Chapter 47
Tetapi, tempat itu hanyalah sebuah tempat bordir yang isinya merupakan sampah masyarakat belaka.
Tetapi, entah mengapa sebuah tempat yang selalu dianggap hina itu kini dijadikan tempat bersedih semua orang persilatan.
"Selama hidupku baru kali pertama aku harus bersedih atas kematian orang-orang dari golongan merdeka yang bahkan berpusat di tempat seperti ini," ucap seorang lelaki berbaju serbaputih dengan sebatang tombak di punggungnya.
Di dunia persilatan, ia dikenal dengan nama Si Tombak Tunggal.
"Engkau benar, meski dari golongan yang tidak jelas juntrungannya, tetapi mereka sangat berjasa dalam melangsungkan putaran roda dunia persilatan," jawab temannya.
Selagi semua orang berbincang-bincang mengenai kejadian hari ini, tiba-tiba berkelebat sosok bayangan putih dan hijau ke tengah-tengah arena puing-puing sisa bangunan yang terbakar itu.
Dua sosok bayangan itu tiba-tiba menekuk lutut memberi penghormatan kepada dua sosok manusia berjubah cokelat yang duduk berhadapan dengan pedang yang saling menembus di punggung.
"Pendekar Seribu Diri, Pengabar Langit, kalian merupakan orang yang tidak pernah memedulikan adat...
Tetapi, kalian adalah seorang ksatria sejati yang telah mengukir sejuta harapan di antara sekalian tokoh persilatan, selamat jalan.
Semoga arwahmu tenang di alam baka...." Nyi Dewi Renjani alias Bidadari Penakluk Naga berdoa.
"Anak muda...
Meski aku tidak mengetahui siapakah kau sebenarnya, namun kecerdikan dan kegagahanmu telah menggugah hati nuraniku.
Maka dari itu, sebagai bentuk penghormatanku...
aku akan mengasingkan diri mengenang semua perjalananmu.
Anak muda, aku merasa miris dengan nasib kalian semua, tidak kusangka kerajaan akan bertindak seceroboh itu. Dengarlah, anak muda, kerajaan juga telah menjadi abu dalam waktu bersamaan.
Aku tidak mengerti dengan kejadian dunia persilatan hari ini.
Sungguh membuat hati bertanya-tanya." Kabar berita kematian Pendekar Seribu Diri, pemimpin-pemimpin dari Perguruan Merdeka, dan pasukan Pemuda berjubah cokelat dalam waktu singkat telah tersiar ke mana-mana.
Pendekar Jala Samudra Hitam, Pendekar Harum Mewangi, dan Pendekar Garpu Tala yang terkenal dengan kesaktiannya, saat itu sedang minum tuak merayakan keselamatan mereka di Lembah Kematian. Begitu menerima berita itu, serentak mereka meletakkan cangkir dan langsung berangkat ke rumah bordir di daerah Ciburial. Bintang Endrayana, ketua dari Rajawali Emas, yang pada saat itu sedang membeli kain baju, demi mendengar kabar itu, tanpa pamit pada anggota lainnya langsung melompat ke atas kuda. Kemudian, ia berangkat ke penginapannya dan langsung memberitahu keempat ketua perguruan lain dan berangkat bersama kelima ketua perguruan besar yang lain.
Di Desa Ciranjang, Si Tangan Besi Malik Murak dan Si Golok Racun Sastra Jendra, yang sedang berperang tanding karena masalah perempuan.
Tetapi, begitu mendapat kabar bahwa sang pahlawan yang begitu berjasa dalam berlangsungnya roda dunia persilatan telah wafat bunuh diri karena diserbu pasukan kerajaan, serentak runtuh semangat tempur mereka. Akhirnya, kedua orang itu berangkat bersama ke Desa Ciburial dengan membawa anak buah serta kawan-kawan mereka yang ditemui di perjalanan.
Ada orang lain lagi yang menerima berita melalui macam-macam cara, tanpa pertimbangan lain segera mereka berangkat menuju Desa Ciburial.
Desa Ciburial adalah sebuah desa yang tidak terlalu ramai, tetapi mendadak hari itu dibanjiri tamu dari penjuru negeri, apalagi di Tanah Jawa ini masih banyak kaum persilatan dari negeri lain yang belum pulang ke negerinya dikarenakan kejadian kemarin. Yang paling beruntung adalah para pedagang kedai dan penginapan-penginapan.
Seluruh penginapan telah penuh, bahkan beberapa di antaranya ada yang rela tidur di hutan.
Atau di tempat-tempat lain.
Mereka juga tahu bahwa pada hari itu kerajaan telah diserbu orang hingga menjadi abu, tetapi tidak ada seorang pun yang peduli.
Tidak ada seorang pun yang membahas tentang hancurnya atau sebab-musabab kehancurannya.
Yang ada hanya cacian-cacian pedas terhadap kerajaan.
Mereka malah bersyukur bahwa kerajaan mendapat imbalannya.
Tanpa mereka sadari, sosok lelaki bercaping lebar menitikkan air matanya.
Bukan terhadap kematian para anggota yang mati di tempat itu.
Melainkan menitikkan air mata karena para kaum persilatan mencaci maki kerajaan yang telah menjadi abu.
Terdengar seseorang di sampingnya yang juga memakai caping lebar berkata.
"Apakah sekarang Yang Mulia sadar, bahwa Yang Mulia telah menanam bibit dendam kaum persilatan terhadap kerajaan?" Yang dipanggil Yang Mulia itu tidak menjawab, ia melengos dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Rintik hujan membasahi bumi, jatuh mengalir ke tempat yang rendah.
Angin bertiup perlahan membawa kesedihan di hati semua orang yang sedang mengelilingi kubangan besar di tempat itu.
Satu per satu orang-orang itu mengangkut mayat-mayat yang telah dijejerkan di tanah lapang.
Dan dengan hati-hati dimasukkan ke dalam kubangan itu.
Satu, dua, tiga, empat...
Dua ratus dua puluh mayat telah dikuburkan di tempat itu, hingga tertinggal satu mayat.
Mayat seorang pemuda tampan memakai jubah cokelat dengan peralatan rubah.
Dengan hati-hati, mayat itu diangkut dengan sebuah bambu dan diletakkan di antara mayat-mayat berjubah cokelat yang lain.
Tanah mulai diuruk, menutupi mayat-mayat dalam kubangan itu.
Isak tangis kesedihan terdengar di tempat itu.
"Saudara-saudara sekalian, entah kesalahan apa yang menimpa seorang pahlawan bagi kita semua ini, sehingga harus mati di antara kesedihan. Mungkin beliau bunuh diri karena tidak sanggup lagi menahan derita atas kematian anggotanya yang lain.
Sungguh, seorang pemimpin yang rela mati bersama anggotanya merupakan seorang yang gagah.
Pihak kerajaan sungguh terlalu, jika seandainya saat ini tidak menjadi abu mungkin kita dapat melampiaskannya dengan membumihanguskannya.
Namun sungguh nahas, kerajaan telah hancur menjadi abu.
Menjadikan kita ini kehilangan kendali akan pelampiasan dendam berdarah ini." Seorang kakek-kakek berjubah hitam berkata, kakek itu berwajah penuh kerut ditelan usia.
Sikapnya masih gagah dan tenang.
Meski dalam dunia persilatan ia terkenal sebagai tokoh hitam yang ganas, namun saat ini bagaikan macan kehilangan giginya.
Kakek itu terkenal dengan julukannya yang cukup seram, Bangkotan Demit Edan.
Perkataan itu sontak saja membuat para pelayat menjadi bergemuruh laksana guntur di senja hari.
Senja telah datang, malam mulai gelap.
Satu per satu pelayat itu meninggalkan tempat, hening mulai tercipta, malam semakin kelam.
Suasana seram di antara kepulan debu membuat bulu roma siapa pun merinding.
Sebenarnya, apakah Aram dan kawan-kawannya telah mati?
Permadani biru masih terbentang, kecipak suara ikan masih terdengar syahdu.
Kuciup aroma parfum garammu.
Deburan ombak perlahan menyapu sampanku.
Sampan bambu harapanku.
Wahai burung yang terbang di sana, mendekatlah dan menari di sini.
Kumerindukanmu... Hm... suit... suitt... suiit... tut... trulut.
Siulan dan nyanyian merdu terdengar dari seorang pemuda belia yang tampan rupawan, dengan hidung layaknya paruh gagak, kulitnya putih bersih bak mutiara dari dasar laut, berpadu dengan pakaiannya yang hitam kelam.
Pemuda itu memiliki bibir merah muda menantang dihiasi gigi putih yang berderet rapi.
Mata pemuda itu merah darah dipayungi dengan alis sayap elang.
Sungguh, pemuda yang tampan luar biasa.
Pemuda itu berdiri tegak menantang lautan di atas sebuah sampan dari bambu, matanya menatap lurus kepada burung-burung camar yang berterbangan menyambar ikan.
Sampannya melaju kencang meski tidak memakai layar apalagi dayung.
Bahkan bergoyang indah dipermainkan ombak yang sekali-sekali menghantamnya.
"Uhuk...uhukkk!" Pemuda itu batuk-batuk sambil memegang dadanya yang sepertinya terasa sesak.
"Akh, daratan! Syukurlah...
Sudah seminggu ini aku berlayar mengarungi samudra ini." Karena terlalu bergembira, pemuda ini tidak sadar bahwa secara tiba-tiba di belakang sampannya sebuah gulungan ombak setinggi empat kaki menghantamnya. Byurrr!
Pemuda itu terkejut, ia kehilangan keseimbangan dan terlempar ke arah sebuah karang yang menonjol.
Hingga tidak pelak lagi jidatnya terbentur keras.
Pemuda itu merasakan dunia berputar, pandangannya sayu, perlahan gelap...gelap... maka pingsanlah ia.
Entah berapa lama telah berselang, akhirnya pemuda itu mulai siuman, ia merasakan sakit luar biasa pada pundak kanan dan kirinya. "Ugh!" keluhnya lirih.
Semakin sadar, ia merasakan pundaknya semakin sakit.
Ia sadar, rasa sakit itu bukanlah sebuah khayalan.
Ia mencoba membuka matanya yang terasa berat.
Setelah terbuka, hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah batu yang saling menonjol di atas langit-langit gua dan sebuah obor di atas tulang kepala kerbau hutan.
Setelah pandangannya mulai terbiasa, ia melirik ke arah pundak kanannya yang terasa sakit.
Ia mendelong, ia benar-benar kaget luar biasa. Ternyata rasa sakit itu disebabkan oleh sebuah pasak dari kayu yang menembus tulang pundaknya membuat ia terkunci di atas sebuah pembaringan.
Setelah merasakan dinginnya keringat di dahi, pemuda itu segera memalingkan wajah ke arah pundak kirinya. Ternyata pundak kirinya sama halnya dengan pundak kanannya.
Keringat dingin mulai membanjir, perasaannya galau tidak keruan.
Setelah beberapa saat ia mulai tenang dan mengerahkan tenaga dalamnya, kali ini ia benar-benar telah larut dalam kesedihannya. Titik-titik air mata mulai menjatuhi pipinya.
Ternyata, tenaga dalamnya ikut musnah.
Perlu diketahui, tulang pundak merupakan sebuah alat vital dari seorang pesilat. Jika seorang pesilat terluka parah di bagian tulang pundak, sama halnya dengan memusnahkan ilmu silatnya.
Ia mencoba mengangkat kakinya, namun ia kembali mencelos setelah dicoba diangkat.
Ia sadar kakinya diborgol dengan rantai, terbukti dengan gemerincing suara logam yang beradu.
Bau amis, apek, kelembapan, dan bau aneh lainnya merangsang hidung pemuda itu, hingga ia hampir saja muntah.