Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 40

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 40

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kelakuan aneh pemuda itu.

Pemuda itu meneteskan cairan dari sebuah ranting pohon yang ia selipkan di pinggang ke matanya. Mata merahnya kini perlahan memudar dan menghilang....

"Akh...," semuanya terpekik kaget. "Pohon apa yang rantingnya bisa mewarnai mata?" pikir mereka dalam hati.

"Kita tunggu sampai pelaksanaan Upacara Langit dimulai. Koordinasikan para lebah untuk bersiaga. Setelah Upacara dimulai, suruh membuka lorong melarikan diri."

"Bagaimana dengan para serangga?"

"Serangga mana yang kau maksudkan?" Rehan tertegun. Akhirnya ia teringat bahwa para serangga juga memiliki jenis-jenis berbeda.

"Serangga Pembunuh...."

"Siapkan senjata! Bila tanda biru telah berpijar, kepung mangsa! Jangan satu pun yang terlepas."

"Bagaimana dengan madu yang telah terkumpul?"

"Angkut, ketika tanda kuning berpijar."

"Yang lainnya?"

"Itu urusanmu..."

"Baik, kalau begitu saya pamit. Permisi..."

Wuss....

Bayangan itu menghilang....

"Apa yang kau rundingkan barusan, Engkoh...?" Thian Hong Li bertanya, mewakili yang lainnya.

Aram tersenyum mesra, "Nanti juga kau akan tahu, Dinda...." Aram, yang baru tersadar dari semadinya, masih belum sadar sepenuhnya bahwa di sana ada seorang gadis yang mendambakan cintanya.

Gadis itu diam-diam cemburu mendengar orang yang dikasihinya memanggil "Dinda" kepada seorang gadis yang bukan dirinya. Kini ia mengerti mengapa sewaktu para datuk membicarakan bahaya terhadap nyawa Aram, ia begitu terpukul bahkan menangis.

Wajahnya tersenyum, tetapi hati menangis. Cinta memang kejam....

Mengapa harus ada persaingan yang sekiranya dapat menghancurkan yang lainnya?

Mengapa harus ada kebahagiaan di antara tangis...?

Cinta memang pantas mendapat makna, "satu kata seribu makna."

Nyi Permata Dewi tertegun. Diliriknya gadis di sampingnya. Meski wajahnya tersenyum, Nyi Permata Dewi telah menangkap ada hati yang retak dan patah.

Ia merangkul bahu gadis itu dan mencium keningnya.

"Hei bocah, apa kau tak memandang sebelah mata pun kepada kami, hah?" Ki Asmaradanu jengkel.

Aram berpaling....

Ia tertegun. Setelah merenung sebentar, ia paham maksud ucapan Ayah Angkatnya itu.

Ia sadar bahwa ada seorang gadis yang merasa sakit dengan ulahnya barusan.

"Ayah, Guru, Nenek, maafkan Ananda...." Aram menjura.

"Haha...."

"Apa saat ini pun kau akan memanggilku Guru, heh?" Si Pemabuk dari Selatan berkata.

"Tentu saja, Guru! Memangnya saat di panggung aku seperti kelihatan bercanda?"

"Bukan itu maksudku, bocah. Apa kau tak malu mengangkat seorang guru yang dapat kau kalahkan?"

"Hahaha.... Guru tidak selalu harus Ilmu Silat, Guru. Kakak Angkat juga sudah merestui."

"Siapakah Kakak Angkatmu itu, Aram?" Nyi Permata Dewi menyela.

"Saya, yang rendah Sobar Amerta, Si Pengabar Langit, memberi hormat kepada Ayah, Nenek, dan Orang Tua gagah sekalian." Di belakang Thian Hong Li, seorang lelaki tampan dengan luka di antara kedua alisnya menjawab.

Nyi Permata Dewi menatap Si Pengabar Langit dan tersenyum.

"Kau memiliki seorang kakak yang luar biasa cerdas, cucuku...."

"Haha... Nenek terlalu menyanjungku..., padahal aku tak ada sekuku hitamnya pun di hadapan adikku ini, apalagi dengan ilmu rubah bersiasatnya, aku semakin tak berdaya." Nyi Permata Dewi dan Si Pemabuk dari Selatan terperanjat, kecuali Ki Asmaradanu yang sudah mengetahuinya.

Pikiran mereka melayang pada Si Rubah Seribu Wajah yang menjadi korban bulan-bulanan kaum rimba hijau, yang membuat Ki Asmaradanu menjadi seperti orang sinting sehingga dimasukkan ke dalam golongan merdeka.

Wajah Nyi Permata Dewi pucat, sepucat mayat. Tubuhnya gemetar....

"Cucuku....," Nyi Permata Dewi tersendat.

"Ya, ada apa, Nek...?" Aram keheranan.

"Dalam satu tahun ini, kuharap kau sudah menyempurnakan Tenaga Sakti Mata Darah hingga mencapai tahap ada dan tiada..., sebelum kau... sebelum kau...."

"Sebelum apa, Nek?" Aram kebingungan.

"Sebelum engkau berubah menjadi gila dan membahayakan semua orang persilatan.... Ketahuilah... ketahuilah, hanya dengan mempelajari Tenaga Sakti Mata Darah saja engkau dapat membolak-balikkan dunia persilatan dengan kecerdasanmu, karena... karena ilmu itu dapat membangkitkan sel-sel dalam otakmu sehingga bekerja sepuluh kali lipat dari manusia biasa. Kini... kini kau malah mempelajari Ilmu Rubah Bersiasat... Maka... maka kau...." Nyi Permata Dewi tak sanggup lagi berkata-kata. Ia menangis menggerung-gerung.

Aram tertegun. Tak diduganya, ilmu yang ia pelajari begitu berbahaya. Kini ia mengerti sebab mengapa dengan mudah ia dapat mempelajari ilmu-ilmu dalam Jurang, padahal menurut Ki Asmaradanu, ilmu-ilmu itu tak akan bisa dikuasai selama sepuluh tahun.

Ia dapat melahapnya hanya dalam rentang waktu dua tahun.

"Apakah ilmu itu tak dapat dibuang, Nek?" Yang bertanya adalah Thian Hong Li.

"Bisa... bisa.... Dulu aku mempelajarinya baru sampai tingkat lima, dan aku memerlukan seratus perjaka untuk membuang ilmu itu.... Jika sudah dipelajari sampai tingkat pamungkas, aku tak tahu berapa gadis yang harus dikorbankan....," dengan isak tangis, Nyi Permata Dewi menjawab.

Betapa perihnya hati Thian Hong Li....

Ia berkata dengan bercucuran air mata: "Engkoh..., aku... aku akan rela bahkan akan membantumu mencari gadis-gadis lain untuk membuang ilmu itu. Aku tak ingin terjadi suatu apa pun terhadapmu. Kini setidaknya engkau sudah mendapatkan dua gadis...."

Thian Liong terkejut. Tak diduganya adiknya akan berkata seperti itu.... Sementara Aram hanya mengerutkan kening saja.

"Anak manis..., betapa mulianya hatimu.... Apakah Cucuku ini sudah memiliki dua kekasih hati?" Nyi Permata Dewi berkata lembut.

"Itu...." Thian Hong Li menunjuk Melati yang sedang melamun.

Semua orang berpaling, menuju satu arah yang ditunjuk.

Melati tertegun melihat semua orang memandangnya.

"Ekh... Akh... Ada apa?" Dengan kikuk ia memandang sana-sini....

Entah siapa yang mengomando, semuanya kini tertawa, melupakan ketegangan dan kesedihan tadi.

Mendadak....

"Ekh, lihat! Ketua Sepuluh Perguruan Merdeka hilang!" Seruan yang lumayan keras dari barak Golongan Merdeka. Kegaduhan kini merebak, bisik-bisik bagai tawon terdengar di mana-mana.

Barak Golongan Hitam dan Golongan Putih juga dibuat heboh. Mereka kagum, gemas, heran, dan sebagainya dengan tingkah laku ketua sepuluh perguruan yang semaunya sendiri. Mereka datang secara mendadak, pergi juga tak ketahuan rimbanya.

Pertarungan terus berlanjut hingga malam telah semakin tinggi, sampai pada puncaknya. Sorak-sorai belumlah surut, semua yang belum kebagian harap-harap cemas menunggu kesempatan selanjutnya.

Tetapi ternyata harapan mereka tak terlaksana karena saat itu Pembawa Acara pun berseru, "Berhubung waktunya sudah hampir mendekati waktu upacara sembahyangan, maka pertandingan adu kepandaian dihentikan dahulu. Harap para hadirin suka memaafkan. Dan sekarang akan dimulai upacara sembahyang suci untuk meresmikan berdirinya perkumpulan Panji Telapak Perak." Pembawa Acara itu bersuit rendah tiga kali, memberikan isyarat kepada anak buahnya.

Tak berapa lama, iringan gadis telanjang dan pemuda telanjang maju ke beberapa barak. Di tangan kanan mereka, mereka membawa sebuah batok yang terbuat dari buah maja, sedangkan tangan kirinya mereka membawa sebilah pisau yang tajam.

"Upacara sembahyang suci akan segera dimulai. Sebelumnya, akan kami minta setiap tamu untuk menusuk tangannya dan mengucurkan darahnya ke dalam mangkuk yang akan diantarkan para anggota kami, sebagai lambang kehadiran para saudara sekalian di lembah ini."

Segera saja, para gadis dan pemuda telanjang itu mengelilingi barak. Di barak Golongan Putih, orang-orangnya memberikan darahnya dengan menutup mata, meski ada yang sedikit mengintip.

Di barak Golongan Hitam, laki-lakinya terlihat bahagia. Mereka meremas, mencolek para gadisnya seraya memberikan darahnya dengan sedikit rayuan cabul. Sementara golongan perempuannya dengan genitnya mereka memegang dan menarik-narik "tombak pemuda" pemuda itu.

Di barak golongan Merdeka, tak begitu jauh dengan barak Hitam, juga ada yang mengikut golongan Putih. Hanya di bagian barak Merdeka bagian depan saja yang sedikit berbeda.

"Tuan...," seorang gadis menyodorkan mangkuk dari buah maja kepada Aram.

"Nona yang seksi, dengarlah, ini adalah darah dari teman-teman dan aku. Kami mengerti maksud dari Kaisar Iblis, maka kami tak akan merepotkan. Ini darah kami." Aram menyodorkan mangkuk dari batok dan dipindahkan ke mangkuk gadis itu.

Gadis itu mendelong, menatap wajah Aram yang tampan. Dadanya berdebar indah....

Mulutnya menyunggingkan senyuman indah dan segera berpindah ke tempat lain, menyisakan bau harum khas seorang gadis.

Malam purnama bersinar seperti seorang putri yang sedang menanti kekasihnya. Malam yang seharusnya gelap kini malah terang benderang. Bintang-bintang bertebaran menghiasi malam. Di sebuah Lembah yang bernama Lembah Kematian, tampak manusia seperti anai-anai bertebaran. Di sebuah panggung yang sudah hancur, sesosok manusia berdiri gagah....

"Saya sebagai Pembawa Acara malam ini mengucapkan selamat datang kepada hadirin sekalian di dalam panji Telapak Perak. Siapa saja yang telah mengucurkan darahnya, itu berarti saudara-saudari sekalian telah resmi menjadi anggota dari perkumpulan!"

Gemparlah sekalian hadirin.

Pengumuman Pembawa Acara tentang barang siapa yang telah mengucurkan darah selaku tanda masuk menjadi anggota perkumpulan, telah menimbulkan kegemparan besar kepada berjuta-juta jago silat yang berkumpul dari pelosok-pelosok penjuru dunia itu.

"Para hadirin sekalian!" Kembali Pembawa Acara itu berseru untuk menindas kehingaran suasana. "Seperti yang telah kami ucapkan di awal, kami bertujuan luhur hendak mempersatukan seluruh dunia persilatan menjadi satu wadah. Bukankah para Golongan Putih selalu memburu Golongan Hitam? Golongan Hitam memburu Golongan Putih, sementara Golongan Merdeka diburu kedua golongan? Bukankah itu menunjukkan bahwa kita tidak pernah merasakan kedamaian?"

Belum selesai Pembawa Acara itu berkata, seseorang telah melesat ke depannya dan membentak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment