Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 43

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 43

"Heh, kalian! Ayo kita bertaruh siapa yang paling banyak memenggal kepala di dekat jakun. Yang paling banyak akan diberi hadiah oleh yang kalah. Setuju?" teriak Murka Semesta, si Ksatria Ular.

"Setuju!" jawab yang lain serempak. Begitulah mereka berlomba-lomba memenggal kepala anggota Panji Telapak Perak sambil berhitung.

Pasukan kubu lawan kini tampak kacau, bahkan sebagian besar mundur terdesak hebat. Jeritan kematian kali ini benar-benar menjadi musik yang indah. Semakin keras jerit kematiannya, lawan yang membunuhnya tampak semakin senang.

Orang kepercayaan Kaisar Iblis itu kini asyik membantai golongan yang menentangnya. Namun, ketika ia menyaksikan beberapa ratus anak buahnya bergelimpangan akibat ulah pemuda-pemudi berjubah cokelat, kemarahannya benar-benar mencapai puncak. Kemarahan orang kepercayaan Kaisar Iblis itu tiada terperikan.

Dengan sebat, ia menyerang seorang gadis cantik bercelana payung yang tak lain adalah Jelita Indria. Saat itu, Jelita sedang memenggal kepala seorang pendekar yang mengaku takluk kepada Kaisar Iblis. Orang itu menyerang dengan pukulan kosong; angin menyambar tubuh Jelita Indria. Namun, cahaya biru memotong serangan itu dari samping.

Ketika dia berpaling, ternyata orang itu adalah seorang pemuda berjubah cokelat dengan peralatan serigala. Dialah Huru-hara.

"Aku lawanmu, penjahat wanita!" teriak Huru-hara.

"Budak hina! Siapa yang kau maksud penjahat wanita, hah? Aku Adiraja adalah seorang lelaki sejati!" bentak Adiraja.

"Hehe... Lelaki sejati takkan melawan, apalagi membokong wanita," Huru-hara terkekeh.

Meskipun amarahnya hampir tak dapat dikendalikan, Adiraja merasa ucapan Huru-hara ada benarnya. Ia menahan serangannya dan bertanya, "Mengapa kau malah mencariku? Bukankah masih ada orang lain?"

Huru-hara tersenyum kecil. "Hehe... Soalnya aku ingin mencabut nyawamu. Kalau nyawamu tidak dicabut, kau akan hidup. Kalau kau hidup, teman-temanku akan kau bunuh. Kalau kau bunuh, berarti mereka mati. Kalau mereka mati, aku kesepian. Kalau aku kesepian, tidak ada yang menghiburku. Kalau tidak ada yang menghiburku, aku akan bunuh diri. Kalau aku bunuh diri, maka aku akan mati. Jadi, kau harus dibunuh dulu supaya aku tidak mati, hehe."

Adiraja ternganga mendengar alasan yang sedemikian aneh dan bertele-tele itu. "Hegh, apa kau tidak punya alasan yang lebih masuk akal lagi?" tanyanya.

"Hm, untuk orang yang suka membokong wanita, jelaslah dia lelaki yang tidak memiliki akal. Jadi, untuk apa aku bertanya dengan akal?" Huru-hara cengengesan.

"Kau meminta kematianmu sendiri, bocah!" Adiraja menggeram marah.

"Hahaha... Kan sudah kukatakan padamu sedari tadi, akulah yang akan membunuhmu," Huru-hara tertawa.

"Grrr..." Adiraja mengerang marah. Matanya tampak merah. Sambil mengerang, ia melancarkan tiga pukulan dahsyat sekaligus. Pukulan-pukulan itu terarah ke titik mematikan di tubuh Huru-hara. Pukulan itu bagaikan kilat yang menyambar-nyambar kepalanya.

Namun, Huru-hara bukanlah pesilat kacangan. Begitu tangan kirinya bergerak, tahu-tahu tangan Adiraja sudah tertangkap. Adiraja terkejut. Dengan cepat, ia memukulkan tangannya yang lain dan bergeser ke kiri sambil mendoyongkan tubuhnya, yang disambut dengan tendangan atas. "Bret!" Baju bagian dadanya robek tak terselamatkan.

Adiraja merasa heran dan dongkol akan kemampuan pemuda lawannya itu. Dengan sekali gerak, Adiraja menerjang dengan serangan yang bertambah tingkat kekejiannya. Sekilas, serangan Adiraja tampak kacau dan terburu-buru, tetapi jika diperhatikan secara saksama, serangan itu mengandung unsur hati-hati dan teratur.

Puluhan jurus telah berlalu, tetapi tampaknya Adiraja belum juga mampu mendesak lawannya. Perasaan Adiraja campur aduk antara kagum dan dongkol. Namun, dalam keadaan demikian, ia tidak sempat menyusun siasat licik karena lawan yang dihadapinya adalah seseorang yang berpikir seperti seekor serigala. Sekali saja ia lengah, mungkin tubuhnya sudah terkena pukulan atau serangan lawan.

Begitulah, di tengah pertempuran jutaan orang, mereka bertarung dengan sengit. Entah berapa ratus jiwa yang melayang, entah berapa orang yang kehilangan keluarganya. Namun, inilah perang—perang pertama dalam sejarah kaum persilatan. Di bawah terik sinar mentari, jutaan orang bergumul menjadi satu bagaikan lautan semut yang berebut gula.

Sekilas cahaya kuning lembayung menggurat langit dari sebelah utara medan pertempuran. Seorang gadis cantik dengan baju dan rambut kuncir kuda yang berkibar-kibar berdiri anggun dengan tangan teracung memegang sebuah senjata kecil. Ternyata cahaya itu berasal dari senjata unik tersebut; panjangnya hanya sejengkal namun mengeluarkan hawa dingin yang membekukan raga. Senjata itu bernama Keris Perasaan, pemberian dari Aram.

Mata gadis itu, Thian Hong Li, terpejam tenang. Meski ia hanya diam mematung, tidak ada seorang lawan pun yang berani mendekatinya. Namun, manusia memang selalu dikalahkan oleh rasa penasaran yang menggebu-gebu. Terbukti dengan sesosok tubuh berbalut kain hitam bertopeng perak yang menerjang ke arahnya.

Untuk sesaat, tampak tangan sosok itu akan menjamah tubuh si gadis. Semua orang di dekatnya menghela napas panjang; sungguh sayang gadis seelok itu harus mati begitu saja, pikir mereka. Namun, tampaknya Tuhan masih menyayangi gadis itu. Sebuah keajaiban terjadi; sosok itu tiba-tiba diam mematung. Melihat kejadian itu, kawan-kawan sosok tersebut merasa heran. Dengan cepat mereka ikut menerjang, namun nasib mereka sama: berdiri mematung.

Gadis itu membuka mata berbarengan dengan kilatan petir biru yang menggurat langit. Tubuhnya gemetar hebat melihat banyak sekali manusia yang membeku di dekatnya. Ia berteriak keras, "Kalian terlalu keji!"

Mendadak tubuhnya condong ke depan. Senjata kecilnya dengan cepat ditarik ke muka. Kaki kanannya berpijak di bumi, sedangkan kaki kirinya diangkat ke belakang hingga membentuk sikap kayang. Itulah jurus pembukaan Ilmu Bedog Sanca Manuk, "Jurus Sanca Manuk Waspada". Disertai pekikan nyaring yang menggetarkan hati, sepasang matanya memancarkan sinar tajam.

"Budak-budak Iblis!" bentaknya keras. "Aku akan membantai kalian!"

Di tengah suara dengungan Keris Perasaan yang amat nyaring, keris itu bergetar hebat dan membentuk pijaran-pijaran api yang dingin. Itulah kehebatan keris itu; jika biasanya api itu panas, kali ini api tersebut melawan kodratnya. Keris itu ditarik sejajar dada, lalu perlahan mulai mendesak maju ke depan.

"Hiaaattt!"

"Crak! Crak!"

Seperti suara kayu yang dipukulkan ke es, keris itu membabat setiap lawan yang menghadang. Mayat-mayat yang berhasil dibabat berubah menjadi bongkahan es. Jerit kematian terus berkumandang meramaikan suasana. Tiba-tiba, terdengar suara tertawa dingin yang amat menyeramkan.

"Haha... Hatimu kejam sekali, Sicu..."

Thian Hong Li berpaling dan menjerit lirih. "Ikh... Apa yang kau makan itu, Mata?"

"Benar-benar Sicu, dan sebentar lagi mata Sicu yang akan Pinto makan... haha!" Ternyata yang tertawa dingin itu adalah seorang biksu bermata ramah dan berkepala gundul. Siapa pun tidak akan menyangka bila biksu itu merupakan seorang durjana iblis dari Negeri Tionggoan. Biksu Kejam Po Leng Taysu, itulah namanya.

Sebagai sesama orang dari Tionggoan, tentu saja Thian Hong Li mengerti bahasa biksu itu. Diam-diam ia mengerahkan tenaga dalam ke ubun-ubun, mengikuti Jalan Ketenangan dalam kitab Sewaka Darma. Beberapa saat kemudian, ia berhasil meredam ketakutannya. Ia kembali tenang dan kembali ke sifat jenakanya.

"Nah, siapakah sekarang yang memiliki sifat kejam, aku atau kau?" Thian Hong Li cekikikan.

Biksu Kejam alias Po Leng Taysu tertegun. Bagaimanapun, dia baru saja mencoba memojokkan dan menakuti gadis itu. Kini ia tidak menyangka gadis itu malah membalikkan kata-katanya, bahkan mengejeknya. Thian Hong Li tertawa cekikikan mirip kuntilanak dan berkata, "Haha... Sesama orang kejam jangan saling mendahului!"

Sekonyong-konyong, Thian Hong Li merasakan sambaran angin yang amat ringan. Ternyata biksu itu menyerangnya tanpa peringatan.

"Curang!" pekik Thian Hong Li sambil meloncat ke langit.

"Seribu Bayangan Buddha!" teriak biksu itu.

Wes... wes... wes... Tiba-tiba biksu itu berubah menjadi empat bayangan. Lalu bayangan-bayangan itu mencabut pedang di punggung mereka, serta merangkapkan tangan kiri di depan dada, diam tidak bergeming. Thian Hong Li terkejut dengan perubahan si Biksu Kejam. Setelah berpikir sejenak dan mendarat di bumi, tangan kanannya mendadak diangkat membentuk gerakan busur, kemudian perlahan dilintangkan di depan dadanya. Tangan yang satunya lagi menengadah seakan meminta derma. Di sela-sela jarinya, Keris Perasaan berdiri tegak menantang.

"Bulan Gelap Bintang Jatuh," itulah jurus yang digunakan Thian Hong Li saat ini, sebuah jurus yang berasal dari Ajian Bulan Bentang milik guru keduanya.

Pada saat itulah, tangan gadis itu dikebutkan ke langit sehingga keris itu melesat, sementara tubuhnya melesat ke depan disertai gulungan angin yang menderu. Thian Hong Li menerjang Biksu Kejam yang juga sedang menerjang. Empat lawan satu. Gerakannya amat cepat, hanya terlihat dua buah bayangan yang saling berpapasan.

Terdengar Po Leng Taysu memekik keras, "Rajah Buddha Bayangan!" Ujung jubahnya berkibar tertiup angin dan telapak tangannya membabat ke depan melancarkan serangan dahsyat.

"Blaaarrr!" Satu bayangan biksu itu terpental jauh, sedangkan Thian Hong Li hanya mundur tiga tindak.

"Blerrrtt!" Aliran tenaga dalam seperti listrik menyengat keempat manusia yang saling berpandangan—tiga bayangan Biksu Kejam dan Thian Hong Li. Dengan senyuman aneh, Thian Hong Li memutar pergelangan tangannya dan menyentakkannya ke atas.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment