Chapter 49
Dengan menggunakan kuku jarinya, benda seperti ari itu dipotong hingga putus.
Rasa sakit Aram benar-benar tak tertahankan. Ia ingin sekali pingsan untuk mengakhiri siksaan itu, tetapi harapan itu kandas karena ada bagian tubuhnya yang tertotok sehingga ia tidak bisa kehilangan kesadaran.
Waktu terus bergulir cepat. Tak terasa satu bulan telah berlalu menurut hitungan pemuda yang terbaring lemah di pembaringan itu. Selama satu bulan ini, setiap hari ia disiksa dengan berbagai cara oleh kakek yang tak jelas asal-usulnya. Sebetulnya tubuhnya sudah mati rasa, namun setiap kali napasnya sudah kempas-kempis, kakek itu selalu memberinya minum darah dari dua jenis hewan yang telah disimpan sebelumnya untuk mempertahankan hidupnya.
Selama satu bulan ini, dia sudah mengalami siksaan lahir batin; siksaan paling keji di dunia sekalipun telah ia rasakan. Keadaannya tidak segagah, setampan, serta selincah sebelum datang ke tempat itu. Aram Widiawan, sang pahlawan yang dipuja oleh umat persilatan, kini tinggal kulit membungkus tulang. Tubuh yang dulu kekar, putih, dan mulus tanpa cacat, kini dipenuhi luka sayatan. Sekujur tubuhnya, kecuali wajah, tak ada tempat yang luput dari luka. Luka adalah pelipur laranya, sakit adalah kawan sejatinya. Kini, setiap kali tubuhnya disayat pisau, ia tak perlu menjerit karena benar-benar telah mati rasa.
"Kau benar-benar anak baik...." Kakek itu tersenyum lembut, senyuman yang menenangkan jiwa seolah membuat pemuda itu diguyur es dari kutub selatan. Di tangan kakek itu tergenggam cambuk berduri dari akar pohon.
Diiringi desingan nyaring, cambuk itu menggelepar ke arah pemuda yang terbaring. "Ctarrrr!" "Ukh!" "Ctarrrr!" Aram mengeluh, mulutnya tergagap, bibirnya gemetar, dan napasnya sudah tersengal. Dalam keadaan setengah sadar, Aram bergumam dengan mata tertutup kain, menatap wajah sang kakek.
Kakek itu terbahak-bahak melihat ulahnya, lalu berkata, "Bicaralah, anak muda." Selama setengah bulan terakhir disiksa, di dalam hati kecilnya, Aram telah memikirkan sesuatu yang akan menentukan masa depannya. Ia akan bertaruh dengan nasibnya melalui sebuah perkataan.
"Kita berdamai..." hanya itu yang mampu ia katakan saat ini sebelum tubuhnya menyerah dan ia jatuh pingsan. Kakek itu tertegun, lama ia melamun. Setelah menghela napas panjang, ia berjalan terseok-seok menuju bangku di samping kiri pembaringan. Ia duduk merenung memikirkan dua patah kata dari pemuda yang selama ini ia siksa. Selama sebulan ini, ia benar-benar tersentuh. Selama penyiksaan berlangsung, dari mata pemuda itu tak ada dendam yang terpancar. Bahkan saat pencangkokan mata, pemuda itu hanya menunjukkan rasa sakit tanpa hawa kebencian.
Waktu adalah sesuatu yang tak bisa dihentikan, ia tetap berjalan seiring putaran bumi. Di tempat itu, kakek tersebut tersentak kaget mendengar lenguhan orang yang tersadar dari pingsannya.
"Ukghhhhh." Suara itu begitu lirih dan menyayat hati. Meski memiliki hati sekeras baja, kakek itu tak urung menghela napas panjang.
"Apa yang akan kau damaikan, anak muda?" tanya kakek itu lantang dari tempat duduknya.
"Izinkan aku bergerak bebas, dan dalam waktu berkala, kau boleh menyiksaku kembali," jawab Aram disertai sengal menahan sakit.
"Hahah, permintaanmu itu sudah aku duga, anak muda." Kakek itu tertawa terbahak-bahak. Hatinya merasa kagum dengan insting pemuda itu; ia tidak menyangka Aram siap disiksa kapan pun ia mau.
"Apakah syaratnya?" tanya pemuda itu lirih. Kakek itu kembali tertegun. Sebelum ia sempat menyampaikan syarat, pemuda itu sudah mampu menebaknya.
"Tampaknya pemuda ini memiliki kecerdasan yang luar biasa. Baiklah, aku tak akan sungkan," batin sang kakek. "Syarat pertama, setiap hari kau harus mengisi bak air di depan. Kedua, kau harus mematuhi perintahku tanpa ada kata menolak. Terakhir, syarat lainnya akan kukatakan dalam kondisi yang memungkinkan. Bagaimana?"
Pemuda itu tidak menjawab, ia hanya mengangguk lalu tiba-tiba mengejang dan menggeram. "Geerrrrr.... Auuuuuuuuuummmm... Keeeaaakkk!" Pemuda itu bergetar hebat. Pasak yang menempel di tubuhnya mencelat dan menancap di langit-langit gua. Tubuhnya bergulingan, mulutnya tak berhenti mengaum hebat hingga membuat gua bergetar. Ia meringkuk, lalu mengambil posisi merangkak. Tangannya mencengkeram lantai gua dengan erat. Dari punggungnya muncul tonjolan besar, lalu dari sana muncul bulu-bulu hitam. Debu mengepul tertiup angin dari kebasan tonjolan daging itu hingga menutupi tubuh pemuda tersebut.
Debu tebal perlahan-lahan memudar. Samar-samar tampak sosok manusia dengan sayap di punggungnya. Sosok itu adalah seorang pemuda tampan dengan mata seekor rajawali. Di punggungnya, sayap hitam keemasan terbentang setengah terbuka. Rambut pemuda itu berwarna perak, dan ia memiliki ekor mirip serigala. Pemuda itu tampak tertegun dengan kondisi tubuhnya. Ketika ia membuka bibir yang semerah darah, dua buah taring runcing tersembul keluar.
Perubahan itu tidak berlangsung lama. Hanya dalam waktu seperminum teh, Aram terhuyung dan jatuh tergeletak di lantai gua dalam keadaan pingsan. Tubuhnya kembali normal dan sayap itu dengan ajaibnya masuk ke dalam tubuhnya. Kakek itu terbahak-bahak, lalu memegang kaki pemuda itu dan menggusurnya keluar gua.
Setelah berada di luar, keadaan berbanding terbalik dengan kondisi di dalam gua. Pemandangan indah terbentang di depan mata. Ternyata gua itu berada di puncak gunung mati. Di bawah lereng, tampak bukit-bukit hijau dikelilingi pohon rindang. Sebuah aliran sungai dari kejauhan bagaikan ular yang sedang berjalan, dan di bukit lain terlihat air terjun yang indah. Keindahan itu bagaikan nirwana, namun terasa hambar karena tidak ada kehidupan. Tidak ada burung atau hewan lain. Pohon-pohon pun tidak bergoyang. Ternyata di sana tidak ada angin; entah bagaimana kedua manusia itu bisa bernapas.
"Uhuk... Uhukkkk..." Suara batuk berkumandang, terdengar seperti orang yang terlalu banyak meminum air. Di sebuah kubangan seluas delapan tombak persegi, pemuda itu terbungkuk-bungkuk memuntahkan air berwarna kuning kunyit yang bening.
"Berhenti main air, naiklah ke daratan, bocah!" tegur suara serak sang kakek. Dengan segenap kemampuan, pemuda itu berusaha naik dan merangkak menuju mulut gua.
"Ukh, setelah sekian lama dipasak di pembaringan, berjalan pun susahnya minta ampun," gerutu pemuda itu.
"Brakkkkk!" Empat buah cangkang buah maja tergeletak di hadapannya.
"Lekas ambil air, penuhi bak itu!" teriak sang kakek.
"Hah?" Mulut pemuda itu kembali menganga.
"Aku bilang lekas ambil air!"
"Dalam kondisi tubuh seperti ini?"
"Ya."
"Serius?"
"Tentu."
"Huh, baik, tapi..."
"Tapi apa lagi, heh?"
"Di mana?" Pemuda itu bertanya, membuat sang kakek mencak-mencak.
"Di mana apanya, heh?"
"Airnya..."
Kakek itu terdiam, lalu bangkit dan meloncat bersalto di udara. "Kau lihat bukit itu?" Kakek itu menunjuk sebuah bukit di lereng gunung.
"Ya," jawab Aram.
"Dari bukit itu, kau berjalan sekitar dua mil ke kanan hingga sampai di pinggir sungai dengan air hijau."
"Baik, aku berangkat sekarang." Pemuda itu mulai merangkak.
"Tunggu!"
"Apa lagi sih, Kek?"
"Dari sana kau menuju ke selatan sampai menemukan batu jembatan. Lewati sungai itu, lalu berangkatlah ke tenggara hingga menemukan air mata biru. Dari sana, masuklah ke dalam gua sampai kau menemukan air putih, seputih susu. Ambillah air itu."
"Hait! Kau gila? Bukankah air yang kau bilang biru dan hijau itu air beracun?" pekik pemuda itu.
"Hem, setitik saja air itu menetes di kulitmu, maka tubuhmu akan melepuh hingga menjadi tulang," ucap kakek itu sinis.
Diam-diam pemuda itu merinding. Tanpa pamit lagi, ia merangkak menuruni puncak gunung dengan membawa empat cangkang buah maja. Baru sepuluh dua puluh rangkakan, kakek itu kembali menegur.
"Tunggu!"
"Apa lagi sih, Kek?"
"Siapa namamu?"
"Aram, Aram Widiawan. Dan kakek?"
"Cih, bocah, sekali lagi kau tanya namaku kupenggal kepalamu! Aku Rajadiseta, paling benci jika ada orang menanyakan namaku."
Aram tertawa geli. Ia heran, jika orang lain bertanya, kakek itu justru mengancam.