Chapter 50
Namun, ia malah membocorkan namanya sendiri tanpa sadar, atau mungkin itu sudah menjadi kebiasaannya. Karena kakek itu tak bertanya lagi, Aram mulai mengumpulkan semangat dan keteguhan hatinya; ia mulai merangkak kembali menuruni lereng. Karena merangkak tentu lebih lambat dari biasanya, dalam setengah hari ia hanya mampu menuruni seperempat lereng gunung. Benar-benar sebuah kemunduran yang luar biasa. Jika dulu ia mampu melewati beberapa mil hanya dalam beberapa jam, kini ia perlu waktu setengah hari hanya untuk menempuh satu setengah mil.
"Ukh... Ya Tuhan... Aku yakin Kau memberiku cobaan seperti ini untuk meruntuhkan kesombonganku, kecongkakanku yang merasa memiliki ilmu tiada tara. Kini aku sadar, wahai Tuhanku, aku hanyalah seorang manusia yang untuk berjalan pun memerlukan tuntunan-Mu."
Aram berdoa dengan menyandarkan punggungnya di sebuah pohon. Lutut dan telapak tangannya sudah mulai berdarah, keringat bercucuran membasahi tubuhnya yang telanjang dada. Napasnya tersengal tak beraturan, sementara matanya yang setajam rajawali mulai beradaptasi. Ia merasakan mata itu lebih tajam daripada sebelumnya. Dengan memusatkan segenap rasa dan ciptanya, ia mengamati sebuah titik benda di kejauhan. Tubuhnya bergetar ringan karena terkejut dengan hasilnya.
"Gila... tak kusangka jarak beberapa mil dapat kulihat dengan mataku..."
Tak terasa setengah hari telah berlalu, akhirnya Aram sadar dari keasyikannya. Ia segera mengaitkan tali buah maja pada lehernya dan kembali merangkak. Hari mulai temaram, menyelimuti dunia. Aram terus merangkak meski tubuhnya sudah tak kuat; lututnya terasa perih, tangannya terasa pedas, dan rasa pegal sudah menyelimuti sekujur tubuhnya. Namun, ia adalah pribadi yang teguh. Meski tubuhnya telah mencapai batas kemampuan, ia masih terus merangkak hingga akhirnya tergeletak pingsan karena kelelahan.
Semuanya gelap dan sunyi, tak ada nyanyian malam, tak ada suara binatang malam; semuanya sunyi seperti kuburan. Aram yang tergeletak pingsan mulai sadar. Ia mencoba mengerjapkan matanya; mata setajam rajawali itu bersinar-sinar dalam kegelapan. Dengan mengerahkan segenap kemampuannya, ia kembali mengambil posisi merangkak. Lamat-lamat sinar mentari mulai menerobos dedaunan, rupanya fajar telah tiba.
"Ukhhh...." keluh pemuda tampan itu dengan lutut dan telapak tangan berlumuran darah di atas bukit kecil yang ia tuju.
Sebenarnya, ia bisa saja memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri agar selamat dari siksaan kakek aneh itu. Tapi, Aram adalah pemuda yang memiliki jiwa berbeda dari yang lain. Ia paham bahwa kakek itu bermaksud baik kepadanya. Meski tubuhnya sudah hancur dijadikan bulan-bulanan, Aram tetap mempercayai sang kakek. Rasa percaya itulah yang membuatnya mampu menghirup kebebasan dari pembaringan. Ia sadar jika terus berbaring, lama-lama saraf tubuhnya akan melupakan cara berjalan. Terbukti dengan keadaannya sekarang, ia harus merangkak menahan sakit hanya untuk mendapatkan setetes demi setetes air yang tempatnya pun belum ia ketahui.
"Dua mil ke kanan... dua mil ke kanan..." mulut Aram bergumam lirih sambil terus merangkak menyusuri hutan belantara ke arah timur. Hingga tengah hari, ia sampai di sebuah sungai berair hijau. Pemuda itu benar-benar terpesona dengan keindahan air tersebut. Di barat sungai, sebuah air terjun berwarna hijau bercucuran menuju sungai; pemandangan yang sangat indah. Seandainya ia tak diberitahu bahwa sungai itu mengandung racun yang dahsyat, ia pasti sudah terjun berenang sambil meminum airnya sepuas-puasnya.
Sambil menghela napas, Aram kembali merangkak menuju selatan sungai, sebuah perjalanan yang sangat melelahkan.
"Teman-teman, Ayah, Guru, Nenek, Hong Moay, doakan aku agar bisa melewati semua ujian ini," bisiknya sambil berdoa. Air matanya bercucuran. Kondisinya kini benar-benar mengenaskan: bajunya tinggal menyisakan cawat, darah berceceran di jalanan, keringat bercucuran, napas tak beraturan.
"Akh... kakek itu benar-benar gila," umpat Aram. Di hadapannya terbentang sungai sepanjang dua puluh tombak dengan batu yang menjadi jembatan melintang di atas air tenang. Masalahnya, jembatan itu lebarnya hanya satu jengkal orang dewasa. Aram benar-benar kebingungan; jika ia melewati jembatan itu, salah sedikit saja, nyawanya bisa melayang.
"Otakmu memang secerdik rubah, bocah sialan. Kau memang cerdas, memang aku belum cukup merubahmu. Ngomong-ngomong, kau sudah tahu sedang berada di alam mana?"
"Tidak..." jawab Aram dengan riang, itulah jawaban yang sejak lama ia nantikan.
"Ini adalah alam perbatasan antara manusia dengan makhluk gaib. Bukankah kau merasakan di alam ini tak ada angin yang bergerak?"
Aram tak menjawab, ia hanya mengangguk. Tiba-tiba kakek itu bangkit dan berkata, "Bocah, ikutlah denganku." Tanpa menunggu apa pun, kakek itu berbalik menuju gua. Aram segera mengekor dengan membawa paha kijang yang masih berlumuran darah. Setelah berbelok-belok, mereka sampai di sebuah ruangan. Aram terkejut melihat ruangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Lebih terkejut lagi, di sana terdapat empat orang perempuan yang sangat cantik jelita bak bidadari dalam keadaan setengah telanjang. Tangan mereka diikat ke atas pembaringan sementara kaki mereka diikat ke bawah, mereka menangis tersedu-sedu.
Aram kebingungan dengan ulah sang kakek. Ia memandang kakek itu dengan sejuta tanya.
"Kau tahu siapa mereka?" tanya sang kakek.
"Tidak..."
"Mereka adalah empat selir Raja Agung Prahasta, raja dari Kerajaan Swargaloka di alam jin," jawab kakek itu dingin.
Aram hanya setengah percaya. Bagaimanapun, selir raja selalu dijaga ketat oleh pengawal, apalagi tidak mustahil mereka memiliki kemampuan di atas pengawalnya. Hanya satu yang ia pahami, kakek itu ingin membuat tubuhnya setengah gaib, meski mengenai caranya Aram masih belum mengerti.
Kakek itu mendekati perempuan pertama, tangan kasarnya terulur untuk memegang gundukan indah itu. Dengan sedikit remasan, dari puncaknya keluarlah cairan putih, diiringi jeritan marah si empunya.
"Nah bocah, kau lihat cairan putih ini? Kau harus menghisapnya..."
"Heh, tapi..."
*Ger...* Sepertinya kakek itu jengkel dengan penolakan Aram. Ia segera memegang leher perempuan itu dan menotok urat di lehernya.
"Heh, lekas kau paksa bocah itu atau kucemburkan anakmu ke dalam sungai hijau!" ancam kakek itu.
Perempuan itu ketakutan. Dengan terisak ia menjawab, "Baik, baik, jangan kau bunuh anakku... Nah anak muda tampan, lekaslah kau lakukan apa yang diminta kakek."
"Tapi..." Aram masih ragu.
"Lekaslah... apa kau ingin membunuh anakku pula?" teriak perempuan itu.
Mendapat tekanan dari segala sisi, akhirnya Aram melangkahkan kakinya dan mendekatkan bibirnya ke puncak bukit perempuan itu. Perempuan tersebut memejamkan mata, tubuhnya bergetar ketika merasakan puncaknya dihisap.
"Nah, bocah, dengarlah. Di pojok sana ada keranjang berisi bayi. Setiap mereka menangis, kau harus menyusukan mereka pada ibunya, namun karena kau pun ikut menghisap, maka kau berikanlah air yang seputih susu itu kepada ibunya. Nah, balikkan tubuhmu..."
Aram membalikkan tubuh dan *plakkk*, *ukh...* tubuhnya mundur selangkah. Di dadanya terjiplak empat jari milik kakek itu.
"Jari itu adalah pemantau apakah kau menuruti perintahku atau tidak. Setiap kau menghisap air susu dari satu orang, maka jari itu akan menghilang." Setelah berkata demikian, kakek itu beranjak keluar ruangan sambil mengibaskan tangannya.
"Ukh... ukh... ukh..." tiga teriakan dari tiga orang lainnya terdengar; sepertinya kakek itu membebaskan suara mereka sepenuhnya. Aram termangu di sisi pembaringan; ia tak menyangka kakek itu bakal menyuruhnya menyusu seperti bayi.
"Tampan, apa yang sedang kau pikirkan?" tanya perempuan pertama.
Aram kaget dan menjawab terbata-bata, "Akh... tidak... tidak ada apa-apa!"
"Lihatlah tubuhmu, tampan. Apakah kau sering mendapat siksaan dari kakek itu? Turutilah apa yang dikehendakinya agar kau tidak mendapat siksaan lagi."
Aram terharu dengan kebaikan perempuan itu. Ia mengangguk-angguk. "Nama saya Aram. Siapakah nama kakak bertiga?"
Aram mencoba basa-basi. Perempuan pertama yang memiliki wajah oriental dengan tahi lalat di dagunya, mengenakan pakaian serba hijau yang tersibak lebar di lengan sampai pinggul, menjawab sambil memperkenalkan yang lain karena mereka yang lain masih asyik menangis.
"Namaku Paramitha. Di sebelahku yang memakai pakaian kuning bernama Parahusanti, di sebelahnya yang memakai pakaian merah muda bernama Paraseja, dan yang terakhir yang memakai pakaian biru muda bernama Parakusti; dia yang paling muda di antara kami."
Parahusanti memiliki wajah cantik manis berkulit kuning langsat mulus; di belahan dadanya tersebar banyak tahi lalat yang menggairahkan siapa pun yang melihatnya. Wajahnya yang sayu menambah keayuannya. Paraseja juga tak kalah cantik dengan yang lain; di antara semuanya, dialah yang memiliki bukit paling besar. Matanya jeli bersinar nakal, sepertinya ia memiliki sifat yang sedikit binal dan liar.