Chapter 38
Dengan sekali sentakan, tuak itu dibuang menuju tiang panggung. Meski dari besi, ternyata tiang itu berlubang-lubang, membuktikan bahwa semburan itu menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi.
Si Pemabuk dari Selatan mengeluh penasaran, sedangkan Aram hanya tersenyum tipis saja.
"Baik, aku mengaku kalah, Bocah!" Akhirnya, Si Pemabuk dari Selatan mengaku kalah.
Semua orang terpana; benar-benar sebuah kejutan yang luar biasa. Seorang datuk yang telah malang melintang di dunia persilatan kalah dengan mengenaskan di tangan seorang pemuda, apalagi hanya dengan beberapa gebrakan saja.
Namun, sepertinya kejutan itu belum selesai karena tiba-tiba penonton kembali disuguhi kejadian yang janggal. Tampaklah Aram menekuk lutut dan bersujud layaknya seorang murid kepada gurunya.
"Kek, mohon terimalah aku menjadi muridmu!" ucapnya tegas dan jelas.
Jika bukan Aram, siapa lagi orang yang akan bertingkah seperti itu? Semua anak buah Aram terjengkang kaget dari bangkunya. Hanya empat orang yang tersisa, yakni Si Pengabar Langit, Amuk Samudra, Jempana, dan ayah angkat Aram, Ki Asmaradanu.
"Wah, penyakit Ketua bertambah parah, Kek."
"Kek, Ketua kumat!" Secara berbarengan Jempana dan Amuk Samudra berkata kepada Ki Asmaradanu.
"Hahaha... Bapaknya sinting, anaknya gila. Tidak aneh, tidak aneh," jawab Ki Asmaradanu seenaknya.
Mendadak...
"Aku yang menyuruhnya melalui ilmu penyampai suara." Jempana dan Amuk Samudra berpaling. Dengan santainya, Si Pengabar Langit tersenyum.
"Gubrak!" Keduanya menyusul yang lain. Si Pengabar Langit dan Ki Asmaradanu bertatapan.
"Hahaha!" Keduanya terbahak-bahak.
Lalu, bagaimana dengan para hadirin? Semuanya melongo. Mulut mereka terbuka lebar; seandainya hari itu ada kelelawar, barangkali akan tertelan masuk tanpa rintangan.
"Itukah yang kau maksudkan dengan kecerdasan di atas normal itu, Nyai?" Ki Jalak tergugu.
Nyi Permata Dewi mengangguk sedih. "Benar."
"Apakah memang tidak dapat disembuhkan lagi, Eyang?" Melati bertanya sedih.
"Bisa, tapi..."
"Tapi apa?" sela Nyi Dewi Renjani.
"Kau ingat tindakanku sebelum aku masuk ke dalam golongan putih sehingga aku mendapat gelar Dewi Pemanah Asmara?" Ki Jalak dan Nyi Dewi Renjani merenung, mengingat masa-masa muda mereka. Akhirnya, mereka mengangguk.
"Waktu itu, aku mempelajarinya hanya sampai tingkat lima. Tindakanku begitu abnormal hingga aku bertemu dengan tabib sakti yang menyarankan agar aku menghapus ilmu itu."
"Memang waktu itu kau mempermainkan seluruh dunia persilatan sampai dunia persilatan tak jelas harus dibawa ke mana. Lalu kau berubah seratus delapan puluh derajat," jawab Ki Jalak.
"Benar, aku berubah menjadi wanita haus birahi karena memang ilmu itu hanya dapat dihilangkan dengan air mani perjaka," dengan sedih Nyi Permata Dewi berkata.
"Lalu, mengapa harus begitu banyak?" sela Nyi Dewi Renjani.
"Aku sembuh setelah aku menyetubuhi seratus lelaki perjaka. Sementara aku memiliki banyak korban, tak lain karena mereka menipuku dengan mengatakan bahwa sebenarnya mereka masih perjaka. Tapi, aku tak yakin jika seratus gadis perawan dapat menyembuhkannya karena memang anak itu telah mencapai tingkat pamungkasnya, setitik lagi menuju puncaknya," ralat Nyi Permata Dewi.
Melati terpekik kaget. Harapan yang ada sejak tadi kini kandas lagi. Melati tak menyangka bahwa riwayat Nyi Permata Dewi begitu suram.
"Apa maksudmu?" tanya Si Pemabuk dari Selatan.
"Jadikan aku muridmu!" Aram menegaskan.
"Wah, wah, selamat! Selamat! Kau telah memiliki murid yang hebat, Setan Tuak!" Suara berat parau menghentikan obrolan kedua orang itu.
Keduanya berpaling. Ternyata yang berbicara adalah Kaisar Iblis sendiri. Ketika Aram mengatakan hendak menjadi murid Si Pemabuk dari Selatan, Kaisar Iblis menyangka pemuda itu hanya hendak menolong muka Si Pemabuk dari Selatan, makanya ia hendak menjadikan itu sebuah kenyataan. Setelah mendengar ucapan Kaisar Iblis, Si Pemabuk dari Selatan menggerutu dalam hati.
"Bocah ini, berniat menolong mukaku, malah menjadikannya sebuah kesulitan yang lain." Segera Si Pemabuk dari Selatan membangunkan Aram dari sujudnya. Bagaimanapun, tak mungkin ia mengelak lagi dalam keadaan seperti ini.
Bahkan tidak dalam mimpi sekalipun Kaisar Iblis dan Si Pemabuk dari Selatan menyangka bahwa Aram berkata dengan sungguh-sungguh dari hati terdalamnya. Benarlah memang Si Pengabar Langit menyuruhnya, tapi Si Pengabar Langit hanya berkata, "Mungkin ia tepat untukmu."
Sebagai orang yang diberi kecerdikan luar biasa, Aram juga mengerti jalan pikiran Kaisar Iblis. Diam-diam ia berterima kasih kepadanya karena telah membantu dia diterima menjadi murid Si Pemabuk dari Selatan. Dengan cepat Aram memegang tangan Si Pemabuk dari Selatan dan melesat menuju baraknya. Ia berpapasan dengan dua sosok bayangan lain dari barak Golongan Putih. Aram kaget, begitu pula dengan Si Pemabuk dari Selatan, melihat mereka dicegat dua sosok berwujud perempuan. Yang pertama perempuan cantik setengah baya, dan yang satunya perempuan cantik sebaya dengan Aram.
"Dewi Pemanah Asmara!"
"Melati!" Pekikan kaget bersamaan terlontar dari kedua mulut sosok bayangan lelaki itu. Mereka berpandangan.
"Cucuku..." Perempuan paruh baya itu bersuara parau menahan haru.
Aram dan Si Pemabuk dari Selatan tertegun. Seketika Aram memandang wajah perempuan paruh baya itu. "Nenek!" Aram memekik seperti anak kecil dan memeluk perempuan itu yang ternyata adalah Nyi Permata Dewi. Dua orang itu berpelukan erat sampai keduanya dikejutkan oleh suara teriakan menggema.
"Anjing kurap! Naiklah ke atas panggung ini!"
Mereka berpaling. Tampaklah Iblis Langit Selatan berdiri angker di atas panggung.
"Nek, itulah pembunuh Ayah dan Ibu!" Aram menggeram. Tanpa menunggu reaksi dari neneknya, Aram menjambret tiga manusia itu dan membawanya ke barak di mana Ki Asmaradanu duduk santai.
"Ayah, tolong urus yang di sini." Aram meletakkan Nyi Permata Dewi, Melati, dan Si Pemabuk dari Selatan di depan ayahnya. Mereka berdiri mematung karena tertotok. Sekali kibasan tangannya, tiga orang itu segera terlepas dari totokan.
Aram menjejakkan kakinya dan melambung ke atas. "Anak gila, cucumu memang gila, Setan Betina!" maki Si Pemabuk dari Selatan.
"Hihihi," Melati dan Nyi Permata Dewi tertawa cekikikan.
"Seharusnya kau memanggilnya murid, Setan Tuak," Ki Asmaradanu membenarkan ucapan Si Pemabuk dari Selatan.
"Bukankah tadi itu hanya untuk menyelamatkan mukaku yang ganteng ini saja, Sinting?"
"Salah!" Ki Asmaradanu dan Nyi Permata Dewi membentak.
"Memangnya jika dalam keadaan biasa kau akan menerima murid yang edan-edanan seperti itu, Setan Tuak? Kau salah jika menganggap itu hanya untuk menyelamatkan mukamu. Kaisar Iblis juga tertipu; dia malah membantu apa yang diinginkan anak itu," Nyi Permata Dewi berduet dengan Ki Asmaradanu memberondong Si Pemabuk dari Selatan. Diberondong seperti itu bukan membuat Si Pemabuk dari Selatan mengerti, malah membuatnya pusing. Saking pusingnya, ia memilih menangis menggerung-gerung.
Setelah menjejakkan kakinya, Aram melambung ke langit. Jika hanya empat atau lima tombak, itu biasa; tetapi jika puluhan hingga ratusan tombak ke udara, itulah luar biasa. Aram melambung tinggi, semakin tinggi, lalu menghilang di balik awan. Para hadirin kali ini menyaksikan pameran ilmu peringan tubuh yang benar-benar mendirikan bulu roma. Semuanya berdiri menatap langit.
Langit kali ini benar-benar marah. "Jelegar!" "Khiaaa!" Pekikan laksana naga melengking mengalahkan suara guntur yang menyalak. Tiba-tiba awan mendung, rintik hujan membasahi bumi; benar-benar kejadian yang langka.
"Wung!" Gaungan bak suara jutaan tawon bergema. Laksana batu meteor jatuh ke bumi, Aram meluncur dengan kecepatan yang begitu tinggi. Cahaya merah menyelimuti tubuhnya. "Duarsh!" Tiba-tiba tepi panggung meledak dahsyat; debu mengepul tinggi. Para hadirin terbius terpesona. Setelah debu menghilang, seorang pemuda berjubah cokelat berdiri angker. Matanya merah membara memancarkan dendam, hawa pembunuhan menebar ke mana-mana.
Bajunya berkibar-kibar angker, rambut panjangnya berdiri, menandakan bahwa pemuda itu sedang mengerahkan tenaga dalam sampai puncaknya. "Terimalah kematianmu, Iblis!" Teriakan melengking terdengar. "Duarsh!" Dua buah tenaga sakti kembali menggoncang bumi. Aram mundur setindak, Iblis Langit Selatan mundur lima langkah ke belakang.
Pada saat berbarengan, Iblis Langit Selatan merasa ada orang menyerang dirinya. Ternyata tanpa membiarkan lawan mengokohkan kuda-kuda, Aram kembali memukul. Iblis Langit Selatan diam saja. Saat berikutnya, dia merasa hawa pukulan itu ganas dan bisa menewaskannya. Dia tak bisa diam begitu saja menanti maut. Cepat dia melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga sakti Selaksa Racun Langit dan dua tangannya menangkis sekaligus menolak pukulan yang mengarah ke dada dan lehernya.
"Des! Des!" Tangan dua orang itu beradu di udara.
Iblis Langit Selatan tidak menduga; ternyata pukulan lawan hanyalah pancingan belaka. Saat berikutnya, jari lawan menerobos masuk dan akan mencolok kedua matanya. Cepat ia mengegos. Tapi, tetap saja Iblis Langit Selatan terdorong tiga tindak ke belakang karena kaki lawan menendang ulu hatinya.
"Ilmu orang ini benar gila-gilaan. Pukulan yang mengarah ke kiri mendadak bisa berubah ke kanan, atas menjadi bawah dan sebaliknya. Memukul berubah menjadi sodokan, sodokan berubah menjadi tendangan," pikir Iblis Langit Selatan.
"Cih, ternyata kemampuanmu lebih tinggi dari si laknat Gunawan dan si cabul Widia Seta, Bocah!" Iblis Langit Selatan mencoba memanas-manasi Aram.
Benar saja, mendengar ucapan menghina dan kasar itu, Aram telah terbakar amarahnya hingga melewati puncak kesabarannya. Bagaikan api disiram minyak, segera ia menggeram.