Chapter 36
Kini terpampang jelas, ia berdiri termangu-mangu. Jika para pendekar muda tidak terlalu memedulikan serangan balasan itu karena memang jurus tersebut tidak memiliki keistimewaan apa-apa, berbeda halnya dengan golongan tua yang terpekik kaget.
"Tendangan Dewa Siwa!" seru Iblis Pemakan Jantung secara refleks.
Ki Jalak membelalak besar; ia benar-benar terkejut. "Ya ampun, jurus Empat Dewa telah kembali," ucapnya kepada dua rekannya yang juga masih belum tersadar dari keterkejutannya.
"Eyang, apakah itu jurus Empat Dewa?" tanya Melati.
"Kau suka mendengar ceritaku, Melati?"
"Ya, Eyang!"
"Pada seratus tahun yang lalu, seperti halnya sekarang, terjadi kekacauan dalam dunia persilatan. Manusia saling membunuh satu sama lain, pemerkosaan terjadi di mana-mana. Pada zaman itu, adalah suatu keajaiban apabila seorang gadis masih memiliki kehormatan. Bahkan ironisnya, anak perempuan yang baru berusia tujuh tahun pun tak luput dari pemerkosaan. Tak ada tempat hidup bagi para wanita, tak ada seorang lelaki pun yang melindungi mereka. Para lelaki terlalu sibuk menjaga diri sendiri dari penjagalan yang mengerikan."
"Hiiiy..." Melati bergidik ngeri.
"Kau ingin mendengar kelanjutannya?"
"Ya, Eyang," Melati mengangguk.
"Dalam kekacauan itu, muncullah seorang pemuda yang cakap luar biasa. Tak ada seorang pun yang mengetahui dari mana asalnya. Namanya pun tak ada yang tahu sampai sekarang. Namun, pada waktu itu ia dikenal sebagai Pangeran Empat Dewa. Kesaktiannya benar-benar luar biasa. Jurus-jurusnya hanya terdiri dari empat gerakan saja. Hal itu diketahui oleh semua orang persilatan karena ketika bertarung, pemuda itu selalu menggunakan empat jurus yang itu-itu saja."
"Lalu?"
"Jurus pertama bernama Lambaian Dewa Wisnu, yang kedua Tendangan Dewa Siwa, yang ketiga Telapak Dewa Indra, dan yang terakhir bernama Hembusan Napas Dewa Brahma," Ki Jalak menuturkan jurus-jurus dari Empat Dewa tersebut.
"Setelahnya apa yang terjadi, Eyang?"
"Pemuda itu menumpas keangkaramurkaan. Para gadis yang hamil akibat menjadi korban pemerkosaan dapat melahirkan anaknya dengan selamat. Para lelaki yang ketakutan mulai tenang dan mencari wanita untuk mereka nikahi sehingga para gadis itu dapat melanjutkan kehidupannya seperti sedia kala. Semua orang persilatan sangat berterima kasih kepada pemuda itu. Namun, ternyata pemuda itu menghilang dari dunia ramai, meninggalkan sejuta kenangan bagi kaum persilatan."
"Benar-benar hebat," celetuk Melati.
Kembali ke pertarungan. Setelah sadar dari ketertegunannya, orang She-hoa yang bernama lengkap Hoa San Eng itu segera memasang kuda-kuda yang selama ini belum pernah dilihat oleh Thian Liong. Tangan kanan Hoa San Eng mengepal di pinggang, sementara tangan kirinya berada persis di depan wajah.
*Srettt...*
Sinar perak keemasan berpendar di kepalan tangan Hoa San Eng. Ia tidak bergerak, sepertinya sedang memusatkan tenaga dalamnya. Hawa panas menyeruak di sekitar arena pertarungan. Tanpa dikomando, Thian Liong segera mengangkat tangannya seperti menyembah. Tangan itu bergetar ringan, namun tak ada efek yang ditimbulkan di sekitarnya.
Dalam waktu bersamaan, keduanya menyentakkan tangan secara berbarengan.
"Telapak Perak Memburu Malaikat!"
"Telapak Dewa Indra!"
Sinar perak keemasan tiba-tiba meledak di pertengahan jarak. *Duaaarrr!* Bagaikan menabrak dinding tebal, sinar itu menebar ke mana-mana, menghanguskan apa saja yang diterpanya. Kilat menyambar-nyambar disertai angin topan mendadak.
*Kraakkk!* Suara kayu patah terdengar. Sepertinya panggung megah itu tak dapat menahan beban tenaga sakti yang beradu. Thian Liong tampak terperosok ke dalam panggung sebatas lutut, sementara Hoa San Eng terkapar memuntah darah. Tanpa memedulikan keadaannya, Hoa San Eng bangkit dan menerjang dengan sisa kekuatan yang ada.
"Naga Api Murka, hiaaattt!"
*Wushhh!* Gumpalan api sebesar gulungan kasur menerpa Thian Liong. Thian Liong mengerti, jika ia menghindar dengan meloncat ke samping atau ke atas, ia akan mengalami kerugian yang lebih parah. Tanpa pikir panjang, ia segera membenamkan tubuhnya ke dalam panggung. Api itu lewat dan membakar rerumputan hijau di samping panggung.
Setelah api lewat, Thian Liong segera bangkit dan mengeluarkan jurus terakhir dari rangkaian Empat Dewa, yakni Hembusan Napas Dewa Brahma.
*Fyussshh!* Angin tanpa bentuk menerjang Hoa San Eng yang sedang mempersiapkan jurus Naga Api Murka. Tanpa ayal lagi, api yang keluar itu segera tertelan, bahkan merenggut nyawa Hoa San Eng.
*Brukk!* Sosok mayat yang hangus tergeletak tanpa nyawa. Thian Liong menghela napas. Ia menatap langit dan berucap, "Akhirnya, tugas perguruan telah selesai."
*Srettt...* Bayangan Thian Liong mulai mengabur dari pandangan. Ternyata ia mulai menggunakan ilmu yang terdapat dalam Kitab Sri Ajnyana. Para hadirin terkejut dan sangat kagum. Datang bagai angin, pergi bagai kabut; mungkin itulah istilah yang tepat untuk kedatangan dan kepergian Thian Liong.
Di tengah keterkejutan semua orang, mendadak seorang lelaki paruh baya naik ke atas panggung dan menantang Si Pemabuk dari Selatan. Lelaki paruh baya itu dikenal dalam dunia persilatan sebagai Pendekar Rencong yang berasal dari Tanah Rencong. Memang sejak dahulu Si Pemabuk dari Selatan dan Pendekar Rencong telah terlibat permusuhan yang tak mungkin bisa diselesaikan dengan baik, sehingga mereka menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
Si Pemabuk dari Selatan bersenjatakan guci tanah liat yang selalu dibawanya ke mana-mana, sedangkan Pendekar Rencong bersenjatakan rencong. Pertarungan mereka berlangsung imbang dan ketat karena Si Pemabuk dari Selatan belum mau bersungguh-sungguh. Setelah bertarung puluhan jurus, akhirnya Si Pemabuk dari Selatan jengkel juga melihat kegigihan Pendekar Rencong. Ia segera menggeloyor jatuh. Pendekar Rencong yang merasa girang segera menyabetkan rencongnya secara vertikal. Namun, serangan itu ternyata adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
*Brukk!* Pendekar Rencong tewas dengan kepala berlumuran darah. Ternyata sewaktu Si Pemabuk dari Selatan menggeloyor, ia melontarkan gucinya ke atas. Saat Pendekar Rencong hendak menyabetkan rencongnya, guci yang dilempar itu dikendalikan dengan tenaga dalam. *Bukk! Prak!* Kepala Pendekar Rencong hancur berantakan.
Tanpa memedulikan lawannya yang telah tewas, Si Pemabuk dari Selatan segera meneguk isi gucinya. *Glek, glek...* Setelah puas, ia berteriak lantang. "Aku menantang bocah yang berselampirkan kulit rubah itu!"
Ia kembali meneguk tuak dari gucinya, namun lawan yang ditantang belum juga menampakkan diri. Dengan jengkel ia berteriak lagi, "Mana bocah itu? Kenapa tidak berani keluar? Apa dia sudah tak punya kehormatan lagi? Sebaiknya potong saja anunya biar ia berdandan seperti perempuan!"
Aram menghela napas panjang. Ia mendengar orang-orang tertawa keras menanggapi ucapan Si Pemabuk dari Selatan. Riuh tawa dan ejekan itu membuat Aram mengambil sebuah keputusan. Namun, Aram adalah sosok yang diberkahi kecerdasan luar biasa. Dalam keadaan panas itu, ia malah melakukan tingkah yang membuat orang tak habis pikir dan gemas luar biasa.
Jika kedatangannya sebelumnya disertai ilmu peringan tubuh yang luar biasa, kini ia malah berjalan santai layaknya manusia biasa. Ia berjalan terseok-seok menuju panggung. Jika orang lain hanya memerlukan waktu lima hitungan untuk sampai ke panggung, ia memerlukan seratus hitungan hanya untuk menempuh setengah jarak. Tentu saja semua orang dibuat gemas. Dengan jengkel Si Pemabuk dari Selatan mencak-mencak.
"Kutu kurap, kudis buduk, setan jalang, setan burik, anjing kurap, anjing panu! Kau membuatku jantungan! Cepatlah maju kemari, aku sudah tidak sabar!" Cacian dan sumpah serapah terlontar dari mulut Si Pemabuk dari Selatan.
Seratus hitungan kemudian, Aram sampai di tepi panggung. Dengan susah payah, layaknya seorang bocah memanjat pohon, ia naik ke atas panggung. Kaisar Iblis menahan napas, Iblis Langit Selatan menggeram, dan datuk-datuk lainnya memejamkan mata. Semua orang persilatan dibuat gemas luar biasa.
"Hihi... Bocah yang luar biasa. Kecerdasannya benar-benar mempermainkan perasaan orang," Nyi Dewi Renjani tertawa.
"Apa maksud Nyai? Bukankah ia malah membuat orang-orang gemas?" tanya Melati.
"Haha... Kau salah, Melati. Jika tadi ia membuat orang gemas karena ucapan Si Pemabuk dari Selatan dan tertawaan kaum persilatan, sekarang dialah yang membuat kaum persilatan dan Si Pemabuk dari Selatan gemas. Bukankah itu sama halnya dengan mata dibalas mata?" Ki Jalak menyela.
"Fyuh... Setan cilik itu benar-benar," Melati bersungut-sungut.
"Ada apa, Nyai?" Ki Jalak menyadari sedari tadi Nyi Permata Dewi termangu-mangu seperti orang kesurupan.
"Anak itu... Ketika menatap matanya, aku seakan melihat mata anakku sekaligus muridku, Widia Seta," desah Nyi Permata Dewi. "Ah! Tenaga Sakti Mata Darah!" pekiknya.
"Ilmu apa itu, Nyai?" tanya Nyi Dewi Renjani.
"Ilmu yang diciptakan berdasarkan hawa dalam darah dan dikumpulkan dalam mata. Ilmu itu diciptakan dari gubahan Kitab Selaksa Jalan Darah, peninggalan mendiang Tabib Sakti Pengelana Bumi, dan Tenaga Sakti Racun Darah Dewa peninggalan Pendekar Malaikat Darah. Barang siapa yang mempelajarinya, matanya akan berubah menjadi merah darah."