Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 39

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 39

Dalam marahnya, secara spontan Aram memasang kuda-kuda dan menaikkan kaki kanan sambil melakukan gerak putaran dengan tangan kanan yang berjurusan dari bawah ke atas dari arah luar. Tangan kirinya ditarik ke depan dada sambil menghimpun tenaga dalamnya.

*Sret!*

Sinar biru keluar dari telapak tangannya.

Aram memukul menggunakan segenap tenaga Sakti Mata Darah yang ia miliki. Bak angin prahara, sinar itu menerpa apa saja yang menghadang di depannya.

Iblis Langit Selatan pun memukul dengan seluruh tenaga sakti yang ia miliki. Dia yakin pukulannya akan menghadang tenaga sakti dari pemuda itu.

Terdengar suara ledakan keras.

*Duar!*

Kembali terdengar ledakan dahsyat, debu mulai kembali mengepul tinggi. Bisa dibilang ini adalah pertarungan terdahsyat yang terjadi pada hari itu.

Aram terhuyung-huyung mundur, begitu pula dengan Iblis Langit Selatan. Tanpa menanti lebih lama lagi, Aram kembali menggerakkan tangan ke bawah berputar-putar. Debu yang tadi mengepul di sekitar tubuhnya kini bergolak dan beterbangan mengelilingi tubuhnya.

Lalu tangan itu ditarik ke atas sejajar dengan pinggang. Telapak tangannya diputar ke muka dengan dikelilingi pendar cahaya merah membara. Debu-debu yang bertebaran tertarik ke dalam sinar merah membara itu, lalu membentuk bola besar di tangannya. Kemudian ia mendorong, "Jaga nyawamu!"

Gumpalan debu berpendar cahaya merah itu meluncur deras ke arah Iblis Langit Selatan. Ilmu itu merupakan salah satu ilmu dari Pegunungan Himalaya yang sebagian daerahnya selalu tertutup salju.

Terpisah lima tombak, Iblis Langit Selatan berdiri menatap lawannya. Ia melihat semua gerakan tadi. Dengan sebat, ia memutar tubuh dalam putaran perlahan. Dua tangannya mengembang ke samping, memutar dalam bentuk lingkaran besar dari arah bawah ke atas.

Bagaikan angin prahara saja, debu itu berubah menjadi gumpalan baju pelindung di sekitar tubuh Iblis Langit Selatan. Jangankan tangan, besi saja akan hancur lebur bila terkena pusaran pelindung tubuh itu.

Gumpalan debu berselimut cahaya merah itu meluncur dan menabrak tubuh Iblis Langit Selatan.

*Cur...*

Bagaikan batu yang dilemparkan ke dalam samudra saja, gumpalan itu menghilang dari pandangan semua orang.

Pertarungan berlangsung semakin seru dan semakin lama semakin berbahaya. Jurus yang digunakan untuk menyerang lawan semakin beragam. Hingga pada suatu kesempatan, Aram menggerakkan kedua tangannya dan mengangkat sebelah kakinya bergantian.

"Saatnya menerima kematianmu, Iblis!" teriak Aram keras.

Iblis Langit Selatan terkesima melihat jurus aneh itu. Terpaksa ia menghadapinya dengan menyalurkan segenap tenaga sakti Racun Langit pada kedua tangannya. Tetapi ternyata serangan Aram itu hanya pancingan saja.

*Wir... Crak! Blar!*

Sebersit sinar merah membara melesat dari mata Aram. Terkejutlah Iblis Langit Selatan bukan main. Menghindar tidak akan sempat, menahan dengan kekerasan dari tubuhnya juga tidaklah mungkin, sebab semua tenaganya terkumpul di tangan.

Dengan pasrah ia menerima sinar itu dengan kepalanya. Kepala berikut tubuhnya tiba-tiba meledak dahsyat. Jika yang hancur hanya kepalanya mungkin tak terlalu mengenaskan, tapi jikalau seluruh tubuhnya berserakan tak karuan, itu sungguh sadis.

Aram termenung. "Hoeek... hoekk!" Aram muntah darah. Segera ia kembali ke baraknya tanpa menghiraukan yang lain. Ia langsung bersila untuk menenangkan darahnya yang bergejolak.

Pertarungan terus berlanjut. Para pendekar terus bergantian melangsungkan pertarungan, baik karena dendam, ingin terkenal, maupun permusuhan. Mereka bertarung di tengah lapangan karena memang panggung itu telah hancur berantakan.

Lembayung kini mulai memayungi Lembah Kematian. Waktu terus bergulir tak bisa dihentikan hingga malam telah menjemput. Bau anyir darah tercium ke mana-mana. Entah telah berapa jiwa yang melayang gara-gara pertarungan di atas panggung. Jerit kematian dan beradunya tenaga sakti semakin santer terdengar.

Seorang pemuda tampan tengah bersemadi. Uap merah mengepul tinggi dari tubuhnya. Di sekelilingnya, tiga orang datuk persilatan menatapnya.

"Sudah lebih dari dua belas kentungan ia bersemadi. Apa mungkin lukanya tak bisa disembuhkan hingga ia bersemadi selama ini?" *Glek, glek...* Seorang kakek tua berkata sambil meminum tuak dari gucinya.

"Entahlah, mungkin pukulan si Iblis mengandung racun. Mengapa kau diam saja, Setan Betina?" temannya yang lain menjawab, yang tak lain adalah Ki Asmaradanu atau Si Sinting dari Timur.

"Setan Gila, kau diamlah! Aku sedang berpikir," dengan sewot Nyi Permata Dewi menjawab.

"Cis! Apa sih yang kau pikirkan?"

"Aku sedang menimbang apakah ia sedang menghimpun Tenaga Bayangan atau bukan."

"Apa itu Tenaga Bayangan?"

"Tenaga yang diciptakan oleh pikiran, yang dibuat dari tanah, air, api, dan angin."

"Untuk apa?"

"..."

"Ger! Mengapa kau diam?" Ki Asmaradanu jengkel.

"Apa hakmu menanyaiku, hah?"

"Dia anak angkatku!"

"Aku neneknya!"

"Ibu!" Seperti anak kecil saja Ki Asmaradanu memeluk Nyi Permata Dewi. Karena jarak mereka berdekatan, Nyi Permata Dewi tidak bisa menghindar dari pelukan itu.

"Apa-apaan ini?" Nyi Permata Dewi membentak.

"Kalau kau neneknya dan aku ayahnya, maka kau adalah ibuku!" Ki Asmaradanu ngotot.

"Hahaha! Anak bangkotan dan ibu anak kecil berpelukan!" Dengan geli, Si Sinting dari Selatan tertawa terbahak-bahak.

"Lepaskan, aku malu!"

"Mengapa harus malu, Ibu?"

"Berapa sih usiamu, hah?"

"Dua ratus lima puluh kalau tidak salah."

"Dan kau tahu berapa usiaku?"

"Seratus tahun, tapi kau terlihat seperti wanita usia tiga puluh tahun."

"Jadi lepaskan aku!"

"Mengapa?"

"Karena usiamu lebih tua dariku!"

"Tidak mau, sebelum Ibu memanggilku anak!"

"Ogah!"

"Ya sudah, kalau begitu aku tidak akan melepaskan pelukanku!"

Begitulah mereka bercekcok seperti anak kecil, yang satu meminta jadi anaknya dan yang satu menolak. Para hadirin keheranan melihat Dewi Pemanah Asmara berpelukan dengan Si Sinting dari Timur. Meski malam pada kentungan kedelapan sedikit gelap, namun berkat penerangan obor-obor dan mata yang terlatih, tidaklah sulit melihat kejadian itu.

Untuk sejenak perhatian para hadirin teralihkan. Bisik-bisik terdengar bersahut-sahutan. Melati yang mendengarkan kini paham mengapa Nyi Dewi Renjani yang terlihat lebih tua dari Nyi Permata Dewi menaruh hormat kepada Nyi Permata Dewi. Melati juga kaget mendengar bahwa Ki Asmaradanu telah mencapai usia dua ratus lima puluh tahun. Jelas itu merupakan pencapaian yang luar biasa, padahal dari luar Ki Asmaradanu terlihat hanya berusia tujuh puluh tahunan.

"Ya, baiklah, aku mengakuimu sebagai anak angkat," dengan pasrah Nyi Permata Dewi atau biasa dipanggil Dewi Pemanah Asmara itu mengalah.

"Hehe..." Dengan berseri-seri Ki Asmaradanu melepaskan pelukannya.

"Apa akibat dari menghimpun Tenaga Bayangan?" Di sampingnya seseorang berkata.

Semua sahabat maupun anak buah Aram terperanjat melihat seorang pemuda berjubah cokelat dengan peralatan rubah di sana, sementara seorang lagi sedang bersemadi. Apakah mungkin pemuda itu memiliki seorang kembaran? Nyi Permata Dewi tertegun. Dengan tenang ia menjawab.

"Tenaga dalam orang itu bisa mencapai tingkatan 'melepas tanpa lepas'. Tenaga dalamnya bahkan akan melebihi orang yang berusia seribu tahun."

Semua mata terbelalak kaget. Apakah itu kenyataan ataukah hanya bualan, semuanya tidak tahu. Tapi jika Dewi Pemanah Asmara yang mengatakannya, mau tak mau semuanya berpikir dua kali.

"Bukankah itu bagus?" Ki Asmaradanu berkata.

"Tidak, karena ilmu itu seperti pedang bermata dua. Kemungkinan terbaik, ia akan pingsan selama tiga purnama lebih."

"Kemungkinan terburuk?" seorang gadis cantik dengan mata berkaca-kaca bertanya. Semua orang di tempat itu berpaling. Gadis itu berwajah cantik dengan rambut dikuncir kuda. Matanya sipit menandakan ia bukanlah orang pribumi.

"Ia akan mati. Karena setelah ilmu itu dilepaskan, jika tubuh si pelaku tidak kuat menahan, bisa-bisa hancur berantakan."

"Oh, Engkoh Aram..." Gadis itu menangis sedih.

Tiba-tiba gadis itu merasakan ada yang mengelus kepalanya.

"Jangan menangis, Thian Hong Li. Bersikaplah tegar." Thian Hong Li berpaling. Senyuman lembut milik kekasihnya sedang menatapnya. Tapi entah mengapa, Thian Hong Li merasakan bahwa orang itu bukanlah Aram seperti yang diduga yang lainnya.

"Terima kasih," jawabnya lirih.

"Sudah malam rupanya," seseorang berkata. Serempak gadis itu berpaling dan terpekik.

Ternyata yang berbicara itu adalah Aram yang telah tersadar dari semadinya. Wajahnya merah seperti kepiting rebus yang baru diangkat.

"Duduklah..." Entah kepada siapa ia berkata. Serempak semua orang yang mengelilinginya bertatapan.

"Hep! Fyuh... Ternyata benar apa yang kau pikirkan, Ketua." Ternyata Aram menyuruh sosok yang mirip bagai dibelah pinang dengan dirinya itu untuk duduk di hadapannya.

"Bagaimana dengan 'kejutan' itu?" Aram berkata.

"Sudah saya urus, Ketua," duplikat dari Aram berkata.

"Bagaimana dengan Upacara Langit?"

"Akan diadakan tepat tengah malam nanti."

"Ada masalah lain?"

"Saya mendapat tahu siapakah sebenarnya mempelai lelaki yang mempunyai hajat saat ini."

"Oh, benarkah? Siapakah dia?" Mata Aram berbinar.

"Orang mati lama yang menjadi rebutan karena memiliki harga," duplikat itu berkata misterius.

"Warna apa bayangan itu?"

"Kuning mengkilap."

"Kerja bagus, Rehan. Bukalah topeng lapis pertamamu," Aram berbisik lirih.

Duplikat dari Aram yang ternyata bernama Rehan itu memegang bagian bawah lehernya. Ia menariknya ke atas, maka muncullah seraut wajah baru yang tampan dan berwibawa. Para anggota lain tidak mengenal seraut wajah itu, terasa begitu asing.

Pada awalnya, saat mendengar nama Rehan, anggota lain segera teringat pada wajah pendamping kiri Ketua yang tampan, berhidung bangir dengan mata lentik dan tutur bahasa yang sopan layaknya seorang bangsawan. Tapi begitu melihat wajahnya sekarang, mau tak mau semua orang meralat kembali pikirannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment