Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 45

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 45

Adiraja berteriak gusar, berusaha melepaskan diri dari serangan Huru-hara. Namun, pemuda itu laksana bayangan yang melekat erat. Huru-hara tertawa, memuji pukulan Adiraja yang hebat, namun juga meremehkan jurusnya yang dianggapnya kacangan. Gusar, Adiraja meningkatkan tenaga dalamnya dan melancarkan serangan maut. Puluhan serangan berlalu, namun Huru-hara tak kunjung tertangkap. Terpancing murka, Adiraja menggeram, "Bisakah kau bertarung tanpa bermain kucing-kucingan?" Huru-hara membalas, "Jika kau bertanya pada kucing, mungkin ia akan nurut. Sayang seribu sayang, aku bukan kucing... Jangan-jangan kau dilahirkan dari kucing?" Adiraja marah, meneriakkan jurus "Iblis muka empat penjuru". Tubuh Adiraja tiba-tiba menggelembung, muncul tiga wajah baru di belakang kepalanya.

Huru-hara terkejut ketika sebuah tangan menyentuh dadanya. Ia meloncat menghindar. Tali jubah Huru-hara terpotong oleh cakaran Adiraja. Jika bukan Huru-hara, jantungnya pasti sudah copot. Tiba-tiba, keduanya terkejut oleh lengkingan tajam dan munculnya sepasukan pemanah, diikuti pasukan pembunuh. Melihat itu, Huru-hara tersenyum, menyadari pertarungan akan segera berakhir. Meski terkejut dengan perubahan tubuh Adiraja, ia tak kehilangan akal. Ia menyerang kembali dengan jurus Rubah menyembah mayat dan telapak tangan berantai. Adiraja membuang tubuhnya ke belakang, namun ternyata semua serangan itu hanyalah pancingan.

Huru-hara merendah dan menendang tulang kering Adiraja yang dialiri tenaga dalam. Adiraja terguling kesakitan. Meski memiliki empat wajah dan enam tangan, gerakannya tidak leluasa. Adiraja memekik dan mengorok saat Huru-hara menotok jalan darahnya. Perlahan, Huru-hara menempelkan pedang ke leher Adiraja dan memutarnya, menyembelihnya perlahan. Darah memancar ke mana-mana. Huru-hara melemparkan kepala Adiraja ke barisan anak buah Panji Telapak Perak. Nyali mereka runtuh melihat orang kepercayaan kaisar Iblis mati. Pertempuran hampir berakhir. Balatentara Panji Telapak Perak yang kehilangan anggota dan pimpinan mundur dan dikejar oleh kaum persilatan. Mereka tewas tertembus ribuan panah.

Di antara gelimpangan mayat dan bau maut, berhadapanlah Aram, pemuda berjubah coklat, dan Kaisar Iblis, lelaki paruh baya bertelanjang dada dengan garis-garis perak di tubuhnya. Aram mengeluarkan Tenaga Sakti Mata Darah hingga tingkat pamungkas, menggabungkannya dengan Tenaga Bayangan dan ilmu Aura Kematian, merapal Ajian Halilintar Semesta. Kaisar Iblis membalas dengan tubuh berkelebat membentuk tornado perak, menimbulkan gelombang angin yang mengaung laksana suara jutaan tawon. Gelombang angin itu memporak-porandakan daerah sekitar.

Dua tenaga sakti beradu di udara, kilat menyambar, hujan turun rintik-rintik, langit mendung. Jeritan orang-orang di sekitar pertarungan terhempas terbang. Dalam radius lima-enam ratus tombak, manusia tergeletak pingsan atau mati. Kaisar Iblis merasakan badannya seperti membentur dinding tak terlihat saat jurus tornado peraknya beradu dengan jurus Aram. Kejadian itu membuatnya terkejut. Ia melompat keluar dari kalangan pertempuran dengan wajah pucat. Aram tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melompat dan menghajar Kaisar Iblis dengan dua jari yang ditusukkan tepat di jantungnya. Tanpa keluh kesah, tubuh Kaisar Iblis merosot ke bawah dan tergelimpang di atas mayat-mayat lainnya.

Apakah semuanya berakhir? Tidak. Aram tertawa, berteriak, "Kawan-kawan, mari kita berpesta! Kita pulang sekarang!" Teriakan bahagia terdengar dari anak buahnya. Aram terbang dan menyambar seorang gadis yang berada dalam pelukan gadis cantik lainnya. Ia mengambil senjata kayu berbentuk kujang dari sanggul rambutnya, berikatkan daun lontar bertuliskan, "Aku menghilang, datanglah. Tenang, aku muncul, datanglah darah." Setelah kepergian ketua mereka, anak buahnya membantu anggota yang terluka dan membawa mayat. Di tempat itu, hanya tersisa kaum golongan lain yang pingsan, mayat bertumpuk bagai gunung, darah mengalir bagai anak sungai, dan rumput yang dulu hijau kini memerah.

Bagaikan toge, manusia bangkit dari rebahan mereka. Duduk bersila, mengumpulkan memori. Waktu terus berjalan, satu per satu meninggalkan tempat itu. Bisik-bisik dan obrolan ringan keluar dari mulut mereka. Ada yang menangis kehilangan saudara atau sahabat, ada pula yang tertawa gembira. Malam telah menjemput, lolongan serigala bersahut-sahutan. Bau anyir darah menyerbak. Di tempat lain, sekelompok orang mengelilingi pembaringan sederhana dari bambu. Isak tangis dan helaan nafas panjang terdengar. Di pembaringan itu, seorang pemuda tampan tidur telentang, tubuhnya penuh bambu kecil yang tertusuk.

Seorang pemuda tampan berwajah pucat terlelap dalam impian. Di sekelilingnya, sekelompok orang berharap cemas. "Oh, Engkoh Aram..." Seorang gadis cantik menangis pilu. Seorang pemuda tampan lainnya menenangkannya. Sebuah gumaman lemah memecah kesunyian. "Kau sudah sadar, nak..." Seorang wanita paruh baya berkata sambil menyapu air mata. Aram mencoba bangkit namun dicegah oleh seorang kakek yang memegang guci. "Jangan dulu bangun, ruas-ruas sendimu telah lumpuh total. Kau terlalu memaksakan diri. Meski semuanya bisa sembuh dalam tiga bulan, aku harap kau tak melakukannya lagi," katanya bijak. Aram merasa tentram. Ia mengedarkan pandangan matanya yang merah. Tampak di sekelilingnya Nyi Permata Dewi, Ki Asmaradanu, Sipemabuk dari selatan, Thian Liong, Thian Hong, Melati, Angkara, Huru-hara, Amuk Samudra, Luyu Manggala, Ryusuke, Jelita Indria, dan yang lainnya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Nenek, Ayah, Guru, bilakah aku berbicara dengan Angkara dan yang lainnya sebentar," Aram meminta serius. Akhirnya, ketiganya mengizinkan. Angkara maju diikuti anggota lainnya. "Adakah yang harus saya lakukan, ketua?" "Apa bunyi Siasat Rubah nomor 86?" Aram bertanya tiba-tiba.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment