Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 44

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 44

"Goaaarrrrrrrr!" Raungan bak monster bergemuruh memekakkan telinga. Untuk sementara, semua orang berhenti bertarung dan berpaling. Betapa terperanjatnya para hadirin melihat sosok ular besar bersayap dengan empat kaki sedang mengunyah sesosok manusia yang tak lain adalah Po Leng Taysu asli, sehingga bayangan lain mulai mengabur dan menghilang.

Naga itu tidak berkulit, melainkan berbentuk aura keemasan, dengan tanduk tunggal mirip sebilah keris. Melihat sosok naga itu, Aram sudah mengerti bahwa itu adalah penjelmaan dari keris yang ia berikan kepada Thian Hong Li. Yang membuatnya terkejut adalah kemampuan Thian Hong Li memanggil sosok naga itu.

Namun, keterkejutannya itu tidak berlangsung lama karena Kaisar Iblis kembali menyerangnya, sehingga mereka kembali terlarut dalam pertarungan.

Di lain pihak, Thian Hong Li tersenyum bahagia karena usahanya berhasil. Sekali lompat, ia melompat ke atas tubuh naga itu. "Suiiits!" Suitan nyaring terdengar dari seorang gadis cantik yang duduk angker di atas seekor naga. Gadis itu berteriak-teriak mengomando naganya menyerang anggota Panji Telapak Perak.

Naga itu mengamuk, menelan musuh-musuhnya, hingga pada suatu saat...

"Hoek!" "Bruk!" Sosok naga itu menghilang, meninggalkan seorang gadis yang tergeletak pasrah.

Sebenarnya, sewaktu Thian Hong Li melemparkan kerisnya dan jatuh menimpa tanah, ia sedang menggunakan Ajian "Cipta Wujud". Dengan membayangkan sosok naga yang pernah datang ke dalam mimpinya, Thian Hong Li memanggilnya ke alam nyata. Namun, tenaga batinnya belumlah sepadan dengan ilmunya, sehingga ia ambruk terluka dalam.

Melihat si gadis yang tadi mengamuk bagaikan badai kini tergeletak pasrah, anggota Panji Telapak Perak memanfaatkan kesempatan itu. Ia menebaskan pedangnya ke tubuh gadis itu.

"Akhhhhh...!" jeritan seorang gadis melengking, menyayat, dan memilukan.

Ternyata yang menjerit itu bukanlah Thian Hong Li, melainkan anggota Panji Telapak Perak yang juga kebetulan seorang gadis. Mengapa demikian? Ternyata, sebelum pedang anggota Panji Telapak Perak menggores Thian Hong Li, seorang gadis cantik berbulu domba putih menangkis pedang itu. Dan seorang gadis lainnya menusuk punggung anggota Panji Telapak Perak itu.

"Syukurlah kita tak terlambat," seorang gadis cantik berjubah coklat dengan peralatan domba hitam berkata kepada temannya, yang dibalas dengan sebuah senyuman.

Tiba-tiba...

"Butuh bantuan?" seorang gadis cantik lainnya muncul sebatas kepala di permukaan tanah.

"Yumi, kau mengagetkan kami saja," gadis berjubah coklat dengan peralatan domba putih menjawab.

"Tolong lindungi kami, kami mau menyembuhkan tenaga dalam kekasih ketua ini," yang satu lagi mewakili. "Hai," Yumi mengangguk dan kembali hilang ke dalam tanah. Itulah sebuah ilmu dari kalangan ninja yang bernama Jinsut.

Kembali ke pertarungan Aram dan Kaisar Iblis.

"Halilintar Menyapa Bumi!" "Arwah Perak Telapak Iblis!" "Duaaaarrrr!" Dua buah tenaga sakti beradu. Pertempuran mereka adalah pertempuran terdahsyat di dalam kalangan peperangan itu.

Pertempuran yang amat mendebarkan hati ini berlangsung semakin lama semakin sengit, dan merupakan yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun. Angin pukulan memancar ke delapan penjuru, hawa tenaga sakti meliputi seluruh udara, membuat tanah berkubang, debu mengepul, dan rumput menyibak.

Sikap Kaisar Iblis kini semakin penuh diliputi ketegangan dan kemarahan, karena belum juga menjatuhkan si pemuda ingusan.

Braak! Blum! Kembali mereka beradu.

Pasir dan batu kerikil dalam kubangan melayang memenuhi angkasa. Masing-masing pihak kini sudah mulai melancarkan serangan yang menentukan hidup mati mereka. Mulut Kaisar Iblis kini merah, darah menetes-netes dari mulutnya. Tak jauh berbeda dengan Aram yang sudah terengah-engah.

Dengan menggunakan jurus Garuda Perkasa di Alam Surga milik Perguruan Garuda Mas, Aram kembali menyerang Kaisar Iblis.

"Jurus Garuda Perkasa di Alam Surga yang amat bagus sekali," puji Kaisar Iblis.

Kaisar Iblis cepat berkelebat menghindarkan diri ke samping. Tampak bayangan telapak tangan keperakan berkelebat berturut-turut, dia melancarkan sepuluh serangan. Angin pukulannya yang bagaikan amukan ombak dengan cepat menggulung ke depan. Aram tertawa membesi, mendadak kaki kirinya ditarik ke belakang. Tangannya dengan cepat bagaikan kilat mencakar wajah Kaisar Iblis.

Melihat kesigapan lawan, Kaisar Iblis merasa kaget. Dengan cepat, dia menghimpun tenaga dalamnya di dada. Disertai bentakan menggelegar, Kaisar Iblis bersalto ke belakang.

Air muka Aram segera berubah amat hebat, hawa membunuh yang tak bisa ditutupinya memancar ke segenap penjuru. Ia memasukkan tangan kanannya ke balik jubah dan mengeluarkan sebuah bola sebesar kepalan bayi. Bola itu kemudian dilemparkan ke udara dan meledak. "Duaaarrr!" Bola itu meledak dan memancarkan cahaya biru ke mana-mana. Bersamaan dengan itu, dari sekeliling lapangan tiba-tiba muncul sebuah gunungan yang keluar dari dalam tanah. Sekilas, gunung-gunungan itu keluar layaknya ombak.

"Jreng!" Di balik gunung-gunungan itu, muncul ribuan manusia dengan busur terentang. Di belakang para pembidik itu, ribuan manusia siap tempur dengan senjata di tangan.

Kaisar Iblis terperanjat, begitu pula dengan para bawahannya. Kematian muncul di pelupuk mata mereka, sedangkan para hadirin yang berada di pihak yang menentang, seperti kuda yang dicambuk, mereka bertambah semangat bertarung.

"Kau tak akan bisa lari lagi, laknat! Semua jalan rahasia sudah tertutup. Bersiaplah menuju kematianmu! Hiaat!" Aram menggerakkan tangannya dengan cepat. Segulung angin pukulan yang amat dingin serasa menusuk tulang menyergap Kaisar Iblis. Bersamaan dengan itu pula, Kaisar Iblis menyentilkan lima jarinya ke depan. Segera terasalah segulung angin yang amat panas dengan amat cepat beradu di udara. "Blar!" Setelah mundur selangkah, Aram kembali berkata.

"Aku mau lihat apa kau mau menyerah atau tidak!"

Tangannya kembali direntangkan lebar, kemudian meluncur ke depan. Kecepatannya bagaikan kilatan sinar di tengah udara, berturut-turut dia melancarkan sepuluh serangan gencar sekaligus. Tapi, Kaisar Iblis juga merupakan jago yang tangguh. Dengan segera, dia menghimpun tenaga dalamnya yang dikumpulkan di telapak tangan. Dia menggunakan ilmu Telapak Perak Pemburu Arwah untuk menahan serangan kali ini.

"Wirs!" "Duk!" "Hoek!" Kaisar Iblis muntah darah, sedangkan Aram hanya meringis saja, ia merasakan telapak tangannya kepanasan.

Ketika semua sedang larut dalam pertarungan, segera terdengarlah suara jeritan dan teriakan yang amat keras sehingga menggetarkan seluruh lembah itu. "Arrgggh!" "Serang! Serbu! Bunuh!" "Wus! Wus! Trang!" "Akh!" Ternyata ketika Kaisar Iblis muntah darah, Aram menghimpun tenaga dalamnya di tenggorokan dan berteriak sekencang-kencangnya.

Melihat kode sudah dijalankan, anak buah Aram yang tadi hanya berdiam diri menahan hasrat membunuh kini berbinar-binar. Hati para anak buah Aram, yakni anggota inti Bendera Awan Langit dan anggota sepuluh perguruan yang sedang bergolak itu kini dibakar lagi dengan kata-kata "Bunuh!" dari pimpinan mereka, menjadikan mereka tambah bergolak.

Di tengah suara bentakan yang amat keras, tampak pasukan pemanah memberikan jalan sehingga orang-orang di belakang yang siap membunuh kini berkelebatan menubruk ke tengah kalangan pertempuran. Sinar mata mereka penuh dengan hawa membunuh yang menyala-nyala. Tanpa basa-basi, mereka menerjang semua orang yang berada dekat dengannya.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini membuat pihak Kaisar Iblis diam-diam merasa terperanjat dan tergetar hatinya. Di bawah terik matahari, terlihat sinar pedang dan golok yang menyilaukan mata karena tertimpa matahari. Suatu pertempuran sengit yang menimbulkan banjir darah terus berlangsung di lembah itu. Suatu pertempuran yang amat sengit dan seru terus bergemuruh bagaikan alunan piano yang terus berdentang.

Di tengah pertempuran itu, tampak Nyi Sawitri dari Perguruan Teratai Putih, Ki Ardam dari Perguruan Pedang Bumi, dan Ki Bedu dari Perguruan Golok Harimau sedang berusaha membunuh lawannya sambil melindungi murid-muridnya. Di tangan Ki Bedu, Ki Madya, pengganti dari Ki Ngarai dari Perguruan Bintang Kemukus yang telah wafat dibunuh anggota Panji Telapak Perak, sedang dipapah karena dadanya terkena senjata lawan, terbukti dengan dadanya yang berlumuran darah.

"Saya Bintang Endrayana, pewaris ketua generasi ke-124 Rajawali Emas, menggantikan Guru Ki Jalu yang baru saja diresmikan, kini harus mengalami cobaan yang begitu berat," keluh seorang lelaki paruh baya berusia sekitar enam puluh lima tahunan dengan baju serba kuning keemasan.

"Sabarlah, Ketua Bintang. Yang sekarang kau harus lakukan adalah melindungi anggotamu dan anggota Bintang Kemukus yang bagaimanapun juga membutuhkan tenagamu yang masih bisa diharapkan." Seorang kakek berusia tujuh puluh lima tahunan dengan wajah ramah dan pedang berlumuran darah terlintang di depan dadanya, menasihati.

Baju ungu kakek itu sudah berlumuran darah dan compang-camping, mungkin terkena serangan lawannya. Dia adalah Ki Ardam adanya.

"Fyuuh... Setelah ini aku ingin memberikan jabatanku, aku lelah... aku sedih... mungkin aku bakal bertapa di gunung untuk mencuci dosa!" timpal wanita setengah baya dengan baju kebaya kuning yang tak lain adalah Nyi Sawitri itu. Rambutnya disanggul rapi ke belakang dengan tusuk konde motif bunga teratai warna putih.

"Jangan berbicara melulu, bantu aku! Apa kalian ingin aku mati dicincang orang? Grrr!" Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan menggeram. Lelaki itu berpenampilan sederhana, hanya baju putih dengan gambar kepala harimau ditembus dua golok yang menyilang. Rambutnya juga tidak dipermak, hanya dibiarkan terurai apa adanya saja. Di antara semua ketua lima perguruan besar golongan putih, hanya dia yang memiliki sifat pemberang dan liar.

"Haha... Jangan marah dulu, Ki... Baiklah saya bantu," Bintang Endrayana menyahut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment