Chapter 48
Dalam kesunyian goa itu, mendadak berkumandang gelak tawa aneh yang membuat siapa saja yang mendengarnya ketakutan setengah mati. Pemuda itu merasakan bulu kuduknya berdiri meremang. Tampak sesosok bayangan bagai hantu berkelebat masuk. Bayangan itu ternyata adalah seorang kakek kurus tinggi dengan jenggot berwarna perak sepanjang lutut.
Dengan sorot mata jalang dan sadis, kakek itu menatap ke arah pemuda tersebut. Senyuman puas dan sadis menghiasi bibirnya, membuat sang pemuda tercekat. Selangkah demi selangkah, kakek itu maju menghampiri semakin dekat. Di bawah penerangan obor yang suram, tampak kakek itu berambut kusut masai dengan muka pucat dan kurus. Pakaiannya yang sudah koyak-koyak tidak lagi kelihatan warnanya; keadaannya begitu mengerikan.
Kakek itu menatap pemuda yang terbaring di atas pembaringan dengan tajam, seperti orang yang sedang menikmati karyanya sendiri. Dia menjambak rambut pemuda itu sehingga kepalanya menengadah. Dengan seksama, dia mengawasi wajah pemuda itu, "Hehehe... sebuah bahan percobaan yang bagus, haha."
"Dengarlah wahai dunia, aku, Tabib Sesat Raga, akan menciptakan seorang manusia yang lain dari yang lain. Hahaha!" Tawa itu bagaikan suara iblis yang haus akan darah, begitu mengerikan dan membuat bulu roma berdiri tegak. Namun, tidak bagi pemuda itu. Ia hanya mengerutkan kening seakan memikirkan sesuatu. Mulutnya bergerak-gerak ingin bicara, namun suaranya seakan hilang, hingga ia hanya bisa mengap-mengap seperti ikan yang tidak diberi air.
Tiba-tiba, kakek itu mengeluarkan beberapa batang bambu kecil yang runcing dari dalam lengan bajunya. Dengan mendelik, ia memerhatikan bagian-bagian tubuh pemuda yang terbaring lemah di depannya, lalu menusukkan bambu-bambu kecil itu di tengah dada sang pemuda.
"Ukhhhgg," pemuda itu mengeluh. Rasa sakit seperti menusuk sanubari, mungkin saking kesakitannya, sekujur tubuh pemuda itu mengejang dan bola matanya yang merah darah terbelalak lebar. Tak berhenti sampai di situ, kakek itu lalu menusukkan bambu-bambu runcing di bagian tubuh lainnya hingga total ada lima puluh batang bambu.
Setelah puas dengan tusukan bambunya, kakek itu mengeluarkan bumbung dari bambu, membuka tutupnya, lalu berkata, "Ini adalah air laut merah darah dari negeri tandus sana. Aku berbaik hati memberikannya cuma-cuma kepadamu, jadi berterima kasihlah, hahaha!"
Setelah berkata demikian, kakek itu mengucurkan air tersebut ke dalam rongga-rongga bambu satu per satu. Bau garam menyengat hidung. Pemuda itu benar-benar kesakitan; garam yang bercampur dengan darah bagaikan tangan yang dicincang secara perlahan. Rasa sakit itu membuat tubuhnya kaku, lalu ia jatuh pingsan. Darah segar tampak meleleh dari ujung bambu yang tertancap, menetes demi tetes membasahi tanah. Cahaya obor yang suram tampak terlalu redup untuk menerangi ruangan yang gelap pekat ini, kepekatan yang menyiarkan bau amis dan anyir yang memualkan. Setelah puas dengan hasil karyanya, kakek itu perlahan meninggalkan pembaringan dengan tawanya yang khas.
Entah berapa lama waktu telah berjalan, di goa itu tidaklah diketahui siang ataupun malam. Pemuda yang terbaring dengan puluhan batang bambu itu mulai siuman kembali; sepertinya rasa sakit membuat pemuda itu sadar dari pingsannya. Sekujur tubuhnya telah basah oleh cairan merah, ia berkelojotan seperti terkena ayan. Mukanya yang putih kini pucat menampilkan rasa kesakitan yang luar biasa, apalagi darahnya disedot dengan cara yang sadis. Matanya terpejam menahan sakit, darah kembali menetes dari ujung pembaringan membasahi lantai di bawahnya. Rasa sakit itu memang tidak tertahankan lagi. Mulut pemuda itu megap-megap, namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Tubuhnya masih terus mengejang, keringat darah terus bercucuran. Giginya yang gemerutuk menjadi sebuah paduan suara mengerikan dengan bunyi gemerincing rantai yang membelenggu kakinya.
Tap... tap... bunyi langkah kaki terdengar. Pemuda itu mengeluh, ia sadar siksaan baru telah menantinya. Benarlah saja, bunyi langkah kaki itu memang milik kakek yang menyiksanya. Setelah sampai di tepi pembaringan, kakek itu terkekeh-kekeh.
"Brukkk... brukkk... bruk." Suara benda jatuh terdengar keras. Setelah diperhatikan, ternyata benda itu adalah seekor serigala sebesar anak kerbau berbulu perak belang hitam, seekor rajawali sebesar kambing dewasa berbulu merah keemasan, dan sebuah buntalan dari daun kelapa yang dianyam.
"Haha... kau anak bagus. Kau satu-satunya yang masih hidup setelah dicuci darah dan digantikan dengan air laut merah, haha!" Kakek itu mencabuti puluhan bambu itu lalu menyimpannya di sisi pembaringan. Kakek itu berjongkok, mengambil sebuah selang dari bambu lentur, dan dengan hati-hati menusukkan selang itu di nadi pergelangan pemuda itu, berulang-ulang sampai ada tujuh tempat penusukan. Kemudian, kakek itu mengikat ketujuh selang dari bambu lentur tersebut menjadi satu.
Kakek itu lalu mengambil serigala tadi dan menggoroknya dengan kuku jarinya sehingga darah serigala itu mengucur deras ke dalam kendi. Setelah dianggap cukup, bangkai serigala yang masih mengucurkan darah itu segera dilemparkan ke dalam sebuah bak dari batu di atas kepala pemuda tersebut. Selesai dengan serigala, kakek itu ternyata belum puas; ia segera mengambil rajawali yang tergeletak pasrah di tanah. Seperti halnya serigala tadi, burung rajawali itu diperlakukan sama.
Setelah selesai, kakek itu mengaitkan tali kendi di sebuah palang di atas pembaringan (zaman sekarang disebut infusan) sambil tertawa terkekeh-kekeh, lalu beranjak meninggalkan tempat itu. Pemuda itu tersenyum getir, meski hanya sebuah garis tipis yang melengkung. Matanya terpejam, mengantarkannya ke dalam alam bawah sadarnya. Ternyata pemuda itu pingsan diiringi dengan sebuah senyuman; benar-benar pemuda yang sangat aneh bin ajaib. Segala hal pasti ada hikmahnya, itulah prinsip pemuda yang tergeletak pingsan itu. Maka dari itu, meski tubuhnya penuh dengan luka, ia masih dapat tersenyum, senyuman seorang yang memiliki jiwa tegar.
Entah berselang berapa lama kemudian, di tengah rasa kesakitan yang masih menyiksa dirinya, perlahan pemuda itu siuman dari pingsannya. Ia membuka matanya dan mulai mengeluarkan rintihan perlahan. Sepertinya, darah dari kedua hewan itu telah membantunya untuk memulihkan tenaga. Rasa sakit di pundak dan sekujur tubuhnya sungguh tak akan tertahankan oleh siapapun. Tubuhnya seperti mati, tak berjiwa lagi; rasanya seperti linu, tapi bukan sakit, juga bukan pegal. Pendek kata, perasaan yang tercampur aduk itu sukar dilukiskan.
Siksa badan mungkin ia masih tahan, tapi siksa batin adalah yang paling hebat menimpanya; jiwanya benar-benar merintih, bahkan menjerit. Ingatan akan teman-temannya, kekasihnya, dan keluarganya terus berkelebatan di pelupuk matanya. Ia benar-benar kehilangan arah. Matanya menatap lurus dinding goa yang bertonjolan, tanpa sadar air matanya jatuh berlinang.
"Huahahaha, keh... keh... ternyata orang yang aku pikir seorang lelaki sejati kini hanyalah sebuah mimpi. Ternyata pemuda yang dihadapanku hanyalah seorang pengecut yang menangis hanya dengan sedikit siksaan, hahah!" Sebuah suara serak mencacinya.
Pemuda itu tertegun. Ia tak sadar bahwa sejak tadi seseorang sedang memperhatikannya. Diam-diam ia merasa malu, wajahnya memerah.
"Cis, aku Aram Widiawan tidaklah akan menangis bila hanya mendapat siksaan seperti ini. Aku hanya merindukan kawan-kawanku yang selalu menanti," jawab pemuda yang tak lain adalah Aram itu.
"Benarkah?"
"Cis, seribu siksaan darimu pun aku masih sanggup menahan, apalagi hanya seperti ini."
"Hahaha... ternyata kau memiliki jalu juga, hahan... baik, apa kau akan sanggup menerima yang berikutnya?" ancam kakek itu sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Kakek itu tiba-tiba bangkit dan mengambil sebuah pisau kecil di sisi tubuhnya. Melihat itu, Aram mengeluh dalam hati. Ia menyesal harus terbawa emosi oleh si kakek, tapi ia tak sudi menunjukkan kelemahan. Dengan mengerahkan semangat, ia meneguhkan hatinya demi menghadapi siksaan berikutnya.
Kakek itu dengan kecepatan laksana kilat mencabuti setiap bambu lentur yang menempel di tubuh Aram. Setelah beres, kakek itu menancapkan pisau di dekat leher samping kiri, lalu tertawa terkekeh-kekeh sambil berbalik menuju ke atas kepala Aram. Entah apa yang dilakukannya, membuat orang bertanya-tanya. Namun, bagi Aram, hal itu tak membuatnya bertanya-tanya; ia yakin apa pun itu, pasti merupakan media alat penyiksa bagi dirinya.
Kakek itu berbalik, di tangannya terdapat empat buah macam benda bulat berlumuran darah merah segar. "Nah anak muda, mata apa yang kau suka, mata rajawali atau mata serigala... haha..."
Ternyata benda bulat di tangan kakek itu adalah mata rajawali dan mata serigala tadi. Keringat bercucuran di dahi Aram; ia sadar target berikutnya adalah mata. Masih mending bila kakek itu membuatnya tak sadar lalu diambil, tapi bila si kakek melakukan sesuatu yang lain...
"Menilik dari alismu yang seperti sayap elang, baiklah aku putuskan bahwa yang akan kau pakai adalah mata rajawali ini. Hehe... eh, akan lebih bagus bila pencangkokan mata ini dilakukan jika pasiennya dalam keadaan sadar... nah, bersiaplah...." Putus kakek itu sambil tertawa terkekeh-kekeh lalu menotok bagian-bagian tubuh Aram.
Tak selang begitu lama, kakek itu membentuk tangan kanannya menjadi huruf V, dengan perlahan tangan itu diturunkan ke arah mata dan ditekan... Aram mengeluh kesakitan. Ia ingin sekali meronta, namun jangankan meronta, berteriak pun susahnya selangit. Nampaknya kakek itu telah menotok jalan darah, kaku, dan bisu. Darah keluar menetes dari sela-sela matanya. Kedua bola mata itu perlahan keluar dari tempat kedudukannya sampai suatu ketika, kedua bola mata itu benar-benar keluar. Sebuah benda kemerahan dari bola mata itu menjulur ke dalam kedudukan mata tersebut.