Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 41

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 41

"Selama berabad-abad di dunia ini, belum pernah sekalipun kebaikan dan keburukan bisa dicampuradukkan. Kalian bermimpi terlalu muluk... Di antara semuanya, aku, Harimau Gembala, yang akan berdiri menantang kalian!" Lelaki itu berusia sekitar empat puluh tahun. Bajunya hijau dengan belang kuning, dan ikat pinggangnya terbuat dari kulit harimau.

"Hahaha... Sabarlah sebentar, Saudara. Biarkan kami menyampaikan beberapa patah kata dulu. Baiklah, Hadirin sekalian, kami takkan memaksa kalian. Siapa saja yang ingin bergabung dengan kami, silakan menuju ke sisi panggung." Si pembawa acara kembali berseru.

Lelaki itu tidak bergerak selangkah pun dari tempatnya.

Sedangkan beberapa ratus orang dari golongan hitam bergerak menuju sisi panggung, menyisakan mereka yang memiliki ego tinggi.

Yang mengherankan, ternyata beberapa kaum golongan putih ada juga yang melesat menuju sisi panggung.

Hanya golongan merdeka saja yang memiliki ego tidak ingin dikekang kebebasannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang maju ke samping barak. Manusia-manusia itu kini berjalan beriringan bagaikan semut.

Seratus, dua ratus, hingga ribuan orang menuju sisi panggung. Jelaslah kini kedua kubu berjumlah seimbang.

Satu kentungan telah berlalu.

Orang-orang yang tadinya berada dalam barak terpisah kini mulai bersatu, hingga dari atas terlihatlah dua pasukan perang siap bertempur.

Tidak ada lagi ganjalan antara golongan hitam, merdeka, atau putih. Kini mereka bergabung untuk menuju sebuah tujuan: "Kebebasan".

Mereka tidak bergabung untuk berdamai, melainkan karena memiliki keinginan yang sama: "Hancurkan Panji Telapak Perak atau Mati!"

Jika mereka sudah kembali ke dalam kehidupan semula, maka mereka akan kembali ke kehidupan awal, diburu atau memburu.

Itulah jalan hidup mereka.

Tiba-tiba terdengar Harimau Gembala berseru kepada seluruh hadirin yang bersatu di tengah barak, yaitu Barak Golongan Merdeka.

"Saudara-saudara sekalian, marilah kita bersatu padu untuk menghadapi Panji Telapak Perak, atau kita akan diperbudak mereka. Masih ingatkah Saudara-saudara sekalian dengan teman kita yang meregang nyawa di tangan mereka, kehancuran perguruan kita? Apakah Saudara-saudari sekalian akan berpangku tangan saja?!"

"Saudara-saudari Anggota baru Panji Telapak Perak, bunuhlah lelaki itu maka kalian akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Kaisar Iblis!" "Hiaaaat!" Wruuull! Trak-trak!

Ratusan orang terdekat mengeroyok Harimau Gembala yang berdiri di dekat mereka. Harimau Gembala terkejut, ia sama sekali tidak menyangka Panji Telapak Perak akan bertindak sepengecut itu.

Segera ia memasang kuda-kuda, tangannya merentang membentuk cakar harimau.

"Hiaaat!" Dari belakangnya, seseorang membokong. Dengan sigap, Harimau Gembala merunduk dan menyabetkan cakarnya.

"Akhh... Brettss!" Pembokong itu menjerit keras, tubuhnya kejang-kejang dengan usus berhamburan. Tidak berhenti di situ saja, tubuhnya itu tiba-tiba terinjak-injak oleh beberapa orang di dekatnya, maka lengkaplah kematiannya itu. "Wirr!" Sebatang toya baja menyambar kepala Harimau Gembala. Namun, ia bukanlah Harimau Gembala jika menghadapi serangan seperti itu. Dengan cekatan, ia menghindar lalu menjambret lawan lainnya dan menghadangkannya di hadapan amukan toya itu. "Bukk! Prak!" Darah berhamburan, jerit kematian semakin santer. Entah berapa jiwa yang telah melayang di tangan Harimau Gembala.

Namun, manusia bukanlah terdiri dari baja dan kawat.

Setangguh apa pun Harimau Gembala, tidak mungkin ia menghadapi serangan Anggota baru Panji Telapak Perak yang mengamuk itu.

"Desshhh! Akhhh!" Harimau Gembala terhuyung dua tombak ke belakang. "Hoeekk!" Ia muntah darah.

"Mengasolah di alam baka, manusia tak tahu diri!" Seorang lelaki berjubah merah berteriak seraya menusukkan pedangnya. "Akkhhhhh!"

"Beg! Akhh!" Kembali Harimau Gembala terhuyung ke depan, terkena sapuan tendangan lelaki berkumis lebat dari arah belakangnya.

Dengan menahan rasa sakit, Harimau Gembala bangkit dengan susah payah sambil mendekap dadanya. Namun, usahanya itu tinggal kenangan karena seseorang telah memukulkan tenaga dalam berbentuk sinar jingga.

Sinar itu melesat dan dengan telak menghantam keningnya. Tanpa kata-kata lagi, Harimau Gembala terjatuh dengan tubuh hangus. Ia tewas dengan segala kegagahannya.

Kematian Harimau Gembala ternyata tidak sia-sia.

Melihat kegagahan orangnya, para tokoh pun segera teringat akan ajakannya tadi.

Mereka merasa malu hati jika tidak mati menerima tawaran itu.

Meski Harimau Gembala hanyalah seorang pendekar golongan hitam, namun tindakannya itu patutlah ditiru oleh para tokoh persilatan.

Serentak, bangkitlah semangat mereka yang telah meredup.

"Sreng! Sreng!" Bunyi suara pedang dan senjata lain dicabut dari sarungnya bersahut-sahutan.

"Saudara-saudari sekalian, mari kita ikuti jejak mendiang pendekar Harimau Gembala tadi. Lebih baik binasa daripada menjadi budak anjing Pesuruh Panji Telapak Perak! Mari kita hancurkan perkumpulan sesat itu sebelum memiliki akar yang lebih kuat!" Yang berseru adalah Kijaolak, seorang datuk dari golongan putih.

Memang sebagian besar dari hadirin golongan putih masih ragu-ragu.

Mereka tahu jika dibiarkan saja, kekuatan Panji Telapak Perak akan semakin kuat. Tetapi, jika bertindak sekarang, mereka malu hati bila menuruti Harimau Gembala yang hanya pendekar kelas dua dari golongan hitam.

"Ketua, apakah kita ikut bergerak sekarang?" kata Huru-hara. "Emh... kau sudah tidak sabar, Huru-hara?" Aram menjawab santai.

Huru-hara tersenyum penuh kegembiraan. "Yah, aku tidak sabar ingin membuat keributan dengan mencabut nyawa anggota Panji Telapak Perak, terutama lelaki berbaju perak di dekat Kaisar Iblis itu."

"Sabarlah, jangan terburu nafsu. Kita buat Kaisar Iblis mencak-mencak dulu dengan menggagalkan sedikit rencananya. Lagipula, yang lainnya belum sadar dari semadi." Aram tersenyum sambil memperhatikan teman-teman lainnya yang sedang bersemadi.

Bulan masih setia dengan cahayanya yang terang-benderang. Sudah satu setengah hari kaum persilatan mengadakan pertemuan di Lembah Kematian itu, lembah yang luas, seluas samudra yang tidak bertepi.

Dua kubu pasukan saling berhadapan, siap bertempur. Di kubu dekat reruntuhan panggung, seorang lelaki setengah baya berwajah cakap tanpa guratan-guratan tua, hanya beberapa helai jenggotnya saja yang sudah memutih.

Rambutnya berwarna putih keperakan, diikat dengan kain putih yang menjuntai sampai punggungnya.

Pakaiannya serba perak dengan jubah perak sedang berjalan menuju arah reruntuhan panggung.

Setelah sampai, ia berdiri angker dengan jubah peraknya yang berkibar-kibar tertiup angin. "Hahaha... Kunang-kunang hendak melawan rembulan, benar-benar pemandangan yang menggelikan. Memang pada awalnya aku memutuskan takkan memaksa kalian, tetapi, jahahaha..." Kaisar Iblis tertawa terbahak-bahak memotong ucapannya sendiri. Setelah puas tertawa, ia kembali melanjutkan.

"Tetapi, aku tidak suka bila ada yang menentangku. Maka aku memerintahkan kepada seluruh anggota untuk memusnahkan kalian!" Teriakan marah dari para hadirin yang menyatakan tidak mau bergabung bersahut-sahutan. Namun, semuanya tenang ketika seorang pemuda berjubah coklat dengan kulit rubah di lehernya mengangkat tangan kanannya.

Pemuda itu maju ke depan dan berkata, "Jika kami menyatakan tidak ingin bergabung dengan kalian, apakah yang akan kalian lakukan kepada kami? Kemampuan apakah yang kalian miliki sehingga meremehkan umat persilatan?"

Pertanyaan yang tenang itu ditanggapi dengan tertawa terbahak-bahak dari Kaisar Iblis.

"Kalian masih ingat dengan darah yang kalian kucurkan? Tahukah kalian apa yang akan kalian lakukan dengan darah itu?" Kaum persilatan tegang. Dari awal saja mereka sudah kalah setingkat dengan Panji Telapak Perak.

Mereka kini sadar telah kecolongan. Tetapi, meski tahu kecolongan, mereka tidak mengerti apa yang akan terjadi.

Namun, mereka juga dikejutkan dengan jawaban pemuda berjubah coklat yang tidak lain adalah Aram itu, "Tentu saja aku tahu!"

Tidak urung, jawaban itu membuat paras Kaisar Iblis berubah juga.

"Apa yang kau ketahui, heh, bocah? Menyusu saja kau belum tahu..."

"Segalanya aku tahu. Menyusu yang mana yang kau maksud? Pada ibuku, aku sudah kelar. Kepada teman sebayaku, aku juga doyan," jawabnya sombong. Jawabannya itu mau tidak mau juga mengobati rasa tegang dari para hadirin, berbeda dengan seorang perempuan yang memerah seperti kepiting rebus karena menjadi perhatian orang.

"Grrrr!" Kaisar Iblis menggeram.

Melihat itu, Aram memanfaatkannya dengan menambah kayu bakar dalam pembakaran hati Kaisar Iblis yang menyala-nyala. "Kau sengaja mengumpulkan darah hadirin dengan maksud jaminan nyawa mereka. Kau hanya tinggal mengumpulkan darah itu dalam satu wadah, terbukti dengan guci di depanmu itu. Kemudian kau akan mengeluarkan Ajian Sukma Darah Iblis. Dengan ilmu itu, maka kau bisa menciptakan wujud yang persis dengan yang aslinya. Kau tinggal menyuruh duplikat itu untuk membunuh yang aslinya, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Haha, apa aku salah?"

"Tidak, kau tidak salah, bocah. Kau memang terlalu pintar. Maka kaulah orang pertama yang akan merasakan dahsyatnya ilmu itu. Bersiaplah menuju kematianmu!" Kaisar Iblis jengkel. Segera ia merapatkan kedua telapak tangannya dan berkomat-kamit membaca ajian (mantra). "Bangkitlah wahai Sukma Iblis Terpanggil!" teriaknya lantang. Semua orang menghela napas, menunggu saat-saat yang mengerikan.

Hening... Sepi... Tidak ada sesuatu apa pun yang terjadi. Kaisar Iblis tertegun. Segera ia mengulang membaca ajian.

"Bangkitlah wahai Sukma Iblis Terpanggil!" "Bangkitlah wahai Sukma Iblis Terpanggil!" Sudah tiga kali ia mengulang, namun apa yang diharapkan tidak terjadi juga.

"Hahaha... Aku bangkit!" Di seberangnya, seorang pemuda bertingkah jenaka menirukan hantu.

Kaisar Iblis benar-benar marah. "Kau... apa yang kau lakukan, bocah?" "Kau mau tahu?" "Yah." "Mau tahu, atau mau tahu banget?" "Grrr!" "Hahaha, baiklah... baiklah... jangan merengut seperti itu, wajahmu terlalu tampan..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment