Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 46

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 46

Meski tertegun, Angkara segera menjawab.

"Harimau Sembunyi, Naga Mendekam, Rubah Memantau Api. Sembunyi meninggalkan jejak, pancing dengan nyawa, mendekam menyusun kekuatan, memantau puncak api. Kabut datang, langit gelap, kemenangan diperoleh." Semuanya diam mencerna ucapan Angkara yang memang bermakna ambigu.

"Kau mengerti apa yang harus kau lakukan, Angkara?" Angkara mengangguk paham. Memang Angkara adalah seseorang yang diberi hak untuk memimpin yang lain, sehingga ia yang paling bekerja keras melatih ilmu Rubah Bersiasatnya.

"Amuk Samudra, tolong kau bawa Thian Liong dan Thian Hong ke negerinya untuk mendalami ilmu dari zaman seribu tahun lalu agar berkembang dengan sempurna. Huru-hara dan kau, Luyu, pimpin yang lain membawa kabur anggota Pasukan Inti Bendera Awan Langit. Sebelum tengah malam kalian harus sudah berada di Desa Kebon Jambe, atau boleh lebih jauh. Pergilah ke suatu daerah tersembunyi di balik Gunung Wayang. Dan yang lain boleh membagi menjadi dua kelompok, upayakan agar anggota bersama Huru-hara lebih banyak daripada yang lainnya. Yumi dan Ryusuke, bantulah pasukan pembawa madu ke tempat itu. Setelah semuanya selesai, bawalah Angkara atau yang lain ke negerimu untuk mempelajari ilmu Jujitsu, Ninjutsu, dan yang lainnya. Sementara kalian, carilah guru untuk mempelajari ilmu pedang panjang."

"Samurai maksud Ketua?" sela Ryusuke.

"Benar, itu maksudku. Dua tahun kemudian aku akan menjemput kalian semua melalui syair ini: 'AKU MENGHILANG DATANGLAH TENANG, AKU MUNCUL DATANGLAH DARAH.' Ada yang kalian tanyakan?" Semua menggeleng, pertanda mereka sudah paham.

"Bukalah baju kalian sekarang, serahkan pada Murka Semesta. Dia paham apa yang harus dilakukan." Meski tak mengerti, Murka Semesta mengumpulkan juga pakaian yang lainnya. Setelah semua beres, tanpa pamit lagi mereka berkelebatan meninggalkan tempat itu, kecuali Amuk Samudra, Thian Hong Li, dan Thian Liong.

"Engkoh..."

"Aku paham maksudmu, Sayang, tapi pahamilah nyawamu dan nyawa kita sedang berada di ujung tanduk. Pertarungan belum selesai. Kita berjumpa lagi dua tahun kemudian. Pergilah," dengan berkaca-kaca Aram berkata tegas.

Seperminum teh kemudian, Thian Hong Li belum juga beranjak dari tempatnya.

"Kak Liong..." Aram berkata lagi.

Dengan sedih Thian Liong menotok adiknya hingga pingsan.

"Kita berangkat sekarang, Amuk. Apa perahu sudah siap?" Thian Liong bertanya.

"Perahu sudah siap di Pantai Minajaya. Sekarang kita menuju ke sana." Wusss... bayangan mereka menghilang ditelan kegelapan.

"Cucuku, apa yang sebenarnya terjadi?" Dewi Pemanah Asmara bertanya.

Belum sempat Aram menjawab, dua sosok pemuda tiba-tiba muncul di sana.

"Kebetulan sekali kalian datang, Saudaraku. Aku tahu apa yang akan kalian katakan. Lekaslah selamatkan Raja dan keluarganya sebelum mereka tewas. Dan kau, Kakang Sobar, bantulah aku melepaskan pakaian ini. Kakang paham apa yang harus dilakukan dengan pakaian ini?"

"Adik, adakah siasat lainnya tanpa menggunakan siasat itu?"

"Kakang, segala hal pasti ada risikonya. Bila Kakang saja sudah tak tega, apalagi saya sebagai pemimpinnya. Saya memutuskan bahwa ini adalah jalan terbaik. Meski ada korban jiwa, setidaknya ada harapan untuk mengembalikan dunia persilatan sebagaimana layaknya," Aram menjawab dengan cucuran air mata.

"Baiklah bila memang itu keputusanmu, Adik. Kakang percaya padamu. Bajumu aku ambil."

"Terima kasih, Kakang," ucap Aram terharu.

"Kami pergi dulu, jaga dirimu, Adik. Sampai berjumpa dua tahun lagi, jika Kakang masih hidup," ucap Si Pengabar Langit sambil berkelebat.

"Ketua..."

"Ada apa, Rehan?"

"Dapatkah aku membawa keluargaku pula?"

Aram termenung. "Bilakah itu mungkin, bawalah. Aku percaya padamu."

Brukk... Rehan bersujud. "Terima kasih, Ketua. Jayalah Bendera Awan Langit!"

Sebenarnya Rehan adalah anak seorang hartawan kaya yang kesombongannya luar biasa. Namun hari ini ia bersujud di bawah perintah seorang pemuda yang usianya di bawah dia. Maka jelaslah bahwa Aram merupakan pemimpin organisasi yang luar biasa. Tanpa basa-basi lagi, ia mengikuti yang lainnya berkelebat meninggalkan tempat itu, menyisakan empat orang yang terbengong tak mengerti keadaan.

"Guru, Nenek, Ayah, dalam waktu dua tahun ini bimbinglah adikku, Melati. Pergilah mengasingkan diri dari pulau ini sejauh mungkin. Seperti yang lainnya, aku akan menghubungi kalian dua tahun lagi."

Braakkkk! Sebuah meja dari kayu jati hancur berantakan dihajar telapak tangan Si Pemabuk dari Selatan.

"Murid sialan! Setidaknya kau jelaskan dulu padaku apa yang sedang terjadi. Jangan buat aku seperti orang bodoh begini... glek... glek..." bentaknya jengkel sambil menuang tuaknya. Itulah ciri khas Si Pemabuk dari Selatan yang paling terkenal; jika ia marah atau jengkel, ia akan menuang tuaknya sambil mencak-mencak.

"Hahahaha... kau seperti cacing kepanasan saja, Setan Tuak!" Ki Asmaradanu berjingkrak-jingkrak seperti orang gila. Sepertinya Ki Asmaradanu juga dibuat sinting oleh keadaan di sekitarnya yang sukar dimengerti.

"Apa kau tak dibuat jengkel dengan ulah anakmu itu, bangkotan gila, heh?"

"Haha, iya... aku bahagia. Ternyata sesudah aku menjadi sinting, masih ada juga yang tidak kumengerti." Ki Asmaradanu alias Si Sinting dari Timur tergelak-gelak.

"Sudah, sudah, jangan bertengkar dulu. Daripada kalian bertengkar seperti itu yang tidak akan ada akhirnya, mendingan kalian dengarkan penuturan dari cucuku dulu," Nyi Permata Dewi melerai keduanya. Setelah mengenal keduanya, Nyi Permata Dewi telah menemukan hal yang baru; ternyata kedua datuk dari golongan merdeka itu memiliki hati yang lebih polos daripada orang lainnya.

"Nah, Cucuku, mohon engkau tuturkan supaya kami tidak dibuat seperti orang bodoh lagi."

"Baiklah, Nek. Karena waktu yang sudah mepet, saya hanya akan menjelaskan secara ringkas saja. Sebenarnya Panji Telapak Perak hanyalah sebuah alat percobaan dari organisasi rahasia lainnya. Jika Panji Telapak Perak telah menimbulkan korban sebanyak itu, maka Nenek sekalian bisa bayangkan kekuatan dari organisasi di belakangnya itu."

"Apa?!" Si Pemabuk dari Selatan melotot.

Aram tak menanggapi, ia terus melanjutkan penuturannya. "Dengan memakai siasat pertama, kami ikut dalam pertemuan kemarin. Dan kini saatnya kami menghilang dari dunia persilatan untuk menyusun kekuatan baru. Target pertama mereka adalah kerajaan. Maka dari itu, daerah ini adalah daerah berbahaya." Aram menjelaskan rencana maupun apa yang terjadi saat ini secara ringkas dan garis besarnya saja.

Setelah penuturan berakhir, Nyi Permata Dewi berkata, "Baiklah, Cucuku, kami paham mengenai kondisi saat ini. Baiklah, kami akan berkemas sekarang."

Satu per satu mereka pergi meninggalkan dua insan berbeda di tempat itu. Aram menggapai tangan sosok gadis yang sedari tadi hanya diam saja tak berkata apa-apa.

"Syukurlah, Melati, kau masih hidup. Aku senang sekali. Aku sudah menduga kau bakal selamat dari pembantaian itu. Aku tak percaya bila kau mati begitu saja," Aram berbasa-basi.

"Hik... hik... Kakang Rama, kau sudah dewasa sekarang. Kau berubah menjadi setampan ini. Sungguh beruntung sekali Kak Thian Hong Li mendapatkan cintamu." Melati menubruk dan memeluk Aram yang sedang duduk bersandar.

Aram mengangkat wajah Melati hingga sejajar dengan wajahnya. Sebuah ciuman lembut mendarat di bibir Melati.

"Jangan menangis, Adik. Sayangi air matamu..." Aram berhenti berkata karena bibirnya telah disumbat oleh sesuatu yang lembut.

Malam semakin gelap. Bintang masih berada di peraduannya. Bulan masih setengah bulat. Hening dan sepi, mengantar kepedihan dan duka lara.

Ayam berkokok menyambut fajar, suaranya bersahut-sahutan dengan manusia yang beraktivitas di pagi ini. Suara lesung bertalu-talu menyemarakkan keramaian pagi itu. Suara ramai itu ditambah dengan seseorang yang berteriak kencang.

"Gawat! Gawat! Istana hancur rata dengan tanah! Gawat! Gawat!" Suara teriakan itu mengagetkan semua warga hingga semuanya berkumpul mengerubungi lelaki yang berteriak itu. Seruan tak percaya dan berbagai tanggapan lain berkumandang. Setelah semua berkumpul, lelaki itu berseru.

"Saudara-saudara sekalian, tahun ini adalah tahun paling menyedihkan untuk kita semua. Sebagaimana yang telah kita ketahui, beberapa tahun ke belakang alam mengamuk menumpahkan angkara murka. Ketahuilah Saudaraku, kerajaan telah hancur. Tak ada lagi yang akan melindungi kita." Lelaki itu menghela napas sedih, setelah itu ia melanjutkan, "Saudaraku sekalian, saat ini Yang Mulia Raja bersama Permaisuri dan Tuan Putri telah hilang dari istana. Mayat mereka menghilang. Di sekitar reruntuhan istana hanya ditemukan mayat para menteri dan pejabat lain, juga para tentara kerajaan. Aku, Dewangga, tak sanggup lagi memikul jabatan kepala desa di desa ini. Sebelum aku mengundurkan diri, aku ingin mengadakan upacara sembahyang untuk dewa supaya desa ini tetap jaya."

Ternyata lelaki itu adalah kepala desa tersebut. Desa Salakantring namanya. Desa itu merupakan desa terdekat dari Kotapraja Padjampangan, jadi tidak mengherankan apabila kabar hancurnya istana dapat segera sampai di desa itu. Lelaki itu berusia sekitar empat puluh lima tahun, berwajah ramah dengan tahi lalat di dagunya. Dia merupakan kepala desa yang terkenal ramah namun ceroboh dalam segala hal.

Seperti halnya kedatangan dia ke tempat itu, ia berteriak-teriak nyaring membuat semuanya panik luar biasa. Tapi warga di sana tidak ada yang keberatan dengan tingkahnya karena memang mereka sudah mengenalnya sedari dulu.

Di tempat lain, tampaklah sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa; ratusan orang mengelilingi tempat itu dengan tatapan sedih. Tempat itu bukanlah lagi sebuah istana yang seharusnya dipuja oleh semua masyarakatnya, apalagi mengingat bahwa istana itu telah menjadi abu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment