Halo!

Pendekar Seribu Diri - Chapter 51

Memuat...
Pendekar Seribu Diri

Chapter 51

Sementara itu, Parakusti memiliki wajah cantik nan kekanak-kanakan, matanya jeli, berhidung mancung, kulitnya hijau cerah, dadanya padu dan indah. Di antara alis kanannya, tahi lalat kecil menghiasi kulitnya.

Aram menundukkan kepalanya. Ia merasa kikuk berhadapan dengan empat wanita itu; meski ia pernah tidur dengan perempuan, ia belum pernah berhadapan langsung dengan tiga gadis sekaligus.

"Lekaslah, Anak Muda. Bukannya aku tak memiliki harga diri sebagai istri orang, namun keselamatan anakku lebih berharga," Paramitha memelas.

Dengan hati yang berdebar, Aram kembali mendekatkan bibirnya ke bukit milik Paramitha. Air itu rasanya hambar, namun segar. Lama ia menghisap, sementara Paramitha terlihat menggeliat seperti cacing kepanasan. Aram berhenti. Ia melihat bekas jari di dadanya telah hilang, sementara Paramitha masih terengah-engah seperti ikan mas. Setelah menenangkan diri, Paramitha segera menyuruh Aram melakukan hal yang sama kepada yang lain.

"Maafkan aku," desis Aram kepada Parakusti. Parakusti tampak memejamkan matanya yang jeli, wajahnya memerah menahan malu dan gairah. Setelah menunaikan tugasnya, Aram segera merapikan baju mereka; dari sinar mata mereka tampak titik kebahagiaan yang mendalam.

Aram berjalan ke pojok ruangan. Ia melihat empat orang bayi yang sedang menangis, dengan hati-hati ia memangkunya dan membawanya ke ibu mereka. Dengan sedikit singkapan, bayi itu menyusu dengan lahap. Begitulah berturut-turut. Terakhir, ia membawa air yang didapatkannya dengan susah payah. "Kak, bukalah mulutmu," perintah Aram. Tanpa perlawanan, mereka meminum air itu.

"Ah..." Aram menguap. Ia duduk di hadapan Paramitha, menelungkupkan kepalanya, lalu tertidur dengan nyenyak.

Malam demi malam, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun berlalu. Sejak fajar hingga pagi, ia mengambil air. Kelincahannya telah kembali; ia tidak perlu waktu lama untuk mengambil air, cukup satu kentungan, ia sudah kembali ke gua. Bisa dibayangkan kecepatan geraknya saat itu. Pagi sampai tengah hari, ia mendapat siksaan dari si kakek; kadang dicambuk, kadang disayat, dan sebagainya. Tengah hari sampai malam, ia berlatih kembali, mengasah setiap ilmu yang sempat ia lupakan.

Tengah malam, ia menemani empat selir raja jin yang disekap si kakek. Kini keempatnya tak lagi disekap seperti dulu. Mereka melayani Aram dengan hati riang gembira. Bukan hanya menyusu, mereka juga membutuhkan sentuhan biologis, dan yang bertugas melayani mereka adalah Aram, si pemuda itu.

Waktu terus berjalan. Roda kehidupan terus berputar tanpa ada yang dapat menghentikannya. Sejak kematian para pendekar merdeka yang berani menentang kejahatan Panji Telapak Perak, muncul sebuah organisasi yang lebih mengerikan. Hari-hari makin tersaput warna merah karena terlalu banyak darah tertumpah. Organisasi itu tidak hanya membumihanguskan kerajaan, tetapi juga membantai setiap praktisi persilatan yang menentang. Lima perguruan utama disegel, kaum pesilat dilarang berkelana, dan pembantaian terjadi di mana-mana. Seluruh penduduk tanah Jawa ketakutan.

Di setiap tempat dan waktu terjadi pemerkosaan, kematian, ataupun kejahatan lainnya. Isak tangis pilu para korban yang teraniaya atau kehilangan keluarganya kini merata, tidak hanya terjadi di tanah Jawa, melainkan hingga pelosok Nusantara dan tanah seberang. Saat ini, dunia persilatan maupun masyarakat biasa membutuhkan sosok pemimpin yang dapat melawan organisasi tersebut. Tak ada lagi kebahagiaan di mata mereka; anak-anak tampak seperti sampah yang berserakan, berkeliaran di mana-mana meminta perlindungan dengan tubuh kurus kering.

Sementara itu, di sebuah alam lain, seorang pemuda tampan bertelanjang dada tampak sedang bersemedi di celah-celah tebing. Kakinya terpentang menahan berat tubuh, tangannya dirangkapkan di dada seperti menyembah. Pemuda itu tak lain adalah Aram. Setelah beberapa tahun menjalani kehidupan di alam perbatasan, ia telah menjadi pemuda yang matang dengan tubuh tegap berotot. Rambutnya perlahan berubah warna menjadi perak. Wajah tampannya dihiasi alis mata yang menukik bagai sayap elang, dan matanya persis layaknya mata seekor rajawali.

Di punggungnya muncul sayap lebar, masing-masing sepanjang tiga tombak. Dari kedua kakinya yang terpentang, muncul ekor serigala berwarna perak. Dengan sekali sentakan dan siulan nyaring, tubuhnya melesat ke atas, terbang bagaikan rajawali perkasa. Ia melintasi tebing-tebing yang menjulang, himpitan tebing sempit tak menghalanginya, danau, sungai, serta hutan ia lintasi dengan kecepatan angin.

Lama ia berputar-putar di udara layaknya rajawali mencari mangsa. Setelah menemukan titik tuju, ia melesat menukik rendah menuju sebuah puncak di mana lima sosok manusia berdiri. "Jleg!" Ia mendarat dahsyat di tempat itu hingga debu mengepul tinggi dan tanah yang dipijaknya bergetar. Setelah debu menghilang, tampak seraut wajah tampan berambut hitam; sayap dan ekornya telah lenyap.

"Aram, kemarilah," suara serak basah seorang lelaki tua menyapanya.

"Baik, Kek," sahut Aram.

"Duduk," perintah kakek itu.

Aram duduk diiringi empat sosok lainnya. Kakek itu pun membuka pembicaraan, "Dalam masa penyempurnaanmu sebagai manusia berdarah setengah gaib dan setengah hewan, aku tak pernah melihat kau berhenti berlatih. Tak jarang aku menyiksamu hingga kau pingsan tak sadarkan diri, tapi kau tak pernah mengeluh ataupun mendendam. Kini waktunya telah tiba, mulai besok kau boleh pulang ke alammu."

"Hah... secepat itukah?" Aram menitikkan air mata.

"Apa yang harus kau lakukan di alammu, Aram?" tanya kakek itu.

"Menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai."

"Kapankah kau harus menyelesaikan pekerjaan itu?"

"Dalam jangka dua tahun... tapi sekarang sudah dua tahun setengah," jawab Aram sedih.

"Kau jangan khawatir, satu tahun di sini sama dengan satu bulan di alammu," kata kakek itu.

"Ah..." hanya itu yang mampu ia ucapkan. "Kek, dapatkah aku menyambangimu kembali?"

"Hahahaha... uhuk, uhuk..." Kakek itu tertawa sampai ia batuk-batuk dan memuntahkan darah segar. "Dengarkan baik-baik, Aram. Rasanya saatku sudah tiba. Besok, saat fajar menyingsing, kau harus meninggalkan pulau di alam perbatasan ini. Saat itu, kau tidak akan menemukan aku lagi."

"Huffz," entah mengapa Aram tidak terkejut dengan ucapan si kakek, hanya helaan napas yang ia perdengarkan.

"Kau memang cerdik, Aram! Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan kembali pada Pencipta-Nya. Mereka semua akan mati dan hancur kembali ke asalnya; hanya cara dan waktu saja yang membedakannya!" ucap kakek itu diplomatis. "Aram! Seluruh hidup dan nyawaku telah kuhabiskan untuk melakukan penelitian. Sembilan ratus tahun, dua puluh purnama, tiga puluh hari, dua belas kentungan aku terbenam dalam ambisiku. Entah berapa jiwa yang melayang karena ulahku... dan sekarang, ambisiku telah selesai. Terima kasih atas segala pengorbananmu." Kakek itu menjelaskan sambil menangis.

Aram tidak bisa berkata-kata. Ia hanya bangkit dan memeluk kakek itu. "Aram," panggil kakek itu pelan.

"Ya, Kek!" sahut Aram seraya melepaskan pelukan dan kembali ke tempatnya.

"Jangan kembali lagi ke pulau ini. Lakukan tugasmu, jangan menyia-nyiakan ambisiku. Saat fajar menyingsing, kau boleh pergi dari alam ini," pesan kakek itu.

"Baik, Kakek..."

"Aram," seorang perempuan cantik berbaju serba hijau, Paramitha, menyela.

"Ya, Kak..."

"Ini... maafkan kami hanya mampu memberikan ini," Paramitha memberikan sebuah baju berwarna hijau lengkap dengan jubahnya.

"Mari, biar engkau kubantu pakaikan, jangan hanya memakai cawat saja... hihi," Parakusti cekikikan.

"Haha..." Aram tertawa malu.

Aram berangkat masuk ke dalam gua bersama Parakusti. "Tunggu," Paraseja mencegah.

"Ada apa, Teh?" tanya Parakusti heran.

"Rasanya aneh, bajunya bagus, sementara orangnya kotor. Jadi, sebaiknya kita mandikan dahulu baru ganti bajunya," usul Paraseja.

"Aha, ide bagus. Mari..." Parakusti menyeret Aram ke kubangan air berwarna kuning. Meski air itu kuning, ia tidak membuat kulit menjadi kuning, tidak jauh berbeda dengan air biasa di alam manusia.

"Bret..." dengan sekali tarik, cawat yang dipakai Aram lepas paksa, sehingga ia telanjang tanpa selembar benang pun. Dengan riang gembira, Parakusti dan Paraseja memandikan Aram; sesekali canda tawa mereka terdengar. Paramitha dan Parahusada menyaksikan sambil tertawa, melihat ketiganya mandi dengan sesekali terdengar rintihan nikmat. Kakek yang tadi duduk bersama mereka kini menghilang raib bagaikan angin.

"Ah, sudah Kak, aku sudah lelah..." Aram memelas.

"Hihi... bilang saja ingin langsung ke puncak," goda Paramitha disusul tawa yang lain.

"Kusti, bawa saja ke gua, kita keroyok di dalam!" teriak Parahusada.

"Baik..."

Tanpa ba-bi-bu lagi, Parakusti membawa Aram ke dalam gua. Di sana mereka memuaskan birahi, bagaimanapun mulai esok hari mereka tidak akan berjumpa lagi. Dengan semangat, Aram menciumi leher jenjang Parakusti. Meski mereka makhluk yang berbeda, perlu diketahui bahwa jin adalah makhluk gaib. Pada dasarnya, bentuk rupa jin tidak banyak berbeda dari manusia; mereka memiliki jenis kelamin, hidung, mata, tangan, kaki, telinga, dan sebagainya. Pada dasarnya, 80 hingga 90 persen jin menyerupai manusia, hanya saja fisik jin lebih kecil dan halus daripada manusia.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment