Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 35

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 35

"Sekarang saatnya yang kalian tunggu-tunggu!" teriak pengacara setelah para hadirin kembali tenang, meski wajah mereka tampak memerah menahan kedongkolan. "Pada acara yang kedua ini akan diadakan adu kepandaian bagi para hadirin. Adu kepandaian ini adalah untuk saling mengenal masing-masing dari kalian. Kalian juga diperbolehkan untuk menantang anggota dari perkumpulan kami." Teriakan semangat, kebahagiaan, dan lain-lain terdengar dari para hadirin. Wajah yang tadi merah menahan marah kini mulai kendur kembali. Mereka berpikir, jika mereka tak dapat membunuh kaisar iblis, setidaknya mereka dapat melampiaskan kemarahan mereka terhadap anak buahnya.

"Mungkin inilah saatnya bagi kita untuk menjadi terkenal, Asoka..." bisik seorang lelaki tinggi kekar. Kulitnya hitam seperti arang dan ia hanya memakai celana cawat saja untuk menutupi bagian paling pentingnya.

"Hahaha... Benar, Aji! Jika kita dapat mengalahkan mereka, maka seluruh jagat akan mengenal kita... Hahahaha!" jawab temannya yang juga berpenampilan sama. Hanya saja, yang satu ini di hidungnya memakai perhiasan semacam tanduk dari gading babi.

"Harap tenang.... Kami sudah yakin, kalian bakal menyukainya.... Baiklah, kami akan menuturkan peraturannya."

"Syuuiiitt!" Si pembawa acara bersuit nyaring seperti layaknya pekikan naga. Lima sosok manusia muncul dari dalam tanah, mereka berteriak dengan nyaring.

Sepertinya pekikan itu adalah kode untuk memanggil sosok-sosok itu.

"Pertama, peserta diizinkan untuk menantang lawannya, dan lawan tersebut tidak boleh menolak. Barang siapa menolak, maka akan dieksekusi di tempat."

"Kedua, peserta diizinkan untuk membunuh lawannya."

"Ketiga, peserta tidak diizinkan bermain keroyokan."

"Keempat, korban mati dilarang penasaran. Salahkan diri sendiri yang tidak becus."

"Kelima, dilarang meninggalkan tempat ini."

Penonton bergemuruh, sorak-sorai, cacian, dan geraman menjadi satu suara.

"Gooonggggggg...!" Suara gong dibunyikan, menandakan pertempuran telah dimulai.

"Wussshhhhh...!" Seorang lelaki berusia empat puluh tahun melompat ke tengah panggung. Ia memakai baju yang terbuat dari kulit harimau. Dia mencabut dan memutar sepasang pedang pendeknya yang sejak tadi bertengger di pinggangnya.

"Aku Adicitta dari Hutan Larangan, aku menantang Jalasi si pendekar edan dari Tanah Nusa Kembangan! Ayo, Jalasi, naik kamu! Jangan sembunyi di balik baju ibumu! Ayo keluar, hadapi aku!" Terdengar tawa keras dari barak Golongan Hitam.

Sesosok bayangan berkelebat ke arah panggung lalu melompat tinggi melambung dan hinggap di hadapan Adicitta.

"Adicitta, kau cari mati! Dulu kau kulepas mengingat bahwa kita dulu adalah saudara seperguruan, namun sepertinya kau tak sudi untuk hidup lagi."

Tanpa basa-basi, Jalasi menyerbu Adicitta dengan sebuah jurus tangan kosong yang menderu-deru.

Keduanya bertarung rapat. Adicitta bersenjatakan pedang pendek, sedangkan Jalasi menghadapinya dengan tangan kosong. Benar-benar pertarungan yang tidak seimbang, namun kenyataannya dengan mudah Jalasi menghindari serangan dari Adicitta. Bahkan, Jalasi dengan beraninya menahan pedang pendek itu dengan tangan kosong.

Sorak-sorai penonton menyemarakkan pertarungan itu, membuat kedua orang yang sedang bertarung semakin sengit.

Pertarungan imbang, meski keduanya mengeluarkan segenap kemampuannya. Sampai jurus keseratus, Adicitta di atas angin. Jalasi keteter, ia kewalahan menghadapi serangan dari Adicitta. Sehebat-hebatnya dia, mana mungkin jika ia harus menahan pedang dengan lehernya, kecuali jika ia memang telah bosan hidup.

"Srett... Crasshh!" Pundak Jalasi berdarah terkena sabetan pedang pendek dari Adicitta. Jalasi naik darah. Dengan kalap ia kembali menyerang Adicitta.

Beberapa jurus berikutnya, Adicitta kewalahan menahan serangan dari Jalasi yang kalap.

"Dukkkk...!" Ulu hati Adicitta terkena sebuah pukulan telak. Dengan menahan sakit, ia segera melakukan tangkisan karena ia melihat sebuah tendangan maut mengarah ke kepalanya. Dengan menyilangkan kedua lengan di atas kepala, Adicitta menahan tendangan maut dari Jalasi.

"Duukkkk!" Dua buah lengan dan betis beradu. Dengan girang, Jalasi hendak menyusul sebuah pukulan telak, tapi ia harus kembali membatalkan serangannya kecuali jika ia rela kehilangan kaki kanannya.

Ternyata Adicitta memutar pedang pendeknya dengan jari, dengan cepat ditarik seperti halnya sebuah gunting.

"Crasshhh... Aakkhh!" Kembali Jalasi memekik kesakitan, paha kirinya robek. Meski ia menghindar dengan mengangkat kaki kanannya dan menjejakkan kaki kiri meloncat mundur, tapi sepertinya gerakan itu sudah berada dalam dugaan Adicitta. Dengan memutarkan tubuh 360 derajat searah jarum jam lalu membungkuk dan dengan cepat menyabetkan pedang pendeknya, keadaan Jalasi kritis.

Gerakannya tidak leluasa. Mendadak Jalasi bergerak limbung seperti orang mabuk.

"Jruubbbb... Buk!" "Aaaakkkkk... Hhhhrrgggg!" Dengan mengandalkan sisa tenaganya, Jalasi bergerak cepat. Ia menghajar dada kiri Adicitta. Adicitta memekik kesakitan, ia tak menyangka jika Jalasi bergerak senekat itu. Di pihak lain, Jalasi pun tidak meraih keuntungan; tubuhnya tertusuk pedang pendek Adicitta. Mereka memekik bersamaan.

"Bruuukkk...!" Setelah berkelonjotan sebentar, keduanya telah mangkat ke alam kelanggengan.

Dua orang pendekar yang telah malang melintang di jagat kini harus kehilangan nyawanya begitu saja di sebuah panggung dengan disaksikan para pendekar dari kolong langit.

Dengan sigap, dua orang manusia berpakaian hitam dengan topeng perak mengangkat mayat itu dan membawanya ke balik gua. Entah dikemanakan mayat itu, tak seorang pun yang tahu kecuali para anggota Panji Telapak Perak.

Mendadak para hadirin terpekik, "Mengapa?" Seorang pemuda berbaju putih dengan rambut dikuncir kuda, matanya sipit, dengan gagah berdiri di tengah panggung.

Tak seorang pun yang mengetahui bagaimana pemuda itu bergerak. Tahu-tahu para hadirin menyaksikan seorang pemuda berdiri di panggung. Kecuali satu. Orang itu tersenyum penuh makna. Entah apa yang ada di pikirannya, tak ada seorang pun yang mengerti.

Pemuda yang berdiri di tengah panggung tak lain dan tak bukan adalah Thian Liong. Ternyata, ketika ia duduk di barak, ia memperhatikan seorang manusia bertopeng yang sudah lama ia cari-cari. Dialah pengkhianat Thian Liong Pay.

Setelah pertarungan berakhir, ia segera mengerahkan ilmu terbarunya yang telah ditemukan oleh adiknya, Thian Hong Li, dengan memindahkan sukmanya ke arah tengah panggung yang kemudian raganya ikut berpindah mengikuti sukmanya itu. Benar-benar suatu kepandaian yang luar biasa.

Meski belum sempurna, tapi ternyata ilmu itu telah memberikan suatu kemajuan yang benar-benar luar biasa bagi Thian Liong.

Diam-diam, ada sepasang mata yang khawatir dengan kejadian itu, yakni Thian Hong Li. Dengan waswas ia melirik kekasih hatinya. Ia hendak bicara, namun tak jadi ketika ia melihat senyuman itu, senyuman yang ia pahami dengan mengenalnya selama bertahun-tahun.

"Maafkanlah saya, Kisanak sekalian. Saya hanya ingin menantang seorang pengkhianat dari perguruan kami, bukanlah untuk unjuk kepandaian," ucap Thian Liong merendah.

Para pendekar golongan putih tersenyum mendengar kata-kata yang begitu sopan itu. Mereka tak menyangka jika dalam barak golongan merdeka terdapat seorang manusia dengan sikap golongan putih.

Padahal sebenarnya mereka tak tahu siapakah pemuda itu. Perlu diketahui bahwa Partai Thian Liong Pay merupakan salah satu perguruan dari golongan putih.

"Orang she Hoa, aku menantangmu...!" Thian Liong menunjuk manusia bertopeng dengan sarung tangan perak.

Lelaki itu bergetar. Ia melirik Kaisar Iblis, dan setelah melihat anggukan kepala, segera ia meloncat ke tengah panggung.

"Orang she Thian, kau memang keterlaluan! Aku bahkan sudah terasingkan dari tanahku, kau masih juga belum memberiku kebebasan!"

"Mana mungkin aku membebaskan pengkhianat perguruan lalu melakukan kejahatan dengan kepandaiannya itu? Aku tak keberatan mengampunimu jika kau mengembalikan ilmu itu!"

Lelaki itu menggeram. Mengembalikan ilmunya berarti memunahkan ilmu silatnya, padahal orang persilatan memandang ilmu silat lebih berharga daripada nyawa mereka.

Tak tahan lagi, ia menerjang. Tangannya terkepal kuat. "Aku akan beradu jiwa denganmu, Keparat!" Tangan yang terkepal itu menyiarkan bau hangit terbakar. Thian Liong dengan tenangnya menyambut serangan itu, dengan memajukan kaki kanannya lalu diikuti dengan gerakan putar pada kaki kiri dengan diiringi tamparan tangan kanan, sementara tangan kirinya persis berada di depan dada.

"Daakkk...!" Dua buah tangan dengan dialiri tenaga dalam tinggi beradu. Tidak berhenti di situ saja, Thian Liong segera menyusul serangan dengan menarik ke depan dada pada tangan kanan, diikuti pukulan tangan kiri yang tadi berada di depan dada.

"Bukk...!" Orang She Hoa itu mundur terhuyung-huyung. Ia terkejut, ternyata bukan hanya dirinya saja yang mengalami kemajuan. Ia juga baru kali ini melihat tangkisan sekaligus serangan yang dilakukan Thian Liong barusan, sebab di dalam perguruan Thian Liong Pay tidak ada jurus seperti itu.

"Jurus apa itu?" Tak sanggup lagi ia menahan penasarannya, ia bertanya keheranan.

"Lambaian Dewa Wisnu," jawab Thian Liong tenang.

Memanfaatkan kelengahan Thian Liong yang sedang berbicara, Orang She Hoa itu segera menyerang. Ia meloncat dan mengangkat kaki kiri melakukan suatu angkatan berputar, mengikuti perputaran kaki kanannya yang berputar terlebih dahulu ke kanan menurut arah jarum jam. Tangan kiri ditekuk rapat dan tangan lainnya mengibas. "Ciaaaattt...!" teriaknya lantang.

Melihat serangan, Thian Liong tidaklah gugup. Sebagai sesama murid dari Thian Liong Pay, ia mengetahui arah mana serangan dari jurus itu.

Segera ia menjatuhkan diri untuk menghindari serangan sekaligus memasukkan serangan balik dengan tendangan belakang pada kaki kanan.

"Praaakk...!" Topeng Orang She Hoa itu hancur berantakan, memperlihatkan wajahnya yang putih dengan jenggot dan kumis tipis di atas bibirnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment