurang" itu, dan terakhir ia mulai memainkan "tonjolan" yang ada di bagian tengah, berulang kali.
Ryusuke bangkit dan mulai membidik buruannya dengan "tombaknya". Crassshhh... Aakkkkhhhh... Suara robeknya kulit sasaran juga jeritan bahwa buruannya telah terkena sasaran. Dengan perlahan Ryusuke mencabutnya lalu mendorong untuk memasukannya lagi, begitu berulang-ulang. Entah berapa lama mereka bertarung, peluh sudah bercucuran dari tubuh mereka, napas mereka sudah bergemuruh seakan sudah tak kuasa lagi untuk bernapas.
Akkkkhhhhh... Keduanya menjerit, menunjukkan pertempuran telah mencapai puncaknya. Pertempuran sudah usai, keduanya terbaring lemah. Karena takut kedatangan kedua orang rekannya, segera mereka berbenah, merapikan diri, sambil bercakap-cakap mesra. Keduanya saling meremas "sesuatu" untuk mengisi keasyikan, dengan sekali-kali diselingi ciuman mesra.
Benarlah saja, tidak begitu lama kemudian mereka melihat dua sosok bayangan berpegangan tangan menuju ke arah mereka. Setelah berlenggak-lenggok sebentar, mereka segera ikut bergabung, mengobrol tentang apa yang harus dan akan mereka lakukan nanti. Akhirnya mereka berketepatan untuk membantu Angkara dalam membasmi Keangkara Murkaan setelah bercakap-cakap sebentar mengenai ketua Angkara. Mereka segera pergi untuk saling berkenalan dan melihat sosok ketua yang sebenarnya.
Kelima orang yang sedang saling pandang tersadarkan ketika mereka mendengar jeritan melengking. Segera mereka berpaling, terlihatlah tiga puluh lebih pemuda maupun pemudi sedang meregang nyawa terkena hujanan panah. Mereka juga menyaksikan ketika mereka berubah menjadi cairan.
Suara kereng tiba-tiba terdengar menggema. "Nah, itulah hukuman bagi para pembangkang. Siapa lagi yang akan maju?" Ternyata yang berteriak adalah Pengacara Pembukaan Perkumpulan Panji Telapak Perak. Para pemuda yang tadinya akan bersiap-siap menyerang, kini kembali ke barak dengan ketakutan. "Nah, saudaraku sekalian, jikalau tak ada yang berani maju lagi."