Chapter 37
"...dan..."
"Dan apa?"
"Dan di dunia ini yang mempelajarinya hanya Widia Seta seorang."
"Lalu mengapa Nyai mengetahui?"
"Anakku membocorkan cara mempelajarinya kepadaku... Aku pernah mempelajarinya, namun aku buang karena... karena ilmu itu mengandung efek ganda. Satu, meningkatkan batas kemampuan mata dan otak hingga mencapai puncaknya..."
"Dan yang kedua?"
"Orang yang mempelajarinya akan mengalami keterbatasan normal."
"Maksud Nyai gila?"
"Ya, namun dalam arti yang lain."
"Aku masih belum mengerti."
"Gila karena ia memiliki kecerdasan di luar kewajaran, maka orang normal akan mengatakannya gila."
Nyi Dewi Renjani mengerutkan keningnya. Ia masih belum mampu mencerna maksud Nyi Permata Dewi.
"Oh... Aram Widiawan, kau sudah besar sekarang." Mata Nyi Permata Dewi mengeluarkan air mata. Ia menangis.
"Nyai rupanya mengetahui nama sahabatku itu, ya?" Melati berucap polos.
"Dia cucuku... anak dari murid tunggalku!" Ki Jalak, Nyi Dewi Renjani, Melati, dan beberapa pendekar yang berada dekat dengan mereka terpekik kaget.
Suara kaget bergema di barak golongan putih. Sebentar saja berita itu telah menyebar ke mana-mana.
Dengan sayu, Aram memandang wajah Si Pemabuk dari Selatan. Ternyata wajahnya cukuplah cakap. Ketika ia tertawa, tampak giginya yang jarang dan termakan usia. Rambutnya jarang, tetapi panjang tergerai sampai pundak, sehingga tampak lucu.
Si Pemabuk dari Selatan itu tertawa keras.
"Hahaha... inikah sosok pemuda yang begitu menggemparkan dunia persilatan? Aku tersanjung bisa berhadapan denganmu." Si Pemabuk menjura seraya meneguk tuak dari gucinya. "Glek... glek..."
Aram juga tertawa keras, lebih keras dari tawa Si Pemabuk dari Selatan. Tawa khas yang begitu bercampur aduk. Dalam suara itu terkandung sebuah penderitaan yang begitu luar biasa; suka, duka, cinta, segalanya menjadi satu. Dikerahkan dengan tenaga sakti mata-darah, dilambari dengan Ilmu Suara Geledek tingkat tertinggi. Jika hanya itu, mungkin masih mendingan. Aram juga menambahkan sebuah ilmu sebagai ciri khasnya sebagai Pendekar Seribu Diri. Ilmu itu bernama Aura Kematian, yang akan membuat semua orang mengikuti perasaan yang dikeluarkannya.
Suara tawa itu mengalun dan bergelombang, panjang, dan mendirikan bulu roma yang mendengarnya. Itu memang suara tawa aneh yang pertama kali didengar para hadirin.
Si Pemabuk dari Selatan berhenti tertawa. Ia mendelik menatap Aram. Gucinya sudah diturunkan, air matanya bercucuran. Tangan kirinya mendekap ulu hatinya yang terasa sakit, seolah ia sendiri yang mengalami penderitaan itu. Ia kagum bukan main mendengar "pameran tawa" yang begitu menakjubkan, sekaligus membuat dirinya tak mampu menahan tangisan. Bahkan hampir semua orang di situ menangis tersedu-sedu. "Gila, benar-benar gila anak itu!" Ki Jalak bersungut-sungut di tengah kucuran air matanya. Ia tak menyangka bahwa seorang datuk sepertinya tak tahan menerima suara tawa yang begitu menyedihkan itu. Ia melirik orang-orang di sekitarnya. Semua menangis tersedu-sedu, meramaikan lembah itu dengan suara tangisan.
Sepuluh ketua perguruan merdeka dan gerombolan kawan-kawan Aram yang begitu menyanjung Aram setinggi langit, jangan ditanya lagi. Mereka segera bersujud dan menangis tersedu-sedu. Jangankan para anak buah Kaisar Iblis yang berilmu lebih rendah, Kaisar Iblis sekalipun tak urung mengucurkan air mata. Iblis Langit menangis sedih. Ia teringat kedua muridnya yang telah mati, teringat betapa setianya mereka. Iblis Pembunuh Raga juga menangis. Ia teringat orang tua yang memberinya kesaktian di dalam penjara, teringat sewaktu dirinya dipecuti dalam penjara.
Setelah tawa berhenti, ia tersadar. Ia malu bukan main, tetapi ketika melihat rekannya, Iblis Pemakan Jantung, juga tidak jauh berbeda dengannya, ia sedikit lega. Ia tak habis pikir bagaimana seorang pemuda belia seperti itu memiliki tenaga dalam yang begitu luar biasa. Hampir tak masuk akal ada seorang pemuda yang memiliki tenaga dalam setinggi itu.
Si Pemabuk dari Selatan menatap wajah anak muda di depannya. Ia melihat sinar mata yang tenang, berwarna merah menyala-nyala, namun sangat dalam, seakan mata itu mengandung suatu kepedihan yang dalam. Tiba-tiba ia sadar bahwa anak muda ini memiliki kepandaian yang sulit diukur tingginya. Sekarang ia paham bahwa gerombolan pemuda pendatang baru di dunia persilatan itu bukanlah isapan jempol belaka. Jika anak buahnya saja dapat menggemparkan dunia persilatan dan berani menentang kekuatan Panji Telapak Perak, bagaimana dengan kemampuan ketuanya?
Ada rasa segan menyeruak dalam sanubarinya. Ia merasa gentar. Tapi, Si Pemabuk dari Selatan bukanlah jago kacangan. Cepat ia mengusir dan mengubur perasaan segan itu.
"Sepertinya aku harus langsung menggunakan jurus pamungkasku, kecuali aku ingin mampus!" Berpikir demikian, ia segera memasang kuda-kuda. Tangan kirinya ditelikung ke belakang, sementara tangan kanannya diangkat ke atas kepala dengan guci menghadap mulutnya. Itulah pembukaan dari Jurus Mabuk Tiada Akhir, jurus khas dari Si Pemabuk dari Selatan. "Ayo keluarkan senjatamu, bocah tampan, agar aku tak lagi sungkan bertarung denganmu!"
Aram tersenyum. "Haruskah aku menggunakan pedang?" pikirnya dalam hati. "Jika aku tak mengeluarkan senjata, jelas ia akan merasa tersinggung dan terhina. Aku tahu lelaki seperti ini; jika dia bilang hitam, tak peduli sejuta orang mengatakan merah pun, ia tak bakalan ambil pusing."
Di tengah ia menimbang-nimbang, tiba-tiba Si Pemabuk dari Selatan berkata lagi, "Bocah, apa kau menunggu belut berbulu, hah?" Ucapan itu cukup keras sehingga terdengar oleh semua orang. Tentu saja orang-orang yang hadir di situ tertawa. Ucapan Si Pemabuk dari Selatan itu agak janggal, sebab di mana pun adanya belut, tak ada yang berbulu, meski sudah berumur ribuan tahun juga.
Aram tersenyum geli. Ia tahu Si Pemabuk dari Selatan sedang berusaha memancingnya agar segera mengeluarkan senjata. Dengan mengangkat tangannya ke langit, seakan menggenggam suatu gagang pedang, Aram menurunkan tangannya. Benar saja, perlahan-lahan dari udara yang digenggamnya, muncul suatu gagang pedang, terus ke batang pedang, sampai ke mata pedang. Pedang itu adalah pedang yang paling jarang dilihat oleh semua orang persilatan: pedang bermata sembilan. Hanya sebagian orang saja yang mengenal pedang itu, ialah Pedang Ekor Rubah.
Melihat lawan sudah mengeluarkan senjata, tanpa banyak kata lagi, Si Pemabuk dari Selatan segera menggeloyor seperti orang mabuk, lalu langsung menyerang Aram ke bagian tubuh yang mematikan. Dalam beberapa gebrakan awal, Aram dapat mengukur kehebatan lawan. Kemampuan Si Pemabuk dari Selatan benar-benar hebat bukan alang kepalang, mungkin seimbang dengan dirinya.
Dua puluh jurus berlalu, guci tanah liat Si Pemabuk dari Selatan tak bisa mendesak Aram. Bahkan dilihat lebih teliti, sedikit demi sedikit Aram mulai menguasai pertarungan. Tapi, Si Pemabuk dari Selatan tidak mengalami kesulitan. Dengan cepat ia menggeloyor ke kiri, dengan menjadikan kaki kiri sebagai poros untuk memutar tubuh. Si Pemabuk dari Selatan segera berada di belakang tubuh lawan dan memukulnya dengan telapak kiri. "Plak!" Aram terhuyung ke depan. Si Pemabuk dari Selatan tak memberikan kesempatan kepada lawan untuk mengukuhkan kuda-kuda. Kini Aram dalam kesulitan. Ini pertarungan paling berbahaya dan menyenangkan seumur hidupnya sesudah ia keluar dari jurang. Ketika bertarung dengan murid Iblis Langit Selatan atau dikenal dengan Si Tangan Telengas Gandapura, maupun ketika bertarung dengan yang lainnya, pertarungan tidaklah sehebat ini. Tetapi sekarang ini ia harus bertarung dengan mengerahkan segenap kemampuannya. Dan lawan yang dihadapi, meski sudah tua usia, namun ilmu silat dan daya tahan tubuhnya sangat kuat.
Tiba-tiba Si Pemabuk dari Selatan menarik diri, melompat mundur agak jauh ke belakang. Semua yang hadir merasa heran. Tidak biasanya seorang yang sudah unggul melepaskan lawan begitu saja. Mengapa?
"Ilmu pedang apa itu?" Si Pemabuk dari Selatan bertanya sambil melihat bajunya yang sobek dari perut sampai ke dada. Kini pahamlah para hadirin mengapa Si Pemabuk dari Selatan melompat mundur.
"Jurus Pedang Satu Garis," Aram menjawab.
Si Pemabuk dari Selatan manggut-manggut. Kembali ia menerjang Aram. Kali ini ia menyerbu dengan Jurus Guci Arak Tumpah Ruah, jurus keenam dari Jurus Mabuk Tiada Akhir. Hawa panas keluar dari guci Si Pemabuk dari Selatan. Aram kembali menurunkan pedangnya, menunjuk bumi. Si Pemabuk dari Selatan kebingungan, namun dengan nekad ia meneruskan serangan. Tampaknya pelipis Aram sebentar lagi akan jebol terkena hajaran guci. Dalam detik terakhir itu, Aram kembali menyabetkan pedangnya ke langit. Si Pemabuk dari Selatan terkejut. Ia tak menyangka jurus sesederhana itu tak dapat ia jebol. Ia mundur dengan menggelinding ke belakang.
Orang-orang terkejut melihat Si Pemabuk dari Selatan begitu terdesak. "Hanya dengan tebasan lurus ke atas, bukankah itu hanya menggelikan penonton saja?"
"Ikh... Jurus Pedang Satu Garis..." pekik seorang tua dengan janggut sedagu. Kakek itu berjubah putih dengan pedang panjang di punggungnya. Bajunya cukup aneh, kaum persilatan mengenalnya dengan sebutan Ksatria Matahari Terbit. Sesuai dengan sebutannya, kakek itu memang berasal dari negeri Jepang. Di negerinya, ia terkenal sebagai orang yang paling piawai dalam jurus pedang Samurai.
Dengan penasaran, Si Pemabuk dari Selatan menggunakan Jurus Pamungkas dari rangkaian Mabuk Tiada Akhir. "Wursssshhh..." semburan tuak menerjang Aram. Dengan sigap, Aram memutarkan pedangnya satu putaran. "Wung... trang... trang... tring... Crasshh... Curss..." Meski hanya satu putaran, ternyata jurus itu mampu menahan semua semburan tuak. Benar-benar luar biasa. Ketika tuak mendekatinya, Aram segera mengerahkan tenaga dalam penyedot ke dalam pedangnya, sehingga tuak yang berhamburan tersedot layaknya logam ke besi sembrani.