Chapter 42
"Kau tahu kelemahan Sukma Darah Iblis?" Aram mengejek dan melanjutkan ucapannya. "Darah Anjing."
"Benar-benar, kau memang pintar, hahahaha.... Aku mencampurkan darah anjing dalam darah itu. Kalian tak sadar, bahwa aku siang-siang sudah menyiapkan itu. Siasat kalian terlalu kuno untuk orang sepertiku," Aram tertawa puas mempermainkan Kaisar Iblis.
"Ger....fyuuiiittttt!" Kaisar Iblis bersuit nyaring. Tiba-tiba tanah yang diinjak para hadirin bergetar. Seruan kaget, ketakutan, dan lainnya bergemuruh terdengar, apalagi ketika tanah yang diinjak ambrol sebatas lutut.
Kaisar Iblis tertawa puas. Ia yakin kali ini siasatnya akan berhasil. Namun naas, tanah yang diinjak para hadirin hanya ambrol sebatas lutut saja, tak ada reaksi lain.
"Wung.......brusshhh...." Bagai gasing, seorang manusia keluar dari dalam tanah. Ia memakai seragam hitam dengan topeng perak. Semua hadirin terkejut, bahkan Kaisar Iblis pun terlihat mengerutkan kening.
"Ketua, hamba sudah melaksanakan tugas yang dibebankan ketua. Sekarang saya hendak melepaskan tanda kuning, apakah ketua keberatan?"
"Silakan, tapi lepaskan topeng itu dan bantu Ki Makmur dan Ki Brahma. Juga kabarkan ucapan terimakasihku kepada Duta Langit."
"Baik, ketua." Setelah topeng dibuka, ternyata ia adalah seorang lelaki setengah baya yang tak lain Ki Guntur. Pipa cangklongnya yang berwarna merah menyala segera ia hisap. Dengan mengerahkan tenaga dalamnya, ia meniup sekeras tenaga.
"Wirrrrr blaaarrrrr...." Cahaya kuning berpijar di udara, menyemarakkan malam purnama malam ini.
"Aaauuuuuuuummmm!" Lolongan serigala seakan membalas dari tanda kuning yang berpijar itu.
"Panggilan sudah terjawab, hamba mohon pamit." Suaranya masih menggaung, namun orangnya sudah menghilang entah ke mana. Benar-benar pameran tenaga dalam yang sangat tinggi.
"Ternyata kau memasukkan mata-matamu ke dalam organisasi kami, bocah..." desis Kaisar Iblis.
Aram hanya tersenyum. Gemuruh tawa bergirang hati keluar dari mulut para hadirin yang berada di belakangnya. Entah darimana tiba-tiba terdengar seruan, "Pendekar seribu diri, Pendekar seribu diri." Elukan-elukan bersahut-sahutan bagaikan genderang perang yang bertalu-talu. Kaisar Iblis benar-benar malu karena dipermalukan di depan orang sebanyak itu.
"Baiklah, kalau begitu keinginan kalian segera kita akan layani."
"Siapkan senjata!" teriak Kaisar Iblis.
Dua kubu itu saling bertatapan lama sekali. Suara senjata yang dicabut bersahut-sahutan. Pertarungan berdarah segera akan dimulai. Jika perang prajurit kerajaan saja sangat menakutkan, apalagi jika Kaum Rimba Hijau yang memiliki olah kanuragan lebih. Ini adalah peperangan Kaum Persilatan yang pertama dalam sejarah. Sejarah akan terukir abadi, goresan pena darah yang menjadi saksi, prasasti-prasasti yang menjadi bukti (Perang Dunia Rimba Hijau I).
Ketika sinar fajar pertama memancar di ufuk timur, maka pada saat itulah mulainya berkecamuk pertempuran antara golongan persilatan pertama yang dahsyat di Lembah Kematian. Tak ada kuda, tak ada bendera. Yang ada hanya senjata-senjata yang teracung. Tak ada genderang perang, yang ada hanya suara teriakan, pekikan dahsyat bersahut-sahutan menggelegar. Pihak Kaisar Iblis menyerang habis-habisan untuk dapat membunuh pihak Kaum Rimba Hijau yang tak mau tunduk kepadanya. Yang diserang tidak mau kalah. Teriakan menggelora bergemuruh. Mereka tidak bertahan karena mereka tahu bertahan hanya akan membuat kedudukan mereka semakin buruk. Suara beradunya senjata, pekik kematian, lolongan manusia-manusia yang terbabat senjata, bau anyir darah, semuanya menjadi satu, menimbulkan suasana yang mengerikan.
Pertarungan semakin sengit, kedua kubu imbang. Itu membuat pertarungan semakin lama. Sudah satu jam pertarungan berlangsung, namun tak ada satupun yang tampaknya akan kalah. Kaisar Iblis dengan teriakan-teriakan menggelegar berkelebat kian kemari memberi komando anak buahnya.
Kaisar Iblis berdiri angker dengan telapak tangan yang berwarna perak, berlumuran darah. Di sekelilingnya mayat-mayat berserakan dengan dada bolong, jantung manusia bertumpuk di belakangnya. Kaisar Iblis berdiri terlongong ketika melihat seorang pemuda berjubah coklat dapat membunuh anggotanya hanya dengan sentilan beberapa jari saja. Ketika ia melihat paras wajahnya, ia tertegun. "Ya, aku pernah melihat wajah itu."
"Sepertinya aku pernah melihat wajahmu itu, anak muda?" ujar Kaisar Iblis.
Pemuda yang tak lain adalah Aram itu tertawa ringan. "Tentu saja, Iblis Tengkorak Mas. Aku adalah pemuda yang berada di kedai itu, ketika kau bertarung dengan kedua pemuda dari daratan Tiongkok!"
"Kau... kau!" Kaisar Iblis tertegun. Ia tak bisa berkata apa-apa ketika Aram memanggilnya Iblis Tengkorak Mas. Ia terkejut dengan sangat.
"Haha... kau heran darimana aku tahu!" Aram tersenyum misterius.
Kaisar Iblis tertawa dingin. "Kau mengigau di siang bolong, anak muda. Siapakah Iblis Tengkorak Mas itu? Apakah yang kau katakan itu si datuk silat itu? Sayang sekali dia bukan aku."
"Oh benarkah? Hanya anak kecil saja yang tak tahu bahwa kau itu Iblis Tengkorak Mas. Jika memang kau bukan Iblis Tengkorak Mas, sudikah kau meneriakkan kata-kata ini...?"
"Heh, jangan kan beberapa patah kata, sejuta kata pun aku berani...."
"Baik, katakan kepada seluruh Rimba Hijau bahwa Candrasengkala adalah manusia gila yang hanya mampu menurunkan keturunan yang sama gilanya. Bagaimana, kau setuju?"
"Baik, aku akan suruh seluruh Kaum Rimba Hijau untuk mendengarkan." Tanpa menunggu Kaisar Iblis menjawab, Aram segera berteriak keras. Pada saat pertempuran berkecamuk dengan serunya, maka pada saat itulah terdengar suara yang keras laksana guntur, mengatasi segala kecamukan dan kegaduhan perang Kaum Rimba Hijau itu.
"Hentikan pertempuran ini! Kaisar Iblis ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu!" Hampir semua orang merasa hendak copot jantungnya mendengar suara yang menggelegar itu dan hampir semua mata pula memandang ke tengah-tengah lapangan pertarungan, di mana kelihatan dua orang manusia sedang berdiri berhadapan dengan dikelilingi mayat yang berserakan.
Kaisar Iblis mengkertakkan rahang. Hatinya gusar terhadap si pemuda berjubah coklat itu. Diam-diam dia paham bahwa dalam memanfaatkan kesempatan dan kecerdikan otak, dia kalah beberapa tingkat.
"Nah, semuanya sudah tenang sekarang. Silakan Tuan yang mulia mengatakan kata-kata yang aku ucapkan tadi."
"Germmm, tahukah siapakah Ki Candrasengkala itu, bocah? Ketahuilah dia adalah Ayahku. Aku Renjana bersumpah akan mencincang tubuhmu!" Kaisar Iblis yang ternyata bernama asli Ki Renjana itu benar-benar marah dan gusar bukan alang kepalang, sampai-sampai ia membuka identitasnya.
Kaum Rimba Hijau gempar. Suara teriakan marah benar-benar bergemuruh. Kini mereka tahu siapakah sebenarnya Kaisar Iblis itu dan mereka juga sekarang paham mengapa Ki Renjana atau Si Iblis Tengkorak Mas selalu memakai topeng. Para anggotanya yang lama sudah tahu keadaan itu sehingga mereka masih tenang, berbeda dengan para anggota barunya. Kini mereka bimbang, mereka seperti orang yang menunggang harimau; maju salah, mundur juga salah. Cacian dan sumpah serapah bergemuruh memekikkan telinga.
Aram tersenyum penuh kemenangan. Di tengah senyum kemenangannya itu, Kaisar Iblis atau Iblis Tengkorak Mas melihat pemuda itu berada dalam keadaan lengah. Maka kesempatan ini dipergunakan olehnya dengan sebaik-baiknya. Telapak tangannya berkelebat cepat dan ganas.
Telapak tangan kanannya berkelebat menyambar ke leher, sedang tangan yang lain menyapu ke dada Aram. Melihat datangnya serangan itu, Aram sadar akan keteledorannya. Ia benar-benar jengkel dengan kelicikan Kaisar Iblis. Ia yakin salah satu telapak lawan pastilah akan mengenai badannya, namun jika harus terpojok begitu saja bukan Aram namanya. Aram segera melompat ke belakang dengan tak kalah sengit, kakinya juga menendang ke atas.
"Duuukkkk...." Suara beradunya dua buah muatan yang beradu terdengar.
"Akhhhhh!" Kaisar Iblis menjerit kesakitan dan melompat mundur, namun diburu dengan sengit oleh Aram. Dalam keadaan marah, ternyata kekuatan telapak perak Kaisar Iblis tidaklah keluar dengan penuh sehingga ia mendapat kerugian. Saking marahnya, Kaisar Iblis mengamuk dahsyat. Siapapun yang berada di area sekitar dua puluh tombak dekat dengannya mati hangus akibat terkena sambaran tenaga dalam yang berseliweran.
"Mati kau tuyul edan...!" teriak Kaisar melengking keras.
Tapi Aram tak menggubris. Ia malah tertawa geli.
"Orang gila, lihatlah, apakah aku ini mirip tuyul? Adakah tuyul yang berambut gondrong, haha...!" Kaisar Iblis menggerutu penasaran. Ia jengkel bagaimana seorang pemimpin besar sepertinya menjadi bulan-bulanan seorang bocah.
Ditempat lain terlihat Nyi Dewi Renjani atau Bidadari Penakluk Naga dan Ki Jalak atau Pendekar Burung Jalak sedang bertarung sengit dengan Ki Sapta atau Si Iblis Pembunuh Raga dan Ki Seta atau Iblis Pemakan Jantung. Serangan mereka benar-benar ganas, hingga menyisakan lowongan selebar dua puluhan tombak. Siapapun yang mendekati itu akan mati dengan minimal tubuh terkoyak robek. Suara beradunya tenaga dalam benar-benar bagaikan suara dentuman musik saat konser, malah mungkin lebih, begitu memekikkan telinga, belum lagi suara teriakan melengking, dan senjata beradu. Kali ini bumi seperti kiamat saja.
Nyi Permata Dewi atau Siwi Pemanah Asmara, dibantu dengan dua datuk lainnya, Sisinting dari utara dan Sipemabuk dari selatan, kini berpesta pora darah. Mereka seperti elang yang menyambar mangsanya, serang sana, bunuh sini... Angkara, Ryusuke, Jelita Indria, Amuk Samudra, Luyu Manggala, Murka Semesta, Sipengabar Langit, dan yang lainnya dengan tertawa-tawa memenggal kepala anggota Panji Telapak Perak.